Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Luka.


__ADS_3

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada di kecewakan oleh satu orang yang kamu pikir tidak akan pernah menyakitimu.


Aleandra aryaguna al ahnaf umpama orang yang kehilangan akal warasnya kini. Kalimat dan kondisi psikisnya sungguh tidaklah saling berkaitan. Ia mengumpat, kemudian tertawa. Ia menangis, lalu tersenyum. Sehebat itu rasa kecewa yang tengah di alaminya.


"Weh,minumnya udah nggak kira- kira nih si Abang sayang yang malang," ucap Beni lalu membantu Ale masuk ke dalam mobilnya.


"Terima kasih Mas. Tapi, tolong tinggalkan saya sendiri," pintanya dengan menyandarkan kepalanya di atas kemudi.


"Tapi, Abang mabok lho. Yakin bisa nagatasin sendiri?" ucap pria tersebut tanpak ragu dengan lebih lama lagi memandang pada Ale.


Ale mengangguk, lalu tersenyum tipis,sebelum menyilakan pria tersebut untuk pergi meninggalkan dirinya.


Ale membuka matanya saat sinar sang surya masuk menembus kaca mobilnya. Ia putuskan tinggal di tempat itu untuk beberapa hari.


Tujuannya sudah pasti untuk mengetahui siapa dan apa hubungan Aisyah dengan pria itu.


Ale berjalan santai dengan kacamata dan topi hitam yang bertengger di kepalanya. Tak lupa masker hitam yang juga sukses membuat wajahnya tak akan mampu di kenali oleh siapapun.


Dia kembali mendatangi tempat di mana Aisyah menghabiskan sebagian waktunya bersama anak- anak yang sepertinya kurang beruntung itu.


Ia melihat Aisyah datang seorang diri dengan berjalan kaki.


"Berarti tempat tinggal Aisyah tidak jauh dari sini," gumamnya dengan sesekali membenahi masker dan kacamatanya.


Hal sama yang kembali terulang dan yang membuat darahnya mendidih. Aisyah kembali pulang dengan pria tersebut.


Diam-diam Ale mengikuti dengan mengendarai roda dua yang di sewanya. Ale tak pernah sedetikpun mengalihkan pandangannya dari kedua orang yang berada lumayan jauh di depannya. Sesekali Ale melambankan laju roda duanya saat Alvian mulai sering melihat ke arahnya.


"Kita makan siang dulu Ai, gimana mau nggak?" tanya Alvian dengan menoleh kebelakang. Aisyahpun ikut mendekatkan wajahnya agar Alvian dapat mendengar dengan jelas apa yang akan di ucapkannya.


"Saya ikut aja Pak," ucapnya dengan nada sendu yang tak kunjung berubah.


Ale ikut masuk ke dalam kafe yang menjadi pilihan Alvian untuk makan siang bersama Aisyah.

__ADS_1


Saat tengah menunggu pesanannya tiba, Alvian melihat jika Ale masih saja mengikuti mereka hingga ke tempat ini.


"Ehm!" Alvian berdeham untuk menarik perhatian Aisyah yang tengah fokus pada ponselnya. Aisyah mendongak, "Ada apa Pak, udah laper banget ya?" tanyanya santai dengan memasukkan benda pipih tersebut ke dalam tas selempang hitamnya.


"Sepertinya laki-laki bertopi hitam itu sedang mengikuti kita deh Ai, kamu curiga nggak sih?" Alvian berucap pelan dengan sedikit mendekatkan wajahnya kepada Aisyah yang langsung mencari di mana kiranya sosok pria yang tengah di bahas oleh Alvian tadi.


"Siapa? Mana Pak? Saya nggak lihat," jawabnya celingukan kesana kemari.


"Yang duduk di pojokan itu Ai. Dia memakai topi, kacamata dan masker hitam. Sebaiknya hari ini kamu pulang ke mess saya. Biar saya yang tidur di rumahmu. Sepertinya kamu yang jadi targetnya Ai, bukan saya," pintanya dengan suara pelan dan masih memperhatikan Ale yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.


Ale sadar jika kehadirannya mulai di curigai oleh Alvian, yang berkali-kali menoleh ke arahnya.Namun, tidak dengan Aisyah. Dia terlihat sangat menikmati makanan yang tersaji di hadapannya tanpa menaruh curiga sedikitpun kepada Ale.


"Siapa sih Pak? Emm, apa orang suruhan pacarnya Pak Al nih? Cie, ada yang lagi di buntutin nih ceritanya. Eh," Aisyah menghentikan ucapannya saat menyadari suatu hal.


