Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Berdamai dengan keadaan.


__ADS_3

Dingin pagi tak sedingin suasana malam tadi. Saat suara serangga berbisik berisik nyatanya berbanding terbalik dengan semua tanya yang berakhir sunyi. Tak ada kata tidak atau nanti. Yang ada hanya tajamnya tatapan mata dengan hati yang masih memendam kecewa dan rasa luka.


Tak inginkah engkau membaginya denganku? Tak sudikah mendengar pujukanku yang setia merayumu? Aku umpama bulan tanpa bintangnya. Tetap terang namun, tetap dirimulah bintang yang sanggup menjadikan cahaya di sekelilingku menjadi lebih indah. Aku tanpamu bukan lagi laksana butiran debu. Tapi, aku tanpamu bagaikan nadi tanpa denyutnya.


Ale masih setia menunggu sampai Aisyah membuka mulut untuk menyapanya, walau hanya satu kata yang terucap. Namun, nyatanya sang permaisuri masih betah dalam diamnya.


"Jika dengan kepergianku bisa membuat marahmu hilang, aku akan pergi Ai. Tapi tolong jangan diam saja, katakanlah sesuatu agar aku tahu apa maumu!" Ucap Ale yang kini sudah membawa Aisyah pulang ke apartemennya.


Aisyah tetap diam. Pandangannya tertuju pada sebuah bingkai photo yang menampakkan wajah mereka berdua yang tengah tersenyum bahagia menatap kamera. Namun, ia masih enggan untuk bertanya, hingga Ale tiba-tiba mengeluarkan koper dari dalam lemarinya. Ale mulai mengemasi beberapa lembar pakaian kerjanya.


Aisyah tak bergeming, hingga kini Ale sudah berdiri di depannya dengan koper di tangannya.


"Aku pergi Ai. Setiap hari aku akan datang ke sini, terserah, jika kamu masih belum bisa menerimaku, keyakinanku masih sama, kamu adalah jodoh dunia dan akhiratku,akan ada satu orang bodyguard yang akan selalu ada di sini menjagamu," Ale segera membalikkan badannya.Dengan langkah berat ia mengayunkan kakinya, harapannya sang istri akan berteriak memanggil namanya.


Ale telah lelah dan hampir berputus asa, saat tak ada suara Aisyah yang mencegah ke pergiannya. Memang benar tak ada sakit hati dan kecewa yang sesakit ini, jika nyatanya orang yang kita cintai pada kenyataan tak pernah mau bisa menerima semua kebenaran yang di sangsikan oleh pasangan kita.


Ale semakin mempercepat langkanya. Namun,tiba- tiba saja sebuah pelukan hangat melingkar di pinggangnya.


Ale tersenyum dalam tangis bahagianya. Ia genggam tangan yang terasa hangat itu untuk ia bawa ke atas dadanya. Ia kecup perlahan dengan air mata yang ikut membasahi punggung tangan Aisyah.


Ale membalikkan badanya, menatap Aisyah dengan penuh rasa bahagia.


"Abang tidak sedang bermimpi kan?" ucapnya dengan memeluk pinggang Aisyah hingga kini memutus jarak di antara keduanya.


Aisyah menggeleng. Namun, akhirnya ia menangis juga. Ale bawa tubuh sang istri yang bergetar karena tangisannya itu kedalam pelukan hangatnya.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi. Sudah cukup air mata yang kamu curahkan selama ini karena Abang. Jangan membuat Abang semakin menanggung rasa bersalah yang lebih lama dan lebih banyak lagi," ucap Ale seraya membelai lembut surai panjang Aisyah.


Aisyah tak ingin lagi berkata-kata. Ia hanya ingin menikmati hangatnya pelukan Ale yang telah lama sekali tak pernah ia rasakan. Percayalah! Rindunya bahkan sudah terlalu berat untuk di pendamnya saja. Sungguhpun, marahnya masih berjuta-juta,tapi rasa cinta memang sudah tak mampu lagi untuk tak ikut larut dalam damainya rasa itu.


"Jadi Abang nggak jadi pergi nih ceritanya?" goda Ale saat kini mereka sudah kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Pertanyaan yang mubazir!" jawab Aisyah ketus.


