Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Kemarahan Ale.


__ADS_3

"Setinggi apa jabatanmu hingga kau sanggup meninggikan suaramu di hadapan Papa?"


Chandra mencekal satu tangan Ale dengan separuh tubuhnya yang ikut terseret keluar.


"Papa bukan lagi Papaku yang dulu. Papa egois! Papa menilai semua tentang istriku hanya dari satu sisi. Apa pernah Papa mendengar dari sisi pandang Ale Pa? Nggak pernah Pa!"


"Sisi yang mana Al? Papa hanya ingin menyelamatkan keluarga kita ini dari derita kemiskinan,"


Ale menghela nafasny panjang lalu ia keluarkan secara kasar.


"Menyelamatkan keluarga dari kemiskinan dengan mengorbankan kebahagiaan Ale. Lalu keluarga seperti apa yang Papa selamatkan? Apakah hanya Papa dan Abram itu bisa di sebut sebuah keluarga, lalu kami ini sebagai apa Pa, apa? Tumbalkah?"


Chandra semakin geram saja melihat Ale yang sudah tak memedulikan ucapannya lagi.


"Kamu menghargai Papa dan adik kandungmu dengan kata hanya Al?" ucapnya dengan menekankan kata hanya dalam kalimatnya.


"Dasar anak durhaka!" ucapnya lagi.


"Papa yang memaksa Ale menjadi seperti ini. Kenapa Papa harus melibatkan orang lain dalam rencana picik Papa ini, kenapa Pa?


" Orang lain? Siapa maksudmu?" Chandra terdiam. Tatapan matanya kini berganti kepada sang istri yang kini tengah memeluk erat lengan Ale.


"Sabrina.Apa ini hasil dari perbuatanmu?" Ale melebarkan matanya. Ingin rasanya ia menepuk pipinya kuat- kuat, dengan besar harapan rasa sakit itu tak akan pernah dirasakannya. Namun, nyatanya sakit hatinya lebih pedih dari sayatan sembilu. Pedihnya garam yang di tuang dalam luka mengaganya nyatanya lebih pedih daripada perkataan kasar sang Papa yang dilontarkan terhadap Mamanya.


Sekasar- kasarnya sang Papa kepada dirinya akhir- akhir ini, sakit hatinya masih bisa ia rasakan dan sedikit ia pendam sendiri dalam palung terdalam di hatinya. Tapi, Mamanya? Orang yang bertaruh nyawa saat melahirkan dirinya, di bentak oleh sang Papa dengan langsung menyebut nama tanpa embel-embel lainnya. Sungguh, jika saja Rasulullah SAW tak menyebut nama Ayahmu, setelah tiga kali menyebut nama Ibumu. Maka terlahir tanpa Ayah rasanya lebih menguntungkan baginya saat ini.


"Cukup Pa!" ucapnya dengan merengkuh tubuh sang Mama yang kini menangis menatapnya.


"Cinta telah membutakan mata hatimu Al,"


"Harta dan kekuasaan telah merenggut Papa dari kami semua. Pernahkah Papa berpikir akan hal ini? Terbesitkah dalam kesendirian Papa tentang bagaimana perasaan kami? Masih adakah rasa sayang dan peduli yang tertinggal walau hanya setitik saja untuk Mama? Mama pa, bukan Ale," Ale mengusap air mata yang mulai mengalir di sudut matanya.


Dulu sewaktu kecil, sang Papalah yang melarangnya untuk menangis. Namun, setelah dewasa, Papanyalah yang menjatuhkan air matanya secara bertubi-tubi, lagi dan lagi.


"Halah! Nggak usah sok melankolis kamu Al. Inilah yang Papa takutkan jika kamu tetap hidup bersama gadis kampung itu. Menjadi anak pembangkang!"

__ADS_1


Ale kembali menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya. Tak pernah ia menyalahkan takdir hidupnya. Biarlah semua akan menjadi cerita hikmah di kemudian hari.Walaupun ia sendiri merasa sangsi akankah hari itu dapat mereka nikmati lagi? Semoga saja.


"Papa sudah keterlaluan! Ale akan membawa Mama untuk ikut bersama Ale. Ayo Ma!" Ale meraih tangan sang Mama yang malah melepas genggaman tangannya.


Ale menatap dengan tatapan sangat bingung. Apa yang tengah di pertimbangkan oleh Mamanya ini? Dan pola pikir seperti apa yang ada dalam benak sang Mama?


"Mama ikut Ale Pa. Semoga dengan kepergian kami ini dapat membuat Papa kembali menjadi Chandra aryaguna Al ahnaf seperti yang kami kenal dulu," ucap Sabrina seraya berlalu meninggalkan sang suami yang sama sekali tak merespon ucapannya.


Chandra bergeming. Rasa angkuhnya masih terlalu tinggi untuk hanya sekedar menyesali akibat dari perbuatannya. Ia masih saja menganggap benar semua keputusannya. Menganggap jika Aisyahlah dalang dari perubahan sikap istri dan anaknya itu.


