
Mereka kini sudah tiba di rumah besar milik Chandra aryaguna. Mbok Sariyah yang baru saja akan masuk ke dapur, terkejut saat melihat Tuan mudanya kini sudah dalam keadaan baik- baik saja. Hanya terdapat beberapa luka yang sudah mulai mengering di wajahnya. Ia segera saja berjalan cepat menyongsong para Tuan dan Nyonyanya. Namun,jelas orang yang pertama kali mendapat perhatiannya adalah Ale.
"Tuan muda? Ini bener Tuan mudakan?" ucapnya dengan memindai penampilan Ale dari ujung ke ujung.
"Iya Mbok. Ini Aleandara momonganmu," ucap sang Mama menjawab tanya Mbok Sariyah.
"Bukannya tadi pagi Nyonya bilang akan memindahkan Den Ale ke rumah sakit lain. Kok?" ucapnya dengan wajah bingung.
"Alhamdulillah.Berkat doa Mbok Sariyah Ale udah baikan sekarang. Makasih ya Mbok. Sekarang Ale mau istirahat dulu," Ale bergegas melangkah seraya menggandeng tangan sang istri menuju kamarnya. Akan tetapi, langkahnya harus jalan di tempat saat ujung jemari sang Mama menarik ujung tshirtnya.
"Apa sih Ma!" ucapnya coba melepaskan kaitan tangan sang Mama.
"Mau kemana hem?" ucap sang Mama tanpa melepaskan pegangan tangannya pada baju Ale.
Ale memutar bola matanya malas saat melihat jika sang Mama ini hanya tengah berpura-pura tidak tahu saja.
"Ke kamar Ma. Ngapain lagi, ya tidur lah,"
"Enak aja. Nggak mau ngangsur hutang dulu?"
"Duh, Mom. Jangan pura-pura tempe deh. Ale beneran lelah banget sekarang. Besok aja ya. Oke?" pintanya dengan memasang wajah memelas kepada sang Mama.
Sabrina akan kembali menyela. Namun, suara sang suami menghentikan niatannya itu.
"Badan Papa rasanya pegel semua ini lho Ma. Pijitin dong!" ucapnya dengan melangkah naik ke lantai dua menuju kamarnya tak lupa membawa serta sang istri.
Aleandra tersenyum puas. Papanya ternyata sudah kembali seperti dulu lagi. Yang hangat dan sangat peduli pada mereka semua. Semoga tidak ada udang di balik rempeyek.Sang Ayah tidak perlu mengatakan jika dirinya sangat mengerti dan peduli akan kebutuhannya sebagai seorang pria dewasa. Cukup dengan tindakan dan juga kalimat ajakan saja yang berhasil membungkam bibir cerewet sang istri.
"Abang," Aisyah kini tengah menyisir rambutnya di depan cermin. Ale yang sudah terlebih dulu membaringkan tubuhnya itupun mau tak mau harus kembali berdiri untuk menghampiri sang istri.
"Apa?" tanyanya dengan meletakkan dagunya pada bahu Aisyah.
"Mau denger cerita Abang dong," ucapnya lalu menyentuh dengan lembut rahang sang suami yang kini mulai di tumbuhi bulu- bulu tipisnya.
__ADS_1
"Abang capek sayang. Besok aja boleh nggak?" ucapnya memberi pilihan yang malah mendapat cebikkan dari sang istri.
"Abang payah ih!" ucapnya lalu menaiki ranjangnya dengan kasar hingga menimbukan bunyi berdentum. Dan kini seluruh tubuhnya sudah tertutup sempurna oleh selimut bulu- bulunya.
"Abang bela- belain pulang demi kamu Ai. Tapi, kenapa seperti ini?" keluhnya dengan berusaha menyingkap selimut sang istri, hingga terjadi gerakan tarik menarik antara keduanya,
"Nggak usah ngedrama deh Bang! Bilangnya tadi capek, lelah, letih,lesu, lunglai. Ya udah tidur sana nggak usah ganggu aku. Capek tau nggak!" kesalnya dengan membalikkan badannya memunggungi Ale.
Aisyah merasakan tangan kekar itu kini telah masuk menelusup ke dalam selimutnya. Menari kesana- kemari. Hal yang membuat Aisyah merasa tak nyaman.
"Dasar bujang tua. Makin tua makin payah!" gerutunya dan Ale makin mengeratkan pelukan tangannya di tubuh Aisyah.
"Abang kangen Ai. Boleh minta sesuatu nggak?"
"Nggak! Capek. Mau tidur. Tidak menerima panggilan suara apalagi panggilan video. Closed!" ucapnya kesal lalu menarik selimutnya kasar.
