Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Melepasmu pergi.


__ADS_3

Hari demi hari berjalan sesuai prasangka baik Ale yang berusaha mematahkan semua pikiran negatif Aisyah.


Ale kembali bekerja sebagai CFO di kantor Ayahnya, dan iapun meminta agar sang Ayah kembali menjadikan Evan sebagai asisten pribadinya. Semua dituruti oleh Chandra. Demi apa? Tentu demi misi besarnya untuk menyingkirkan Aisyah dari kehidupan Ale.


Setelah semua cara kasar dan cenderung memaksa tak jua mampu membujuk Ale, maka ia harus menyiasatinya dengan cara yang paling rapih dan manis sekali.


Di ruangan Chandra aryaguna al ahnaf.


Ale baru saja masuk ke ruangan sang Ayah, yang tampak mengurut pelipisnya berulang-ulang.


"Pagi Pa," Ale duduk di seberang sang Papa yang langsung mendongakkan kepalanya.


"Pagi Al," ucapnya dengan wajah sejuta masalah yang sengaja di buatnya.


"Papa sedang ada masalah? Urusan kantor atau Abram?" tebaknya,karena hanya itulah masalah yang di hadapi orang tuanya.


"Abram baik- baik saja Al," jawabnya yang sengaja mengundang Ale untuk bertanya kembali.


"Jadi masalah kantor?" tanya Ale lagi untuk memastikan. Chandra mengangguk, lalu menunjukkan satu file kepada putra sulungnya itu.


"Proyek di luar negeri bermasalah Pa, kenapa Papa baru cerita sama Ale? Ini udah lebih satu bulan lho Pa nggak keburu out nih," keluhnya menyayangkan keterlambatan Chandra yang tidak segera bicara kepadanya.


"Papa takut mengganggu bulan madu kalian Al," bohongnya dengan wajah penuh penyesalan.


"Papa bicara apa sih, Aisyah bukan istri yang tidak memahami pekerjaan Ale pa, dia bukan tipe penuntut, harus ini, inginnya begini, harus sekarang. Nggak Pa.Huh," Ale menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerja sang Papa.

__ADS_1


"Sekarang harapan Papa hanya kamu Al,"


Ale menelan salivanya kasar. Sesungguhnya dia sama sekali tidak pernah memiliki pikiran negatif terhadap Papanya ini. Sungguhpun,ucapan Aisyah jelas adalah sebuah nasihat yang terkandung peringatan untuk dirinya. Namun ia tak mampu membenarkan keraguan istrinya itu.


"Ale akan bicarakan ini dengan Aisyah Pa, dia pasti mengerti," ucapnya coba memberi ketenangan untuk Chandra yang merasa puas dalam hatinya. Satu langkah berhasil ia lalui dengan berhasil membawa Ale pulang ke rumahnya walaupun harus membawa serta Aisyah istrinya, dan langkah selanjutnya tentulah akan lebih gampang ia selesaikan.


Malam hari di dalam kamar. Ale tengah duduk dengan kembali memeriksa file yang di berikan oleh Chandra di kantornya tadi.


"Ai, kemarilah!" ucapnya menarik satu kursi agar Aisyah duduk di sampingnya. Aisyah yang baru saja keluar dari kamar mandi segera saja menghampiri sang suami.


"Ada apa Pak?" tanyanya tanpa melihat file yang ada di tangan Ale.


"Proyek di luar negeri sedang dalam masalah yang cukup serius Ai," ucapnya memulai pembicaraan mereka.


"Papa meminta saya untuk menyelesaikannya," ucap Ale dengan mengubah posisi duduknya untuk lebih dekat lagi dengan Aisyah.


"Harus Bapak ya?" tanyanya sedikit menghadirkan sisi ke egoisannya.


"Iya Ai, kalau bukan saya, lalu siapa lagi, Abram? Itu umpama mencari jarum dalam gundukan jerami. Perbuatan yang sia-sia," pungkas Ale.


"Lalu saya bisa apa, selain pasrah Pak. Toh Bapak bukan sepenuhnya milik saya, ada yang lebih berhak," imbuhnya lagi dengan dada yang mulai bergemuruh. Marah, kecewa, kesal, jelas itu yang di rasakannya saat ini.


Setelah beberapa bulan tinggal bersama kedua mertuanya. Ale meyakinkan Aisyah bahwa di sinilah kebahagiaannya. Dan ia berjanji akan selalu ada di sampingnya. Kemanapun dia pergi maka Aisyah selalu ada mendampinginya. Tapi,kenyataannya? Janji itu tidak bisa tertunaikan sekarang. Saat masalah yang entah itu sudah di skemakan oleh sang Ayah mertua untuk dirinya,atau memang perusahaan tengah dalam masalah.Namun,yang pasti inilah awal dari pahitnya senyum sang Ayah mertua yang selalu bisa di baca lewat pandangan matanya.


