
Ingatlah! Terkadang tidak mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, bisa menjadi hal yang terbaik untukmu.
Aisyah belum menyadari bahwa pria yang duduk di kursi tersebut adalah suaminya. Namun, rasa sangsinya kian menguat saat pria tersebut kembali berucap.
"Duduklah!" titahnya.
Aisyah memberanikan diri maju beberapa langkah mendekat kepada si pria.
"Semakin dekat mengapa getarannya semakin kuat dan hebat saja ya?" bathinnya ragu.
Ale masih menyembunyikan wajahnya.
"Pak Ale?" Aisyah memberanikan diri memanggil nama sang suami.
Ale menurunkan map yang berisi file- file karyawan di kantornya. Ia tersenyum menatap Aisyah yang malah menatap heran padanya.
"Bapak kerja di sini juga?" tanyanya asal. Tapi memang itulah yang ada dalam benaknya.Menjadi istri seorang Aleandra aryaguna al ahnaf beberapa hari belakangan ini, dia sedikit banyak tahu jika pekerjaan sang suami adalah bertatap muka dengan benda persegi panjang berwarna abu di depannya itu.
"Apa nama perusahaan ini Ai?" tanyanya seraya berdiri untuk lebih dekat lagi kepada Aisyah.
"Ar, Arya," Aisyah menjeda kalimatnya. Ia tersipu malu kini. Bisa- bisanya dia tidak menyadari bahwa perusahaan ini adalah kepunyaan Ale. Nama tengah Ale adalah nama yang terpampang nyata di menara gedung ini.
"Kenapa bisa sedungu ini?" umpatnya dalam hati.
"Kenapa nggak dilanjutkan?" tanya Ale terus saja menggoda.
"Bapak sengaja ya?" tuduhnya mengalihkan rasa malunya.
"Sengaja? Kamu playing victim ya?" Ale berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang Aisyah tuduhkan.
"Tadi malamkan saya sudah cerita sama Bapak, jika hari ini akan interview di sini. Kenapa nggak bilang kalau ini adalah perusahaan Bapak! Apa namanya kalau bukan sengaja?" ucapnya kesal, lalu berjalan menjauh dari Ale.
"Saya pikir itu perusahaan milik orang lain, dengan nama yang sama Ai," sangkalnya agar Aisyah percaya.
"Mana ada seperti itu! Setiap perusahaan mempunyai namanya sendiri- sendiri. Bapak nggak usah ngarang deh!" hardiknya semakin kesal dan juga malu. Ia merasa sudah dipecundangi oleh suaminya sendiri.
Ale masih tersenyum, menatap Aisyah yang terlihat masih saja memggerutu lewat gerakan bibirnya yang nampak berkomat- kamit.
"Senyum aja terus! Bapak menghina saya kan?"
"Siapa yang menghina Ai, nggak ada!" jawabnya serba salah.
"Halah bohong! Saya taulah mana senyuman yang tulus dan yang modus."
"Bisa dimulai interviewnya?" tanya Ale seolah tak mendengar gerutuan Aisyah.
"Nggak! Saya mundur saja dari interview kali ini,"
Aisyah mempercepat langkah kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Namun, dengan gerakan cepat Ale menghalangi langkah Aisyah menggunakan tubuhnya.
"Jangan marah. Maafkan saya," pinta Ale dengan tatapan menghibanya.
__ADS_1
"Maaf? Untuk apa?"
"Untuk semua kekesalanmu."
Akhirnya Ale berhasil mengajak Aisyah untuk duduk.
"Bapak nggak salah. Sayanya saja yang terlalu bersemangat, sehingga tidak menyadari akan hal ini,"
"Kamu nggak marah sama saya? Jadi bisa dilanjutkan dong wawancaranya?" Ale kembali menggoda Aisyah yang malah menatap sinis kepadanya.
"Interview apa? Semua tentang saya,Bapak sudah mengetahuinya,"
"Belum semuanya," tolak Ale mengerlingkan satu matanya.Berharap Aisyah bisa sedikit lembut menjawab pertanyaan darinya.
"Bapak yang tidak ingin mengetahui semuanya tentang saya. Aku mah apa atu? Cuma istri simpanan," keluhnya lagi yang membuat Ale menggaruk jambang tipisnya gatal.
"Sabar ya," ucapnya memberi harapan.
"Selalu dan mungkin selamanya,"
"Doanya diperbaiki dong Ai. Kenapa pasrah banget kayak gitu," protes Ale.
"Doa saya ada di tangan Bapak. Jadi ya tergantung Pak Ale. Akan berapa lama menjadikan saya sebagai gundik," sindirnya yang membuat Ale langsung meneguk cepat air mineral di depannya.
Aisyah menarik sudut bibirnya.
