Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Kedatangan mertua.


__ADS_3

Hari demi hari mereka lewati dengan penuh bahagia. Ale benar-benar membuktikan janji dan ucapannya. Kemanapun ia pergi maka Aisyah akan ia bawa ikut serta. Ia tak ingin lagi di sebut sebagai pecundang.


Pagi ini, gerimis manis dengan rintik- rintik yang mengalir melewati kaca kamar mereka. Ale datang dengan dua gelas coklat panas di tangannya.


Aisyah berjengit saat hangat deru nafas Ale menyapu pipinya, reflek iapun menoleh dan saat yang bersamaan Alepun memajukan lagi indra penciumannya.


"Hmm, manisnya," ucapnya mendusel manja pada ceruk leher sang istri yang berjengit kegelian.


"Kayak remaja baru kenal pacaran aja ih Abang. Geli tau nggak," protesnya dengan menjauhkan kepalanya dari wajah Ale.


"Kita kan memang belum pernah pacaran sayang. Pacaran yuk. Mau nggak jadi pacar pertama Abang hmm?" Ale kembali mencium mesra pipi Aisyah yang kini mendongak menatap penuh tanya.


"Pacar pertama?" ucap Aisyah dengan menyipitkan satu matanya.


"Iya,kenapa? Nggak percaya kalau suamimu ini belum pernah pacaran, hmm, hmm?" timpal Ale dengan mengedipkan matanya.


"Nggak!" jawab Aisyah dalam senyuman tipisnya.


"Mau bukti?" ucap Ale memberi pilihan.


"Mau bukti sebanyak apapun aku nggak akan percaya! Abang kan rajanya modus,"


"Tapi percayakan kalau Abang masih bujangan ting- ting?"


Aisyah kembali menatap Ale kali ini dengan waktu yang lebih lama dengan fokusnya terhadap kedua mata Ale.


"Bujangankan Bang? Bukan perjaka?" Aisyah balik bertanya.


"Memang apa bedanya?" tanya Ale heran.


"Aku nggak yakin Abang masih perjaka ting- ting waktu menikahiku. Nggak salah kan?" tebaknya.


"Fitnah itu Ai. Suami sendiri di fitnah, jahat kamu Ai. Abang masih perjaka tulen kalau kamu mau tahu dan kamu harus percaya itu!" ucap Ale menolak tuduhan Aisyah terhadapnya.


"Iya deh, Aisyah percaya sama Abang, suwer," ucapnya dengan menunjukkan kedua jarinya dan barisan giginya yang tertata rapi dan putih bersih.


Hujan sudah reda. Dua gelas coklat panas buatan Ale sudah mereka tandaskan semuanya.

__ADS_1


"Abang," Aisyah sukses membuat langkah kaki Ale yang baru saja akan keluar dari kamarnya itu terhenti. Dia menoleh saat Aisyah memanggil dirinya.


"Apa? Mau lagi coklat panasnya?" ucapnya dengan kembali berjalan mendekati Aisyah lalu, duduk di depannya.


"Abang nggak kangen sama Papa dan adik Abang?" Aisyah memberanikan diri menanyakan hal yang selama ini mengganjal dalam pikirannya. Ia juga ingin tahu bagaimana kondisi Papa mertua dan juga sang adik ipar yang lumayan jelalatan itu.


Selama mereka memutuskan untuk tinggal di apartemen ini sekalipun sang suami belum pernah membahas bahkan menyinggung tentang mereka berdua. Kecuali sang Mama yang tinggal terpisah bersama Mbok Sariyah.


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu hmm?" tanyanya dengan menyentuh lembut dagu Aisyah yang kini mendongak menatap dirinya.


"Karena, aku nggak mau jadi menantu yang durhaka Bang! Jangan karena diriku Abang jadi ikut- ikutan menjaga jarak dengan keluarga Abang. Jangan Bang," pintanya.


"Biarkan Papa merenungi nasibnya. Selama ini beliau pikir bisa hidup tanpa kami. Uang adalah segalanya bagi Papa. Mungkin dengan kepergian kami Papa bisa sedikit mengerti betapa keluarga adalah segalanya, bukan harta dan benda,"


"Kita bukan Tuhan Bang!" Ada yang lebih berkuasa atas hatinya. Jangn menghakimi yang bukan wewenang kita. Bahkan kita saja lebih buruk dari Papa," Aisyah coba memberikan pengertian kepada Ale yang masih tetap pada pendiriannya.


"Kita ikuti saja alurNya. Nggak usah maksa berbelok juga. Susah Ai.Oke?" ucapnya coba mengakhiri perdebatan kecilnya dengan Aisyah.


"Abang selalu saja begini setiap aku bahas masalah Papa," ucap Aisyah tertunduk lesu mendengar jawaban Ale yang selalu mengakhiri rasa penasarannya tanpa jawab dan pengharapan.


