Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Dijemput?


__ADS_3

Ale yang merasa curiga karena sang sopir yang hanya menanggapi ucapannya dengan angguk- angguk dan geleng-geleng itupun akhirnya memberanikan diri membuka topi pria tersebut.


Sekali-kali jadi anak badung nggak apalah ya Al. Dan kecurigaannya ternyata benar, pria tersebut adalah Evan mantan asisten pribadinya di kantor.


"Jadi kamu dipecat Van? Kenapa?" tanyanya merasa bersalah. Pasti ini berkaitan erat dengan keputusannya yang memilih pergi dari rumah dan keluarga besarnya.


"Karena saya nggak mau menuruti perintah Bapak," jawabnya dengan memandang intens wajah Ale.


"Perintah apa?" ucapnya dengan kembali masuk ke dalam mobil.


"Saya diminta Bapak untuk mengintai Anda Pak," jawabnya tanpa keraguan sama sekali.


"Kamu menolaknya dan lebih memilih menjadi driver Van?" tanya Ale tak percaya. Evan mengangguk dengan tersenyum lega.


Sungguh uang dan jabatan memang tidak serta merta bisa membutakan seseorang. Evan adalah contoh nyatanya. Betapa kesetiaannya sungguh tak bisa Ale tukar dengan macam- macam penghargaan bahkan tunjangan dan bonus sekalipun. Nyatanya saat dirinya sudah tak berdaya dalam segi finansial, Evan masih tetap setia padanya,dengan mengorbankan pekerjaannya.


"Terima kasih Van, maaf tak bisa memberimu apa- apa untuk saat ini. Kamu tau, saya sudah memutuskan untuk pergi dari rumah. Itu artinya saya bukan lagi atasan kamu. Kita sama Van, jangan panggil saya Pak lagi ya," pintanya menepuk pelan punggung tangan Evan.


"Tutur kata dan tatakrama tidak di ukur dengan uang dan jabatan Pak. Sebagai apapun Bapak saat ini. Saya tetaplah asisten Pak Ale. Jangan memohon seperti itu Pak," ucapnya menolak dengan halus. Ia tahu Tuan mudanya tengah berada dalam finansial yang sangat- sangat sulit.


"Bapak ada interview di perusahaan itu ya?" tanyanya dengan pandangan tertuju pada sebuah gedung yang sepertinya sebuah hotel syariah.


"Iya Van.Mau buka usaha modal nya masih modal- madil," ucapnya berseloroh.


"Maaf nggak bisa bantu Bapak," Evan menimpali ucapan Ale.


"Serius banget sih Van jawabnya. Santai aja. Kalau waktumu senggang singgahlah ke kontrakan.Simpen alamat kontrakan saya kan Van?"


"Hati-hati Pak, Tuan besar sepertinya sedang gencar- gencarnya mencari tau keberadaan Anda, saya tidak bisa banyak membantu. Hanya itu yang saya tau. Sebaiknya Bapak dan istri segera pindah dari kontrakan itu,"


Ale memandang sedih atas informasi yang di berikan oleh Evan. Dia pikir dengan pergi dari kehidupan sang Papa, maka urusannya akan selesai, dia akan memulai hidup barunya dari nol, tanpa embel-embel nama besar Papanya yang pasti sudah mem blacklist namanya dari daftar keluarga besarnya. Tapi, ternyata tidak sesimpel itu.


"Tuan muda baru saja kembali beberapa hari setelah Bapak pergi," tambahnya lagi memberi informasi kepada Ale.

__ADS_1


"Abram pulang Van?" ucapnya dengan menyebut nama adiknya yang selalu saja membuat ulah dengan dunia gemerlap malam dan juga para wanitanya.


Evan mengangguk, mengiyakan ucapan Ale. Tiba-tiba Ale teringat istri kecilnya di rumah dan juga pesan yang di sampaikan oleh Evan tadi.


"Aisyah. Van tolong antar saya kembali ke kontrakan. Saya mengkhawatirkan Aisyah istri saya," pintar Ale dengan kepanikannya yang luar biasa.


"Tapi interview Bapak bagaimana?" ucap Evan mengingatkan.


"Mungkin belum rezeki saya Van. Saya bisa mencobanya lain waktu,"


Ale segera keluar dari taksi yang dikemudikan Evan saat mobil tersebut berhenti di depan pagar kontrakannya. Setelah mengucapkan terima kasih, Ale segera berlari untuk menemui Aisyah.


"Nggak nyangka Pak Ale bisa sebucin itu sama istrinya," monolog Evan dengan tersenyum tipis.


Sungguh cinta memang mampu merubah pribadi yang dingin sedingin salju menjadi hangat sehangat selimut bludru. Ale yang cuek dan terkesan tak peduli pada lawan jenisnya kini berubah menjadi lelaki yang paling antipati terhadap orang yang berani mengusik permaisuri hatinya.


"Aku tidak habis pikir sebenarnya apalagi yang di inginkan Tuan besar dengan tidak merestui pernikahan mereka," Evan segera melajukan kendaraannya setelah memastikan Ale masuk kedalam rumahnya.


