Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Salah paham.


__ADS_3

Berharap malam berjalan lebih lamban agar dapat kunikmati mimpi indahku bersamamu untuk waktu yang lebih lama lagi.


Mungkin seperti itulah yang diinginkan Aisyah saat ini. Dia kembali sendiri di gedung pencakar langit ini. Sang suami nyatanya sudah lebih dari tiga hari ini tak pulang ke apartemennya.


"Apa aku bilang saja sama Pak Ale tentang keinginanku ini ya?" tanyanya bingung.


"Pak, kita sudahi saja ya pernikahan kita ini. Toh saya belum kehilangan apapun dari milik saya. Jadi tidak ada yang dirugikan di sini,"


"Arrgghh," ucapnya prustasi jika memikirkan tentang keinginannya itu.


"Baiklah, sebelum perasaan ini semakin dalam menyelam, ada baiknya aku segera kembali ketepian. Pak Ale punya kehidupannya sendiri yang akan jauh lebih bahagia jika tidak bersamaku, akan kucoba besok," ucapnya,lalu memeluk guling empuk milik Ale.


Sementara itu di kediaman orang tua Ale.


"Nggak diajak calon menantu Mama Al?" tanya sang Mama sebelum keluar dari dalam rumahnya.


"Janji Ale kan hanya ikut ke hotel saja Ma," jawabnya seraya menyambar kunci mobilnya.


"Padahal kalau pakai bonus pahalanya gede banget lho Al, secara membahagiakan hati pintu syurgamu, wuih no kaleng- kaleng itu pahalanya,"


"Mama nggak bahagia ya?" tanyanya menatap sendu kepada sang Mama.


"Pingin lebih sempurna Al bahagianya,tapi ini juga udah cukup kok, makasih ya, udah nurutin maunya Mama," ucap sang Mama membelai lembut pipi Ale.


"Maafin Ale Ma," lirihnya lalu masuk kedalam mobilnya.


"Lho, Papa bawa mobil sendiri, kenapa nggak ikut Ale aja?" tanyanya seraya menyembulkan kepala dari jendela mobilnya.


"Mama sama Papa lagi nggak pingin diganggu Al. Udah ayo jalan!" ucap sang Papa mengibaskan satu tangannya.


"Ck, nggak ada habisnya mereka menyindirku,"


Tak berapa lama mereka sudah tiba di halaman parkir Hotel Panca buana.


"Nanti di dalam banyak kolega Papa yang membawa anak gadisnya lho Al, siapa tau ada yang cocok sama kamu," bisik sang Papa sebelum masuk ke dalam hotel tersebut.


"Makan malam kan Pa acaranya? Bukan ajang cari jodoh," protes Ale kesal,selalu itu yang jadi perbincangan utamanya.


"Sambil menyelam minum air Al, sekali mendayung tiga pulau terlampaui," jawab sang Papa yang selalu saja mampu menemukan kalimat- kalimat saktinya untuk Ale.


"He eh, asal jangan kebanyakan aja Pa minum airnya,bisa kembung nanti," ucapnya berseloroh.


Setelah acara jamuan makan malam selesai,Ale mengambil tempat duduk terpisah dari kedua orang tuanya. Ia akan menghubungi Aisyah. Namun, terdengar langkah kaki mendekat lalu,suara kursi yang digeser.


"Boleh saya ikut duduk di sini, Pak CFO?" ucap wanita dengan setelan press body berwarna sage green tersebut menatap penuh harap terhadap Ale.

__ADS_1


"Silakan saja!" jawab Ale singkat, lalu memasukkan kembali ponsel kesaku jasnya.


Ale adalah sosok pria dingin terhadap lawan jenisnya. Bahkan teman sekampusnya sempat menyangsikan kenormalannya sebagai seorang pria.Begitupun saat ini, Wanita disampingnya ini mungkin harus lebih getol lagi untuk menarik perhatian Ale.


"Kenalkan saya Helena putri buana," ucapnya memperkenalkan diri, dan rupanya aksinya ini berhasil membuat Ale menoleh kepadanya.


"Putri Buana?" tanyanya lalu melihat kesekelilingnya.


"Anda adalah putri pemilik hotel ini bukan?" tanyanya lagi.


"Anda benar sekali Pak Ale" jawabnya lalu mulai menikmati minuman beralkohol dari gelas cocktailnya.


Helena kembali menatap Ale untuk waktu yang lebih lama.


"Kamu nggak minum Al?" tanyanya menyebut nama Ale dalam tegur sapanya kali ini agar terlihat lebih akrab.


"Agama saya melarangnya,"


"Ck, Agama kita sama kali Al," ucapnya mencebik kesal. Ale membulatkan bibirnya membentuk huruf o.


"Saya lihat kamu datang sendiri kesini Al, mana pasanganmu?" tanyanya lagi.


"Saya datang bersama kedua orang tua saya,"


Helena mengangguk pelan lalu menyesap kembali minumannya.


"Anda sudah berlebihan Nona Helena,berhentilah! Sebelum minuman itu memabukkan Anda," ucap Ale meraih gelas cocktail Helena yang masih menyisakan setengah gelas minuman beralkoholnya.


