Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Bertemu Mertua.


__ADS_3

Saat mendengar tanya dari sang Papa, satu kecurigaan Ale, Pasti Papanya sudah mulai curiga dengan Aisyah, padahal mereka belum pernah bertatap muka sebelumnya.


"Aisyah anidia, bener itu Al?" tanya sang Papa lagi, karena Ale belum merespon pertanyaannya.


"Nanti Ale tanya ke bagian HRD Pa," jawabnya berpura-pura tidak tau.


"Hmm, baiklah, bukan hal yang penting. Ada satu hal yang lebih penting yang akan Papa bahas sama kamu,"


Perasaan Ale semakin menjadi- jadi saja tidak sedapnya kini. Apakah tentang hal yang sama dengan apa yang di ucapkan sang Mama lewat pesan singkatnya? Ataukah ada yang lebih rumit lagi? Serumit perasaan Aisyah terhadapnya yang memilih untuk bermain teka- teki silang malam tadi.


"Masalah apa Pa?"


"Mama udah bilang sama kamu Al,tentang Tuan Wiyoko yang ingin berbicara serius sama kamu?"


Nah kan, tebakan Ale benar-benar tidak meleset,topik dan orang yang sama. Sebenarnya Ale malas sekali membahas masalah ini, apalagi nanti pasti merembet ke Helena.


Duh,bau minuman beralkoholnya saja sudah hampir menimbulkan genjatan senjata antara dirinya dan Aisyah, lalu bagaimana jika rencana sang Papa ini terdengar juga oleh sang istri? Bisa langsung ke Pengadilan Negeri dia, talak tilu sekalian.


"Makan malam lagi Pa?" tanyanya santai dengan menyilangkan kedua kakinya.


"Lebih dari sekedar itu deh kayaknya Al,"


"Weh, berat dong Pa, pembahasannya, Papa juga ikut kan?" ucapnya menegaskan, padahal dalam hatinya yakin jika hanya dirinya yang akan pergi, menemui Mr. Buana itu.


"Hanya kamu Al, spesial banget kan dirimu. Keluarga Buana lho itu Al, jarang- jarang ada orang yang dapat kesempatan seperti ini, kamu termasuk orang yang beruntung Al," ucap sang Papa berusaha meyakinkan Ale yang terlihat ragu.


Yo jelas ragu lah Pa, dia sudah punya pawang di apartemennya, yang kalau kecewa bisa puasa bicara satu purnama lamanya, kalau menangis bisa menganak sungai,yang panjangnya melebihi sungai Musi,lalu jika marah, ledakkannya hampir sama dengan ledakkan bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Hiperbola banget sih kamu Al.


"Ada pilihan untuk menolak nggak Pa?" selorohnya meraih pulpen yang ada di depannya.


"Kenapa?"


"Ck, Papa, Ale kan nanya, kenapa Papa nanya balik,"


"Tentu saja akan lebih sopan jika kamu mengiyakannya Al," tukas sang Papa mulai sedikit kesal.


"Ya udah, Ale mau jadi anak pembangkang dulu satu hari besok deh kalau gitu, boleh ya?"


Ale berusaha menolak keinginan Tuan Wiyoko yang pasti sudah di sambut dengan sangat amat baik oleh kedua orang tuanya itu dengan sehalus mungkin.


Ada perasaan yang harus ia jaga. Ada tanggul yang tidak boleh jebol. Ada suara tangis sesenggukan yang tak ingin ia dengar, ada rasa yang baru bersemi dalam hati wanitanya yang tak ingin ia patahkan, ya dia adalah Aisyah anidia istrinya.


"Penuhi dulu permintaan beliau, untuk hasilnya Papa percaya sama takdir Tuhan Al, anggap saja ini adalah ikhtiarmu untuk Mama,"


"Akan Ale usahakan Pa," ucapnya tak bersemangat.


"Aku curiga sama anak ini, jika memang dia belum memiliki seorang tambatan hati, lalu kenapa sulit sekali menerima permintaan Mamanya secara tidak langsung ini. Sepertinya ada yang tidak beres dengan anak kesayanganmu ini Ma," monolognya dalam hati.


Setelah Ale kembali ke ruangannya.Chandra segera memanggil Evan asisten Ale.

__ADS_1


"Bapak memanggil saya?" tanya Evan sebelum duduk.


"Duduklah! Ada yang ingin saya tanyakan sama kamu,"


"Saya Pak, tentang apa?" ucapnya bingung.


"Tentang Tuan mudamu,"


"Pak Ale?"


"Hmm,"jawab Chandra dengan tatapan mata penuh selidik terhadap Evan.


"Apa akhir- akhir ini Ale lebih sering datang terlambat, lalu pulang lebih awal?"


Evan diam beberapa saat, pikirannya hampir sama dengan tanya Bos besarnya ini.


"Van, Masih betah kerja di sini kan?" ucap Chandra penuh penekanan. Dia membaca ada gelagat tidak beres dengan anak dan asisten pribadi Ale ini.


