Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Meredam emosi.


__ADS_3

Malam semakin larut namun mata ini masih enggan terkatup, kubuka lagi dan lagi benda pintar yang tergeletak lunglai di sampingku.


"Ai," ucapku lirih seraya memandangi wajah ayunya di wallpaper ponselku.


Malam terasa sangat sunyi di sini. Aku mendengar ada langkah kaki yang berjalan kesana- kemari di depan pintu kamar istriku ini.


Rasa penasaran membuatku lalu melangkahkan kaki ini pelan berjinjit mendekati gagang pintu, ada sedikit celah di sana. Tak ada siapapun di depan kamar ini saat satu bola mataku bergerilya mencari sumber suara itu.Lalu langkah kaki siapa yang terdengar berjalan mondar-mandir tadi?


Aku kembali duduk di ranjang Aisyah. Kulirik jarum jam di tanganku. Sudah hampir tengah malam, wajar,jika semakin malam maka suasana akan semakin sepi. Hanya terdengar suara serangga malam yang berbisik berisik.


Samar- samar kudengar suara seorang pria yang bisa kutebak jika itu adalah suara mertuaku tengah berbincang pelan dengan istrinya, ehm Ibu mertua ya.


Apa yang mereka perbincangkan,aku tak dapat mendengarkannya dengan jelas. Hanya sesekali aku dengar mereka tampak berdebat kecil. Apakah aku yang sedang mereka perdebatkan? Semoga saja bukan.


"Sebaiknya Ayah tunggu di depan lorong saja Bu. Ini sudah cukup larut, Aisyah itu kan anak perempuan, bahaya jalan sendirian."


"Tapi di rumah kita sedang ada tamu laki-laki asing Yah, Ibu takut jika dia itu hanya berpura-pura menumpang, padahal cuma modus. Anak perawan kita dua lho Yah di dalam rumah ini, Ayah nggak mikir sampai ke arah itu kah?"


"Saya tau Bu, sepertinya dia memang benar atasannya Aisyah. Buktinya Aisyah langsung pulang.Selama ini mana pernah dia pulang menjelang tengah malam begini, "


Saat tengah berdebat kecil itulah terdengar sebuah kendaraan berhenti tepat di halaman rumah mereka.


"Sepertinya itu Aisyah Yah?" ucap sang istri yang langsung berdiri akan menyongsong seseorang yang terlihat turun dari kendaraannya.


"Terima kasih tumpangannya Pak," ucapnya sebelum menutup pintu mobilnya.


Aisyah berjalan cepat dengan menyeret koper mininya.


"Ayah, Ibu," ucapnya menghampiri kedua orang tuanya itu.


"Ai," Aisyah segera memeluk keduanya secara bergantian. Ada lara yang ingin di luahkannya.Ada kisah dosa yang segera ingin dirinya mohon maafkan. Ada ganjaran yang saat ini tengah ia rasakan. Banyak sekali cerita dan maaf yang tak sabar menunggu pagi untuk ia buka satu persatu esok hari.


Seperti biasa, Aisyah akan langsung masuk ke kamar bila pulang ke rumahnya, dan hal itu lolos dari perhatian sang Ayah yang kini tengah menutup pintu pagar kayunya.


"Alhamdulillah, akhirnya malam ini bisa tidur di kamarku sendiri," ucapnya lalu meraih handle pintu kamarnya.


Aisyah berjalan menuju saklar untuk menghidupkan lampu kamarnya.


"Tumben lampunya dimatiin sama Ayah," gumamnya lalu mulai melepasi satu persatu pakaiannya untuk ia ganti dengan piyama polosnya.


Saat akan meraih pakaian di lemarinya. Aisyah mencium aroma parfume sang suami.


"Ah, mana mungkin Pak Ale ada di sini, pasti halusinasiku sudah di atas normal ini. Duh Pak, sedang apa dirimu sekarang ya? Pasti kamu sedang tidur nyenyak setelah acara lamaranmu dengan anak konglomerat itu," ucapnya seraya mengancingkan satu persatu pengait bajunya.