"Kenapa tiba-tiba diam? Sekarang udah satu server sama dugaan saya?" Tanya Alvian celingukan kini. Dia tanpak terkejut saat menyadari bahwa pria bertopi yang tak lain adalah Ale tadi sudah tidak ada di tempatnya.


"He em. Tapi, kita beda jalur Pak," celetuk Aisyah tersenyum, lalu menutup mulut dengan satu tangannya.


Sungguh ia sudah benar-benar rela jika Ale benar-benar telah melupakan dirinya. Tak masalah! Jika bahagianya bukan denganmu, untuk apa bertahan jika menyakitkan! Ia coba buang pikiran aneh yang singgah di benaknya.


"Ish! itu sih sama aja Pak. Ekspress sama bebas cepat ya satu keluarga,"


Hahahaha. Keduanya tertawa.


"Benar-benar mencurigakan," guma Alvian yang ternyata di dengar oleh Aisyah.


"Siapa yang mencurigakan?" tanya Aisyah.


"Eh, bukan siapa-siapa kok. Mungkin saya saja yang terlalu berlebihan," ucapnya canggung.


Alvian berniat membersihkan nasi yang menempel di rambut Aisyah menggunakan selembar tisu di tangannya. Saat tiba-tiba saja sebuah pukulan melayang mengenai pelipisnya.


"Singkirkan tanganmu dari hadapannya!" hardik Ale saat tangan Alvian masih berusaha menyentuh rambut Aisyah.

__ADS_1


"Bapak nggak apa- apa?" Aisyah takut, panik dan khawatir. Berkali-kali dia usap darah yang tanpak mengalir di pelipis Alvian. Alvian menghentikan gerakan tangan Aisyah yang semakin mengundang kemarahan Ale.


Alvian semakin yakin dengan prasangkanya.Bahwa pria itu memiliki niat buruk kepada Aisyah, yang kini menatap si pria dengan tatapan menghunus.


Sementara itu Ale masih menyembunyikan wajahnya di balik kacamata dan masker hitamnya.


Rahangnya mengeras.Gigi- gigi gerahamnya bergemeretak menahan marah yang kian membuncah, saat ternyata Aisyah lebih mengkhawatirkan Alvian ketimbang dirinya.


"Siapa Anda sebenarnya?" tanya Aisyah dengan suara bergetar menahan amarah.


Dirinya memang tak pernah memiliki perasaan apapun terhadap Alvian. Namun, dia bukanlah orang yang tidak mempunyai hati dan perasaan, tak tahu caranya membalas kebaikan orang lain terhadapnya. Alvianlah penyelamatnya dan juga janin yang tengah di kandungnya saat ini.


Lalu, saat ada orang asing yang tanpa tahu salahnya di mana,tiba-tiba saja datang lalu menyakiti tubuh penolongnya itu, haruskah dia diam saja? Setidaknya, walaupun tubuh dan tenaganya tak cukup mampu untuk membalas pukulan Ale terhadap Alvian ,tapi dia berhak tahu siapa dan apa motif pria tersebut tiba-tiba datang dan membuat kekacauan di sini.


"Sabar Ai, jangan mudah terpancing emosi dan amarah. Tahan emosimu.Ingat, kemarahanmu bisa berakibat buruk untuk janin yang ada dalam kandunganmu,"


Ale tercekat. Nafasnya memburu. Darahnya mengalir cepat demi mendengar ucapan pria di depannya ini.


"Sudah sejauh itukah pengkhianatanmu terhadapku Ai?" ucapnya dalam hati dengan matanya yang mulai berkaca- kaca di balik kacamata hitamnya.


Pedih sungguh pedih. Sakit jangan di tanya lagi, rasanya serpihan di hatinya sudah tak sanggup lagi ia himpun. Saat mendengar kenyataan yang sanggup mengoyak seluruh rasa di jiwanya.


Sementara itu, Alvian masih coba menasehati Aisyah yang masih di kuasai oleh emosi dan juga amarahnya.


"Dia sudah kurang ajar terhadap Bapak. Kita harus tahu apa maksud dari perbuatan ngawurnya ini, Bapak jangan diem aja dong!" kesal Aisyah karena Alvian tak membalas pukulan Ale tadi.


"Jangan membalas keburukan dengan keburukan juga Ai. Kita manusia di beri akal dan pikiran. Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan kekerasan,"


Aisyah menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Keburukan apa yang tengah engkau balaskan kepadaku ya Aisyah?"


Terima kasih.

__ADS_1


Love kalian banyak- banyak.🥰🥰🥰


__ADS_2