Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Tak mudah untuk memaafkan.


__ADS_3

POV Ale.


Aku berteriak menegaskan kepada Aisyah yang kulihat akan melangkah menyongsong Papaku itu. Seketika iapun berhenti lalu melihat ke arahku.


"Aku tidak mengizinkanmu untuk menemui Papa," ucapku. Dan dapat kulihat raut wajah sedih Papa. Namun, tidak dengan Aisyah. Istri kecilku ini sepertinya akan protes bahkan ingin sekali dia memaki diriku.


"Abang," lirihnya dengan berjalan mundur ke arahku.


Aku menghela nafasku pelan sebelum menanggapi keberatannya.


"Saat Papa dan Helena sengaja berkomplot untuk menyingkirkan Aisyah dan akhirnya dia hidup dalam kesusahan. Apa Papa tahu jika saat itu dia tengah mengandung anakku? Cucu Papa dan Mama," ucapku dengan suara bergetar menahan sesuatu dari kelopak mataku agar tak terjatuh.Aku tak peduli dengan rasa sesak di dada ini. Nyatanya sakit hatiku lebih parah dari rasa penyesalan Papa.


"Hamil? Jadi Aisyah tengah hamil waktu itu Al?" Papa tanpak semakin merasa bersalah atas apa yang baru saja kuceritakan.


"Apa Helena tidak memberitahu Papa? Hingga dengan teganya Papa membuang Aisyah ke tempat yang bahkan Ale sendiri belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu Pa. Lalu bagaimana dengan Aisyah Pa? Apa Papa tahu bagaimana susahnya dia menjalani hari- harinya tanpa aku. Dan semua itu akibat ulah Papa," air matakupun akhirnya lolos juga demi mengulang kisah sedih Aisyah.


Papa berjalan perlahan mendekati kami. Namun, seolah sesuatu yang buruk akan mengancam tubuh istriku, akupun maju beberapa langkah di depan Aisyah.Melindunginya dari segala macam bahaya yang mengintai.Biarlah mereka menganggapku terlalu berlebihan.Karena pada kenyataannya aku pernah ke colongan karena ke cerobohanku.


"Jangan sentuh dia Pa. Ale mohon. Semua sudah Ale korbankan. Bahkan Ale rela menukar semua harta benda yang Papa berikan demi bisa hidup bersamanya. Ale payah Pa, tapi Ale bahagia. Mohon jangan ganggu hidup kami lagi Pa," mohonku dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadaku.Mungkin aku sudah lebih durhaka dari Malin kundang yang tak mengakui ibunya.


"Papa sudah berubah Al. Papa sudah menyadari semua kesalahan dan kekeliruannya selama ini terhadap kita Nak. Kendalikan emosimu," kali ini Mamalah yang akhirnya ikut angkat bicara. Mamaku wanita yang berhati lemah lembut dengan tutur kata dan attitudenya yang sangat luar biasa halusnya. Aku bahkan tak bisa membedakan saat dia marah dan tidak.


Mama tanpak memindai penampilan Aisyah dari ujung kepala hingga kakinya. Mama melangkah maju untuk lebih dekat lagi kepada Aisyah. Dan tanpa terduga ia berjongkok lalu membelai perut Aisyah yang sudah kembali rata itu.


"Al.Apakah cucu Mama sudah bisa merespon ucapan Mama?" tanyanya dengan bergantian melihat ke arahku dan juga Aisyah. Senyum bahagia jelas terpancar di wajah tirusnya.


Aku tak sanggup untuk tak mendekat. Lalu, kurengkuh tubuh Mamaku untuk berdiri.


"Berdirilah Ma!" ucapku. Lalu, membawa Mama untuk duduk di sofa. Mama menolak dengan tetap berdiri di depan Aisyah.


"Jawab dulu pertanyaan Mama Al. Dia cucu Mama juga," tolaknya dengan pandangan tertuju kepada perut Aisyah.

__ADS_1


Aisyah hanya diam. Aku bisa melihat jika ia tengah kepayahan menahan air matanya agar tak jatuh. Sesekali ia mendongakkan wajah sedihnya.


Kurengkuh bahunya, menepuknya pelan dan berulang-ulang.


"Nggak apa- apa sayang. Kita pasti akan segera mendapatkan gantinya. Allah pasti akan menitipkan lagi seorang buah hati yang baik budi dan akhlaknya untuk kita. Percaya itu," ucapku dengan menghapus air mata yang kini mengalir pelan di pipinya.


Mama kembali menatapku dengan wajah penuh tanda tanya kini.


"Apa maksud dari perkataanmu itu Al?"