"Dasar gadis kampung! Berharap bisa menjadi ratu dalam istana khayalan. Bermimpi menjadi Cinderella dengan menikahi Ale. Mimpimu sudah level Brahmana gadis kampung. Sekarang, pasti kamu tengah menyesali kedunguanmu yang dengan mudahnya masuk ke dalam perangkapku,"


Chandra menutup pintu rumahnya dengan kasar.


"Sariyah!" pekiknya dengan berjalan cepat menuju dapur.


"Sariyah!" pekiknya lagi. Namun, tak ada siapapun yang menjawab seruannya.


"Kemana perempuan tua itu? Apa mau ikutan nggembel juga seperti Nyonya dan Tuan mudanya?"


"Cih,sandiwara murahan!" ucapnya dengan berdecih saat melihat adegan menyebalkan di halaman rumahnya itu.


"Tetaplah tinggal di sini Mbok, saya titip Tuan besar sama Mbok Sariyah," Sabrina memohon dengan menggenggam kedua tangan asisten rumah tangga kepercayaannya itu.


Mbok Sariyah menggeleng cepat. Diam-diam dirinya menyaksikan perdebatan majikannya di dalam rumah tadi. Tak ada pertimbangan yang harus menuntunnya untuk tetap tinggal di rumah besar ini. Sementara hal yang menjadi pertimbangan terberatnya untuk tetap mengabdi pada keluarga ini nyatanya malah akan pergi meninggalkan rumah besar ini.


"Nggak Nyah. Izinkan saya ikut Nyonya dan Tuan muda," mohonnya dengan berusaha melepaskan genggaman tangan Sabrina.


"Tapi,siapa yang akan mengurus semua kebutuhan Tuan besar Mbok? Siapa? Mbok Sariyah adalah orang kepercayaan suami saya. Tinggallah di sini untuk kami Mbok, setelah semua kembali tenang, saya janji akan kembali. ke rumah ini,"


"Jangan berjanji untuk hal yang Mama sendiri tidak meyakininya Ma, berhenti menjadi pecundang untuk orang lain yang sama sekali tidak peduli kepada Mama," Ale menengahi perdebatan keduanya yang kini menatap dirinya dengan tatapan yang hampir sama untuk di artikan.


"Tuan muda, kenapa bicara seperti itu tentang Papa Tuan muda? istighfar Tuan," Mbok Sariyah mengusap pelan punggung tangan momongannya itu.


"Saya sudah terlalu kecewa sama Papa Mbok, beliau bukan lagi Papa kita yang dulu. Papa sudah berubah Mbok,"

__ADS_1


"Pergilah! Sudah cukup kalian menghadirkan sandiwara murahan di rumahku ini, dan kau Sariyah, ikutilah Nyonya dan Tuan mudamu itu, dengan hidup menggembel di jalanan!"


Ale segera membawa pergi Mama dan Inangnya itu masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti.


"Kemana kita pergi Al?" Sabrina memberanikan diri untuk bertanya mana kala Ale sudah terlihat lebih tenang, tidak se emosi sebelumnya tadi.


"Menemui Helena Ma," jawab Ale dengan melihat ke arah luar jendela mobil.


"Tapi,untuk apa Al?"


"untuk memberitahunya, bahwa tidak semua niat jahat bisa berjalan mulus dengan banyaknya uang dan tingginya kekuasaannya,"


Sabrina memandang intens putra sulungnya itu tanpa suara.


"Mama nggak usah khawatir. Ale tahu batasan Ale Ma," ucapnya coba menjawab kekhawatiran sang Mama.


"Mama akan selalu ada di sampingmu Al, mendukung apapun keputusanmu," Sabrina menyandar pada bahu sang putra dengan kelopak mata yang mulai mengembun.


"Terima kasih sudah percaya sama Ale Ma,dan Jangan menjadi pelangi untuk orang yang buta warna,"


"Al, jangan kau pupuk rasa benci dan kecewamu terhadap Papa, bagaimanapun Papa hanya sedang salah dalam melangkah. Kita tidak selamanya pergi meninggalkannya. Yakinlah jika suatu hari nanti keluarga kita akan bersatu kembali,"


"Hati Mama terlalu tulus untuk Papa khianati Ma, Ale nggak bisa terima itu,"


"Kalian hanya sedang di kuasai emosi, hawa nafsu dan amarah yang besar. Jangan biarkan syetan lebih bahagia lagi melihat pertikaian kalian ini Al, Mama mohon,"


"Love you Mom," Ale memeluk sang Mama yang kini tersenyum dalam tangis lirihnya.


Rasa sakit di hatinya tak serta merta menjadikannya terbawa nafsu amarah. Kepergiannya dengan harapan bisa membuat sang suami mengerti bahwa hanya keluargalah tempatnya kembali. Tempat berkeluh kesah, tempatnya kembali dengan berjuta peluh dan lebih banyak keluh. Orang yang tidak akan pernah benar-benar meninggalkannya.


Happy reading all.


Terima kasih sudah setia temaniku menulis.


love u all.

__ADS_1


__ADS_2