"Walaupun mubazir tapi Abang tetap butuh jawabannya Ai,"


"Aku akan ikut kemanapun Abang pergi. Kapok ditinggal sendiri. Traumanya bukan main, lukanya tak berdarah, tapi sisa sayatannya bahkan masih terasa,"


"Kamu belum ikhlas maafin Abang,"


"Iklhas itu masalah hati Bang. Bibirku bisa saja berkata jika aku sudah ikhlas maafin Abang. Tapi, saat rasa perih itu harus kembali hadir,ketika kisah itu kembali singgah di benakku, aku nggak munafik Bang. Entah demi apa aku bisa menjadi seperti sekarang ini? Sebelumnya, inginku babat habis semua rasa yang masih tertinggal di sini. Namun, nyatanya aku terlalu lemah untuk itu. Aku masih sangat mencintaimu Bang,"


"Jangan pernah berjanji jika belum mampu untuk menepati. Karena aku pernah kecewa karena seringnya termakan janji. Jika belum bisa menjadi orang bijak yang selalu menepati janjinya. Minimal jadilah orang yang berhati-hati sebelum berjanji,"


Uhuk, uhuk! Ale terbatuk saat mendengar sindiran Aisyah yang jelas tertuju untuk dirinya, walaupun tanpa menyebut namanya.


"Abang tersinggung. Sengaja memang, biar Abang nggak jadi pecundang yang pandai mengobral janji,"


Ale kepayahan menelan air liurnya sendiri. Sungguh ia bahagia karena Aisyah sudah melupakan kesedihan atas kehilangan bayinya. Tapi, apa iya harus di bayar secara bertahap setiap harinya dengan kalimat sindiran yang rasanya tak pernah habis untuk dirinya?


Ehm! Ale berdeham menormalkan nafasnya yang sedikit kebat- lebih akibat sindiran tajam dari Aisyah yang kini menawarkan segelas air mineral untuk Ale.

__ADS_1


"Rasa sesaknya nggak seberapa di banding sakit hati dan kecewaku dulu Bang. Ringan ini," ucapnya seraya menunjukkan botol air mineral yang memang sudah kosong.


"Iya," jawabnya singkat sebelum meneguk air mineralnya.


"Boleh menghubungi Pak Alvian Bang. Aku belum pernah bertemu lagi dengan beliau setelah tragedi hari itu," pinta Aisyah yang tiba-tiba teringat kepada Alvian.


"Nanti aja ya. Sekarang Abang masih ingin mendengar semua gerutuanmu selama Abang tidak pernah memberi kabar ke padamu,"


"Boleh minta balik nggak? Ceritain dong! Abang ngapain aja di luar negeri kemarin. Sampai lupa jika sudah punya seseorang yang nangis darah menunggu kepulangannya," ucapnya berseloroh dengan memandang sekilas pada Ale.


"Abang nggak mau kamu jadi sedih jika mendengar cerita Abang ini. Nggak usah ya?" ucapnya menolak secara halus.


Sebenci apapun sang Ayah terhadap Aisyah, biarlah itu menjadi urusan Tuhannya yang memikiki kuasa atas hati setiap hambanya. Tak perlu rasanya Ale membumbui rasa benci itu yang akhirnya bisa menimbulkan rasa yang sama untuk diri Aisyah kepada sang Papa.


Bukankah Allah itu sesuai prasangka hambaNya? Jangan pernah suudzon terhadap pemilik hidupmu. Bahagia dan nestapa selalu menjadi sahabat sejatinya. Tak ada yang selamanya. Kurangin ngeluh, banyakin syukur, panjangin lagi sabarnya hingga tak terbatas. Karena tak ada sabar yang sia-sia. Tak ada rasa syukur yang mengakibatkan kerugian


Ehm! Lagi Ale berdehem saat Aisyah kembali meminta lewat tatapan matanya.Kenapa istri kecilnya ini sepertinya sudah memiliki banyak tabungan kalimat yang memang sudah di persiapkannya untuk dirinya? Bahkan terbaca lewat indra penglihatannya.


"Abang jangan marah ya,"


Ale menggeleng menolak tuduhan sang istri.


"Setelah semua kepayahan yang kamu lewati seorang diri. Masih pantaskah Abang marah? Hanya kamu yang berhak atas hal itu," ucapnya menegaskan.


*

__ADS_1


*


Terima kasih masih setia temaniku menulis.


__ADS_2