Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Butuh pengakuan.


__ADS_3

Kecewa adalah saat kamu merasakan kehilangan, meskipun kamu tidak memilikinya sejak awal.


Ale menyentuh dagu Aisyah yang basah. Ia tengadahkan wajah sendu itu dengan satu tangannya.


"Kamu sedang marah. Ucapan orang marah sejatinya bukanlah berasal dari dirinya, itu hanya ungkapan emosi sesaat," Ale menghapus airmata yang masih mengalir di pipi sang istri.


Aisyah menggeleng. Namun ia tak kunjung bersuara, hanya sesekali suara sesenggukannya mulai terdengar disela tangis tanpa suaranya.


Ale meraih tangan Aisyah yang terasa lebih dingin dengan ujung jari yang mulai berkerut.


"Kita bicara di kamar ya," ajaknya menuntun tubuh sang istri ke kamarnya.


Ale duduk di depan Aisyah yang kini sudah berganti pakaian.


"Maafkan aku Ai," ucapnya tanpa berniat melanjutkan ucapannya karena Aisyah masih tetap diam tanpa melihat dirinya.


Ale meraih jas yang teronggok di keranjang baju kotornya.


"Aku menghadiri jamuan makan malam di sebuah hotel bersama Papa dan Mamaku, aku datang sendiri Ai," ucapnya menggenggam lembut tangan Aisyah yang malah ditepis oleh sang istri.


"Lipstik ini, emmm" tunjuknya pada kera hem kemejanya.Ale menjeda kalimatnya, berusaha merangkai kata agar Aisyah dapat menerima penjelasan darinya.


"Aku tidak tau apa motif Helena," Ale kembali menjeda penjelasannya saat Aisyah tiba-tiba menatap tajam padanya.


"Oke,izinkan aku meluruskan kesalahpahaman ini.Yang jelas dia tengah mabuk saat duduk disampingku, lalu,aku bantu membawanya ke tempat yang lebih aman, Namun, sial dia malah memelukku dari belakang, sungguh Ai, aku tidak sedang mengada-ada," ucapnya dengan pandangan tak sedetikpun beralih dari wajah sang istri.


"Saya ingin kita berpisah Pak, bukan, bukan karena masalah ini, tapi memang hal ini sudah saya pertimbangkan jauh sebelum hari ini datang," ucap Aisyah seolah tak memedulikan penjelasan panjang lebar dari Ale.


"Jangan mengambil keputusan saat sedang marah Ai," Ale masih berusaha menenangkan Aisyah yang kini tampak menyeka sisa- sisa air mata dipipinya.


"Saya tidak sedang marah Pak," ucapnya menolak tuduhan Ale.


"Kamu kecewa terhadap saya," Ale merubah posisi duduknya dan kini berpindah di samping sang istri.Satu tangannya memeluk pinggang wanitanya itu. Sentuhan pertama berlabel halal diantara mereka.


Aisyah menoleh.Namun,ia tak menolak pelukan lelakinya itu.


"Saya tidak marah, saya tidak kecewa, saya baik- baik saja, dan keinginan ini mutlak dari diri saya sendiri,"

__ADS_1


"Tidurlah! Bicaralah jika hatimu sudah lebih tenang," ucap Ale beranjak meraih selimut Aisyah.


Aisyah yang kecewa karena Ale tak menggubris Permintaannya itu segera beranjak pergi.Namun, dengan gerakan cepat Ale mencekal tangannya.


"Mau kemana?" tanyanya menghalangi langkah Aisyah.


"Mau tidur di sofa aja Pak,"


"Jika kamu merasa jijik tidur denganku, maka tetaplah di sini, biarkan aku yang tidur di sofa," ucapnya kemudian membawa satu bantal dan selembar selimut tebalnya.


"Kenapa tidak Bapak turuti saja permintaanku?Dengan begitu Bapak bisa bebas melanjutkan hubungan kalian, hingga kejenjang pernikahan mungkin, saya nggak apa- apa Pak," ucapnya sebelum Ale keluar dari kamarnya.


Ale menoleh,lalu dengan langkah satu-satu kini ia sudah berdiri di depan sang istri.


"Dengarkan ini baik- baik Aisyah.Saya tidak akan pernah menceraikanmu! Tidak akan pernah," ucapnya lantang.


"Apa yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah kulepaskan!"


"Tapi kenapa?" protes Aisyah dengan suara bergetar.


"Karena saya tidak ingin mempermainkan ikatan suci ini, karena kamu adalah istriku sekarang dan selamanya," jawabnya masih dengan suara lantang.


