Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Abang!


__ADS_3

"Saya harus segera pergi dari sini Pak. Terima kasih untuk kebaikan Bapak. Saya berhutang budi terhadap Bapak dan juga Nadia,"


Mendengar namanya di sebut oleh pria yang kini mengisi seluruh rasa di hatinya, tentu saja perasaan bahagia itu kini memenuhi seluruh rongga pikirannya. Nadia tersenyum bahagia di balik persembunyiannya. Ia tanpak memilin sepuluh jarinya, mengurai rasa haru yang pastinya tidak akan bermuara.


"Tidak ada yang harus merasa berhutang budi. Saya hanya melaksanakan kewajiban saya sebagai sesama hamba Tuhan Nak. Semua orang juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti saya," ucapnya menolak pengakuan pria muda di depannya tersebut yang di anggapnya terlalu berlebihan dalam menilai sikapnya.


"Saya kagum dengan kepribadian Bapak dan putri Bapak,"


Cess.


Rasanya seperti tetesan embun pagi yang begitu sejuk menetes di pipi mulusnya. Begitulah gambaran perasaan yang kembali dirasakan oleh Nadia, saat si pemuda kembali menyebut dirinya.


"Tinggallah di sini beberapa hari lagi. Setidaknya sampai kondisimu sudah benar-benar pulih Nak!" cegahnya saat mendengar si pria yang tetap ingin pergi dari pondoknya. Sementara ia tahu bahwa anak gadisnya itu telah jatuh hati pada si pemuda.


"Ada istri dan juga kedua orangtua saya yang pasti sudah sangat mengkhawatirkan keadaan saya Pak. Maaf, tidak bisa lebih lama lagi tinggal di sini," pungkasnya dengan wajah sedih mengingat istri dan juga kedua orang tuanya.


Prang!


Gelas yang ada di tangan Nadia sukses jatuh meluruh dari tangannya. Menimpa cangkul sang Ayah yang tergeletak di sana. Nadia buru- buru melangkah pergi untuk menghindari Ayah dan juga pria tersebut yang kini tengah terburu-buru menuruni anak tangga.


"Nadia!" seru sang Ayah. Namun, sang putri sudah tidak ada lagi di tempatnya. Sang Ayah melihat pecahan gelas yang masih berceceran di lantai tanah yang masih bergelombang itu.


"Nadia," gumamnya sedih. Dia yakin anak gadisnya itu sudah mendengar apa yang mereka bicarakan tadi.


"Pasti Nadia sangat terpukul dan kecewa. Kasian anak itu, sekalinya jatuh cinta, tapi harus menelan kekecewaan yang teramat dalam seperti ini," monolognya dalam hati.


*


*


Sementara itu di rumah sakit. Aisyah sudah terbangun dari tidurnya. Saat berjalan melewati Ale ia tak sengaja melihat tato di pergelangan tangan suaminya itu. Aisyah pun menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


Ia perhatikan dengan seksama lukisan yang terpahat di kulit tangan Ale. Terlihat jelas bahwa itu adalah lukisan wajah seorang wanita dengan rambut tergerai dan bibir merah meronanya. Aisyah menahan sesak di dadanya saat bulir bening itu ingin sekali menyemburkan lava pijarnya dari panas yang bersumber dari dalam hatinya.


Sungguh kini dia mulai membenarkan sedikit demi sedikit prasangka Abram dan juga sang Mama.


"Sebenarnya kamu siapa?" tanyanya dengan posisi miring menghadap Ale.


"Kamu Bang Aleandra suamiku kan? Jawab,jangan diam saja! Aku sudah seperti orang bodoh karena menungguimu di sini. Berharap kau akan membuka mata, lalu memanggil namaku dengan sapaan sayangmu. Tapi, sekarang apa? Siapa wanita ini? Siapa?" ucapnya dengan mengguncang lengan Ale kuat- kuat. Dia melupakan semua nasihat dokter tentang suaminya itu.


"Kamu jahat Bang! Pengkhianat, pecundang! Aku benci kamu!" ucapnya dengan kepala yang ia tenggelamkan di atas ranjang rumah sakit.


"Beneran benci sama Abang?"


Aisyah merasa halusinasinya sudah terlalu tinggi hingga melewati batas normalnya. Ia abaikan suara yang umpama suara suaminya itu. Rasa rindu dan kecewanya sungguh adalah perpaduan yang tidak baik saat ini.Bisa- bisanya dalam luapan amukan amarah, kecewa dan kesalnya suara bariton itu tiba-tiba hadir di gendang telinganya. Sungguh ke anehan yang ke bangetan!


"Kalau nggak jawab,Abang pergi lagi nih," ancam pria tersebut yang berhasil membuat Aisyah membalikkan tubuhnya.


"Abang!" ucapnya segera berdiri lalu berlari menyongsong suaminya itu.


