Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Firasat.


__ADS_3

Pov Aisyah.


Papa dan Mama akhirnya memilih untuk pulang ke rumahnya.Sementara Mbok Sariyah Mama tugaskan untuk tinggal di apartemen menemaniku. Sebenarnya aku agak keberatan, tapi, Mama dan juga Bang Ale memaksa.


Pagi ini entah kenapa aku malas sekali untuk beranjak dari ranjangku. Selimut tebal itu masih bergelung manja di tubuhku. Samar- samar aku mendengar suara gemercik air mengalir dari dalam kamar mandi. Saat kuraba, ternyata sudah tak ada siapapun di sampingku.


"Tumben weekend udah mandi, Abang kerja hari ini?" tanyaku mengintip dari balik selimutku.Aku tak sanggup dan lebih condong ke lemah iman jika melihat tubuh kekarnya yang setengah terbuka itu. Belum lagi tetesan air yang masih mengalir di tubuhnya yang kian menambah kesan seksinya saja.


Bang Ale tersenyum sebelum mengenakan kaos putihnya.Perlahan Ia berjalan mendekat ke arahku.


"Kenapa naik ke ranjang sih Bang! Pakai dulu bajunya ih. Pornoaksi," protesku dengan menarik selimut sehingga menutupi seluruh wajahku.


"Mana ada pornoaksi sama istri sendiri Ai. Kalimatmu itu mubazir banget. Kamu kangen ya?" ucapnya dengan menyingkap selimut tersebut.


"Nggak! Tiap hari ketemu ngapain juga kangen. Lebay!" ucapku menolak dengan tegas tuduhannya. Walaupun sebenarnya rasa rindu itu memang ada. Tapi rasa malu memang lebih mendominasi lebih dari hanya sekedar gengsi.


"Kan yang di kangenin lain Ai. Abang tahulah ya. Udah nggak usah malu- malu kayak gitu, jujur aja, Abang pasti akan sangat bahagia mendengarnya,"


"Abang mesum ih. Inget! Masa nifasku masih panjang lho. Nanti, Abang yang nggak tahan," ucapku mengingatkan.


Bang Ale perlahan turun dari ranjangnya. Ia segera mengenakan setelan kerjanya. Benar dugaanku dia akan ke kantor hari ini.


"Abang beneran pergi hari ini?" tanyaku memastikan dan ingin tahu dia akan pergi kemana? Ke kantor atau ada meeting dengan klien di luar hari kerjanya.


"Ada meeting dengan klien sayang. Do'ain Abang sukses meyakinkan mereka untuk memakai jasa perusahaan kita. Oke?" ucapnya dengan mengecup lama keningku.


"Baik- baik di rumah ya. Kalau bosen, bisa minta tolong Mbok Sariyah untuk menemanimu keliling taman kota,"


"Suamiku itu Abang atau Mbok Sariyah sih? Perasaan kemana-mana yang nemenin selalu saja beliau. Coba aja dulu aku tetap menolak saran Mama. Pasti Abang nggak akan ke seringan ninggalin aku sendirian terus kayak gini," ucapku kesal. Dulu aja bilangnya akan selalu ada untukku. Tapi, pada kenyataannya. Tong kosong nyaring bunyinya, omong kosong melompong nggak ada isinya. Hoax, ngota, ngawe!


Bang Ale tanpak menghela nafasnya pelan. Ia kembali duduk di sampingku.


"Abang janji minggu depan akan free. Waktu dan diri Abang sepenuhnya milikmu. Jangan ngambek dong," ucapnya mencium pipiku lama.


"Abang selalu ih. Nggak lihat kondisi main nyosor kayak soang aja!" ucapku kesal dengan mengelap pipiku berulang-ulang.

__ADS_1


"Kanapa harus di bersihkan? Memangnya Abang ini najis ya?"


"Parfume Abang nggak enak untuk di cium. Bikin pingin muntah," ucapku lalu segera berlari ke kamar mandi. Tak ada yang kukeluarkan di sana. Hanya memang tenggorokanku yang terasa panas dan pedih.


"Kamu kenapa Ai? Asam lambungnya naik? Atau masuk angin? Beneran karena aroma parfume Abang?" tanyanya bertubi-tubi.Bang Ale menyusulku yang tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.


Aku menggeleng.


"Beneran nggak apa- apa kalau Abang tinggal?" ucapnya memastikan.


"Nggak apa- apa Bang. Tapi, janji langsung pulang ya. Nggak usah mampir ke mana-mana,"


"Iya.Abang janji,"


Aku duduk di depan televisi yang menyala. Entah apa yang tengah mereka kabarkan akupun tidak begitu memperhatikannya.Rasanya hari ini waktu berjalan sangat lamban. Lebih lamban dari jalannya siput.


Baru saja aku akan mematikan layar televisi,saat tiba-tiba saja ada sebuah berita yang tak sengaja kulihat.


