Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Menunggumu.


__ADS_3

Pov Aisyah.


Aku turun dari taksi yang membawa kami ke sebuah rumah sakit besar di pusat kota ini. Aku berlari meninggalkan Mbok Sariyah yang pontang- panting menyamai langkah cepat kakiku.


"Non, tunggu Non!" serunya dan akupun menghentikan langkah kakiku saat mendengar seruannya itu.


Mbok Sariyah sudah berdiri di depanku dengan nafas tersengal- sengal.


"Ayo Mbok, Abang sangat membutuhkan kita," ucapku dengan menarik satu tangannya yang terasa dingin dan basah karena keringat.Menjadi pengasuh suamiku sejak usianya masih balita membuat ikatan bathin antara Keduanya terasa sangat erat. Hingga rasa khawatirnya itu rasanya lebih besar dari diriku yang bahkan baru hitungan bulan menjadi istrinya.


Aku berhenti saat sebuah brankar dengan seorang pasien yang seluruh wajahnya hampir tidak bisa di kenali itu melintas di depanku. Tanpak beberapa perawat di samping seorang pria dengan stetoskop di lehernya berjalan cepat membawa pasien tersebut.


Aku putuskan untuk mengikuti rombongan pasien tadi. Entah kenapa firasatku sedang sangat- sangat buruk kini. Pikiranku jauh entah kemana. Saat seorang perawat wanita yang mengenakan hijab berwarna putih melintas di depanku aku memberanikan diri untuk mencegatnya untuk bertanya.


"Sus.Boleh saya tau tentang pasien yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu," tunjukku pada ruangan yang bertuliskan huruf ICU di bagian pintunya itu.


"Pasien kecelakaan Kak. Namanya Tuan Al," ucapnya bergegas pergi dan seolah tak memberiku kesempatan untuk bertanya lagi.


Duniaku benar-benar terasa sempit dan terlalu gelap detik ini. Semua kesamaan yang bisa kebetulan seperti ini?


Otakku seperti tengah mengulang semua ensiklopedia tentang Bang Ale. Semua kalimat manis dan janji- janjinya pagi tadi terangkum sempurna dalam ingatanku. Dan tanpa kuputar ulang nyatanya kini suara Bang Ale umpama dentuman mariam yang bertalu-talu di indra pendengaranku. Aku menutup telingaku, lalu nenangis pilu dalam dekapan Mbok Sariyah.


"Istighfar Non. Do'akan Tuan Muda bisa melewati masa- masa kritisnya," Aku menggeleng tak peduli dengan nasihat wanita yang rambutnya tetap hitam meskipun usianya sudah senja itu.


"Abang bohong lagi Mbok! Tadi pagi dia bilang akan menemaniku akhir pekan ini. Tapi, sekarang apa? Nyatanya dia masih betah dengan mata terpejamnya. Abang!" teriakku histeris dari balik kaca pembatas ruangan ini.


"Sabar Non. Allah tidak pernah salah dalam memberikan ujian untuk hambaNya. Semua akan baik- baik saja. Tuan Ale orang yang kuat Non. Yakinlah!" ucapnya dengan memapah tubuhku agar duduk di kursi yang ada di depan ruangan tersebut.


Setiap kali aku mengingat ucapan manis Bang Ale, maka saat itu pula air mataku ikut mengalir juga. Aku bahkan tak berpikir untuk menghubungi kedua mertuaku. Hingga kini aku melihat mereka tanpak panik dalam langkah kaki cepatnya. Aku hanya diam menyaksikan kedatangan mereka. Ternyata ada Abram yang juga turut serta.

__ADS_1


"Ai," Mama langsung memelukku dengan tangis terisaknya. Aku tahu se kacau dan se khawatir apa perasaannya saat ini.Beliau ibunya. Orang yang pertama kali merasakan hadirnya, bahkan sebelum tubuhnya terlahir ke dunia ini. Orang yang selalu dan akan selalu mendoakannya bahkan jauh sebelum Bang Ale suamiku itu hadir dalam rahimnya.


"Abang di mana Kak?" aku menoleh mendengar pertanyaan adik ipar yang serupa sama dengan Bang Ale ini.


Tanpa menjawab aku mengalihkan pandangan mataku pada ruangan di depanku ini. Papa, Mama dan juga Abraam segera saja berlari menuju ruangan tersebut. Mama tanpak mengusap kaca pembatas ruangan itu,seolah ia tengah mengusap wajah putra sulungnya yang masih tidur dengan damainya di sana.


"Al, bangunlah Al. Mama di sini Al," lirihnya yang masih bisa kudengar. Betapa hancur perasaannya saat putra yang menjadi kebanggaannya tergolek tak berdaya seperti saat ini. Papa mengusap pelan punggung Mama, memberi kekuatan kepadanya. Walaupun kutahu perasaannya tak kalah hancurnya dengan Mama.


