
Seakan esok tak ingin ia melihatnya. Bukan, ia bukan ingin nafasnya berhenti saat ini saja. Namun, ia ingin menikmati malam ini lebih panjang lagi. Jika kata mustahil tak pernah di ucapkan dia ingin malam ini tak pernah berubah pagi, dia ingin waktu terus bergulir tanpa berganti hari.Namun, sayang,mimpi indahnya baru saja akan dimulai saat kabut hari mulai membelai.
Dilihatnya wajah tampan suaminya. Deru nafasnya berirama sempurna dengan detak jantungnya.
"Apakah waktuku bersamamu hanya sampai esok saja Pak? Apa kamu tahu ketakutanku lebih besar dari rasa sedihku karena kepergianmu? Bolehkah aku meminta untuk dirimu tetap disampingku saja? Jangan, jangan pergi," lirihnya dengan menelusuri wajah sang suami degan jari lentiknya.
"Kamu tampan, sangat tampan. Pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padamu. Lalu, apakah aku masih bisa disebut sebagai wanita yang paling beruntung karena bersuamikan pria sempurna sepertimu? Nyatanya aku sudah tak bisa memilikimu saat ragamu masih di sisiku," Aisyah menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Ale.
Malam bergulir cukup lambat. Aisyah nasih betah dengan mata sembabnya. Tangis tanpa suaranya belum mampu membuat Ale terjaga.
Aisyah genggam tangan Ale yang nampaknya mulai bereaksi dengan racauan yang keluar dari bibir merahnya. Bibir itu pernah menyatu dengan dirinya. Ya, malam panjang itu telah mereka lewati dengan penuh cinta dan lebih banyak cinta, lagi dan lagi. Mereka telah menyempurnakan pernikahan mereka malam itu.
"Ai, apa sekarang sudah pagi?" tanyanya dengan mata yang belum terbuka sempurna.
"Ini masih tengah malam Pak, tidurlah!" ucap Aisyah dengan merebahkan tubuh lemahnya di samping Ale.
Pagi yang cerah. Sinar matahari tak malu- malu menampakkan pesona jingganya ke segenap penjuru bumi. Ada panas yang sedang di nanti- nanti pada musim dingin di belahan dunia yang lain. Ada dingin yang sekarang tengah bergelung manja di atas ranjang dua insan yang masih bersembunyi di balik selimut tebalnya.
"Pak!" Aisyah menepuk pelan pipi Ale yang malah menangkap satu tangannya lalu ia bawa dalam pelukan di dadanya.
"Biarkan seperti ini," pintanya dengan mata yang masih terpejam.
"Tapi ini sudah pagi ho Pak, bukannya Bapak ada penerbangan pagi ini?" tanya Aisyah dengan mengguncang pelan lengan Ale yang masih tetap pada posisinya.
"Hmm,masih ada waktu untuk kita melepas rindu sebelum penerbanganku," Ale memeluk erat Aisyah yang malah menangis lagi.
Aisyah tak tahu kenapa air matanya murahan sekali akhir- akhir ini. Kecuali itu, emosi dan suasana hatinya selalu saja labil. Dia bisa tiba-tiba saja menangis jika sedang memikirkan Ale yang tak kunjung kembali dari kantornya. Entahlah sebelum ini Ia bukanlah gadis manja yang selalu ingin di samping sang suami.
"Hei! Jangan menangis sayang, Abang nggak akan lama perginya," ucapnya menggoda,yang malah membuat tangis Aisyah semakin tersedu- sedan saja.
Sayang, Abang? Kalimat manis yang diucapkan oleh Ale selama pernikahan mereka.
"Abang? Bolehkah aku memanggil Pak Ale dengan sebutan Abang?" tanyaya dengan menyeka air mata di pipinya.
"Tentu saja boleh sayang," Ale membelai pipi Aisyah yang basah karena air mata.
Abang? Aku sangat memimpikan bisa memanggil suamiku dengan sebutan khas dari Sumatera itu, dan sekarang mimpiku berhasil kuwujudkan. Walau sedikit terlambat, karena pada kenyataannya Abangku suamiku hanya menyisakan beberapa menit saja bersamaku.
__ADS_1
Aisyah masih saja canggung untuk memanggil Ale dengan sebutan itu.
"Abang pergi dulu ya.Jangan nangis dong!" pintanya sebelum keluar dari kamarnya.
Aisyah tersenyum. Namun, tak ayal air matanya ikut mengalir juga.
Setelah pesawat yang ditumpangi Ale benar-benar hilang dari pandangan matanya. Aisyah dengan diantar sopir pribadi Ale itupun kembali ke rumahnya.
Beberapa hari setelah keberangkatan Ale. Sang suami masih rajin menghubunginya, baik itu melalui pesan suara ataupun panggilan video.
Aisyah merasa tubuhnya sudah tidak dapat di ajak bekerja sama dengan baik lagi. Ia umpama orang dengan keluhan magh akut saja kini. Makanan apapun yang masuk ke dalam mulutnya pasti akan ditolak oleh perutnya.
