
Bersyukur itu adalah, saat kita menikmati apa yang telah ditakdirkan untuk kita.
Pagi ini mereka tengah berkumpul di meja makan dengan anggota keluarga yang komplit. Abram yang biasanya sudah menghilang sedari isya dan akan pulang bada magrib, hari inipun terlihat begitu melengkapi kabahagiaan keluarga besar ini.
Sudah lebih dari satu minggu Ale menjalani perawatan di rumah dengan dokter pribadi keluarga mereka yang datang setiap pagi setiap harinya.
"Al,hari ini udah siap ngantor lagi?" Chandra meletakkan sendok dan garpunya di piring makannya.
Ale memandang kepada Aisyah yang tengah asyik menikmati sarapan omeletnya.
"Aisyah belum kasih izin?" tanya sang Papa lagi, karena Ale tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Ai," bisiknya yang membuat Aisyah reflek menoleh.
"Hmm.Apa Bang? Kok aku?" ucapnya bingung.
"Iya.Papa nanyain kamu tuh," Ale mengalihkan pandangannya kepada sang Papa.
"Aisyah Pa?" tanyanya bingung dengan menunjuk kepada dirinya sendiri.
"Kamu belum izinin Al ke kantor Ai. Kenapa?"
Aisyah memandang heran dengan menukikkan kedua alisnya.
"Kapan Abang izin ke aku? Dan kapan aku bilang kayak gitu Bang?"
"Yang bilang bukan Abang Ai. Papa tuh!" ucap Ale menunjuk sang Ayah dengan wajahnya.
"Kalau Aisyah, terserah Abang aja Pa,"
"Beneran terserah Abang. Udah nggak cemburu lagi nih ceritanya?" goda Ale dengan melanjutkan sarapan paginya.
"Abang ih! Gombalannya garing!" gerutunya lalu meraih piring Ale yang sudah kosong untuk di bawanya menuju wastafel.
Keduanya kini tengah mengobrol di balkon kamarnya.
"Emang udah kuat buat kerja lagi Bang. Jujur aku masih trauma ditinggal Abang. Udah dua kali lho Abang pergi dan kembali dengan tragedi," ucapnya dengan tatapan serius terhadap Ale.
"Kamu trauma Ai?" Ale meraih satu tangan sang istri lalu ia bawa kedepan dadanya. Aisyah mengangguk, lalu ikut menyandarkan kepalanya pada bahu Ale.
"Boleh nggak aku minta sesuatu sama Abang?" tanyanya dengan sedikit mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Boleh dong! Katakan!"
"Nanti kalau Papa minta Abang untuk ngurusin proyek yang di luar negeri, Abang tolak aja ya," pintanya dengan wajah sendu. Sungguh trauma itu benar-benar ada dan nyata. Seandainya boleh ia ingin sekali menjadi asisten pribadi Ale. Agar hari- hari mereka tak pernah terpisahkan.
Ale tersenyum tanpa menjawab atau menyanggupi permintaan Aisyah.
"Kok diem? Keberatan pasti.Ya udah, aku cancel aja deh kalau gitu requestnya. Anggap nggak pernah ngomong kayak gitu," Aisyah masih pada posisinya. Ia nyaman dan hangat dalam dekapan sang suami.
"Kalau Abang minta kamu untuk temani Abang gimana?"
Aisyah segera membenahi posisinya. Duduk menyamping menghadap Ale.
"Aku sudah menemukan jawaban untuk pertanyaanku tadi. Tugas seorang istri adalah berada disamping suaminya. Bukan di rumah mertua atau orang tuanya,"
"Ehm!" Ale menutup mulutnya dengan lengan terkepal.
"Abang masih belum yakin untuk meninggalkan kamu seorang diri di apartemen Ai. Sabar ya. Untuk sementara ini kita tinggal sama Mama dan Papa ya?"
"Itu bukan masalah. Selama Abang juga tetap disampingku,"
"Maksudnya apa? Roaming nih,"
Ale adalah tipe pria idaman. Selain wajahnya yang tampan, Ale adalah pribadi yang cool, bijak dan yang pasti dia selalu menjaga pandangan matanya. Terutama pada seorang asisten rumah tangganya yang asoy geboy itu. Si Minuk.Berbanding terbalik dengan Abram adik bungsunya.