"Abang hanya ingin menikmati waktu yang lebih indah, manis dan panjang bersama istri tercinta Abang. Kamu bersedia kan temani Abang?"


Ale ikut masuk ke dalamnya. Namun, baru saja ia akan memeluk Aisyah dengan kedua kaki jenjangnya. Suara tombol pintu apartemennya berbunyi.


"Ada yang datang Bang," ucap Aisyah mendorong pelan dada Ale. Namun, Ale malah semakin erat memeluk dengan kedua kaki dan juga tangannya.


"Abang," mohonnya karena Ale tak kunjung melepas pelukannya.


"Biarin aja. Nggak penting, nanti juga lelah sendiri berdiri di depan pintu. Lalu, pergi deh," tolaknya. Namun, belum lagi Aisyah menyatakan keberatan atas ucapan Ale, suara pintu di buka dari luar sukses membuat keduanya segera beranjak menyingkirkan selimut lalu, merapikan rambut yang sedikit berantakan.


"Al, Mama datang kok nggak di bukain sih pintunya,"


Aisyah membelalakkan kedua matanya lalu jari lentiknya segera saja berpindah tempat ke perut kotak-kotak Ale yang kini meringis kesakitan.


"Ai, apaan sih. Kenapa di cubit?" ucapnya tak terima. Tadi diem aja waktu di peluk, giliran sekarang pura-pura teraniaya bahkan sampai menganiaya dirinya.


"Mama Bang. Abang kelewatan ih becandanya. Nggak lucu!" kesalnya lalu memakai blazer rajut untuk menutupi Midi dress yang di kenakannya.

__ADS_1


"Abang juga nggak tahu Ai. Nyubitnya kebangetan ih sakitnya. Nggak kira- kira kamu sama suami ya," ucapnya yang pasti tak di dengar oleh Aisyah yang kini berjalan ke ruang tamu untuk menyambut sang Mama mertua.


Aisyah langsung menghentikan langkah kakinya, manakala indra penglihatannya menangkap kehadiran sang Papa mertua yang kini menatap dengan tatapan yang belum bisa Aisyah jabarkan.


"Siapa Ai?" tanya Ale setelah memakai kaus hitam oblongnya.


Aisyah tak menjawab. Rasanya lidahnya sudah terlalu keluh walau hanya sekedar untuk menjawab tanya sang suami walau hanya satu kata saja.


"Papa?" Ale merengkuh bahu Aisyah saat melihat jika Aisyah tanpak shock atas kehadiran sang Papa di apartemennya. Tadi aja sok- sok an nanyain Papa dan adik iparnya. Giliran sekarang udah berdiri di depan mata eh, malah mau pingsan dia.


"Iya, ini Papa Al, Aisyah," ucap Chandra hendak mendekat kepada anak dan menantunya itu. Namun, langkahnya terhenti saat Ale memajukan lima jarinya, meminta agar sang Papa tak melanjutkan niatannya itu.


"Kenapa? Apa kamu sudah tak ingin lagi di peluk sama Papa Al, iya, benar begitu?" ucap Chandra dengan raut wajah sedihnya.


"Apa Papa datang ke sini untuk menghina istriku lagi Pa? Jika iya, maka biarkan Ale membawa Aisyah pergi dari sini. Sudah cukup penderitaan yang kita berikan untuk dia Pa. Cukup, tolong jangan menambah luka traumanya lagi," pinta Ale menunduk menatap Aisyah yang malah menggelengkan kepalanya seraya.


"Bahkan dia terlalu baik untuk menerima semua perlakuan buruk Papa terhadapnya. Dia masih peduli terhadap Papa yang malah mencoba menyingkirkan dirinya jauh dari Ale," Aisyah mengguncang berkali-kali lengan kekar Ale yang kini menggenggam satu tangannya.


"Jika dulu Papa bisa dengan mudahnya menyingkirkan Aisyah karena Ale yang tidak ada di dekatnya. Maka, hal itu Ale pastikan tidak akan pernah terjadi lagi. Karena dia adalah prioritas Ale Pa," pungkasnya mengakhiri kekecewaannya terhadap sang Papa yang kin menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Abang," lirih Aisyah membuka suaranya karena Ale tanpak tak bisa menahan emosi di depan kedua orang tuanya.


"Abang pastikan, Abang bukan pecundang sayang,"


"Tapi Abang sudah melewati batasan Abang. Bagaimanapun beliau tetap Papanya Abang. Seburuk apapun penilaian Abang, tak akan mampu setetes keringat dan air matanya yang menetes deras pada tubuhnya.


" Papa lihat sekarang, siapa yang seharusnya Papa pertahankan, bukan malah Papa singkirkan,"


"Maafkan Papa Al, Aisyah,"


Aisyah melepas rengkuhan Ale pada pundaknya bermaksud mendekat kepada Chandra. Namun, tangan Ale bergerak lebih cepat dari langkah kakinya.


"Cukup Aisyah!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2