"Seperti yang Bapak lihat, saya baik- baik saja," jawab Aisyah saat Ale telah selesai mengitari tubuhnya.


"Kenapa Bapak pulang? Interviewnya udah selesai?" tanyanya heran.


"Keselamatanmu jauh lebih penting dari apapun Aisyah," ucapnya dengan meraih tubuh sang istri untuk dia bawa dalam pelukannya.


"Bapak kenapa?" tanyanya semakin bingung saja kini. Sungguh Aisyah bahagia karena kini Ale mulai menunjukkan besar dan lebih besar lagi rasa cinta tanpa pernyataannya. Namun, banyak tanya dan pradugapun jelas ikut serta dalam rasa bahagianya. Kenapa? Ada apa? Siapa?


"Kita harus segera pergi dari sini Ai, tempat ini sudah tidak aman untuk kita tinggali, kemasi pakaian kita sekarang juga! Kita akan pergi dari sini," ucapnya menarik tangan Aisyah. Aisyah menahan tangan Ale yang tengah sibuk mengemasi pakaian mereka kedalam koper.


"Ini darurat sayang, nanti saya jelaskan!" ucapnya menjawab wajah penuh tanya dari Aisyah.


Aisyah tersenyum saat lagi, lagi Ale memanggilnya sayang.


"Sayang kamu" pungkasnya dengan menggandeng tangan Aisyah.

__ADS_1


Mereka baru saja akan keluar dari rumahnya, ketika tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan kontrakan mereka.


"Pak, mereka siapa?" ucap Aisyah dengan memegangi tangan Ale, yang tampak menepuk pelan punggung tangan sang istri berusaha menenangkannya.


"Tidak usah takut, ada saya di sini," ucapnya dengan langkah pasti menemui dua lelaki dengan pakaian serba hitam yang Ale yakini adalah orang-orang suruhan Papanya.


"Selamat siang Tuan muda," ucap salah satu dari keduanya memberi salam kepada Ale. Hal yang semakin menguatkan dugaannya.


"Kami diminta Tuan besar untuk menjemput Anda Tuan," ucapnya lagi setelah Ale mengangguk menjawab salamnya.


"Maaf, jika kalian hanya menginginkan diriku, maka silakan kalian pulang dengan tangan kosong!" ucap Ale dengan lebih mendekatkan Aisyah kepadanya.


"Pak," ucap Aisyah lirih dengan wajah ketakutan yang tak bisa ia sembunyikan.


Sungguhpun, Ale adalah sebaik- baik pelindungnya saat ini. Namun, rasa khawatir itu tak bisa ia enyahkan begitu saja. Ia tahu bahwa suaminya ini bukanlah berasal dari keluarga yang hanya terbilang berharta, tapi juga berpengaruh.


Aisyah semakin takut saat tanpa sengaja melihat seorang diantara kedua pria tersebut tampak memandang benci terhadapnya. Hal yang ternyata tak luput dari perhatian sang suami.


"Rendahkan pandangan dan juga hatimu! Dia istriku. Menghinanya sama saja dengan menghina diriku," ucap Ale menegaskan.Tak ada seorangpun yang boleh mengusik apalagi merendahkan Aisyah istri tercintanya.


Aisyah mengguncang tangan Ale berkali-kali. Dia takut sungguh takut, jika saat ini pria itu bersedia mengikuti ultimatum dari sang suami. Lalu,bagaimana jika sang suami sedang tidak bersamanya, akankah sama seperti sekarang ini kejadiannya? Hal lain yang pasti berbanding terbalik dan pasti sesuai dengan sangkaannya.


"Kami diminta Tuan besar untuk menjemput Tuan dan Nona muda,"


Aisyah menggeleng dalam dekapan suaminya. Namun, Ale meyakinkan bahwa semua akan baik- baik saja selama bersama dengannya.


"Percaya padaku Ai, aku tidak akan membiarkan seorangpun menyakitimu. Percayalah!" pintanya lalu ikut masuk kedalam Lexus hitam miliknya, yang kini di kemudikan oleh orang kepercayaan Papanya tersebut.


Ale terus saja memenangkan Aisyah yang tak melepas genggaman tangannya pada lengan Ale. Ia akan berjumpa lagi dengan pria angkuh Ayah dari suaminya. pria sombong yang telah menghina dan mengusirnya. Lalu sekarang dia harus datang lagi, mengikuti keyakinan sang suami, bahwa semua akan baik- baik saja. Tak tahukah Ale sebesar apa rasa traumanya terhadap Chandra?


*Berjalanlah ke depan tanpa melihat kebelakang. Mereka yang meragukanmu tidak akan menyukai itu. Tersenyumlah walau air mata terkadang lebih menguntungkan dibandingkan sebuah keberanian. Kuatkan hati dan ragamu, jangan mengeluh ataupun merasa ragu. Jika dia yang mencintaimu berani menjamin kebahagiaanmu, maka tak ada alasan membuatmu ragu. Allah itu sesuai prasangka hambaNya.


Terima kasih. love kalian banyak- banyak*.

__ADS_1


__ADS_2