
Aisyah memicingkan satu matanya melihat lebih jelas lagi wajah wanita yang lancang masuk kedalam peraduannya bersama sang suami.
"Calon suamimu? Bahkan walaupun kau menuduhku sebagai istri simpanan Ale, nyatanya dalam hal apapun akulah pemenangnya,bukan kamu yang hanya calon istrinya. Baru jadi calon aja bangganya udah melebihi orang yang berhasil masuk nominasi bergengsi,rendah sekali tolak ukur kebanggaan Anda," Aisyah duduk di atas ranjangnya dengan satu kaki yang ia silangkan.
"Cih, cewek udik pinter mengultimatum juga rupanya kamu. Besar juga nyalimu gadis kecil!" Helena berjalan bak peragawati mengelilingi Aisyah yang masih duduk santai dengan mendongakkan kepalanya.
"Nyaliku sesuai dengan posisiku Tante!" Helena mendengkus kesal mendengar Aisyah menyebutnya Tante.
"Aku bukan Tantemu!" hardiknya dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Aisyah.
"Tidak perlu berbasa-basi. Katakan! Apa keperluan Anda datang ke kamarku?" Aisyah mulai tak nyaman dengan kehadiran Helena.
"Saya ingin menggantikan posisimu sebagai Nyonya Aleandra di rumah ini,"
"Silakan! Dan saya tidak akan melepaskannya begitu saja, carilah sendiri celah yang mungkin bisa kamu lewati. Celah ya bukan jalan! Dan jika kamu berhasil merebutnya dariku,tetap saja yang kau dapatkan adalah bekasku. Mubazir sekali wajah cantik Anda Tante, apa stok pria single di muka bumi ini sudah punah? Hingga suami orang saja rela kau ambil dari istri sahnya,"
"Jalanku bukan jalanmu! Dan apa yang sudah di tetapkan menjadi milikku akan kuambil kembali," Helena berdiri tepat di depan Aisyah yang masih terlihat tenang walau kalimat yang di ucapannya jelas tersirat sebuah penekanan.
"Ketetapan siapa yang kau agung- agungkan di atas ketetapan Tuhan? Tidak ada kebaikan dari mengambil milik orang lain Tante,kenapa harus memaksa? Apa sebegitu tidak menariknya kah dirimu di hadapan pria lain sehingga memilih jalan hina seperti ini?"
"Jaga mulutmu gadis kampung! Harus kau tau, aku ada jauh sebelum pernikahanmu dengan Ale. Dan akulah yang akan menjadi menantu di sini bukan kamu. Dan asal kau tau, kedatanganku atas perintah Papa Chandra, mertuamu. Sekarang pahamkan di mana seharusnya dirimu berada?"
"Aku akan tetap ada di hati suamiku,"
"Percaya dirimu wajib kuapresiasi.Tapi,mana suami tersayangmu itu, mana? Sudah berapa hari dia tidak menghubungimu, kau tau dia selalu meneleponku, bahkan pagi ini sebelum ke kantor dia menyempatkan waktu untuk berbincang santai melalui panggilan videonya. Sementara kamu? Aduh, nangis darah ya, kasian, istri simpanan yang terabaikan," Helene mengibaskan satu tangannya pada wajah Aisyah.
"Ucapan tanpa bukti umpama menampung air pada pecahnya gelas. Percuma! Sebanyak apapun kau tuangkan tak akan ada yang menikmatinya, orang hanya fokus pada pecahannya, bukan pada air yang hanya mengalir tanpa singgah. Lalu pecahan mana yang tengah engkau perhatikan? Di sini atau di sini?" tunjuknya tepat di dada dan wajah Helena.
"Kamu akan menemukan jawaban atas perbuatanmu yang telah meremehkanku, berdoa saja agar Tuhan memberikanmu air mata yang tak pernah ada habisnya, sakit hati yang tak akan pernah berhenti, rindu yang hanya membuatmu semakin pilu, hingga kau muak dengan semua rasa yang dulunya adalah kebahagiaanmu,"
Aisyah menghela nafasnya panjang. Kenapa. penyakitnya kambuh pada saat yang tidak tepat? Aisyah berlari menuju toilet di kamarnya.
Helena melebarkan matanya saat mendengar suara Aisyah dari kamar mandi.
"Jangan-jangan dia hamil lagi, duh makin asyik dong mainanku kali ini," gumamnya lalu berjalan keluar meninggalkan Aisyah yang kini tengah mengatur nafasnya setelah tenaganya habis di kamar mandi tadi.
__ADS_1
"Kemana dia?" Aisyah mengedarkan pandangannya. Namun, samar- samar dia mendengar suara tertawa terbahak- bahak di bawah sana.
Aisyah sedikit menunduk untuk memastikan penglihatannya. Dan benar saja di bawah sana Helena tampak berbincang akrab dengan Chandra.
"Om Chandra harus gerak cepat sebelum betina itu menyadari kehamilannya, lalu dia akan mengatakannya pada Ale, bisa kacau semua rencana kita Om," ucap Helena berbisik- bisik. Ia tahu Aisyah tengah memperhatikan mereka dari atas sana.
"Apa kita eksekusi sekarang saja gadis kampung itu, sebelum Sabrina pulang," tanya Chandra meminta pendapat dari Helena.
