Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Ikut suami.


__ADS_3

Aisyah menoleh kepada Ale yang juga tengah menatapnya.


"Ngamar yuk!" ajaknya dengan mengedipkan satu matanya.


"Dasar bunglon!" Aisyah akan beranjak ke dapur untuk menemui Ibunya. Namun, Ale menghentikan langkahnya.


"Kita perlu bicara serius Ai," ucapnya dengan pandangan penuh harap.


Sebenarnya Aisyah malas sekali meladeni ucapan Ale yang dalam pikirannya hanyalah untuk menghibur dirinya yang masih saja stress akan sikap Alya.Sungguhpun begitu, ia tetap ikut juga masuk kedalam kamarnya.


Mereka duduk berseberangan dengan Ale yang duduk di kursi sementara Aisyah di atas ranjangnya.


Ale tampak mengatur nafasnya pelan.


"Sebaiknya kita pergi dari sini Ai," ucapnya dengan satu tangan menggenggam tangan Aisyah.


Aisyah tak menjawab. Namun, tatapan matanya adalah jelas menyiratkan tanya.


"Karena kita sudah menikah Ai, Lagi pula, di rumah ini ada dua adik perempuanmu, dan aku bukan muhrim untuk mereka. Aku hanya ipar Ai. Mustahil jika dalam keseharian kita tanpa bertegur sapa lalu saling memandang. Aku bukan Malaikat yang di ciptakan tanpa nafsu. Aku hanya lelaki normal seperti lelaki pada umumnya," ucapnya coba mengutarakan kegundahan dalam hatinya.


"Ya jangan sampai baper dong Pak, masa iya nggak bisa?" ucapnya dengan nada tak percaya dan lebih cenderung meremehkan.


"Berapa lama kita menikah Ai?" tanyanya dengan membawa tangan Aisyah ke dadanya.


"Hampir satu bulan Pak?"


"Lalu, selama 30 hari itu, apakah kamu belum bisa menilai lelaki seperti apa suamimu ini?"


Aisyah terdiam. Ucapan Ale umpama jawaban telak untuk tanya meragukannya. Dia tau semenjak menjadi istri Ale, sekalipun belum pernah mereka melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Lalu, kenapa bisa ia meragukan keteguhan iman sang suami?.


"Aku bisa menjamin tentang perasaanku kepadamu Ai. Namun, kau juga pasti tahu setan lebih pintar dari manusia dalam hal bujuk rayu untuk membawa kita dalam kubangan dosa. Dan imanku masih labil Ai. Kumohon bantu aku," pintanya dengan semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Sungguh Ale tau bahwa adik iparnya itu bukan hanya kecewa kepada sang istri. Namun juga kepada dirinya. Ale harus bertindak lebih cepat sebelum semuanya menjadi nekat.


"Kita bicarakan dulu sama Ayah Pak," ucap Aisyah menimpali permintaan Ale.

__ADS_1


"Kita hanya pamit Ai, bukan meminta izin kepada Ayah. Maaf, jika terkesan memaksa, aku hanya sedang menjaga marwahku sebagai suamimu,menantu dan kakak ipar untuk adik- adikmu. Terutama Alya Ai," ucapnya terjeda, hampir saja ia meluahkan kegelisahannya secara terang-terangan.


"Ada apa dengan Alya Pak?" Aisyah melepaskan genggaman tangan Ale. Namun, Ale kembali menariknya.


"Alya itu sudah beranjak dewasa Ai, beda dengan Inayah. Mereka juga memiliki sifat yang sangat bertolak belakang satu dengan yang lainnya," jawab Ale coba mengenyahkan kecurigaan sang istri atas kalimat terpotongnya tadi.


Malam hari Aisyah dan Ale duduk di samping Ayah dan Ibunya yang tengah berbincang santai di teras rumah mereka.


"Lho Ai, kenapa malah keluar? Di luar dingin lho ini. Bisa masuk angin nanti suamimu," canda sang Ayah lalu menyeruput kopi hitamnya.


"Ada yang mau Pak Ale bicarakan sama Ayah dan Ibu," ucap Aisyah dengan menoleh kepada Ale yang tersenyum lalu mengangguk mengiyakan ucapannya.


"Bicara apa? Kok kelihatannya serius banget ini," ucap sang Ayah membenahi posisi duduknya untuk lebih dekat kepada sang istri yang menatap penuh tanya kepada anak dan menantunya itu.


"Saya dan Aisyah mohon pamit untuk kembali ke kota besok Yah," Ale menoleh kepada Aisyah memastikan raut wajah sang istri yang kini sudah terlihat lebih tenang setelah mendengar penjelasannya tadi.


Habibi menoleh kepada sang istri sebelum merespon ucapan menantu pertamanya itu. Habibah mengangguk seolah sudah setuju dengan apa yang akan di katakan oleh sang suami.