"Kami baru saja kehilangan calon buah hati kami Ma,"


Mama jatuh meluruh ke lantai. Papa segera memapahnya untuk di bawanya duduk di sofa.


"Meninggal? Jadi cucu Mama meninggal sebelum terlahir ke dunia ini Al? Sebelum Mama melihatnya?" tanyanya lagi.


Aku mengangguk,mengiyakan ucapannya.


"Sekarang Papa tahu akibat dari perbuatan Papa. Apa saja yang harus Ale korbankan Pa? Istri, keluarga, bahkan calon anak Ale yang tak berdosa itupun harus ikut menjadi korbannya juga Pa. Dan itulah puncak kehancuran kami Pa, hancuuur!" Aku membanting vas bunga yang ada di atas nakas ke sembarang arah. Aku terduduk di lantai. Aisyah dan Mama datang menghampiriku.


"Sudah cukup semua kemarahan Abang.Jangan menuruti hawa nafsu.Hanya akan menyesatkan. Sepanjang dan sebanyak apapun marah dan emosi yang Abang luahkan maka tak akan ada kepuasan yang di dapat. Bahkan Abang ingin marah lagi dan lagi," aku memeluk kembali tubuh istri kecilku yang hatinya seluas lautan ini. Dia yang di sakiti dan di singkirkan, tapi masih dengan ringannya memaafkan.


"Ale harap hal yang terjadi pada Aisyah kemarin menjadi niatan buruk Papa yang terakhir terhadap Aisyah,"


Papa berjalan lambat menuju kami. Dia ingin menunduk memohon maaf kepada Aisyah. Namun, Aisyah segera berdiri meraih tubuh Papa.


"Jangan seperti ini Pa. Aisyah mohon, Aisyah tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini dari Papa. Masa yang telah terjadi tidak perlu di ingat- ingat kembali. Aisyah yakin itu adalah salah satu cara Allah untuk menyatukan kembali keluarga kita.Papa orang baik dan akan selalu baik, Aisyah percaya itu" Aisyah duduk di samping Papaku.Dia tersenyum saat melihatku yang masih saja menekuk wajah.


"Abang, nggak mau duduk dekat Aisyah sama Papa kah?" Aisyah mulai mencoba mencairkan suasana yang masih terlihat tegang antara aku dan Papa.


Tanpa menjawab tanyanya, aku segera berdiri lalu berlalu masuk ke dapur. Aku duduk di barstool dengan satu gelas coklat panas yang baru saja kuseduh. Asapnya masih mengepul.Saat aku hendak meminumnya, ada tangan yang menarik gelas yang berisi coklat panas tersebut. Aku menoleh untuk melihat siapa kiranya orang yang ada di belakangku ini.

__ADS_1


"Mama?"


Mama tersenyum lalu mulai meniup coklat panas tersebut.


"kebiasaan kamu Al. Minuman panas langsung di minum kayak gitu. Bahaya Al!" Mama menyendok seduhan coklat tersebut lalu memberikannya padaku.


"Love u Mom," kurebahkan kepalaku di bahunya. Hal yang telah lama tidak pernah aku lakukan. Mama mengusap punggung dan rambutku pelan dan penuh kasih sayang.


"Papa pamit pulang Al," ucapan Mama barusan sanggup membuat dadaku berdetak lebih kencang.


Aku segera berdiri menyusul Papaku yang satu lagi langkah kakinya akan keluar dari apartemenku ini.


"Papa," Papa menoleh,dia tersenyum. Padahal dia belum tahu maksud dari panggilanku barusan.


Akupun berlari memeluk erat Papa yang balas memelukku tak kalah eratnya.


"Maafin Ale Pa. Maaf, Ale sudah sombong dengan mendikte semua kesalahan Papa,Ale durhaka sama Papa," aku tak mampu untuk tak menangis.Namun,saat aku mendongak, dapat kulihat di ambang pintu Aisyah dan juga Mama yang saling berpegangan tangan dengan senyum yang tak kalah bahagianya.


Aisyah, kamu memang seistimewa itu sayang. Aku bangga menjadi suamimu dan Ayah untuk anak-anak kita nanti.


Semoga tak ada lagi orang-orang yang berniat jahat kepada kami. Terlebih lagi kepada Aisyah. Satu lagi masalah yang belum terselesaikan dan masih menjadi teka- teki. Tentang siapa kiranya dalang di balik kecelakaan yang menimpa Aisyah? Yang menyebabkan kami harus rela kehilangan calon buah hati kami secara tragis.


Aku yakin masih ada seseorang yang benci dengan kebahagiaan kami.


*


*


*


Happy Reading.

__ADS_1


Terima kasih. 🥰


__ADS_2