"Om takut sama Tante Bina? Hahahaha," Helena menertawakan reaksi wajah Chandra saat mendengar ucapannya.
"Aku bukan takut Helena, tapi waspada itu perlu.Bagaimanapun dia adalah istriku, semua hartaku sebagian besar atas namanya, apa jadinya jika dia sampai tahu niatan kita ini,"
"Kita harus bermain sangat rapi Om," ucap Helena memberi ide.
"Ah! Aku sudah bosan dengan berpura-pura menjadi orang baik Helen," tolaknya.
"Lalu? Apa Om Chandra akan langsung mengusirnya dari rumah ini sekarang?" tanya Helena sedikit bergidik ngeri juga dia,jika memang benar Chandra akan melakukan niatannya itu.
"Sepertinya harus sedikit lebih manusiawi," Chandra tampak memikirkan sebuah cara untuk membawa Aisyah keluar dari rumahnya.
Aisyah tengah duduk sembari membaca majalah di kamarnya. Ia menoleh saat Mbok Sariyah datang dengan membawa minuman hangat di nampannya.
Aisyah meraih minuman tersebut. Tanpa curiga sedikitpun ia lantas meminum tehnya selagi hangat.
Mbok Sariyah sudah keluar dari kamar Aisyah saat Aisyah merasakan jika kepala dan matanya terasa berat, tak berapa lama iapun sudah terbaring di lantai kamarnya dengan kepala menyandar di sebagian ranjangnya.
Helena bergerak cepat dengan mematikan semua kamera pengawas yang ada di dalam kamar Ale itu, setelah semua selesai iapun membawa Aisyah keluar dari kamarnya.
Dan di sinilah kini Aisyah berada. Sebuah tempat yang ia sendiripun tak tau apa namanya. Rasanya sejauh mata memandang hanya terdapat gedung-gedung yang sepertinya belum selesai pengerjaannya.
"Ini di mana? Kepalaku pusing sekali," keluhnya dengan mata berkunang- kunang.
"Hei," Aisyah menoleh saat sepasang tangan kekar menahan tubuh lemahnya yang hampir jatuh.
"Siapa kamu?" ucapnya dengan mata yang perlahan kembali tertutup. Gelap dan hanya ada gelap.
__ADS_1
Aisyah perlahan membuka matanya. Menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke jendela,entah kamar siapa. Namun, perlahan ingatannya kembali. Dengan cepat ia hempaskan selimut dan juga gulingnya. Aisyah mendadak menghentikan langkahnya, saat wajahnya ternyata membentur dada bidang milik pria yang kini tersenyum ramah padanya.
"Maaf, sudah merepotkan Anda," ucapnya dengan wajah tertunduk lalu bermaksud menerobos tubuh si pria.
"Ada baiknya Nona istirahat untuk beberapa hari ke depan agar tenaga dan tubuh Nona kembali pulih," Aisyah terdiam. Suara bariton pria tersebut mengingatkannya akan Ale yang sudah lebih dari satu pekan tak pernah lagi ia dengar suaranya.
"Nona harus memiliki banyak tenaga untuk melanjutkan perjalanan Nona," imbuhnya lagi dengan penuh perhatian. Dan lagi perhatian pria asing di depannya ini sukses membuat rasa rindunya semakin tak tau diri saja.
"Maaf, tapi saya harus segera pergi dari sini," ucap Aisyah dengan menangkupkan kedua tangan di dadanya.
"Kondisi Anda sangat lemah Nona. Selain itu, ada nyawa lain yang hidupnya bergantung pada Bundanya,"
Aisyah membola. Nyawa lain? Maksudnya apa?
"Maksud Anda apa?" tanyanya yang semakin memperkeruh suasana hatinya. Sudahlah ia bangun di tempat yang tak lagi sama saat ia memejamkan mata, lalu kini tubuhnyapun sudah tak sendiri lagi.
Ada nafas yang mengalir dari denyut nadinya, ada kehidupan yang bergantung padanya, dan ada cinta yang pernah di semai oleh sang suami dan kini benih itu telah bersemi di dalam rahimnya.
Bahagia? Rasanya ucapan yang mengatakan sedang menunggu yang namanya indah pada waktunya sungguh tak tepat untuk Aisyah.
Yang bahagia dan yang datang tak tepat waktu.
Aisyah meluruh tak peduli jika pria asing di depannya itu tengah sibuk dengan praduganya.
"Mungkinkah dia ini gadis yang di buang oleh kekasihnya karena kehamilannya, ataukah dia ini istri simpanan pria hidung belang yang sengaja di buang?"
" Hei! Tunggu," teriaknya dengan mencekal satu tangan Aisyah.
"Kamu tidak mempunyai siapa- siapa di sini, dan tempat ini tidak begitu ramah untuk wanita hamil sepertimu," ucapnya mengcengkeram erat tangan Aisyah.
"Sakit," lirih Aisyah dengan melihat pada tangannya.
"Maaf," ucap pria tersebut merenggangkan cengkeramannya.
"Terima kasih untuk perhatian dan pertolongan Anda, tapi saya harus pergi dari sini. Tolong lepaskan saya," pinta Aisyah.
__ADS_1
"Jika kamu tidak peduli pada dirimu sendiri, setidaknya jadilah Ibu yang baik untuk calon buah hatimu,"
Plak!