
Ale melebarkan matanya demi mendengar semua hujatan ketiga pria di depannya ini.
Istri simpanan? Wanita simpanan? Dan lebih parahnya lagi istri orang. Weh, bener- bener kebablasan ini namanya. Stoooppp!
"Ehm!" Ale berdehem memutus dugaan ketiganya yang memandang heran padanya.
"Dia istri saya, bukan simpanan apalagi istri orang," pungkas Ale menyudahi praduga para hatersnya ini.
"Oooo,"
Ale mengangguk mengiyakannya.
"Tapi, mohon maaf ni ya Bang. Kalau memang bener cewek ini yang Abang cari dan emang bener kalau dia ini istri Abang bukan istri orang atau anak gadis orang yang sengaja Abang umpetin, kenapa selama di sini baru sekarang Abang mencari ke beradaannya? Selama ini nyarinya ke mana? Ke rumah istri muda atau ke rumah istri tua?"
"Uhuk, uhuk," kali ini Ale benar-benar terbatuk demi meredakan tenggorokannya yang sepertinya sedang tersedak aroma- aroma pencemaran nama baik.
"Eh?" ketiganya kembali saling berpandangan.
"Santai aja Bang, kita udah seringlah nemuin pria jenisan kayak Abang. Secara duitnya nggak berseri, istrinyapun banyak sekali," lagi Ale membantah tuduhan mereka dengan gelengan Kepala.
"Sungguh Mas. Saya hanya punya satu istri.Hanya dia," ucap Ale seraya menunjuk pada wajah Aisyah di layar ponselnya.
"Ada sebuah peristiwa yang memaksanya pergi dari saya, urusan internal rumah tangga. Saya tidak bisa menceritakannya kepada kalian. Maaf," ucapnya dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
Ketiga pria itu kembali saling melihat sebelum menjawab pertanyaan Ale tadi.
"Gini ya Bang. Istri Abang sepertinya memang tinggal di sini," Ale langsung saja tersenyum bahagia mendengar awal penjelasan salah satu pria tersebut.
"Tapi, maaf nih, kalau sekiranya penglihatan Kami salah. Karena selama ini kami lihat cewek ini tidak tinggal seorang diri Bang di sini,"
"Oh, dia ada yang menemani. Syukurlah!" ucap Ale lega.
"Jangan buru- buru selebrasi Bang! Kalau kecewa malunya nggak kira- kira lho nanti,"
__ADS_1
Ale mendongak memandang pada pria tersebut untuk meminta penjelasan.
"Ah, lebih baik Abang cari tahu sendiri deh kebenarannya. Kita kasih tahu alamatnya aja, gimana? Nggak apa- apa kan?"
Ale mengangguk cepat.
setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan sang istri, Ale segera melajukan kendaraannya. Ia berhenti saat melihat sebuah rumah minimalis dengan taman yang cukup asri di bagian depannya. Ale belum berniat keluar dari kendaraannya. Ia masih memperhatikan apa dan siapa saja yang ada di tempat itu.
Ale mendengar suara riuh anak- anak bernyanyi dari dalam rumah tersebut. Ia memasatkan penglihatannya saat beberapa anak tersebut mulai keluar. Mereka berlarian menuju taman dengan berbagai macam kegiatan.
"Sepertinya ini tempat bermain dan belajar anak- anak. Tapi apa hubungannya Aisyah dengan tempat ini? Apa dia tim pengajar di sini?"
Ale bersiap melepas seatbeltnya.Namun, saat dia mendongak tanpaklah seorang wanita muda keluar dari ruangan itu.
Orang yang sangat di cintai, di sayangi dan yang selalu di rinduinya itu kini tengah berjalan menghampiri anak- anak tadi.
Ale tersenyum. Senyuman yang lebih sekedar bahagia dari saat dirinya bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi hingga kini dia mampu membawa Mama dan Inangnya untuk tinggal di rumah yang jauh lebih nyaman di banding tempat tinggal mereka sebelumnya.
Ale bahkan tak berkeinginan untuk mengedipkan matanya barang sedetik saja. Dia takut saat membuka mata maka sang permaisuri sudah pergi lagi dari pandangan matanya.