Pagi ini saja dirinya sudah hampir sepuluh kali keluar masuk kamar mandi. Tubuhnya lemas sungguh ia tak berdaya kini. Berkali-kali ia menghubungi Ale. Namun, nyatanya selalu saja gagal.
Aisyah terduduk lesu di ranjangnya.
"Kamu sedang apa Bang? Kenapa payah sekali sih!" umpatnya dengan meremas perutnya yang sudah beraneka rasa yang ditimbulkan.
Aisyah baru saja akan beranjak turun saat suara ketukan pintu terdengar dari luar.
Aisyah bergegas membuka pintu kamarnya.
"Iya, ada apa Mbok?" tanyanya pelan.
Mbok Sariyah memindai penampilan istri dari Tuan mudanya ini dari ujung ke ujung.
"Non Aisyah sedang tidak enak badan ya? Wajahnya pucat ini," ucapnya dengan membelai lembut wajah Aisyah.
Aisyah menggelengkan kepalanya. Rasanya untuk membuka bibir saja, maka sesuatu di dalam sana akan ikut bergejolak.
Mbok Sariyah menempelkan punggung tangannya di kening Aisyah. Hal kecil yang sukses membuatnya teringat akan sosok Ibunya.
"Normal kok Non," ucapnya. Namun, sejurus kemudian dia terhenyak.
"Duh Gusti, sampai lupakan jadinya.Tuan muda Ale mau bicara sama Non Aisyah," mendengar nama suaminya saja rasa bahagia Aisyah langsung membuncah. Ia segera turun mengikuti Mbok Sariyah.
"Abang," ucapnya dengan suara yang pelan.
__ADS_1
"Ai, kenapa suaramu lemes banget sih, kamu sakit ya?" tanya Ale dari ujung teleponnya.
"Aisyah rindu Abang. Abang kapan pulang," tanyanya umpama adik yang sudah terlalu lama menunggu Abangnya yang tak kunjung pulang dari perantauan.
"Pekerjaanku belum selesai Ai, maaf belum bisa menjanjikan apapun kepadamu," jawabnya sedih.
"Tapi kamu baik- baik sajakan di rumah?" tanya Ale lagi.
"Kenapa nomor Abang nggak bisa dihubungi, dan kenapa malah menghubungi ke telepon rumah? Bukannya ke nomorku!" umpatnya kesal. Entah kemana Aisyah yang dikenalnya lembut dan dewasa dulu.
"Kenapa berubah begini," monolog Ale dalam hatinya.
"Handphoneku hilang Ai,ini Abang pakai telepon kantor, maaf ya sudah membuatmu khawatir,kamu belum jawab pertanyaanku,kamu sakit?" ucap Ale mengulangi pertanyaannya.
"Aku baik- baik saja Bang. Mungkin asam lambungku saja yang bermasalah," jawabnya dengan duduk menyandarkan kepalanya.
"Kamu mual, muntah- muntah Ai?" tebak Ale berharap dugaannya benar.
"Hmm," jawab Aisyah malas. Pastilah lelakinya ini akan menebak jika ia tengah berbadan dua.
"Nggak usah ngada- ngada deh Bang. Aku nggak hamil kok, hanya asam lambungku saja yang bermasalah," ucap Aisyah menolak dugaan suaminya.
"Iya juga nggak apa- apa kok. Anggap saja sebagai hadiah penyambutan kepulangan Abang nanti ya,emmm Ai, sebaiknya kamu segera periksa ke dokter pribadi Mama ya. Nanti biar Abang yang bicara,"
"Ih, Abang apaan sih! Nggak usah ah, malu," tolak Aisyah jengah. Masih saja suaminya itu menganggap dirinya hamil.
"Kenapa harus malu sayang,itu dokter keluarga kita. Dan jika ternyata benar kamu hamil, ada aku sebagai suamimu yang bertanggungjawab sepenuhnya atas kalian," ucap Ale menegaskan.
"Aku hanya ingin Abang pulang, hanya itu. Aku nggak butuh dokter untuk mengobati rasa aneh yang tiba-tiba bisa datang lalu pergi dari tubuhku, aku hanya ingin kamu, hanya kamu," Aisyah menangis dalam lirihan suara di hatinya.
Aisyah duduk sendiri di balkon kamarnya. Ia menoleh saat seseorang masuk tanpa mengetuk pintu kamarnya terlebih dulu.
"Waw! Rupanya ini wajah gadis kampung yang rela menjual harga dirinya dengan menjadi istri simpanan kekasihku," seorang wanita berperawakan tinggi berjalan mendekati Aisyah yang kini mulai beranjak dari duduknya.
"Siapa Anda? Lancang masuk ke kamarku!" ucap Aisyah dengan berjalan menghampiri wanita tersebut.
"Aku tidak perlu meminta izin untuk masuk kedalam kamar calon suamiku sendiri, gadis kampung!"
__ADS_1