
Si wanita berdecih saat si pria menyebut idenya adalah suatu hal yang gila.
"Apa kamu pikir mencintai istri Abangmu sendiri itu bukan suatu kegilaan?" cetusnya merasa lawan bicaranya itu agak sedikit tidak sadar diri juga ternyata.
"Aku tidak pernah mencintai istri dari Abangku.Kamu yang terlalu berobsesi dengannya. Hingga harus melibatkan diriku dalam rencana licikmu ini. Kenapa? Setelah usahamu menyingkirkannya gagal, lalu sekarang ingin mencobanya lagi?" kesalnya dengan ucapan wanita di depannya itu.
"Oke.Untuk hari ini mungkin dirimu masih gengsi untuk mengakuinya. Nggak apa- apa. Jika pikiranmu tiba-tiba berubah, segera hubungi aku," ucapnya yang tak dipedulikan oleh si pria.
"Dasar aneh! Kasian sekali. Cantik- cantik benalu. Numpang di hati orang yang hatinya sudah untuk wanita lain," gerutunya seraya melangkah pergi.
"Lihat saja. Berapa lama kamu bertahan dengan rasa yang bisa membuatmu semakin gila itu," ucap si wanita yang juga bergegas pergi dari tempat itu.
Sementara itu di kediaman Chandra aryaguna.
Ale sedang mendengarkan pemaparan sang Papa tentang proyek yang baru akan dimulai pembangunannya. Chandra tidak mungkin mengandalkan si bungsu yang urakan itu. Hanya Ale yang bisa diandalkan.
"Apa kamu keberatan dengan permintaan Papa ini Al?" tanyanya dengan mengurut pelipisnya naik turun.
"Ale akan bicarakan terlebih dulu hal ini kepada Aisyah Pa. Kasihan dia,"
"Papa tahu dan paham Al. Papa harap kamu bisa memberi pengertian kepada Aisyah. Carilah waktu dan kalimat yang tepat untuk bicara dengannya. Papa tunggu secepatnya,"
Waktu dan kalimat yang tepat dan secepatnya? Dikira makan siang pakai terasi bakar apa? Tidak perlu bawang putih, cabai dan penyedap rasanya. Tinggal dibakar lalu hap!
"Akan Ale usahakan Pa,"
Ale menarik nafasnya panjang lalu ia keluarkan perlahan. Demi apa? Baru saja kemarin Aisyah mengajukan permohonan agar dirinya jangan pergi jika sang Papa memintanya untuk hal itu. Lalu, sekarang semuanya menjadi nyata. Dan inilah saatnya Ale harus memilih.
Perlahan ia buka pintu kamarnya yang tidak dikunci oleh Aisyah.
Aisyah tengah berbaring di ranjang dengan memeluk guling empuknya. Matanya terpejam. Namun, ia masih mendengar saat Ale membuka pintu lalu, kini naik ke atas ranjangnya.
"Ai," sapanya dengan membenahi anak rambut sang istri yang keluar dari barisannya.
Aisyah menggeliat. Ia buka matanya tanpa melepas pelukan pada gulingnya.
"Abang dari mana? Kok lama?"
"Dari ruangan Papa,"
Aisyah segera duduk. Ia singkirkan guling motif daunnya.
"Ruangan Papa? Ngapain?"
__ADS_1
Ale menunduk lalu memijit keningnya berulang- ulang.
"Abang diminta Papa untuk ke luar negeri lagi?Proyeknya bermasalah lagi?" tebaknya yang sukses membuat Ale mendongakkan kepalanya. lalu, ia rebahkan kepalanya pada paha Aisyah.
"Abang bingung Ai. Satu sisi, Papa sangat bergantung pada Abang. Lalu, kamu adalah prioritas Abang saat ini. Bantu Abang Ai," ucapnya bingung lalu memeluk pinggang Aisyah dengan kepalanya yang ia telusupkan juga di sana.
"Boleh Aisyah ikut Bang?" tanyanya coba memberi solusi.
Ale bergeming. Ia lepas pelukannya,lalu,menatap dalam Aisyah.
Proyek yang digadang- gadang oleh Chandra ini tergolong baru. Bahkan, pengerjaannya saja baru berjalan beberapa hari di bawah pimpinan asisten managernya. Chandra aryaguna tidak sepenuhnya percaya dengan orang lain. Hanya Aleandralah yang menjadi andalannya. Jadi Ale harus pokus pada pekerjaannya itu. Lalu, jika Aisyah ikut serta, Ale takut tidak bisa membagi waktunya yang pasti akan tersita untuk proyek yang baru saja dirintis itu. Butuh kerja keras dan kerja otak juga.
"Mungkin untuk saat ini belum bisa Ai. Abang janji akan menjemputmu jika keadaan sudah mulai kondusif. Sabar ya," ucapnya dengan mengacak pelan puncak kepala Aisyah.
