
Setelah lebih dari satu jam Ale tak kunjung kembali ke ruangannya, Aisyah memutuskan untuk keluar.
"Jangan sering-sering deh kayak gini. Bahaya!" ucapnya khawatir.
Baru beberapa langkah ia berjalan ponselnya bergetar.
"Ai, maaf ya. Saya tidak pulang ke apartemen hari ini. Saya sudah pesankan angkutan online, kamu tunggu saja di halte,"
"Huh," Aisyah membuang nafasnya panjang dan lelah.
"Sampai kapan seperti ini? Sebenarnya apa yang dia inginkan dari pernikahan ini. Apa?" tanyanya prustasi.
Menjalani hubungan pernikahan tanpa cinta bukanlah impiannya.Walaupun perhatian dan sedikit kasih sayang Ale sudah mulai bisa Aisyah rasakan. Tapi untuk apa jika tidak ada pengakuan? Lalu jika nanti Aisyah menanyakan tentang semua perhatian dan kasih sayang yang di berikan itu sebagai apa? Lalu jawabnya hanya sebagai rasa tanggungjawab saja. Siapa yang akan kecewa,pasti dirinya juga. Kenapa semua salah tak bisa disudahi detik ini? Kenapa semua tanya dan ragu selalu menemui jalan buntu? Tak bolehkah dirinya tahu akan seperti apa akhir kisah cintanya ini? Kenapa dirinya merasa seperti tengah dipermainkan?
"Huh, satu doaku terijabah hari ini," imbuhnya lagi lalu melangkah gontai.
"Heh! Kamu cleaning service barukan di sini? Ngapain kamu ke ruangannya Pak Ale, Mau tebar pesona sama beliau? Dih muka udah mirip banget kayak ubi jalar gitu," ucap seorang wanita dengan seragam yang sama seperti dirinya.
Aisyah menghela nafasnya kasar. Sungguh masalah seakan sudah tak sabar menanti gilirannya untuk menghampiri dirinya.
"Perkenalkan namaku Aisyah Kak," ucapnya memperkenalkan diri.
"Cih! Dasar udik. Siapa yang ngajakin kamu kenalan heh!" hardiknya dengan tatapan sinis.
Aisyah melangkah perlahan bermaksud meninggalkan ketiga wanita di depannya itu. Namun, satu wanita malah menghalangi langkahnya dengan menyilangkan satu kakinya, hingga Aisyah jatuh tersungkur.
Aisyah segera berdiri tanpa mengeluh sakit akibat perlakuan salah satu dari mereka bertiga itu.Aisyah membenahi rambutnya yang berantakan.
"Apa kalian tidak ada pekerjaan lain?" tanyanya mulai tersulut emosi kini.
"Nggak," jawab ketiganya berbarengan.
Aisyah menggeleng pelan.
"Apa seperti ini perlakuan karyawanmu terhadap karyawan baru Pak?" tanyanya dalam hati.
"Besok pagi- pagi sekali temui saya,jangan telat!" hardiknya lagi sebelum Aisyah melangkah.
"Saya bekerja bukan untuk Anda!" ucap Aisyah tanpa menoleh. Entah darimana keberanian itu berasal.Nyatanya dirinya memang tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti apa yang baru saja dialaminya tadi.
"Waw! Sudah berani melawan perintah senior rupanya dia Wen," ucap wanita tersebut melirik pada satu temannya.
__ADS_1
"Sepertinya dia memang ingin berkenalan dengan kita Sef. Kapan kita eksekusi?" tanyanya dengan senyum menyeringai.
"Sabar.Mungkin saja besok dia sudah resign dari sini, jadi kita tidak perlu buang-buang energi untuk memberikan ucapan selamat bergabung bersama kita."
Aisyah melangkah cepat meninggalkan kantor Ale.
Sementara itu di kediaman orang tua Ale.
"Al, Mama perhatikan akhir- akhir ini kamu lebih sering pulang ke apartemen,Kenapa? Udah nggak nyaman dengan semua pertanyaan Mama?"
"Nggak Ma. Ale selalu pulang larut malam. Takutnya mengganggu istirahat Mama," jawabnya memberi alasan.
"Terus, Mama harus percaya sama alasanmu itu?" ucap sang Mama ragu seraya memandangi wajah putra sulungnya itu.
"Ya harus percaya dong Ma. Mama curiga sama Ale?" tanyanya balik.
