
Pagi ini terasa lebih ramai dari hari biasanya. Ada abah, umi, juga saudara-saudara Akis yang menginap sejak kemarin. Mereka memang sengaja datang ke Jakarta karena hari ini Zul dan Akis akan pindah je Bandung. Jadi rencananya keluarga besar Akis juga akan mengantar kepindahan mereka.
Dua minggu lalu memang Zul dan Akis telah survey ke tempat-tempat yang akan mereka tempati nanti. Semua lancar karena ada teman-teman Zul yang memang tinggal dan asli orang Bandung.
Setelah dua hari mereka keliling-keliling, akhirnya ada satu rumah kecil yang mereka sepakati untuk mengontrak disana nantinya. Selain rumah itu bersih, rapi dan pastinya posisinya tidak jauh dari tempat kursus mereka berdua. Hingga mereka tidak terlalu pusing memikirkan biaya transport pulang pergi kursus nanti.
Dua keluarga besar itu membuat Akis dan Zul geleng-geleng kepala tapi bahagia. Bagaimana tidak. Keluarga Akis benar-benar mempersiapkan segala sesuatu yang harus dibawa. Begitu juga keluarga Zul. Walau hanya bertiga, tapi tak kalah heboh dibanding keluarga Akis.
"Nanti di Bandung jangan lupa minum vitamin yaa... Juga jangan pakai baju-baju tipis karena pasti cuacanya lebih dingin dibanding Jakarta. Kalau kalian butuh apa-apa langsung telfon ibu atau umi, atau ayah, abah. Yaa?!?" kata ibu wanti-wanti sebelum berangkat.
"Ada lagi barang yang mau dibawa, Zul ?" tanya ibu lagi dijawab gelengan kepala Zul.
"Untuk urusan sekolah masing-masing, semua udah abah ayah beresin. Jadi kalian ga usah kuatir ya?" abah Akis ikut mengatur. Akis hanya senyum-senyum menanggapinya. Mereka lebih antusias daripada Zul dan Akis sendiri.
Mereka berangkat setelah sarapan pagi. Ada 4 mobil yang mengantar kepindahan Zul dan Akis. Satunya adalah mobil box berisi barang-barang Zul dan Akis yang telah dipersiapkan ibu dan umi. Zul dan Akis malah tidak tahu barang apa saja yang mereka bawa untuk digunakan nanti di Bandung.
Antara senang tapi juga deg-degan, itulah yang saat ini Zul dan Akis rasakan. Kemarin-kemarin masih ada ibu dan ayah yang selalu menyiapkan dan membantu mereka. Sementara di Bandung nanti, mereka benar-benar harus berdiri dikaki mereka sendiri. Hanya bantuan materiil yang tidak mereka pusingkan karena masih disokong ayah dan abahnya Akis.
Zul memegang jemari Akis. Mengucap bismillah dalam hatinya, bahwa ia yakin mampu hidup mandiri jauh dari orangtua. Walau usia mereka masih remaja, tapi Zul yakin mereka bisa belajar perlahan layaknya pasangan lain.
Hidup mereka tidak akan terus bergantung pada orangtua. Harus ada yang diperjuangkan dan dihasilkan setelah kerja keras yang ini. Zul yakin karena Akis bersamanya. Mendampinginya menjalani hidup. Apalagi Zul sudah minta kesepakatan kalau ia dan Akis hanya meminta sokongan ayah ibu, abah umi dalam satu tahun saja. Berarti Zul dan Akis harus bisa menabung dan berhemat. Juga harus bisa mencari peluang untuk menghasilkan uang sebagai bekal hidup mereka setelah setahun nanti.
Bandung menyambut mereka dengan rinai gerimis. Cuaca dingin hawa pegunungan menyeruak memeluk mereka. Zul memang sengaja memilih tempat kursus bukan yang berada tepat dijantung Bandung, tetapi agak kepinggir kotanya yang lebih sejuk bersahabat. Karena Bandung kotanya kini lebih mirip Jakarta yang padat, panas dan macet.
__ADS_1
Ibu dan umi mengacungi jempol kepada Zul dan Akis yang pintar mencari rumah kontrakan.
"Halamannya cukup luas dan rumahnya nyaman juga posisinya ada dipinggir jalan juga!" ibu dan umi berkeliling bersama. Kedua wanita paruh baya itu terlihat semakin akrab mengobrol sambil bercanda.