"Aisyah adalah istrimu Nak, kemanapun kamu pergi, kewajibannya adalah berada di sisimu. Ayah dan Ibu percaya bahagianya adalah berada di sampingmu, bukan lagi hanya berada di antara kami," ucapnya tenang.


"Ayah," Aisyah menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan sang Ayah. Habibi mengangguk seolah paham dengan keluhan Aisyah dengan memanggil dirinya.


Habibi memberi nasihat yang membuat Ale mendongakkan kepalanya reflek. Walaupun tanpa menyebut namanya. Namun, Ale tau kalimat itu di tujukan untuk dirinya. Entah masalah yang mana yang tengah di singgung oleh sang Ayah mertua.


"Ayah tau hubunganmu dengan kedua orang tuamu sedang tidak baik- baik saja karena pernikahan kalian ini, jangan menjadikannya semakin rumit," imbuhnya lagi untuk lebih menegaskan dugaannya yang semakin membuat Ale merasa bersalah kini.


"Ayah," Aisyah kembali memanggil lirih cinta pertamanya itu.


"Pergilah, cari kesuksesan kalian sendiri. Pesan Ayah, bersikaplah dewasa dalam menghadapi masalah, karena rumah tangga tanpa masalah itu umpama api tanpa asapnya, hal yang mustahil,"


Aisyah tak kuasa untuk tidak meneteskan airmatanya. Ayahnya adalah tauladan hidupnya yang sempurna. Mereka tidak hidup dengan bergelimang harta. Namun, kasih sayang dan cinta mereka tak pernah kekurangan untuk anak-anaknya. Tak ada bahagia tanpa airmata. Namun, tak ada kesedihan yang selamanya. Semua memiliki masanya sendiri- sendiri.


Setelah berpamitan dengan Inayah, hanya Inayah. Karena Alya selalu saja mampu untuk tidak bertatap muka dengan Aisyah dan Ale. Dan inilah masalah yang Ale bawa.


Satu masalah dengan masalah lain yang sudah lebih dulu mereka hadapi dan belum di selesaikan hanya mereka endapkan sementara. Hingga setelah keadaan yang keruh itu sudah menampakkan kejernihannya barulah Ale akan coba menampakkan tenang kehidupan di dalam jernih air endapan masalahnya.

__ADS_1


"Kamu sedih Ai?" tanyanya saat kini mereka sudah berada dalam angkutan kota yang hanya mereka berdua yang duduk di kursi penumpang.


Aisyah menggeleng. Namun, riak wajahnya sudah mampu memberikan jawab atas tanya sang suami.


Ale membawa Aisyah untuk menyandar pada bahunya.


"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," janjinya dengan mengecup singkat puncak kepala sang istri yang langsung mendongakkan kepalanya lalu tersenyum tipis.


"Bisa kupegang janjinya Pak?"


"Mau pegang yang lain juga boleh Ai, halal kok,"


Plakk!!


"Aww," Ale mengernyitkan bibirnya mengekspresikan rasa sakit karena pukulan Aisyah tepat di pahanya.


"Pukul lagi boleh kok," ucap Ale dengan mengusapi pahanya yang terasa kebas dan pasti sudah berubah warna deh itu paha putihnya.


Aisyah mengangkat satu tangannya berniat memberikan pelajaran ekspres untuk Ale.Namun, tangannya tiba-tiba sudah di arahkan ke lain tempat oleh sang suami.


"Di sini aja, boleh banget lho Ai,"


"Pak!" teriaknya yang membuat sang sopir melirik lewat kaca spionnya.


"Maaf Pak, istri saya sedang latihan vokal sebelum ikutan kontes dangdut," ucap Ale menghindari dugaan yang pasti langsung menyalahkan dirinya.


"Saya teriak nih,biar Bapak di amuk masa, dengan tuduhan membawa lari anak gadis orang," ancam Aisyah dengan menjauhkan kepalanya dari bahu Ale.


"Teriak aja, nggak akan ada yang percaya juga sama tuduhanmu itu Ai," ucapnya bangga.


Aisyah mencebikkan bibirnya, selalu saja tak percaya dengan bualan Ale.


"Dengan wajah tampan yang kumiliki,memangnya ada wanita yang menolak jika kugandeng tangannya seperti ini?" Ale menyergap tubuh sang istri lalu mengunci kedua tangannya agar diam dalam pelukannya.


Sementara Pak sopir di depannya tampak kepayahan menahan senyumnya.

__ADS_1


"Ketawa aja Pak, nggak dilarang kok, jangan di tahan- tahan nanti masuk angin lho,"


"Aww," Ale kembali mengusapi pahanya yang baru saja mendapatkan cubitan mesra dari Aisyah.


__ADS_2