"Iya.Abang jahat, Abang salah. Maafin Abang ya," Ale kecup kening Aisyah untuk waktu yang cukup lama. Hingga sebuah deheman membuyarkan kegiatan mereka. Keduanya menoleh, dan tanpaklah Mama, Papa dan juga Abram yang kini berdiri di ambang pintu ruangan tersebut.


Aisyah tersenyum. Dia malu karena tak mampu mengontrol keinginannya untuk tak menanggapi ungkapan kerinduan dari Ale tadi dengan sesuatu yang bahkan terasa lebih panas lagi.


"Rumah sakit," ucap sang Mama dengan memandang ke sekeliling ruangan itu seolah memberitahu ke pada kedua sejoli yang kini sudah seperti pasangan mesum yang ke tangkap basah oleh petugas siskamling di pos ronda.


"Ehm!" kini giliran Abram yang ganti berdehem.Gatal dengan kelakuan kedua Kakaknya ini.


"Kirain kalau nikahnya udah memasuki usia matang bakal mudah jaga syahwat. Ternyata sama saja sama aku,mudah tersesat," ucapnya yang kini melengkungkan pinggangnya saat capit sang Mama berhasil menguncir kulit perutnya.


"Aww, sakit Ma. Yang mesum Abang, kenapa aku yang menerima hukuman. Mama nggak adil ih! Yang salah siapa, yang di hukum siapa," ucapnya kesal seraya mengusapi pinggangnya yang terasa panas akibat sengatan Mama hachi.


"Makanya kalau ngomong itu di saring dulu. Jadi yang keluar bukan brondolan sawit yang bikin gatel tenggorokan. Usil aja kerjaannya!" umpat sang Mama yang mendapat cebikkan dari Abram. Namun,senyum kemenangan dari kedua tersangka utama yang kini tengah malu- malu meong, Aisyah dan Aleandra.

__ADS_1


"Kalian juga. Kangen sih kangen. Tapi lihat tempat dong! Jangan main nyosor aja kayak bebek!" Ale dan Aisyah kembali saling pandang. Mau protes, tapi memang mereka salah. Tapi, masa iya harus di samain sama bebek sih. Nggak ada yang lebih manis lagi apa ya? Hmm, ini parah ni.


Sementara itu Abram yang masih sibuk menyembuhkan panas bekas sengatan sang Mama kini tengah sekuat tenaga menahan suara tawanya. Berkali-kali ia menutup mulutnya. Hal yang menjadi perhatian sang Papa.


"Bram!" ucapnya dengan mengangkat jari telunjuknya. Kode agar putra bungsunya itu segera diam.


Abram mengangguk mengerti.


"Ini sidang paripurnanya bisa di lanjut di rumah besar aja nggak Ma? Kasian pengantin baru yang tertunda malam pertamanya," ucap Chandra memandang kepada Ale dan juga Aisyah yang kini mengangkat wajah saat sang Papa mencatut nama mereka berdua. Weh Mama, Papa sama adik, lah kok podo wae. Sableng kabeh!


Pandangan mereka kini tertuju pada pasien pria yang kini masih terkulai lemah tak berdaya di pembaringannya.


Abram mengangkat satu alisnya merujuk kepada Aisyah sang Kakak ipar.


"Kak Aisyah nggak percaya sih sama kecurigaanku kemarin. Sekarang terbukti kan?" ucapnya congkak dengan gerakan mengangkat dagu dengan satu tangannya.


"Mama juga sebenarnya merasa sangsi Bram. Tapi Mama takut Aisyah kecewa dengan pikiran Mama yang ternyata memang benar," ucap sang Mama ikut menimpali ucapan Abram.


"Aisyah nggak ada pikiran ke arah situ Ma, Bram. Yang Aisyah ingin hanyalah kesadaran Abang. Tapi ternyata yang sedang kita khawatirkan entah kemana," ucapnya dan kini pandangan matanya menyorot tajam pada belahan jiwanya yang kini sudah seperti kucing garong yang ketahuan mencuri ikan asin kepala batu. Menunduk seraya garuk- garuk jenggot.


"Al.Kamu berhutang banyak penjelasan di rumah nanti. Sekarang kita pulang!" ucap sang Mama lalu melangkah keluar.


"Eits.Tunggu dulu Ma. Gimana dengan orang yang kita anggap sebagai Bang Al,ini. Mana keluarganya?" ucap Abram tak mengerti dengan sikap sang Mama yang main ninggalin orang seenaknya saja.


"Kita akan biayai semua pengobatannya sampai dia sadar Bram. Nanti biar Papa yang urus administrasinya. Sekarang pulang!"


Dan jika sang ratu sudah bertitah. Tak ada satupun yang berani mengajukan keberatan.


*


*

__ADS_1


🤗🤗🤗.


__ADS_2