"Aku tak sepintar itu untuk bisa menilai seseorang hanya dari cara tersenyum dan bicaranya. Namun, nyatanya hari ini adalah jawabnya, betapa keraguanku adalah hal nyata yang tengah di selancarkan oleh Papamu Pak," monolognya dalam hati.

__ADS_1


"Saya hanya pergi beberapa waktu saja Ai, kamu bisa pegang ucapanku. Setelah semuanya kembali normal, saya akan segera kembali,"


"Apakah saya harus menjawab tidak Pak, sedangkan jawaban itu tidak ada dalam pilihan untuk pernyataan Bapak ini, nggak ada," ucapnya lirih dengan membuang wajahnya ke samping. Menghindari tatapan mata sang suami, yang kini malah meraih kedu pipinya yang sudah mulai basah.


"Jika uangku bisa menukar kepergianku, menjadi miskinpun aku rela Ai, tapi kita tidak hidup sendiri.Ada orang tua dan adik- adik kita yang masih bergantung dengan perusahaan ini, orang lain aku tidak peduli Ai,tapi Ayah, Ibu, Alya dan Inayah? Apa kamu tega membuat mereka kembali hidup dalam kemiskinan?"


"Mereka sudah biasa hidup seperti itu Pak, bahkan sebelum Bapak menjamin semua kebutuhan mereka.Srharusnya yang Bapak takutkan adalah keluarga Bapak sendiri," ucap Aisyah menghempaskan tangan Ale yang kini malah duduk berjongkok di depannya.


"Kamu kenapa? Kenapa mudah sekali tersulut amarah akhir- akhir ini hmm?" Ale mengusap pelan air mata Aisyah dengan jari manisnya.


Aisyah menggeleng. Iapun tak tahu kenapa akhir- akhir ini dirinya memang lebih mudah marah, pikirannya selalu saja menolak untuk hal-hal positif yang malah menjadikannya lebih mudah lelah. Dia hanya ingin selalu ada di samping Ale. Lalu sekarang apa? Sang suami nyatanya malah berbicara jika ia akan pergi ke luar negeri untuk waktu yang belum bisa di pastikan.


Umpama anak yang akan melepas kepergian sang Ayah untuk pertama kalinya mengadu nasib di negeri orang,begitulah yang dirasakan Aisyah saat ini. Dari sejak menikah hingga kini tinggal di rumah besar sang mertua. Aisyah belum pernah sekalipun terpisah jarak dan waktu dengan suaminya itu.


"Aku janji akan selalu menhubungimu setiap hari," ucap Ale mencium singkat pipi Aisyah yang malah semakin tersedu-sedu dalam tangisannya.


"Suamimu ini bukan pergi ke medan perang lho Ai. Kenapa?" tanya Ale memeluk Aisyah yang kini sudah berbaring di atas ranjangnya.


"Bahkan melepasmu ke medan perang sekalipun aku nggak akan sesedih ini Pak. Tapi kepergianmu jelas kembalinya pun bukan untuk diriku lagi. Aku tau itu. Mungkin ini adalah malam terakhir kita tidur bersama. Malam terakhirku bisa menikmati hangat dan juga harum tubuhmu. Karena setelah kepergianmu esok hari, maka langkah kakiku akan sama dengan derap langkah kakimu yang berjalan keluar dari rumah ini, aku tidak tahu apakah hanya hatiku yang perlahan pergi dari hatimu atau ragaku yang tak sanggup lagi menunggu kepulanganmu" ucapnya dalam hati dengan perasaan yang semakin hancur dan lebih hancur lagi.


"Aku hanya punya satu hati Pak, dan hatiku ini telah kuserahkan sepenuhnya untukmu. jika suatu hari nanti Bapak menemukan serpihan- serpihan hatiku ini, kumohon rangkailah dari setiap sisi hatiku yang berserakan, jangan tinggalkan! Karena apa? Karena ragaku sendiri sudah terlalu letih untuk memujuknya, ragaku sudah payah untuk memintanya agar tak terlalu terluka, mungkin aku belum berputus asa. Namun, percayalah aku tidak sekuat itu Pak," lirihnya dengan memeluk erat suaminya itu.


"Aku sayang kamu Ai, kemarin, hari ini, esok dan selamanya," ucapnya dengan mencium khidmat puncak kepala Aisyah lalu ia bawa dalam pelukan hangatnya.


Terima kasih. 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2