"Selalu saja begitu jika aku menyinggung tentang masalah ini, capek tau nggak Pak. Ada tapi di anggap tidak ada," gerutunya dalam hati.
"Apa kamu sudah memiliki seorang kekasih ketika menikah denganku Ai?"
"Wawancara suami ke istrinya," jawab Ale santai.
"Jawab iya atau tidak!" imbuhnya lagi.
"Tidak!" jawab Aisyah singkat.
"Berikan alasan kenapa saya harus mempercayai jawabanmu itu,"
"Bapak plinplan ih! Peraturannya kan iya atau tidak. Kenapa harus di jelaskan," ucapnya tak terima.
"Saya berhak merevisi semua aturan di sini,"
"Dasar pemimpin diktator!" umpatnya.
"Hidup saya, saya dedikasikan untuk orang tua dan kedua adik saya di desa Pak. Bagi saya pacaran hanya akan membuat kasih sayang dan perhatian saya untuk mereka berkurang,"
"Lalu bagaimana dengan menikah denganku? Bukankah ini lebih serius dari hanya sekedar pacaran?"
Aisyah tak menjawab pertanyaan Ale. Dia meraih anjungan tunai mandirinya, lalu menunjukkannya kepada Ale. "Setidaknya satu kewajiban saya tetap saya penuhi untuk mereka,"
Ale tersenyum haru. Sungguh takdir memang tidak pernah salah memilih. Hanya terkadang kita yang terlambat menyadarinya.
__ADS_1
"Kamu nggak ada keinginan untuk bertanya juga?" ucap Ale lalu menyandar di kursi serta melonggarkan dasinya.
"Untuk apa? Saya sudah tahu jawabannya," ucap Aisyah.
"O ya? Memangnya apa yang kamu tau tentang kisah percintaan saya?" tanya Ale lagi.
"Wanita yang wajahnya ada di cover bantal Bapak,"
Ale melebarkan matanya bingung.
"Wanita di sarung bantal? Yang mana?"
"Ada di apartemen.Tiap hari dipeluk masa lupa?" sindirnya.
"Oke, oke. Kita selesaikan di rumah. Sepertinya kamu sudah salah paham," ucap Ale mencoba menenangkan sang istri yang terlihat lebih mudah tersulut emosi beberapa hari ini.
"Nggak!"
"Eh! Dia cemburu ya?" bathin Ale.
Ale mulai bisa melihat perubahan dalam sikap Aisyah. Yang awalnya dia selalu diam dan diam, bicara hanya seperlunya saja, Menjawab dan menyapa Ale persis seorang bawahan terhadap atasannya. Namun, kini Aisyah mulai menunjukkan beberapa sisi kewanitaannya. Dia terlihat sudah berani menunjukkan rasa kesal, kecewa dan yang baru saja di tunjukkannya itu adalah sebuah rasa cemburu. Dan Ale bahagia melihat perubahan itu, setidaknya Aisyah mulai bisa menerima pernikahan tanpa cinta ini.
Aisyah bekerja sebagai cleaning servis di kantor Ale. Sebenarnya Ale keberatan dengan posisi itu. Namun,Aisyah tidak ingin para karyawan di sini curiga jika Ale menempatkan dirinya sebagai staff khusus di ruangan CFO. Bisa terbongkar lebih awal dong pernikahan mereka.
Aisyah masuk ke ruangan Ale.
"Bapak manggil saya?"
"Duduklah!"
Aisyah masih berdiri dengan sapu di tangannya.
"Saya di sini sebagai karyawan Bapak. Orang lain bisa curiga jika melihat saya berada di sini hanya duduk santai saja. Apa yang harus dibersihkan?"
"Saya memanggil kamu bukan untuk bersih- bersih Ai. Tapi untuk menemani saya bekerja,oke?"
"Nggak Oke ah! Bapak bawel kalau kerja," tolaknya.
"Bawel? Kapan?"
"Kapan- kapan,"
hahahhaha.
Keduanya tertawa lepas. Namun, tawa mereka tiba- tiba terhenti saat pintu ruangan Ale diketuk.
"Maaf Pak.Direktur utama sudah menunggu di ruangan meeting. Pak Ale di harapkan segera hadir," ucap Evan dari balik pintu yang sedikit terbuka.
"Saya segera meluncur," ucap Ale, lalu melihat Aisyah yang pundaknya masih bergetar akibat tawa mereka barusan.
"Saya akan segera kembali," Ale membelai lembut surai Aisyah sebelum keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Perlakuan manis sang suami yang membuatnya menjadi semakin dilema.
"Kenapa dia itu baik banget sih sama aku? Padahal dia tidak mencintaiku. Kenapa tidak menceraikanku saja, setelah itu dia bisa bebas melanjutkan hubungan asmara dengan kekasihnya," ucapnya sendu.