Sementara yang lain sibuk membantu menurunkan barang-barang pasangan baru itu.
Beberapa tetangga ada yang ikut membantu setelah ber-say hallo salam perkenalan. Mereka juga antusias karena akan ada tetangga baru pasangan yang masih sangat muda itu.
Ayah agak tenang karena ada ketua RT nya juga datang membantu. Ternyata kawan Zul yang membantu mencarikan rumah telah memberitahu bahwa pasangan baru yang mengontrak akan pindah hari ini.
Setelah beberapa saat mereka sibuk bersama, kini mereka sudah berlesehan diteras rumah sambil istirahat.
Ibu dan Umi kompak mengeluarkan camilan, minuman bahkan makanan berat bawaan mereka. Memang ibu-ibu selalu terdepan untuk urusan makanan.
Sayangnya waktu cepat berlalu. Mereka harus kembali pulang ketempat masing-masing. Keluarga Akis akan kembali ke Pandeglang. Sementara ayah ibu kembali ke Jakarta.
Tentu saja kepulangan mereka kali ini terlihat drama sekali karena ibu dan umi menangis. Mereka sedih meninggalkan Zul dan Akis hanya berdua tanpa mereka.
"Moga Akis bisa jadi istri yang baik ya, bu! Mohon doanya. Kalian juga sering-seringlah menengok kami disini. Kami pasti senang!" ujar Akis usai memeluk umi dan ibu.
"Kalian jangan suka ngambek-ngambek yaaa... yang akur, jaga komunikasi dengan baik! Kamu juga Zul, harus selalu jaga Akis. Makannya, juga kesehatannya. Ya Zul yaaa ....?!?" nasehat ibu ketika Zul mencium punggung tangan ibu.
"Siap, bu! InsyaAllah Zul akan selalu jaga Akis. Kalian jangan khawatir!" jawab Zul membuat abah menepuk pundak Zul bangga.
__ADS_1
"Kami pulang ya, Nak! Ingat, belajar yang rajin juga. Jangan lupa bersyukur pada Allah, selalu memohon kebahagiaan untuk kalian berdua." kata Abah bersiap masuk kedalam mobil yang akhirnya membawa mereka pergi hingga suasana bising tadi menjadi senyap seketika.
Zul dan Akis masuk kedalam rumah setelah mengucapkan terima kasih pada para tetangga dan membagikan sedikit kue dan makanan.
Mereka siap memulai hidup baru. Walau jauh dari orangtua, mereka yakin bisa memulainya dengan optimis.
Waktu cepat berlalu. Bebenah dirumah kontrakan baru dengan barang-barang rumah tangga yang baru membuat Akis dan Zul cukup sibuk beberapa hari ini.
Akhirnya setelah 3 hari mereka merasa cukup untuk menata dan merapikan barang, Zul dan Akis pun saling mengantar untuk daftar ditempat kursus masing-masing. Hanya berjarak 100 meter saja dari rumah untuk ketempat kursus mereka yang ternyata bersebelahan.
Walau jadwal kursus mereka berbeda, tapi Zul tidak terlalu khawatir karena masih bisa memantau Akis. Demikian juga sebaliknya. Mereka telah bertekad bersama, mereka ingin sukses dibidang yang mereka tekuni saat ini.
Zul senang sekali, karena Akis ternyata pandai memasak. Rupanya Akis belajar masak sewaktu ikut tinggal bersama neneknya. Masakan Akis selalu enak membuat nafsu makan Zul meningkat otomatis berat badan Zul jadi naik.
Zul juga pintar bebersih. Zul selalu membantu Akis menyapu dan mengepel lantai. Membuat Akis kadang tersipu digoda ibu-ibu tetangganya yang selalu bilang kalau Zul adalah suami juga menantu idaman. Zul srlalu beranggapan kebersihan itu kewajiban setiap orang. Bukan hanya tugas perempuan saja, tapi para lelaki juga wajib menjaga kebersihan.
Akis makin hari makin mahir menjahit. Ia bahkan sudah bisa membuat rok dan atasan sendiri walaupun modelnya masih sederhana.
Zul pun semakin paham tentang permesinan dan tata cara bongkar pasang kendaraan bermotor.
Mereka berdua benar-benar menikmati kehidupan yang baru di kota Bandung ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1