"Pak Ale tidak pernah datang terlambat Pak," ucapnya berbohong. Masih teringat jelas jika Tuan mudanya itu pernah datang pukul 12 siang waktu itu.


"Kamu tau Van, saya paling benci dengan apapun yang bernama kebohongan, begitu juga saat ini,"


Evan mulai panas dingin tubuhnya, telapak tangannya mulai berkeringat.


"Tidak usah takut untuk bicara jujur Van, saya Direktur utama di sini," Chandra semakin yakin jika Ale memang menyembunyikan sebuah rahasia besar.


"Pak Ale pernah beberapa kali pulang lebih awal Pak,"


"Cukup untuk hari ini Van,terima kasih sudah berkata jujur. Silakan kembali ke ruanganmu!"


Evan keluar dari ruangan sang Dirut.


"Sebenarnya aku juga heran akhir- akhir ini sama Pak Ale, Pulang lebih awal, tapi tidak pulang kerumah,ke apartemen, ngapain? Ngumpetin anak gadis orang apa ya?" tanyanya heran.


Chandra segera menghubungi sang istri.


"Mama siap- siap! Papa pulang sekarang,"


"Mau kemana emangnya Pa?"


"Nanti aja Papa jelaskan,"


Tak berapa lama,Hyundai santa fe milik Chandra sudah tiba di halaman rumahnya. Sabrina segera menghampiri sang suami.


"Kemana sih Pa?" tanyanya saat kini kendaraan mereka sudah melaju membelah jalanan.


"Menjawab pertanyaan Mama,"


"Pertanyaan yang mana?"

__ADS_1


"Putra kesayangan Mama,"


"Al?"


Chandra memakirkan kendaraannya. Lalu berjalan menuju apartemen Ale.


"Sebenarnya ada apa ini Pa, kenapa Mama jadi nggak tenang sih?"


Sementara itu Aisyah baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Ia tampak tengah mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi tadi.Ingatkan dirinya untuk memoles wajahnya malam ini.


tit,tit, tit. Terdengar suara tombol pintu apartemen di buka dari luar.


Aisyah menoleh saat mendengar suara pintu di buka.


"Tumben Pak Ale pulang jam segini, biasanya juga balapan liar sama azan magrib," ucapnya lalu menggantung handuknya pada Kapstok kayu.


Aisyah masih menggenggam hairdryer di tangannya saat akan membuka pintu kamarnya.


"Tumben pulang cepat Pak," ucapnya seraya menyisir rambutnya yang masih terlihat basah itu dengan jari tangannya.


"Memangnya Ale selalu pulang malam ya?"


Degh!


Hairdryer yang ada di tangan Aisyah meluruh begitu saja ke lantai.Lidahnya terasa keluh, bibirnya tak mampu ia gerakkan, bahkan tubuhnya lebih dominan dingin kini.


Aisyah duduk di sofa dengan kedua orang tua Ale yang duduk di seberangnya. Ia tampak menjalin jari jemarinya. Takut,malu, kecewa, tentu saja rasa itu ibarat permen nano- nano saat ini yang tentu saja lebih terasa banyak rasa asamnya.


Kenapa dunia tak adil terhadapnya? Kenapa dia sendirian saat ini, mana suaminya, sedang apa dia? Sementara kedua orang yang Aisyah pun belum berani menduga apakah mereka ini orang tua suaminya, ataukah bisa jadi mereka adalah calon mertua Ale. Jika benar dugaan yang keduanya itu, maka tamatlah riwayat Aisyah hari ini. Pasti dia akan di maki- maki tanpa pembelaan dari lelakinya. Aisyah bergidik ngeri membayangkan itu semua.


"Aisyah anidia, benar itu namamu?" Chandra mulai mengintrogasi Aisyah.


"Be, benar Pak," jawabnya terbata.


"Kenapa kamu bisa ada di apartemen Ale? Bukankah kamu ini adalah karyawan baru di kantornya?" tanyanya bertubi- tubi.


Aisyah hanya diam, dia tak tau harus menjawab apa, semua akan menjadi salah tanpa adanya Ale di sisinya.


"Pak Ale, pulanglah Pak, tolong, saya benar-benar butuh Bapak saat ini," monolognya dalam hati.


"Uhuk, uhuk,"


Evan menyodorkan air mineral untuk Ale yang tiba-tiba saja tersedak saat tengah menikmati makanan berkuahnya.


"Kamu tau Bapak kemana Van, kok saya lihat di ruangannya nggak ada tadi?" tanya Ale setelah berhasil mengatasi batuknya.


"Bapak sudah pulang Pak, tadi sempat bilang sama saya,"


"Kok ke kamu bilangnya, bukannya sama saya?"

__ADS_1


"Maafkan saya Pak, tapi priuk nasi saya akan berubah posisi jika tidak berkata jujur pada Tuan besar," sesalnya dalam hati.


__ADS_2