Selama tinggal di rumah ini saja. Aisyah sudah lebih dari tiga kali mendapati Abram pulang hampir subuh dalam keadaan mabuk. Mabuk dan wanita adalah dunia yang tak terpisahkan. Hanya saja jiwa kepo Aisyah tidaklah semeronta itu. Hingga dia memilih untuk sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Abram yang agak- agak gesrek itu otaknya.
"Abram adik kandung Abang lho Ai. Masa iya kamu takut sama dia. Dia udah divaksin tiga kali lho," ucap Ale tak serius menanggapi curhatan Aisyah.
"Menjaga lebih baik daripada mengobati Bang. Kalau udah luka. Sembuhnya lama dan belangnya nggak mungkin hilang seutuhnya. Pasti ada bekasnya. Namanya juga belang. Mau disamarin pakai cream seharga 100 jeti juga sama aja hasilnya Bang,"
Ale pandangi wajah sang istri yang semakin hari semakin membuatnya selalu rindu itu.
"Memangnya pernah lihat Abram lagi ngapain? Kok sampai ke ubun- ubun gitu takutnya. Lebih condong ke waspada,"
"Pernah lihat Abram pulang subuh dalam keadaan mabuk Bang. Kenapa kalian berbeda?" ucap Aisyah bingung dan bertanya- tanya.
"Padahal semua bentuk tubuh kalian hampir sama lho Bang. Hanya sikap dan tingkah laku yang sangat jauh perbandingannya,"
"Abram lama menetap di luar negeri Ai. Kamu tahukan kehidupan di sana seperti apa? Sedangkan suamimu ini adalah pria sholeh akhir zaman walau bukan Nabi Yusuf yang ganteng paripurna itu. Kamu sudah membuktikannya sendiri kan? Kamu adalah wanita pertama dan satu-satunya yang melihat semua sisi terdalamku," ucapnya dengan menggamit dagu sang istri.
"Abang mesum ih. Lagi bahas masalah serius kayak gini masih aja dibumbui hal ngeres,"
__ADS_1
"Iya.Abang serius sayang.Abang rasa kamu terlalu berlebihan menilai Abram,"
"Mudah-mudahan saja memang aku yang salah dalam menilai Bang," ucapnya kecewa karena Ale tidak peka terhadap kekhawatirannya.
*
*
Sementara itu. Di tempat berbeda. Seorang wanita dengan kaca mata dan topi hitamnya tanpak tengah berbicara serius dengan seorang pria yang juga mengenakan kacamata hitam di matanya.
"Ayolah.Kamu nggak usah munafik! Aku tahu kamu mencintai Kakak iparmu itukan?" ucapnya dengan sesekali menengok kekanan dan kirinya.
"Jangan sok tahu! Kamu kira aku sudah ke hilangan semua pesona yang kumiliki? Hingga istri orang aku embat juga. Masih banyaklah gadis yang masih bersegel. Bukan istri orang apalagi Kakak ipar," ucapnya dengan tersenyum smirk menunjukkan bahwa dia tidaklah seperti yang dipikirkan oleh wanita di depannya itu.
"O ya? Kalau gitu nikah dong. Apalagi yang kamu tunggu,"
"Jodohnya belum sampai," jawabnya singkat.
"Belum sampai atau sedang singgah lebih lama di dalam kehidupan seseorang?"
Sang pria menggeleng tak setuju dengan praduga wanita yang mengenakan blazer rajut hitamnya itu.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang mau didiskusikan. Aku pamit!" ucapnya lalu bermaksud meninggalkan si wanita.
"Aku punya tawaran kerja sama yang menggiurkan untukmu,"
Sang pria menghentikan langkah kakinya.
"Kerja sama?" ucapnya heran.
"Ya.Kerja sama yang saling menguntungkan,"
Setelah mendengar penjelasan dari si wanita. Sang pria segera saja bergegas pergi. Sebelum itu, ia masih sempat melayangkan protesannya.
" Gila! Kamu mau bikin aku jadi malin kundang. Yang di kutuk menjadi batu oleh Ibunya?"
*
*
Terima kasih dukungannya. 🥰
__ADS_1