"Tega kamu sama Abang Ai. Kamu sama Mama sama aja. Nggak ada pengertianmu. Beda sama Papa,"
"Sesi perbandingan di mulai,nanti kalau Aisyah yang membanding- bandingkan Abang dengan pria lain. Abang koma lagi kayak pria di rumah sakit kemarin," ucap Aisyah coba memancing sang suami agar mulai bercerita tentang hari- harinya kemarin.
"Aku atau Abang?" ucap Aisyah menimpali.
"Kok Abang sih? Nggak ada dalilnya orang yang menjadi korban kecelakaan bisa selingkuh,"
"Terus aku? Ada ya dalilnya? Setiap hari nungguin pria asing yang kukira adalah suamiku itu. Lalu si lelaki nyatanya tak kunjung membuka mata. Selingkuhnya yang kayak gimana Bang. Selingkuh sama patung. Iya? Abang pikir aku udah nggak waras apa?"
"Kok malah dimarahin sih Ai. Suami baru pulang dari kecelakaan tragis bukannya di sambut dengan manis. Eh, malah di tuduh yang iya- iya,"
Aisyah melayangkan tatapan permusuhan kepada Ale yang kini menahan senyum. Merasa sudah berhasil membuat wanitanya marah.
"Iya- iya. Abang salah. Mau mulai darimana ceritanya?" tanyanya dengan mendekatkan tubuh mereka.
"Abang kemana waktu pria itu yang menjadi korban satu- satunya di mobil Abang?"
__ADS_1
"Abang nggak tahu Ai. Yang Abang ingat. Sebelum kejadian tragis itu terjadi. Ada seorang pria yang meminta tumpangan sama Abang. Dia bilang mobilnya mogok. Dan setelah itu Abang nggak inget lagi. Hanya sebuah benturan yang sangat kuat yang Abang ingat," ucapnya mulai bercerita.
"Terus.Abang tinggal di mana, sama siapa selama beberapa hari kemarin?"
"Saat Abang terbangun. Abang sudah ada di sebuah gubuk bambu milik seorang petani Ai," Ya gubuk bambu Pak tani dengan putri cantiknya yang memendam rasa terhadap Ale.
"Gubuk bambu? Ada anak perawannya nggak Bang? Pasti cantik dan seksi ya? Hem,Aisyah tahu sekarang,"
"Tahu apa? Mau dilanjut nggak ceritanya? Kalau sok tahu Abang putus nih nggak berseri,"
"Terus Abang jatuh cinta sama tuh anak perawannya Pak tani yang nolongin Abang kan? Dan Abang yang merasa berhutang budi itu ingin membalas kebaikan hati keduanya. Iya kan?"
"Kamu lagi kedatangan tamu bulanan Ai? Emosinya ngalahin letupan gunung Semeru aja. Nggak ada ritmenya. Naik ke atas terus,"
"Aku cemburu Bang. Abang benar-benar ya. Abang nggak tahu betapa khawatirnya kami memikirkan Abang yang tak kunjung sadar dari koma. Abang nggak tahu setiap hari aku selalu gelisah memikirkan nasibku jika Abang tiba-tiba tidak ingat lagi sama aku. Lalu bertanya"Anda siapa? Abang nggak akan pernah tahu!"
"Ya makanya dengerin dulu cerita Abang. Jangan main tembak aja dong sayang. Sebaiknya kita istirahat aja dulu ya. Kamu kelihatan lelah banget Ai," Ale membawa tubuh sang istri dalam pelukannya.
"Abang selalu ingkar janji,"
"Sekarang Abang nggak bakalan janji- janji lagi," Aisyah mendongakkan kepalanya. Alisnya berkerut sempurna yang malah mendapat jentikkan jari Ale.
"Nggak usah di kerut- kerutin terus. Penuaan dini nanti. Mau jadi Nenek- Nenek di usia muda?" ucapnya dengan mengusap pelan kening Aisyah.
"Janjinya udah bukan untuk aku lagi? Udah ada yang lain? Yang lebih aduhai dan juga bohai?"
"Abang nggak akan berjanji lagi. Tapi,langsung Abang lakukan. Dengan begitu Abang tidak akan menyakitimu lagi dan lagi,"
"Janji?" Aisyah menunjukkan jari kelingkingnya yang di sambut dengan senyuman manis dari Ale.
"Nggak mau janji. InsyaAllah takdir Allah adalah kisah bahagia kita,"
"Aamiin,"
__ADS_1
Terima kasih. 🥰