
Pov Aisyah.
Sudah lebih dari lima hari sejak Bang Ale dirawat intensif di rumah sakit itu. Tapi, tak ada satu halpun yang menunjukkan perkembangan keadaannya menjadi sedikit lebih baik. Dia masih saja diam dengan mata yang terpejam sempurna. Seolah itu adalah hal terindah dan ternyaman yang tengah dijalaninya. Hidupku sudah seperti drama sinetron ikan terbang saja kini. Lalu, nanti saat Bang Ale sudah sadar, dia akan bertanya. Anda siapa?
Lengkap sudah semua derita ditambah drama amnesia.
Aku tak pernah pulang ke apartemen. Semua kebutuhan sehari-hariku selalu diantar ke rumah sakit oleh Mbok Sariyah dengan di temani Abram adik iparku.
"Kak," ucapnya menyapaku yang baru saja selesai membasuh wajah di kamar mandi.
"Iya, ada apa Bram?" jawabku dengan langsung menyebut namanya. Awalnya aku merasa kurang sopan, karena bagaimanapun usianya jelas lebih tua dariku.Akan tetapi, aku adalah istri dari Abangnya.Mau di panggil Pak lek,lah, kami sendiri belum punya anak lho. Oom aja, yo podo wae!
Pernah satu kali aku menyapanya dengan sapaan Mas, eh dia malah tertawa terbahak-bahak. Dia bilang wajah sama panggilan nggak nyambung. Lebih parah dari Jaka sembung membawa golok.
"Kakak nggak penasaran dengan wajah Bang Al? Nggak boleh dibuka ya walau sebentar saja itu perbannya ?" ucapnya dengan terus memperhatikan wajah Abangnya yang masih tertutup perban itu.
"Maksud kamu apa Bram? Kamu ragu jika pria di depanmu ini adalah Bang Ale?" ucapku sedikit kesal dengan pikiran anehnya. Bisa- bisanya dia punya pikiran gendeng bin sinting seperti itu.Jelas- jelas itu adalah Abangnya. Dompet dan juga mobil itu memang benar miliknya. Hanya karena wajahnya yang kini sedikit sulit di kenali,lalu dengan mudahnya dia mengungkapkan ke raguannya itu ke padaku. Dasar semprul!
"Santai Kak! Aku hanya sedang mengutarakan sedikit Kebimbangan di hatiku.Kupikir Kakak juga mempunyai pikiran yang sama sepertiku. Ternyata aku salah," ucapnya canggung karena aku sedikit kesal dengan prasangkanya.
Hari ini aku benar-benar sedang berada di titik jenuhku. Jenuh menunggu tapi entah apa yang kutunggu. Hingga dapat kudengar suara pintu dibuka dari luar. Akupun menoleh untuk melihatnya.
"Mama?" aku berdiri dari kursiku bermaksud menghampiri Mama.
"Kamu istirahat saja di rumah Ai. Mama lihat tubuhmu lelah banget. Kurang istirahat juga pastinya," ucap Mama menepuk bahuku pelan.
"Nggak Ma. Aku ingin menjadi orang pertama yang dilihat Bang Ale saat dia siuman nanti. Tolong jangan paksa Aisyah Ma,"
Mama menggeleng dengan tetap tersenyum ramah padaku. Kulihat ia mendekat ke pada Bang Ale suamiku.
__ADS_1
"Al.Sudah cukup dong tidurnya! Kamu nggak kasian sama istrimu, badannya makin langsing saja sekarang Al. Belum lagi wajahnya yang juga terlihat tirus. Bangun dong Al. Buatin Mama dan Papa seorang cucu yang ganteng dan cantik ya," ucapnya lalu menoleh ke padaku.
Aku menggeleng dan tersipu mendengar bisik- bisik tetangga Mama tadi.
"Ehm," Aku berdehem untuk mengurangi rasa canggungku. Bisa- bisanya Mama punya pikiran se absurd itu. Buatin anak? Dikira masak tempe mendoan apa ya? Di penyet- penyet, di bolak- balik, lalu di goreng. Mateng deh.
"Kenapa Ai? Aneh ya sama sugesti yang Mama bisikkan ke Ale?" tanyanya lagi dengan berjalan mendekat ke padaku.
"Kamu nggak pernah ngomong kayak gitu sama Ale,selama dia koma?" tanyanya bertubi-tubi.
Aku menggeleng menjawab jujur. Satu kalipun tak pernah aku membahas yang berbau- bau ranjang itu ke pada Bang Ale. Entah kenapa, rasanya ada yang aneh jika aku menceritakan masalah kaum dewasa itu ke padanya.