__ADS_1


"Aakkhhh!" Aisyah menjerit saat tiba-tiba sepasang tangan kekar memeluk dirinya dari arah belakang. Namun teriakannya seketika teredam, karena tangan itu kini pindah ke bibirnya.


Aisyah berusaha melepaskan bekapan tangan kekar itu dari mulutnya. Namun, percuma tenaganya tak sebanding dengan kekuatan pria tersebut. Hingga sang pria merubah posisi ada di depannya kini.


"Pak Ale," ucapnya setelah tangan itu tak lagi membekap mulutnya. Ale mengangguk dengan senyum bahagia dan air mata yang sudah siap meluncur dari bola matanya.


Aisyah tak dapat lagi mengontrol emosinya. Ia peluk erat lelakinya yang juga balas memeluknya tak kalah hangat.


"Kenapa pergi?" tanyanya tanpa melepas pelukannya terhadap sang istri.


"Kenapa nekat kesini?" ucap Aisyah dengan wajah yang masih betah ia susupkan di dada bidang suaminya.


Ale mengangkat dagu sang istri dengan satu tangannya, lalu ia kecup kening itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Jangan pergi lagi,kumohon," pintanya dengan kembali memeluk tubuh lemas Aisyah.


Kesadaran Aisyah yang tergerus oleh suasana,tiba-tiba sudah kembali dengan normal. Ia lepaskan pelukan pertamanya terhadap Ale. Wajahnya berubah menjadi penuh amarah.


"Bapak pembohong!" ucapnya memukuli dada bidang suaminya itu berulang-ulang. Ale tak menolaknya, ia biarkan wanitanya ini meluahkan semua kekesalan dan kekecewaannya. Hingga akhirnya Aisyah lemas karena hantaman gelombang emosi dan amarahnya yang tak terkira.


Kembali dipeluknya tubuh lemas sang istri.


"Kamu salah paham Ai, suamimu bukan pecundang seperti apa yang kamu sangkakan," ucapnya saat kini Aisyah sudah terlihat sedikit lebih tenang walaupun masih dengan pandangan mata tajam menghunus kepadanya.


"Kamu jahat! Kamu brengsek! Kamu pengecut!" umpatnya dengan pandangan yang berapi-api.


"Hei!" Ale meraih kedua tangan Aisyah yang masih brutal memukuli setiap inci tubuh bagian depannya.


"Ini benar Aisyahku? Nyonya Al ahnafku?" ucapnya tak percaya.Istrinya yang tak pernah ia lihat marah sebesar ini sebelumnya,berkata dengan kosa kata yang bisa di bilang lumayan kasar untuk diucapkan dan didengar.


Lalu apakah rasa kecewa dan amarah yang teramat dalam yang sanggup merubah halus tutur katanya?


"Mana Aisyahku yang lembut dan tak pernah berkata kasar kepada aku suaminya ini? Mana panggilan sayangnya yang selalu membuatku tak ingin berlama-lama berada di depan laptopku?" godanya,walaupun wajah sang istri nyatanya belum berubah ramah padanya.


"Ternyata aku tertipu semua perlakuan dan kata- kata manismu Tuan Aleandra," ucapnya masih dengan setelan wajah kesalnya.


"Tertipu?" ucap Ale masih menggenggam erat tangan Aisyah yang selalu saja memberontak untuk di lepaskan.


"Lepaskan! Aku nggak mau di sentuh oleh pria yang sudah memiliki kekasih," geramnya karena Ale hanya tersenyum menanggapi luapan amarahnya.