Ale memandang lebih lama lagi wajah sang istri yang kini tertunduk malu, dengan jari jemarinya yang tengah memilin selimut tebalnya.


"Kamu mencintai saya Ai?" tanyanya dengan senyum menggoda.


"Itu bukan jawaban Pak," ucapnya kesal lalu berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Tidak semua perasaan harus diungkapkan dengan kata-kata Ai, terkadang seseorang cukup menunjukkannya dengan sikap dan tindakan," ucap Ale berusaha menyingkap selimut yang menutupi wajah Aisyah.Lalu keduanya sama-sama saling pandang dibawah selimut yang sama.


"Saya sayang sama kamu," ucapnya menyudahi kecanggungan yang berlangsung diantara keduanya.


Aisyah hanya diam.Namun,sorot matanya memancarkan sejuta bahagia.


"Selamat tidur istriku, sampai jumpa di hari yang lebih baik lagi esok pagi," Ale meninggalkan kamar, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa panjangnya.


"Apa dia sudah mulai memiliki rasa padaku ya? Dasar wanita, kenapa tidak langsung mengatakannya saja, tapi malah memancing dengan pertanyaan yang sama, benar- benar membingungkan," monolognya,lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja.

__ADS_1


Sebuah pesan singkat masuk, Ale segera membacanya.


"Mama," gumamnya.


"Al, Tuan Wiyoko ingin bertemu denganmu lusa nanti, apa kamu bersedia Nak?" isi pesan dari sang Mama yang membuat Ale menarik nafasnya panjang.


"Satu masalah belum selesai,masalah lain sudah datang kembali, maksudnya apa sih?" ucapnya heran.


Ale tak membalas pesan dari sang Mama.


Pagi hari,Aisyah masih terlelap dengan memeluk erat gulingnya. Sementara Ale sudah berangkat ke kantornya pagi- pagi sekali.


Aisyah menggeliat perlahan, mengerjapkan kedua matanya, karena cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah-celah kaca jendelanya.


"Astaghfirullah! Jam berapa sekarang," Aisyah segera menyingkap selimut dan gulingnya, ia melangkah keluar mencari keberadaan sang suami. Namun, semua sudah rapi dan bersih. Karena tak menemukan keberadaan sang suami, Aisyah kembali masuk ke kamarnya.


Saat akan mencuci wajah, indra penciumannya mencium aroma makanan di kamarnya. Aisyah melihat sebuah piring dengan nasi putih dan omelet di atas meja riasnya.


"Selamat sarapan istriku. Maaf aku pergi ke kantor tanpa membangunkanmu. Tunggu aku malam ini. Dandan yang cantik ya," Aisyah tak mampu menahan senyumannya saat membaca pesan yang Ale tuliskan pada secarik kertas dengan tinta hitamnya, walaupun ungkapan cinta dari sang suami tak kunjung ia dapatkan, tapi setidaknya sedikit perhatiannya itu mampu membuat Aisyah merasa menjadi wanita yang istimewa.


"Aku akan sabar menunggu hari itu tiba Pak," ucapnya lalu mulai menyantap sarapan yang telah disiapkan oleh Ale.


"Al, bisa keruangan Papa sekarang?" ucap sang Papa melalui sambungan interphonenya.


"Baik Pa, Ale segera keruangan Papa," jawabnya lalu menutup semua berkas- berkas, sebelum keluar dari ruangannya.


"Pagi Pa," sapanya sebelum masuk kedalam ruangan sang Papa.


"Papa dengar dari Sellia ada karyawan baru ya di bagian bersih- bersih, siapa Al? Kok Papa nggak tahu," tanya sang Papa.


"Iya Pa, Maaf tidak meminta izin Papa terlebih dahulu," ucap Ale yang mulai was- was kini. Kenapa tiba-tiba Ayahnya menanyakan perihal cleaning servis baru di kantornya itu, yang tak lain adalah Aisyah istrinya.


"Mana, kok Papa cari nggak ada tadi, kata Sellia dia tidak masuk kerja hari ini, benar itu Al?" tanya sang Papa.


"Ale nggak tau Pa,mungkin dia sudah meminta izin terlebih dulu untuk tidak bekerja hari ini," jawab Ale berusaha agar tak terlihat terlalu gugup dalam menjawab pertanyaan sang Papa.


"Namanya Aisyah anidia?"

__ADS_1


Ale mengerjap mendengar pertanyaan sang Papa.


"Dari mana Papa tahu?" monolognya dalam hati.


__ADS_2