"Jika besok Ale belum juga menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Papa sama Mama akan pindahkan Ale ke rumah sakit yang lebih besar lagi Ai," ucap Mama dengan sedikit membenahi selimut yang tersingkap di tangan Bang Ale. Namun, saat hendak menarik selimut tersebut. Mama sepertinya menemukan ke anehan pada pergelangan tangan putra sulungnya itu.
"Ai, selama menunggui Ale kamu menemukan sesuatu yang mencurigakan nggak sih terhadap Ale?" tanyanya yang membuatku kembali teringat akan ucapan Abram tadi.
"Apa Mama juga mulai menyangsikan kebenaran ini? Kenapa hanya aku yang percaya jika ini adalah kamu Bang? Bukan orang lain," monologku dalam hati.
"Nggak! Ya udah kalau gitu Mama pamit pulang dulu ya. Mau ikut kajian sama ustad Musa di Majelis taklim,"
Alisku berkerut sempurna saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Mama. Apa kecelakaan tragis yang menimpa Bang Ale ini yang sanggup merubah gaya hidup Mama?Tumben- tumbenan rajin ikut kajian. Biasanya di ajakin streaming aja malas- malasan. Tapi sekarang?
Ah, Abang lihatlah! Betapa pengaruhmu begitu besar untuk orang lain. Aku tersenyum mengiyakan ucapannya dan tak memedulikan pertanyaannya tentang Bang Ale tadi.
Setelah Mama keluar,aku kembali bermonolog ke Bang Ale. Hal yang menjadi ke biasaanku selama menungguinya di ruangan ini.
"Abang.Aku tahu Abang mendengar semua keluh kesah dan gurauanku sama Abang. Abang juga pasti tahu kan? Jikalau saat ini Mama dan Abram mulai curiga dengan Abang. Bahkan Abram sangsi jika yang terbaring diam dan selalu terpejam ini adalah Abangnya. Tapi, tidak denganku Bang. Separah apapun ke adaanmu nanti, aku akan tetap memanggilmu Abang suamiku,makanya bangun dong Bang!Memangnya kamu nggak merasa lelah ya? Nggak kangen juga sama aku? Aku rindu Bang, ayo bangun!" dalam kelelahanku itu akhirnya aku tertidur di samping hospital bed Bang Ale.
*
__ADS_1
*
Sementara itu. Seorang pria dengan wajah penuh luka yang terlihat sudah hampir mengering tanpak duduk seorang diri di sebuah pondok panggung yang terbuat dari anyaman bambu. Di temani secangkir kopi hitam dan pisang rebus yang masih mengepulkan asapnya si pria tanpak tengah memandang jauh. Namun, sejauh mata memandang yang dilihatnya hanyalah hamparan padi yang mulai menguning.
Terlihat di ujung pematang sawah seorang gadis dengan caping lebarnya tengah asik mengusir kawanan burung yang tengah menyantap bulir-bulir padi yang kian merunduk dari batangnya. Sesekali dia memandang ke pada si pria yang juga tengah memperhatikan dirinya.
"Ndok, yang diperhatikan itu burungnya bukan wajah tampannya!" eits!
Kalimatnya rancu banget sih Pak.Hmm.
"Ayah," ucapnya tersipu malu memandang bergantian ke pada sang Ayah dan si pria yang kini sudah tak lagi melihatnya.
"Lho, bener kan apa yang Ayah katakan. Padinya keburu habis kalau kamu hanya fokus pada pemuda itu. Burungnya ndok, burungnya," tukas sang Ayah lagi.
Matahari sudah naik sepenggalah saat kedua Ayah dan anak gadisnya itu berjalan pelan menyusuri pematang sawah yang licin karena hujan yang mengguyur dengan deras wilayah itu dari menjelang isya hingga menjelang subuh tadi.
"Yah,Mas ganteng itu siapa sih namanya?" tanyanya dengan meletakkan caping lebarnya di sisi pondok bambu mereka.
"Ayah juga belum menanyakannya Ndok. Tapi, kalau boleh Ayah kasih saran, manggilnya Mas aja. Nggak usah di tambahi dengan kata ganteng," ucap sang Ayah lalu membasuh wajahnya sebelum naik ke pondoknya.
"Ish, Ayah! Dia kan memang ganteng Yah," protesnya tak terima dengan saran yang di berikan oleh Ayahnya tadi.
"Ganteng sih ganteng Ndok! Akan tetapi, aneh aja kalau harus di bubuhi ke dalam kalimat sapaanmu itu," ucap sang Ayah, lalu mulai melangkah naik melalui tangga kayu yang menghubungkan mereka ke pondok bagian atasnya.
"Kalau Mas Joko yang Nadia panggil dengan sapaan Mas ganteng itu baru namanya aneh Yah.Ganteng kayak sekuteng!"ucapnya masih saja memberi alasan dalam gerutuannya yang sudah tak didengar lagi oleh sang Ayah.
*
*
__ADS_1
Terima kasih.