
Mereka tiba di halaman sebuah hunian nan megah dengan pagar menjulang tinggi.Ale turun dari taksi bersama Mamanya. Sementara Mbok Sariyah memilih menunggu di dalam taksi saja.
"Eh, Mbak Bina. Kenapa nggak bilang dulu kalau mau berkunjung kemari. Kan saya jadi malu kalau kayak gini Mbak. Calon besan datang kok nggak ada persiapan sama sekali," ucap Viona Mama Helena berbasa-basi di hadapan Sabrina dan juga Ale.
"Apa Helena sedang ada di rumah, Tante?" tanya Ale seolah tak menganggap basa- basi Viona tadi.
"Dasar begajul! Mulutku sampai berbuih menyapanya. Eh dia malah to the point aja," monolognya dalam hati dengan melihat sekilas kepada Ale.
"Emm, ada nak Al, Helena sedang di ruang kerjanya. Biasalah banyak pekerjaan yang masih ia pantau dari rumah,"
"Bisa saya bertemu dengan Helena sekarang Tan?"
"Aww, Ma," Ale menoleh saat cubitan mesra sang Mama singgah di pinggangnya.
"Jangan menjadi budak setan. Kita ini manusia yang punya sopan santun dan tata krama Al," Sabrina berucap pelan di telinga Ale. Ale tersenyum canggung.
"Bahkan mereka tidak pernah menganggap itu semua Ma," ucap Ale tak kalah pelannya.
"Nggak apa- apa Mbak. Silakan masuk! Saya akan panggilkan Helena,"
Viona segera memanggil sang putri yang tengah bermalas-malasan di kamarnya.
"Apa sih Ma? Helen capek nih mau istirahat. Mama jangan ganggu deh,"
Viona menarik guling dan selimut yang masih dalam pelukan Helena.
"Cepat turun! Temui Al dan juga Mamanya sekarang juga!"
"Ale datang sama Tante Bina Ma, mau ngapain?" ucapnya was- was.
"Bukannya Ale sedang mengurus proyek om Chandra yang di luar negeri ya, kok mendadak pulang?" ucapnya heran dan lebih terkejut lagi dengan kedatangan Ale dan Mamanya secara tiba-tiba.
"Pasti gadis kampung itu penyebabnya. Huh! udah di singkirin aja pengaruhnya masih nempel terus sama Ale,"
Helena turun dengan di dampingi sang Mama yang tak mampu menampik firasat dalam hati jika Ale datang dengan keadaan tidak baik- baik saja. Hal itu dapat dilihat dari cara bicara dan pandangan matanya.
"Tante Bina," ucapnya dengan menyongsong calon mertuanya itu seraya memeluk lalu mencium pipinya.
Helena berpindah kepada Ale yang tetap duduk tanpa berniat menyambut kehadiran dirinya.
__ADS_1
"Al.Apa kabar? Kenapa mendadak pulang ke Indonesia tanpa memberitahuku?" Helena berusaha menutupi kegelisahannya saat Ale memandang tajam padanya.
"Tidak perlu menutupi perbuatan burukmu dengan manisnya tutur sapa dan tingkah lakumu Helena!"
"Al.kontrol emosimu.Ingat janjimu tadi," Sabrina kembali mengingatkan putra sulungnya itu dengan sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Ale.
Ale mengusap pelan punggung tangan sang Mama, memberi jawaban atas kekhawatirannya.
"Kamu ngomong apa sih Al, kenapa kasar sekali sama calon istrimu?" protes Viona merasa tersinggung dengan sikap dan cara bicara Ale sedari kedatangannya ke rumah ini.
"Maaf Tante. Seharusnya pertanyaan itu Tante tanyakan pada putri kesayangan Tante ini.Apa yang sudah ia perbuat hingga saya bisa berbicara sekasar ini terhadapnya? Dan satu lagi,berhenti menyebut Helena sebagai calon istri saya! Karena saya sudah memiliki istri," tegasnya tanpa peduli jika ucapannya itu telah membuat Viona panas dingin kini.
"Mom," lirih Helena dengan memberikan segelas air mineral kepada sang Mama.
"Sepertinya kamu sangat ahli dalam menyembunyikam sifat bejatmu itu. Sebaiknya kita bahas masalah ini berdua saja. Aku tidak ingin menjadi penyebab jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Mamamu," Ale meraih satu tangan Helena untuk di bawanya keluar.
"Lepas Al. Kamu menyakitiku," pinta Helena dengan memegangi tangan Ale yang mencengkeram satu tangannya.
"Sakit? Lalu apa kau tahu akibat dari perbuatanmu yang berkolaborasi dengan Papaku itu telah sanggup mengoyak dan mencabik- cabik hatiku. Bukan hanya menyakiti tubuhku Helena!" hardiknya dengan menghempaskan tangan Helena.