Lama Ale menunggu, hingga kini anak- anak tersebut sudah pulang. Kini tinggalah Aisyah seorang diri yang bersiap untuk pulang juga.
Aisyah mengunci pintu pagarnya lalu duduk di kursi taman tersebut.
"Dia nungguin siapa sih? Apa sebaiknya aku hampiri sekarang saja? Nggak harus menunggu sampai dia tiba di rumahnya," gumam Ale.
Ale tanpak merapikan rambutnya yang sebenarnya tidak terlalu berantakan itu menggunakan sela- sela jemarinya. Baru saja ia akan membuka pintu mobilnya. Namun, sebuah pemandangan yang cukup menyesakkan dadanya tersaji di depan matanya.
Seorang pria dengan postur tubuh yang hampir sama dengan dirinya tanpak turun dari kuda besi merahnya.
Ale tercekat, saat dilihatnya Aisyah tanpak sudah sangat akrab dengan pria di depannya itu. Mereka terlibat perbincangan dengan hasil akhir yang membuat Ale ingin sekali keluar lalu berlari memeluk istri tercintanya itu yang kini sudah duduk manis dibelakang si pria.
Mereka tidak menunjukkan gelagat layaknya sepasang kekasih ataupun pasangan suami istri pada umumnya. Namun, nyatanya hati yang hancur itu sudah tak mampu lagi merapikan ataupun memintal semua pikiran positif yang telah di kalahkan oleh rasa kecewa dan pedih di hatinya.
__ADS_1
Tak ada kata apalagi kalimat yang mampu ia ucapkan walau hanya sekecap saja.
Kuda besi yang membawa istrinya itu berjalan lamban melewati mobil Ale yang kini menatap Aisyah dengan air mata yang tak berjeda.
"Jauh perjuangan dan perjalananku untuk menemuimu. Tapi, kenapa ini yang harus kulihat Ai? Aku tetap setia saat ragaku dan ragamu entah dimana akan bertemu. Tapi kenapa kau mendua? Aku sekuat hati mempertahankan rasaku hanya untukmu. Namun, nyatanya semudah itu diriku tergantikan oleh orang lain,"
Ale masih betah berdiam di dalam kendaraannya hingga hari telah berganti senja.
"Apa aku harus pulang tanpa membawa apa yang menjadi tujuanku Ai?" tanyanya putus asa. Seputus asa itu rasanya saat apa yang kita pertahankan nyatanya telah berpindah haluan bahkan kini pergi meninggalkan.
Ale melajukan kendaraannya dengan kecepatan maksimal. Pikirannya yang kacau sudah tak mampu lagi mengendalikan amarah dan hawa nafsunya.
"Kenapa kamu khianati aku Ai, kenapa?" teriaknya dengan semakin mengencangkan laju roda empatnya. Ia berbelok saat melewati sebuah tempat hiburan malam.
Penampilan Ale yang walaupun dalam suasana hati yang kacau. Namun, tidak dengan covernya. Ia masih rapi dan harum. Hanya wajahnya saja yang tak mampu menutupi betapa berantakannya hatinya kini.
Beberapa pekerja wanita di tempat itu silih berganti mendatangi dirinya,tentu saja dengan harapan bisa menjadi teman kencannya malam ini.
"Pergilah! Aku tidak butuh wanita dalam hidupku," sergahnya kasar.
Ale kembali menandaskan minuman beralkoholnya hingga botol minuman itu kini sudah berjejer kosong di depannya.
"Kamu jahat Aisyah, jahaaaattt. Hahahaha," racaunya.Dengan tubuh sempoyongan ia melangkah keluar meninggalkan tempat hiburan malam itu.
"Lho, lho Bang," Ale menoleh saat mendengar ada seseorang yang menyapa lalu bergegas memapah tubuhnya.
"Kenapa jadi kacau seperti ini Bang? Udah ketemu sama istrinya?" tanya si pria yang ternyata adalah salah satu dari ketiga pria yang membantunya siang tadi.
Bugh!
"Sabar Bang!" pria tersebut memegangi tangan Ale yang terluka karena memukul kaca mobilnya hingga retak.
"Dia mengkhianatiku Mas. Kukira setia ternyata mendua, kukira melati ternyata dia setajam belati,"
__ADS_1
Terima kasih.
Happy Reading all. 🥰🥰