"Fifty-fifty Al, tapi lebih banyak nggaknya sih,"
"Ck, Mama,Itu namanya bukan fifty- fiftylah," protesnya tak terima.
"Ya memang gitu, gimana dong?" ucap sang Mama mengedikkan kedua bahunya.
"Al, malam minggu besok kita diundang untuk menghadiri jamuan makan malam di Hotel Panca buana. Kamu bisa kan?" tanya sang Mama lebih fokus kepada Ale.
"Ale usahain Ma, tapi nggak bisa janji,"
"Kenapa? Akhir pekan masih lembur juga?" ucap sang Mama kesal.
"Proyek,baru berjalan Ma. Papa menyerahkan semua urusan proyek pada Ale, mau nggak mau Ale harus bekerja lebih getol lagi,"jawabnya coba meyakinkan sang Mama.
"Bahasamu Al, udah kayak kuli bangunan yang nganggur lebih dari satu semester saja," cibir sang Mama menyungginggkan bibirnya.
Ale mengusap wajahnya lalu meraih tangan sang Mama.
"Memang proyek Ale kali ini berhubungan sama mereka Ma,"
"Iya, Mama tahulah ya. Tapi nggak usah berlebihan gitu dong alasannya, ketahuan banget kalau lagi mengarang cerita,"
"Nggak lagi ngarang cerita Ma," ucapnya mencium pipi sang Mama sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Mama berharap banyak sama kamu Al. Bawa calon menantu Mama juga ya malam minggu besok,"
__ADS_1
Ale menoleh mendengar permintaan sang Mama. Jika sudah begini dia pasti akan ketularan melow juga. Percayalah,Ale lebih baik melihat sang Mama yang bawel dengan segala macam ocehannya daripada mamanya yang melankolis seperti ini.
"I love you Mom. Doakan Ale terus ya. Semoga secepatnya bisa mengabulkan keinginan Mama," ucapnya sebelum akhirnya berlalu dengan kendaraannya.
"Sebenarnya cewe seperti apa sih Pa yang jadi kriteria Al itu? Mama heran, sejak zaman sekolah sampai kuliah,lalu sekarang sudah bekerja, belum pernah sekalipun dia bawa cewe pulang ke rumah kita.Papa mikir nggak sih?" tanya Sabrina Mama Ale terhadap Chandra sang Papa.
"Kita ikut alurNya saja Ma,mau di paksain bagaimanapun, kalau belum waktunya ya percuma Ma,"
Sabrina mencebik kesal mendengar jawaban suaminya.
"Ck, Papa sama Ale sama aja, lempeng! Pasrah, nrimo wae," ucapnya berlalu meninggalkan sang suami.
"Sesuatu yang di paksakan itu nggak baik hasilnya lho Ma, saran Papa ya sabar sajalah," imbuhnya yang semakin membuat Sabrina kesal.
"Sabar aja terus,usaha dong Pa! Ale itu udah mendekati kepala empat lho. Memangnya Papa nggak pingin apa nimang cucu dari anak sendiri?" ucapnya seraya menoleh kepada sang suami yang tersenyum seraya mengangkat gelas kopi yang masih mengepulkan asapnya.
"Mama makin cantik kalau ngereog, lanjut dong Ma, mumpung Papa di rumah,"
"Papa menghina apa meledek?" Sabrina melayangkan tatapan permusuhan kepada sang suami yang selalu saja tak serius jika ia membicarakan perihal Ale.
"Eh, tambah marah dianya," gumam Chandra.
"Papa akan bicara serius tentang keinginan Mama ini kepada Ale,"
"Kok keinginan Mama aja sih," protesnya lagi.
"Iya keinginan kita. Udah Mama bantu doa aja ya, biar Papa yang usaha," ucapnya coba memberi harapan.
"Al, usahakan malam minggu ini kamu bisa ikut menghadiri jamuan makan malam di Hotel Panca buana ya," pinta sang Papa.
Ale menoleh. Namun, belum lagi ia mengiyakannya. Sang Papa kembali berucap.
"Ajak juga pacarmu!"
Degh.Ale mendadak kesusahan menelan salivanya.
"Pa,pacar siapa Pa?" tanyanya gugup.
"Ya, pacar kamu lah! Masa iya istri tetangga yang kamu ajak, mau jadi pebinor kamu?"
"Nauzubillahiminzalik Pa,jelek- jelek gini Ale masih bisalah cari yang bersegel."
__ADS_1