"Bahkan aku lebih berhak dari hanya sekedar menggenggam tangan istriku bukan kekasihku,"


Ale semakin mengeratkan pelukannya. Aisyah menggigit bahu suaminya kencang. Setelah berhasil lepas dari pelukan Ale,ia berniat untuk berlari. Namun sial,pintu kamarnya sudah lebih dulu dikunci oleh Ale.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan terhadap keluargaku, apa!" berangnya dengan pikiran buruk yang mulai merasuki otaknya.Yang kini ada dalam benaknya adalah nasib Ayah, Ibu, serta kedua adik perempuannya yang pasti sudah disekap terlebih dahulu oleh Ale. Ah Aisyah kenapa pikiranmu senegatif itu.


"Mereka keluargaku juga, kenapa aku harus menyakiti mereka?" ucap Ale yang masih saja bisa tenang menghadapi luapan amarah sang istri.


"Pembual! Pembohong! Pecundang!" ucapnya dengan air mata yang sudah tak bisa dibendungnya, tubuhnya lemas. Ia sudah tak mampu mengumpat Ale dengan semua tuduhannya. Nyatanya Ale masih tetap tersenyum manis walau semua julukan rendahan itu berkali-kali ia lontarkan. Suaminya terlalu sabar menghadapi gelombang emosinya. Suaminya terlalu dewasa menanggapi sifat kekanak-kanakannya. Ale terlalu baik untuk semua tuduhan buruknya.


Aisyah hanya diam saat Ale menyeka air mata dengan ujung jarinya.


"Marahlah! Katakanlah aku sebagai seburuk apapun itu, Katakanlah sepuasmu!" ucap Ale dengan posisi menunduk di depan sang istri yang menatapnya dengan tatapan yang susah untuk diartikan. Walaupun amarahnya terlihat lebih besar ketimbang rasa rindunya, namun ada rasa lain dalam tatapan matanya itu.


"Kamu masih marah Ai?" tanyanya setelah beberapa puluh menit mereka hanya diam.


Aisyah masih diam. Banyak tanya yang terhimpun di benaknya. Banyak prasangka yang ingin ia patahkan.


"Apa tujuanmu menemui keluargaku?" Aisyah masih belum menyebut suaminya dengan sapaan Bapak, seperti sebelum kejadian malam ini.


"Tujuanku jelas untuk menemui istriku," Ale masih berjongkok di depan Aisyah dengan kepala yang ia dongakkan ke atas.


"Berdirilah! Jangan membuatku menjadi orang yang tidak tahu diri,"


"Aku tengah berjuang mengambil kembali hati istri kecilku yang kini tengah dikuasai amarah dan emosinya,"


Aisyah menangis dalam ketidak berdayaannya. Satu sisi ingin membenci namun bahasa tubuh nyatanya tidak bisa untuk di bohongi. Sebesar apapun amarah dan kecewanya, nyatanya hatinya telah tertambat pada Sultan Al ahnaf di depannya ini.


"Ayah?" ucapnya lirih diantara tangis tanpa suaranya.


"Saya sudah ceritakan semuanya kepada Ayah. Dan rupanya kebaikan dan kebesaran hati beliau mengalir pada dirimu Aisyah,"


"Hatiku tidak sebesar itu," ucapnya masih dengan nada ketus.


"Tapi hatimu baik," timpalnya lagi.


Aisyah mendengkus kesal,menanggapi bualan Ale.


"Ayah menerima kegilaan kita?" ucapnya lagi.


"Menikah itu sunnah Aisyah, bukan suatu kegilaan!" protes Ale untuk ucapan istrinya ini.


Sementara itu di depan kamar Aisyah. Ayahnya berkali-kali menahan sang istri yang berusaha masuk kedalam kamar putrinya yang terdengar tengah menghujat menantunya.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalah rumah tangga mereka dengan caranya sendiri Bu. Kita hanya wajib mengarahkannya, bukan ikut campur apalagi menghakimi mereka,"


"Apa sebutan untuk laki-laki yang menikahi anak gadis orang, tanpa memintanya secara baik- baik kepada orang tuanya terlebih dulu Yah, apa?" geramnya.

__ADS_1


__ADS_2