Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Interview lagi.


__ADS_3

Aisyah menatap sinis mendengar gombalan Ale. Ale menaik turunkan satu alisnya. Namun, perhatian Aisyah justru pada makanan yang sama sekali belum disentuh oleh sang suami.


"Bapak nggak makan? Kenapa, nggak suka ya?"


"Saya belum pernah makan makanan ini Ai," tunjuknya pada nasi pecel di depannya itu.


"Belum coba belum tahu Pak!" Aisyah menyerobot makanan tersebut bermaksud menyuapi Ale.


"Saya nggak bisa makan pedas Ai," tolaknya seraya meletakkan sendok dari tangan Aisyah.


"Kenapa nggak bilang!"


"Kamu nggak nanya tadi kan?"


"Emmm, iya lupa. Maaf Pak," lirihnya.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Ale mengajak Aisyah duduk santai pada sebuah taman yang terletak di pinggir sungai. Banyak remaja yang menghabiskan waktu siang menjelang sorenya di sana. Ada yang berdua saja, ada pula yang membawa rombongannya.


"Kamu sering kesini Ai?" tanya Ale memecah kesunyian diantara mereka.


"Belum pernah Pak,"


"O ya, padahal kan tempat ini lumayan dekat dengan tempat kerjamu kemarin. Masa sih kamu nggak pernah kesini?"


" Beneran Pak! Waktu saya, saya habiskan untuk bekerja. Selebihnya jika sedang libur saya manfaatkan waktu untuk istirahat,"


"Serius banget sih Ai, jawabannya. Iya saya percaya kok," ucap Ale menggeser duduknya agar lebih dekat lagi.


"Malam ini di mana Pak?" tanya Aisyah seraya mengayun- ayunkan kedua kakinya.


"Di samping istriku" jawab Ale lalu menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Aisyah yang kini tengah menahan senyum di bawah sana.


"Kenapa ditahan senyumannya.Awas!Lewat jalur lain,bahaya lho," goda Ale.


"Alhamdulillah.Setidaknya malam ini saya bisa tidur dengan nyenyak," ucap Aisyah mendongakkan kepalanya lalu menatap Ale.


"Suka?" Ale kembali menggoda walaupun Aisyah sudah bicara dengan nada serius tadi.


"Seumpama saya ini adalah sebagai istri simpanan Bapak, tentu saya akan sangat bahagia,"


"Kamu merasa seperti itu Ai?" Ale kembali memandangi wajah Aisyah yang masih menatap serius padanya.


"Nggak! Cuma sepertinya saja,"


"Saya bujangan sebelum menikahimu,bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?" tanya Ale tak terima karena secara tidak langsung Aisyah telah menuduh dirinya.


"Bujangankan Pak? Bukan perjaka?"

__ADS_1


"Maksudmu?" Ale semakin intens menatap Aisyah yang tengah menyeruput minuman dinginnya.


"Cari tau sendiri artinya apa. Ilmu nggak gratis. Muahhal!" jawab Aisyah lalu membuang botol minumnya ke tempat sampah. Ale menggeleng.


"Besok saya ada interview kerja Pak,"


"Di mana?"


"Hotel Panca buana,"


"Hotel lagi?" tanya Ale khawatir. Dia tau jika Hotel tersebut adalah milik keluarga Buana. Rekan bisnis sang Papa.


"Bisa gawat kalau sampai Aisyah bekerja di sana," batinnya.


"Saya antar ya,"


"Nggak usah Pak! Nanti ada yang melihat kita.Bahaya!" tolak Aisyah yang sarat akan sindiran.


Meminimalisir semua kemungkinan yang terjadi,jika Aisyah benar-benar bekerja di hotel tersebut. Ale bertindak cepat dengan menghubungi semua HRD setiap Hotel yang memungkinkan Aisyah kembali memasukkan lamaran pekerjaannya di sana,agar Mem-blaklist nama sang istri.Ale tidak menyadari bahwa tindakannya ini bisa menjadi boomerang untuk dirinya di kemudian hari.


Pagi hari setelah menyelesaikan sarapannya. Aisyah sudah rapih dengan pakaian kerjanya.


"Hati-hati ya. Semoga interviewnya sukses!" ucap Ale mengusap lembut surai sang istri.


"Aamiin.Terimakasih doanya Pak.Doa yang sama juga untuk Bapak," Ale membalas ucapan sang istri dengan senyum manisnya.


"Kenapa susah banget sih cari kerja. Padahal statusku masih lajang di kartu Identitasku," keluhnya heran.


Ale pulang lebih awal hari ini. Tentu saja dia ingin melihat ekspresi Aisyah karena interviewnya yang gagal.


"Ai," sapanya saat ia melihat Aisyah tengah duduk menyandar di ranjangnya.


"Gimana? Kapan kamu mulai bekerja?" tanyanya berpura-pura.


Aisyah menggeleng.