Walaupun dengan tubuh bergetar saat menyaksikan berita tentang sebuah kecelakaan tragis itu,namun, entah mengapa aku begitu berkeinginan untuk melihatnya.Jiwa kepopediaku sungguh tak dapat kukontrol lagi. Antara was- was dan lebih cenderung ke takut dan khawatir sih.


Harapanku itu bukanlah mobil Bang Ale suamiku. Tapi, kenapa jantungku terasa kebat- kebit seperti ini. Kuingat- ingat, tapi apa yang harus kuingat? Sedangkan nomor polisi kendaraan milik Bang Ale itupun memang tidak kuketahui.


"Mbok!" Akhirnya aku putuskan untuk memanggil Inangnya Bang Ale. Mungkin saja dia ingat nomor polisi mobil Bang Ale.


Mbok Sariyah tanpak datang dengan berjalan tergopoh- gopoh menghampiriku.


"Pelan- pelan aja Mbok, nanti jatuh lho," ucapku menasihatinya yang selalu saja begitu jika kami memanggilnya.


"Ada apa Non. Non Aisyah butuh apa?" tanyanya dengan duduk sedikit berjongkok di sebelahku.


"Duduk Mbok. Jangan setengah jongkok kayak gitu, saya sama saja sama Mbok Sariyah. Nggak usah membuat jarak," ucapku yang keberatan dengan sikapnya yang memperlakukan diriku ini seperti seorang putri saja.


"Kita berbeda Non!" tolaknya lalu kini malah duduk menjauh dariku.


Aku sudah lelah mengajukan semua keberatanku akan sikapnya ini. Beliau tetap saja bersikap seperti itu kepadaku.

__ADS_1


"Mbok Sariyah hapal nggak nomor polisi mobil Abang?" tanyaku langsung. Mbok Sariyah tanpak fokus melihat berita tentang kecelakaan tunggal di televisi itu.


"Mbok!" ucapku yang membuat kegiatan menontonnya seketika terhenti.


"Non.Kenapa mobilnya bisa sama, sama punya Tuan Muda Ale?" tanyanya dengan tubuh dan bibir yang bergetar. Aku tahu dia memiliki firasat yang sama denganku. Hanya saja aku masih berusaha untuk positif thinking saja. Mobil kayak punya Bang Ale kan banyak nggak limited edition. Semoga saja.


"Nomor polisinya beda Mbok," ucapku coba menenangkan padahal aku sendiri sudah mulai tak tenang kini. Saat sesosok tubuh dengan perawakan yang sama dengan Bang Ale tanpak sudah di masukkan ke dalam ambulan. Aku tak dapat melihat dengan jelas, karena banyaknya orang yang berkerumun di sana.


Perhatianku teralihkan kepada reporter pria yang tanpak tengah mewawancarai seorang saksi mata yang melihat kejadian itu.


"Saya menemukan dompet ini tercecer di samping korban,"


Degh!


Tubuhku sudah lemas bagaikan tulang tanpa sumsumnya, demi melihat dompet yang benar-benar sama dengan kepunyaan suamiku itu kini terpampang nyata di layar televisi.


Tanpa menunggu informasi yang selanjutnya, aku segera menggandeng tangan Mbok Sariyah.


"Kita mau kemana ini Non? Kenapa tidak menunggu Tuan Muda saja. Nanti saya kena marah Non,karena lancang membawa Non Aisyah ke luar apartemen," ucapnya keberatan dengan menghentikan langkah kakinya yang membuatku ikut berhenti juga.


"Abang Mbok," ucapku terjeda.Sungguh aku ingin sekali menyalahkan pikiran negatifku ini. Tapi, kenapa semua bukti merujuk ke pada Bang Ale? Dari mobil dan warnanya yang sama yang masih bisa kusangsikan. Tapi, dompet itu benar-benar sama, hal yang semakin memperkuat pikiran buruk yang kini seolah sedang silih berganti melintas di depan mataku. Mengusik air mata yang susah payah kutahan semenjak melihat berita di televisi tadi.


"Tuan muda kenapa Non?" tanyanya dengan mengguncang lenganku berkali-kali meminta jawab dengan segera atas hal yang sesungguhnya tak ingin aku dengar apalagi sampai harus kurasakan.


"Abang kecelakaan Mbok," ucapku dengan air mata yang akhirnya lolos juga.


Kenapa Tuhan selalu menguji kami dengan segala macam kisah sedihnya? Baru saja kurasakan indahnya hidup bersama orang yang sangat kucintai dan benar-benar menyayangiku. Tapi,sekarang apa? Apakah semua itu tak layak untuk diriku? Terlalu hinakah aku untuk lebih lama bahkan selamanya menikmati hidup yang serasa syurga ini?


*


*


*


Terima kasih.

__ADS_1


Love kalian banyak- banyak. 🥰


__ADS_2