"Kamu kasar Al,"
"Kamu jahat Helena!"
"Jangan membenarkan kesalahanmu dengan menyalahkan orang lain. Kenapa kau tidak gunakan waktumu untuk introspeksi diri? Kenapa kita tidak di takdirkan hidup bersama? Kenapa kamu harus memaksa menjadi orang lain demi tujuan kelirumu itu? Kenapa?"
Helena menoleh pada Ale yang masih tetap di tempatnya.
"Aku mencintaimu Al, kenapa kamu malah memilih pergi dengan wanita itu? Kenapa? Apa yang tidak ada dalam diriku Al, apa?" Helena mendekat kembali kepada Ale.
"Kamu sempurna Helena. Bahkan terlalu sempurna.Tapi, satu yang tidak mampu kutemukan dalam dirimu. Yaitu cinta,"
"Aku menerima dirimu walaupun selamanya kau berjanji tak akan pernah mencintaiku Al,"
Ale menghela nafasnya merasa lelah dengan semua perbuatan Helena dan sang Papa.
"Aku tidak sebodoh itu Helena! Mengorbankan hidupku yang hanya satu kali ini untuk menjadi budak cintamu. Sadar Helena! Dunia tidak selebar daun kelor. Jangan menjadi katak dalam tempurung!"
"Aku seperti ini karena dirimu Al. Kamu sadar nggak sih Al?"
__ADS_1
"Sekarang katakan di mana kalian sembunyikan Aisyah istriku?" Ale meraih kedua pipi Helena dengan kasar.
"Aku tidak akan pernah mengatakannya padamu Al, tidak akan pernah!"
"Baik! Sepertinya tak ada lagi sisi baik yang tertinggal dalam dirimu Helena.Asal kau tahu, tidak semua kebusukan bisa kau sukseskan dengan uang dan kekuasaan keluargamu. Ada ketulusan yang tidak sanggup kau beli dengan berlimpahnya harta. Dan aku yakin Aisyah berada di antara orang-orang yang tulus itu sekarang,"
"Kembalilah padaku Al. Kumohon," pintanya dengan memeluk Ale dari arah belakang.
"Lepas Helena!"
Helena menatap tajam pada Ale yang beranjak pergi meninggalkannya.Ia hembuskan nafasnya kasar sebelum melanjutkan ucapan.
"Kamu bukan lagi Aleandra yang kaya berharta seperti yang istrimu kenal dulu Al. Apa kau yakin jika istrimu itu masih menganggap dirimu sebagai suaminya? pikirkan ucapanku ini Al!"
"Kamu selalu menilai semuanya dari harta dan kekuasaan Helena. Dan harus kau tahu istriku bukanlah wanita yang silau akan harta dunia sepertimu!" pungkasnya dengan berjalan cepat keluar dari rumah Helena.
"Kamu akan menyesal Al!" pekiknya dengan berjongkok menatap kepergian Ale.
Viona melihat sang putri yang kini bagai orang yang kehilangan arah hidupnya.
"Sudahlah Helena, jangan memaksakan sesuatu yang memang tidak di takdirkan menjadi milikmu. Banyak hal yang bisa kau raih tanpa harus merenggut kebahagiaan mereka," Viona membimbing sang putri untuk di bawanya masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di tempat berbeda. Seorang wanita muda tengah duduk di bangku sebuah taman bermain. Ia tengah membacakan buku cerita dongeng untuk anak-anak yang duduk rapi di depannya.
"Kakak cantik, kenapa menangis?" tanya salah satu anak yang kini berdiri berniat memberikan selembar tisu untuk wanita yang di sapanya dengan panggilan kakak cantik tadi.
"Kakak kangen sama keluarga Kakak ya?" tanyanya lagi dengan memeluk wanita muda itu yang diikuti oleh anak-anak lainnya.
"Abang,Aisyah rindu.Kenapa lama sekali datangnya?" ucapnya dalam hati dengan pandangan jauh ke depan dalam hangatnya pelukan anak-anak di sampingnya itu, ia usap perutnya yang masih rata.
*
*
*
"Al, kamu mau kemana? Kenapa terburu-buru sekali?" Sabrina memperhatikan Ale yang kini tengah mengemasi pakaian ke dalam kopernya.
"Ada satu petunjuk tentang keberadaan Aisyah Ma. Tapi, maaf Ale harus pergi sendiri. Ale sudah siapkan dua orang bodyguard untuk menjaga Mama dan Mbok Sariyah.
__ADS_1
" Janji nggak akan lama Al?"
"Ale percaya doa Mama adalah kekuatan Ale, jangan pernah berhenti melangitkan doa- doa itu Ma," ucapnya dengan memeluk erat sang Mama.