
Ale keluar dari dalam rumahnya. Ia tinggalkan semua fasilitas pemberian sang Papa.
"Van, untuk beberapa hari ke depan saya tidak akan datang ke kantor, jika kamu butuh penjelasan, datang saja ke ruangan Bapak,"
"Pak Ale mau liburan?" tanya Evan saat kini Ale tiba-tiba berkunjung ke rumahnya.
"Saya akan pergi untuk waktu yang tidak bisa ditentukan Van. Pastinya Bapak sedang tidak membutuhkan saya. Kamu bisa bekerja dengan beliau,"
Evan mulai bisa menghubungkan antara introgasi singkat Tuan besarnya kemarin,lalu kini Tuan mudanya ikutan pamit undur diri.
"Maafkan saya Pak," ucapnya setelah kini Ale duduk di kursi minimalisnya.
"Maaf, untuk apa? Ini tidak ada kaitannya dengan kinerjamu di kantor Van, hanya masalah intern,"
"Sebenarnya kemarin pagi Tuan besar sempat bertanya tentang Pak Ale kepada saya," ucap Evan yang akhirnya mengakui kesalahannya.
"Tentang?"
"Tentang Pak Ale yang sering pulang lebih awal, dan tidak pulang ke rumah besar," jawabnya tertunduk.
"Sekali lagi maafkan saya Pak, tidak ada maksud untuk mengkhianati kepercayaan Bapak terhadap saya, saya terpaksa," ucapnya lagi saat Ale tak jua merespon permintaan maafnya.
"Kamu diancam sama Bapak, Van?"
Evan mengangguk mengiyakan ucapan Ale.
"Mungkin memang sudah menjadi lakon saya Van, lagi pula jika kamu tidak buka suara pun,Bapak pasti akan tahu juga tentang pernikahan ini,"
Evan terkejut setengah hidup mendengar pengakuan Tuan muda di depannya ini.
"Pernikahan siapa Pak?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Pernikahan saya lah," ucap Ale seraya memijit kecil ujung hidung bangirnya.
"Bapak sudah menikah? Kapan, sama siapa?" tanyanya semakin penasaran.
"Kepo ya?" goda Ale yang melihat jika sebelumnya sang asisten ini menampakkan wajah takutnya.
Evan tersenyum malu, namun,juga bahagia. Setidaknya Ale tidak murka kepada dirinya.
"Bapak nggak pernah cerita sama saya," elaknya.
"Sekarang saya sudah cerita."
"Kemana tujuan Pak Ale setelah ini?" tanya Evan sedih saat harus berpisah dengan Tuan Muda baik hatinya ini.
"Saya akan mencari keberadaan istri saya Van, kabari saya jika sewaktu- waktu kamu melihatnya,"
ucap Ale seraya menunjukkan wajah sang istri dalam layar ponselnya.
"Namanya Aisyah anidia," imbuhnya lagi.
"Cantik Pak, pinter Pak Ale cari pendamping hidup rupanya ya," kelakarnya dengan mata yang sudah mulai berkaca- kaca.
__ADS_1
"Nggak usah nangis! Nanti kalau saya sukses, saya ajak kamu juga,"
"Ajak kemana Pak?"
"Ke penghulu, mau?" jawab Ale yang membuat Evan ikut tertawa pelan.
"Hati-hati Pak! Jangan lupakan saya,"
Ale mengangguk sebelum tubuhhya hilang di persimpangan.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam lamanya menggunakan angkutan darat. Ale tiba di sebuah desa yang masih cukup asri pemandangannya.Sejauh mata memandang maka hamparan sawah nan hijau akan selalu memanjakan setiap mata yang melihatnya.
Ale berjalan menyusuri jalanan setapak. Sesekali ia akan berpapasan dengan para penduduk desa yang akan atau pulang dari ladangnya. Ale belum berniat menanyakan alamat rumah sang istri. Ia masih ingin menikmati indah dan damainya suasana desa.
Setelah hampir 30 menit dirinya berjalan, Ale memutuskan untuk singgah di sebuah pondok kecil yang ada di pinggir jalan setapak itu.
Dengan membawa tas ransel di punggungnya dan juga penampilan yang lumayan mencolok ciri khas pria kota,Ale merebahkan tubuhnya dengan menjadikan tas ransel tersebut sebagai alas kepalanya.
"Kakak ini siapa ya? Sepertinya bukan warga desa sini?" Ale segera beranjak duduk saat mendengar suara wanita menyapanya.
"Eh, iya maaf, saya pendatang di desa ini," ucapnya sekilas melihat pada gadis belia yang kini tersenyum menatapnya.
"Mau cari rumah siapa Kak? Mungkin saya bisa bantu mengantarkannya," ucapnya menawarkan bantuan.
Ale tampak berpikir lama.
"Apa aku bilang aja ya, kalau aku ini suaminya Aisyah. Tapi gimana kalau mereka malah nggak percaya, aku kan nggak punya bukti apapun?"bimbangnya dalam hati.
Setelah sang gadis pergi, Ale membuang nafasnya kasar.
"Huh! Setelah ini siapa lagi yang harus ku bohongi," keluhnya sebelum akhirnya kembali berjalan.
"Kalau menurut alamat yang diberikan temannya tadi sih, memang bener ini rumahnya," Ale berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang masih berdindingkan papan dengan atap genteng yang sudah memudar warnanya.
Saat tengah dalam kebingungannya. Ale melihat seorang pria dengan usia mungkin terpaut beberapa tahun dengan dirinya itu tampak keluar dari dalam rumahnya.