"Abang tetap pergi juga?" ucapnya dengan nada kecewa. Mereka baru beberapa hari berkumpul. Mengecap manisnya madu pernikahan setelah sekian banyaknya drama kolosal yang silih berganti menghampiri mereka. Lalu, sekarang harus kembali dipisahkan. Bahagia seperti apa yang harus dikeluhkan? Lalu, kesedihan yang bagaiman yang sudah ia khawatirkan?
Ale mengangguk dengan perasaan yang sungguh tidak mudah baginya.
"Katanya prioritas. Kok cuma melintas," Aisyah menggerutu dalam hatinya saat Ale mulai mengemasi pakaian ke dalam kopernya.
Keesokan paginya.
"Abang pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik. Jangan telat makan dan tidur. Kurangin mijitin ponselnya," ucapnya memberi nasihat kepada Aisyah sebelum mereka keluar dari kamarnya.
Ale gamit dagu sang istri.Lalu, maju hingga menghapus jarak diantara keduanya.
"Abang pasti kangen banget sama kamu sayang. Doakan Abang bisa secepatnya jemput kamu ya,"
Aisyah mengangguk. Namun, tak ayal air matanya mengalir deras kini. Hal yang sukses membuat kemeja Ale basah.
"Udah dong nangisnya. Abang kerja di perusahaan Papa lho Ai.Bukan jadi TKI di negeri orang," ucap Sabrina saat Ale tengah menghapus air mata sang istri yang tak henti mengalir.
Aisyah tersenyum dalam tangisannya. Ia lalu berjalan mendekat kepada sang mertua.
"Udah.Masalah bikin cucunya nanti aja. Sekarang cari cuan yang banyak dulu ya. Oke?" ucap sang Mama. Ia bawa tubuh Aisyah kedalam pelukannya saat Ale sudah masuk ke dalam mobil.
Ale sudah tiba di kota yang menjadi tempat pembangunan proyek sang Papa. Ia langsung memeriksa semua kelengkapan berkas. Setelah dirasa sudah lengkap, iapun langsung turun ke lapangan untuk memantau para pekerjanya di sana.
"Hei! Lihatlah betapa gagah dan tampannya putra sulung Pak Chandra itu," kasak-kusuk suara beberapa pegawai wanita yang kini tengah sibuk menyetor hasil pekerjaannya kepada mandornya.
"Ya jelas gagah dan menawanlah. Skincarenya aja seharga scooter matik kita. Nyamuk kepleset kali ya kalau hinggap di pipi mulusnya itu. Beih! Mulusnya kebangetan. Udah punya Nyonya muda apa belum sih tuh si ganteng?" tanya salah satu diantara mereka yang tak ditanggapi lagi oleh karyawan lainnya. Karena kini yang tengah mereka perbincangkan tengah berjalan cepat ke arah mereka.
"Duh.Kalau kayak gini, jadi tukang cukur rambutnya aja gua rela deh. Demi bisa membelai rambutnya yang harum dan lembut itu," monolognya lagi saat Ale benar-benar melintas di depannya.
__ADS_1
Ale yang ramah. Senyumnya selalu saja murah. Dia selalu menyapa para karyawannya itu dengan senyum manisnya. Hal yang membuat para karyawan wanita di situ mengalami insomnia dadakan saat menjelang malam hari.
"Halo sayang," sapanya pada panggilan suaranya pada Aisyah malam itu sebelum ia tidur.
"Abang,"
"Apa?"
"Gimana kerjaan Abang di situ? Apa semuanya baik- baik saja?" tanya Aisyah.
"Hari pertama Abang masuk kerja banyak hal yang harus Abang sesuaikan Ai. Mungkin beberapa hari kedepan Abang nggak bisa sering-sering hubungin kamu jika siang hari.Malam aja bisanya. Maaf,"
"Iya.Aisyah ngerti kok. Asal nggak dilupain aja Aisyah udah seneng Bang,'
"Kok dilupain sih. Dapetinnya susah lho,"
"Susah apanya? Tiba-tiba menikah gitu kok bilang susah!" gerutu Aisyah.
"Perjuangan setelah menikahnya sayang yang berat,"
"Termasuk saat ini?"
"Hmm,"
"Kalau udah diniatin ya dijalani dengan hati yang besar dan juga lapang Bang. Dulu aja semangatnya ngalahin anak sd yang mau ikutan lomba makan kerupuk. Eh, sekarang melempem kayak apem,"
"Ternyata rindu itu benar-benar berat ya Ai. Apa. Abang harus sering-sering pulang ke rumah ya?"
Belum sempat Aisyah menjawab tanya Ale. Sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar Aisyah.
"Sepertinya Mama deh Bang. Aku tutup dulu ya," pamitnya yang diiyakan oleh Ale.
Aisyah bergegas membuka pintu kamarnya. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat siapa yang kini tengah berdiri dihadapannya.
"Abang? Kok?"
*
*
*
Happy reading.
__ADS_1
Terima kasih semuanya.