"Ditolak?" tanya nya lagi.


"Sepertinya begitu," jawab Aisyah lesu.


"Sabar! Besok dicoba lagi," ucap Ale coba memberi semangat untuk istri kecilnya ini.


"Sudah tiga tempat yang saya datangi hari ini Pak! Tapi semuanya menolak. Padahal posisi yang saya inginkan itu masih kosong," ucap Aisyah kesal.


"Apa karena saya tidak good looking ya Pak? Sehingga mereka menolak?" Ale merasa bersalah Karena secara tidak langsung dia sudah mematikan mental sang istri yang kini menjadi orang yang tidak percaya diri.


"Nggak apa- apa. Penilaian orang lain terhadap fisikmu bisa menimbulkan dosa jariyah untukmu. Alhamdulillah kamu tetap yang paling cantik bagi saya Aisyah,"

__ADS_1


"Gombal!"


Ale benar-benar menepati janjinya untuk tidur di apartemen malam ini. Aisyah sudah terlelap di sampingnya. Ale masih sibuk dengan laptopnya. Sekilas ia menatap wajah sang istri yang tidur dengan pulasnya.


"Maafkan saya Aisyah. Saya tau pasti ucapannu akhir- akhir ini adalah benar tentang apa yang tengah kamu rasakan. Seharusnya aku bangga mengenalkanmu kepada Mama dan Papa. Namun,semua tidak bisa kulakukan dengan gegabah Ai. Ada banyak kemungkinan yang sebisa mungkin kuhindari.Sabar ya,kamu adalah istri sah bukan istri simpananku" ucap Ale sebelum kembali fokus ke layar laptopnya.


"Pak, besok saya ada interview lagi,tapi bukan di hotel" ucap Aisyah sumringah seraya menunjukkan surat lamarannya kepada Ale yang tengah duduk di ruang kerjanya.


"Aryaguna cooperation?" ucap Ale lalu menyerahkan kembali CV milik sang istri.


"Iya Pak, saya lihat di laman media sosial saya tadi, posisi yang dibutuhkan sesuai dengan kriteria saya," jawab Aisyah penuh semangat.


"Maafkan saya Ai.Setidaknya ini bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku terhadapmu," ucap Ale dalam hatinya.


"Kita satu arah lho Ai. Kamu. nggak mau barengan sama saya berangkat interviewnya?"


"Nggak usah Pak. Terimakasih,"


Ale berangkat terlebih dahulu. Tak berapa lama iapun sudah tiba di kantornya. Ale segera menuju ke ruangan personalia.


"Saya ingin melihat langsung perekrutan karyawan baru hari ini. Dan saya juga yang akan mewawancarai mereka," ucap Ale pada seorang wanita yang tengah memeriksa beberapa berkas yang masuk pagi ini.


"Baik Pak, silakan menunggu di ruangan HRD!" ucapnya mempersilakan Ale untuk masuk.


Sementara itu Aisyah baru saja tiba di depan gedung yang bertuliskan Aryaguna cooperation di menara gedungnya. Aisyah mendongak demi melihat nama perusahaan yang akan menjadi tempat interviewnya pagi ini.


"Wuih! Nggak kaleng- kaleng nih perusahaan. Gedungnya tinggi banget lagi. Semoga ada rizkinya di sini.Aamiin," ucapnya lalu melangkah masuk menuju ke meja resepsionis.


"Silakan menunggu di sana Mbak!" Aisyah mengikuti petunjuk yang di berikan oleh pegawai kantor tersebut. Namun, belum lagi ia duduk, terdengar suara wanita memanggil mamanya.


"Saudari Aisyah anidia.Silakan masuk! Interview akan segera dimulai!"


Aisyah mengetuk pelan pintu yang bertuliskan HRD room di bagian depannya itu.


"Masuk!" titah seorang laki-laki dari arah dalam ruangan tersebut.


"Selamat pagi Pak," sapanya sopan.


"Pagi,silakan duduk!" ucap laki-laki tersebut mempersilakan Aisyah.


Degh!


Jantung Aisyah berdetak lebih kencang, aliran darahnya seakan mengalir lebih cepat. Ada debar aneh saat mendengar suara dari laki-laki yang kini duduk menunduk dengan beberapa file yang menutupi wajahnya.


Hiduplah sesuai porsimu! Rezeki sudah ditakar tidak mungkin tertukar. Jangan menilai kebahagiaan dengan banyaknya harta. Karena setiap orang berbeda-beda permasalahan hidupnya. Jika kamu merasa sebagai orang yang paling menderita karena kemiskinanmu. Maka ada si kaya yang merasa menjadi orang yang tak berguna karena hartanya. Jangan tanya kenapa?Karena pengalaman dan juga permasalahan hidup telah mampu memberi jawaban.


Terimakasih.

__ADS_1


Selamat mambaca.


__ADS_2