"Cari siapa ya Mas?" tanyanya dengan senyum ramah.
"Duh, apa aku sedang berbicara dengan Ayah dari istriku ya? Mertua dong!" monolognya dalam hati dengan senyum terulas di bibirnya.
"Saya sedang mencari alamat yang ada di sini, apa benar Pak?" akhirnya Ale memberanikan diri untuk bertanya.
Lelaki tersebut tampak mendekat untuk melihat alamat yang diperlihatkan oleh Ale dalam secarik kertas di tangannya.
"Benar, ini alamat rumah kami Mas, tapi Masnya ini siapa ya?" ucap pria tersebut dengan pandangan tertuju kepada Ale yang kini tersenyum kikuk di hadapan mertuanya.
Mertua nggak tu Al?
"Saya atasan Aisyah di kota Pak, sedang ada survei dari kantor untuk desa ini. Kebetulan Aisyah berasal dari sini,jadi saya bisa sekalian singgah. Maaf sudah mengganggu aktivitas Bapak dan keluarga," ucapnya sopan sebelum akhirnya sang mertua mempersilakan dirinya untuk masuk kedalam rumahnya.
Ale melihat wajah Aisyah yang terpampang di dinding ruang tamu rumahnya. Aisyahnya yang ayu dan jutek yang kini selalu membuat satu rasa di hatinya menjadi lebih berbunga-bunga jika mengingat senyum malu- malu plus wajah garangnya.
"Itu Aisyah sebelum memutuskan untuk merantau ke kota Pak,"
__ADS_1
Ale tersenyum mendengar sang Ayah mertua yang kini merubah panggilan terhadap dirinya menjadi Pak.
"Ck, jangan panggil saya Bapak dong,kelihatan tua banget sayanya. Mas aja nggak apa- apalah," protesnya keberatan yang ditanggapi dengan senyuman oleh Ayah Aisyah.
"Nggak sopan jatuhnya Pak, eh Mas," keduanya tertawa pelan untuk kecanggungan yang masih tercipta.
"Al, buatkan minuman hangat untuk Mas ini ya, kasian dia jauh- jauh dari kota Nak," pinta pria tersebut saat melihat putrinya yang baru masuk melalui pintu belakang rumahnya.
"Baik Yah,"
"Panggilannya sama lagi, Al.Dan suaranya kok aku kayak pernah dengar, tapi di mana?" ucapnya bertanya-tanya dalam hati.
Tak berapa lama minuman hangat itupun datang. Namun yang membawa nampan berisi dua gelas teh hangat itu sepertinya bukanlah gadis yang sama dengan yang menjawab perintah Ayahnya tadi.
"Ina, Kak Alyanya mana?" tanya pria tersebut memperhatikan anak bungsunya yang terus menundukkan wajahnya.
"Ada di taman belakang Yah," jawabnya pelan lalu melangkah mundur dengan masih menundukkan wajahnya.
"Adik bungsunya Aisyah Mas," ucapnya memberi informasi kepada Ale.
"Memangnya adik Aisyah ada berapa Pak?" Ale mulai mencari tau tentang keluarga istrinya itu.
"Ada dua Mas, yang satu baru masuk Perguruan tinggi, dan yang ini tadi baru masuk sekolah menengah atas," jawabnya tanpa rasa curiga sana sekali.
"Oo," Ale mengangguk pelan lalu menyeruput teh hangatnya perlahan.
Ale berniat untuk mencari penginapan di dekat pemukiman warga di desa ini, namun sayangnya penginapan cukup jauh jaraknya dari desa. Sehingga Ale diperbolehkan untuk menginap di rumah orang tua Aisyah.
Duh Al, mau nginep di rumah mertua aja harus izin ke kepala rukun tetangga dulu ya.
Ale akan masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan oleh Inayah sebelumnya tadi. Namun, suara yang sama saat menyapanya di pondok kecil tadi kembali terdengar di telinganya.
"Kakak?" Ale segera menoleh memastikan bahwa indra pendengarannya masih berfungsi secara normal.
"Eh," ucap Ale sedikit kaku, karena gadis belia itu tampak sumringah sekali saat mengetahui dirinya ada di rumah ini.
"Kakak yang di pondok tadi sore itukan?" tanyanya dengan suara yang lumayan kencang yang membuat Ayah dan juga Ibunya bergegas menghampiri mereka berdua.
"Ada apa Al?" tanya sang Ayah terlihat heran karena putrinya itu berdiri di depan Ale.
"Alya ketemu sama Kakak ini di pondok tadi sore Yah,kenapa nggak bilang kalau mau ke rumah Alya Kak," ucapnya sumringah sekali.
"Duh Ai, adikmu kenapa hyper aktif seperti ini, berbanding terbalik dengan dirimu," ucapnya dalam hati dengan terus menebar senyum kikuknya.
"Alya, masuklah ke kamarmu Nak! Biarkan Mas ini beristirahat, kasian dia sudah melalui perjalanan yang cukup melelahkan,"
Ale hanya diam memandangi interaksi keluarga sederhana ini. Ada ketegasan yang tak di bantah dalam ucapan lembut sang Ayah terhadap anak perempuannya.
"Baik Yah," ucapnya berlalu dengan perasaan sedikit kecewa yang masih bisa Ale baca lewat langkah kakinya.
Ale masuk kedalam kamar Aisyah.
"Kamu di mana Ai, lihatlah aku di kamar mu sekarang," ucapnya,lalu memiringkan tubuh memeluk guling wangi milik istri kecilnya itu.
__ADS_1