"Biarkan saja aku mabuk sayang, itu akan sangat menguntungkanmu," ucapnya dengan kalimat yang mulai tak terarah.


Dengan susah payah Ale menahan tubuh Helena agar tidak terlalu menempel padanya. Walaupun mustahil Aisyah melihat hal ini, Namun, entah mengapa rasa takut dan khawatir akan hal itu sungguh tak bisa ia enyahkan dari pikirannya.


"Gila aja nih cewek, Minum sampe segitu banyaknya," umpatnya saat berhasil membuat Helena kembali duduk dikursinya dengan kepala yang ia sandarkan.


"Rey, bawalah aku pergi dari sini. Aku bosan dengan semua aturan dari Papa Rey, ayolah," ucapnya kembali dengan mata tertutup.


"Sebaiknya aku segera pergi dari sini, sebelum ucapannya semakin kacau," pikirnya segera berdiri dari duduknya. Namun, belum lagi ia melangkah, tiba-tiba Helena memeluk dirinya dari arah belakang.


"Hmm, kamu mau kemana Rey? Jangan tinggalin aku, kumohon," ucapnya seraya mengendusi leher Ale.


"Anda mabuk Nona Helena, saya akan panggilkan petugas hotel untuk memindahkan Anda," ucap Ale coba melepaskan pelukan Helena.


Akhirnya Ale berhasil keluar dari dalam Hotel yang ternyata sudah mulai sepi. Ale mengedarkan pandangannya mencari keberadaan kedua orang tuanya.


"Papa sama Mama udah di rumah Al, tadi Papa lihat kamu lagi asyik ngobrol dengan putri Tuan Wiyoko, jadi Papa tinggal deh," ucap sang Papa melalui panggilan suaranya.

__ADS_1


"Ya udah, Ale pulang ke apartemen malam ini Pa," ucapnya sedikit kecewa. Ia tahu pasti ini adalah rencana Papa dan Mamanya yang ingin menjodohkan dirinya dengan Helena.


Ale melihat waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, saat ia membuka pintu apartemennya.


"Pasti Aisyah sudah tidur," pikirnya lalu masuk kedalam kamarnya. Namun, ternyata dia salah, Aisyah masih terjaga dengan buku ditangannya.


"Ai," sapanya menghampiri sang istri yang kini menoleh padanya.


"Pak Ale?" jawabnya dengan wajah terkejut. Saking asyiknya membaca Aisyah tak menyadari jika Ale masuk kedalam kamarnya.


"Iya saya pulang, kenapa belum tidur?" tanyanya seraya berjalan mendekat kepada Aisyah.


"Belum ngantuk Pak,"


saat Ale semakin mendekat padanya,indra penciuman Aisyah mencium aroma alkohol dari tubuh Ale.


"Bapak mabuk ya?" tanyanya tak ingin hanya sekedar menduga-duga.


Ale mengendusi jasnya dan benar saja aroma itu memang masih tertinggal di pakaiannya.


"Pasti ini ulah Helena tadi, sial!" umpatnya dalam hati.


"Nggak Ai. Memang di sana banyak teman- teman saya yang mabuk, tapi saya tidak," ucap Ale coba menjelaskan.


Belum lagi Aisyah yakin dengan jawaban Ale, manik matanya menangkap terdapat bekas lipstik yang menempel pada kera hem Ale.


"Tidak perlu bersusah payah menjelaskan kepada saya Pak. Karena itu bukan kewajiban Bapak.Dan saya tidak berhak mengetahuinya, maaf sudah lancang bertanya," Aisyah menutup bukunya untuk kemudian masuk ke kamar mandi.


Ale menatap pantulan wajahnya di depan cermin.


"Arrghh, sial! Pasti Aisyah sudah salah paham terhadapku," umpatnya saat tanpa sengaja ia melihat lipstik Helena yang menempel pada kera hemnya.


"Ai, buka pintunya Ai! Kamu sudah salah paham. Saya bisa jelaskan," teriaknya dengan mengetuk pintu kamar mandi berulang- ulang. Tak ada jawaban dari dalam kamar mandi, Ale hanya mendengar suara air yang mengalir deras dari shower yang sengaja dibesarkan debit airnya oleh Aisyah.


"Buka pintunya Ai, saya mohon," ucapnya kembali,yang tidak mungkin didengar oleh Aisyah, yang kini sedang mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir deras dari showernya.


"Kenapa kembali jika hanya untuk menyakiti," lirihnya dengan airmata yang tak kalah derasnya dengan air yang kini sudah membuat kuyup seluruh tubuhnya.


Sementara Ale kini bersiap mendobrak pintu kamar mandi.


Brakk.


Ale hampir terjatuh,lalu ia melihat Aisyah yang kini duduk meringkuk disampingnya.


"Kamu sudah salah paham Ai, saya bisa jelaskan!" ucapnya setelah kini duduk berjongkok di depan sang istri.

__ADS_1


"Saya ingin berpisah saja dari Bapak"


__ADS_2