"Sebaiknya kita berdoa untuk Abang Ma," kulihat jika adik iparku itu kini berjalan ke arah musholah dengan di ikuti oleh Papa.


Aku seperti orang yang tidak memiliki keyakinan saja saat ini. Aku seolah lupa bahwa Ada Zat yang Maha segala-galanya di atas segala kecemasan dan ke khawatirkanku. Bahwa itu semua sangatlah mudah untukNya. Hanya memang terkadang sedikit masalah yang di berikan olehNya sanggup menghilangkan bermiliaran nikmat yang sudah kita terima.Sekufur itu memang kita.


Aku berjalan dengan di bantu Mbok Sariyah yang selalu setia memegangi satu tanganku.


Suasana sangat sepi di mushola ini. Papa dan Abram sudah keluar sejak tadi.


Aku pasrahkan semua masalah kepadaNya. Dia yang memberi dan aku yakin Dia juga yang akan menyelesaikannya.


Seorang dokter tanpak keluar dari dalam ruangan di mana Bang Ale di tangani.


"Bagaimana suami saya dok?" tanyaku mendekat.


"Suami Anda masih belum sadarkan diri. Luka yang membentur di bagian kepalanya tanpak sangat serius. Butuh perawatan intensif,"


"Apakah saya boleh menemaninya dok?" tanyaku lagi.


" Cukup satu orang saja ya," ucapnya ramah lalu bergegas pergi.


Aku melihat kepada Papa dan Mama mertuaku yang kini tengah fokus pada putra sulungnya itu.

__ADS_1


"Ma, Pa," Mama dan Papa langsung mendekat.


"Pergilahlah Ai. Kamu lebih berhak atas suamimu. Mama dan Papa akan selalu menemani kalian di sini," ucap Papa seolah mengerti dengan apa yang akan ku katakan.


Aku mengangguk lega mendengar tuturnya. Sungguh aku tahu mereka juga ingin sekali masuk ke dalam ruangan itu. Namun, ke nyamananan suamiku adalah yang utama saat ini. Di tambah lagi ia belum juga sadarkan diri dari pingsan atau yang lebih parahnya lagi dari komanya.


Setelah memakai pakaian khusus berwarna hijau lengkap dengan topi dan maskernya. Aku masuk.


Langkah kakiku yang semula sangat bersemangat untuk melihat kondisi suamiku dengan jarak lebih dekat tanpa penghalang itu nyatanya kini berganti lesuh.Entah kenapa, rasa sedih dan perih itu kini seperti merajalela di dalam sanubariku.


Aku duduk di samping hospital bed Bang Ale yang sungguh aku sendiri belum mampu mengenali wajahnya yang kini tertutup perban. Belum lagi beberapa selang infus yang menempel di hidung dan juga tangannya. Dan masih ada lagi alat bantu yang terhubung pada layar monitor yang berkedip- kedip dengan suara detak jantungnya yang masih lemah.


"Abang," ucapku dengan meraih satu tangannya. Kubawa tangannya dalam pelukanku. Kuciumi berulang-ulang dan lebih lama lagi. Air mataku sudah lebih dulu turun ketimbang suaraku tadi.


"Abang janji nggak akan jadi pecundang yang tak pernah menepati janjinya. Tapi sekarang apa? Abang bahkan meninggalkanku tanpa suara seperti ini. Jangan terlalu lama tidurnya Bang. Aisyah rindu," aku belum berani untuk memeluk tubuhnya, teringat saran dari dokter sebelum aku masuk ke dalam ruangan ini.


"Jangan membuat pasien shock. Bisikkan kalimat- kalimat tentang hidup di masa depan yang akan kalian jalani. Jangan mentransfer kalimat- kalimat yang bernada kecewa, sedih dan putus asa. Katakan semua tentang hidup yang indah dan bahagia bersamanya,"


Aku menyeka air mata yang masih setia mengalir tanpa henti. Aku harus kuat demi Bang Ale yang kini sangat membutuhkan suntikan semangat dariku. Tak ada gunanya menggugat. Toh, dia juga sama seperti kita. Tengah menjalani lakonnya juga.


"Abang harus bangun. Abang janji akan menemani aku minggu ini. Aku nggak mau perginya di temani sama Mbok Sariyah. Nggak asyik Bang. Aku juga ingin seperti pasangan suami istri pada umumnya Bang. Aku mau di gandeng sama Abang. Bukan di tuntun sama Mbok Sariyah. Aku mau di suapin sama Abang. Bukan makan berdua sama Mbok Sariyah," ucapku dengan menghadirkan senyum palsu di antara sesaknya rasa di dadaku.


Rasanya ingin sekali aku memukul dadanya saat dia sama sekali tak merespon ucapanku tadi. Andai yang terjadi tidaklah seperti ini. Pasti Bang Ale sudah pontang- panting mengejar dan merayuku.


Ah, Abang. Kenapa masih saja diam?


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2