Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Dimana kamu Ai?


__ADS_3

Aleandra turun dari taksi birunya. Ia sengaja tak memberitahu siapapun tentang kepulangannya ini. Dia bernyanyi dalam iringan langkah kakinya. Melewati bahagia yang ternyata telah lebih dulu pergi meninggalkan dirinya, sebelum berhasil ia songsong.


Hidup selalu memiliki rahasianya masing-masing. Ada yang menangis saat senyumannya merekah sempurna. Itulah tangis bahagia. Ada yang tertawa saat kesedihan seolah tak pernah bosan untuk menjadi sahabat karibnya.Bukan, itu bukan gila. Hanya dia sudah tak mampu lagi mengekspresikan perasaannya.


Bahagia dan kesedihan memiliki masanya sendiri- sendiri. Tak mungkin selamanya. Terkadang kita saja yang tak pandai mengambil hikmah dari apa yang telah di timpakan kepada kita. Selalu mencari kesalahan orang lain untuk membenarkan kesalahan kita. Belajarlah ikhlas meski yang ikhlas terkadang tak terlihat dengan jelas. Bukankah Allah adalah sebaik-baik Hakim. Tak ada perbuatan yang tak mendapat ganjaranNya.


Ale masuk kedalam rumahnya. Suasana tanpak sepi. Ia edarkan pandangannya ke segala penjuru rumah Ayahnya ini, hasilnya tetap sama.


"Ma, Pa," ucapnya memanggil dengan sesekali melihat ke arah kamar orang tuanya itu. Pintu kamar tertutup rapat.


"Mama sama Papa nggak denger apa di panggilin," gerutunya dengan berjalan menuju kamarnya.


Dengan sangat pelan dan extra hati- hati, Ale meraih handle pintu kamarnya.


"Ai," panggilnya saat tak menemukan keberadaan sang istri di kamarnya.


Ale masuk ke dalam kamar mandi,tak ada siapapun di sana.


"Kemana Aisyah, kenapa kamar ini seperti kamar yang telah lama di tinggal oleh penghuninya. Apa dia nggak berani tidur sendirian di kamar?" Ale melangkah keluar dari kamarnya.


"Ma, Pa," Ale mengetuk pintu kamar Mama dan juga Papanya.


Chandra segera keluar dari kamarnya saat mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya berulang-ulang.


"Siapa Pa?" Sabrina segera beranjak mengikuti sang suami yang sebelumnya tengah sibuk dengan pekerjaan kantor yang masih ia pantau dari rumah.


"Nggak tau Ma,"


Chandra membuka pintu dengan Sabrina di sampingnya.


"Al?" Chandra tak mampu menutupi keterkejutannya saat melihat sang putra sulung kini ada di hadapannya.


Ale tersenyum sumringah, merasa berhasil memberikan kejutan untuk Papa dan Mamanya.


"Ale," Sabrina segera memeluk putra kesayangannya itu dengan erat dan cukup lama.Dia menangis sejadi-jadinya. Di eratkannya pelukan rindunya pada Ale.

__ADS_1


"Iya, ini Ale anak Mama.Udah dong Ma! Masa anaknya pulang di sambut dengan tangisan," protesnya dengan membelai pipi sang Mama yang tak henti menciumi setiap inci wajahnya.


Tak ada kesedihan yang dapat di ungkapkan Sabrina sebagai seorang Ibu saat melihat putra kesayangannya tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya. Sungguh ia tak akan mampu menjawab tanya dan marah Ale tentang Aisyah istrinya yang sudah lebih dari satu pekan ini tak pernah ia lihat.


"Pekerjaan di luar negeri udah beres Al? Kok mendadak pulang, nggak ngasih kabar dulu," ucap Chandra lalu keluar dari kamarnya.


Ale sudah mulai paham dengan sikap yang ditunjukkan Ayahnya ini. Ia bukan lagi Chandra yang dulu. Yang akan selalu lebih dulu bertanya tentang kabar dirinya barulah setelah tahu jika kedaannya baik- baik saja, ia akan bertanya mengenai pekerjaannya.


Kini tak ada lagi pelukan hangat dari Papanya. Ale memandang sedih kepada Sabrina yang matanya mulai berkaca- kaca. Baiklah! Ale harus mulai terbiasa dengan perubahan sikap sang Papa yang dilihatnya sudah duduk manis di atas singgahsananya.


"Ma,apa selama Ale nggak di rumah Aisyah tidurnya nggak di kamar ya?" tanyanya masih dengan prasangka baiknya. Entahlah, pikirannya memang tak seburuk kenyataan yang akan di dapatkannya hari ini.


Chandra mencebik tanpa suara. Terlihat sudut bibirnya yang ditarik ke atas.


"Kamu baru pulang, bukannya nanyain keadaan Papa sama Mama,eh malah sibuk ngurusin perempuan kampungan itu Al!" Chandra bicara dengan nada angkuhnya.


Ale terhenyak. Kenapa Papanya kembali pada sifat sebelumnya. Mana Papa Chandra yang baik, manis, bertutur kata lembut terhadap Aisyah istrinya,waktu ia memutuskan untuk kembali ke rumah besar ini, mana wajah dan senyum ramahnya? Bahkan Ale tak peduli jika sikap sang Ayah itu tak bisa lagi ia dapatkan untuk dirinya. Tak masalah. Dia kuat, dia mampu,tapi Aisyah?


"Dia istriku Pa, bukan wanita kampungan!" Ale memandang penuh tanya kepada sang Mama.


"Mama, jawab Ma, jangan nangis," pintanya dengan duduk bersimpuh di hadapan Sabrina.


Sabrina menggeleng lalu menepuk pelan punggung putranya yang sudah bergetar menahan tangis dalam tundukannya.


"Ma, mana istriku Ma, mana?" Ale sudah tak mampu lagi menahan kesedihan dan kekecewaannya.


"Istrimu pergi dari rumah satu bulan setelah keberangkatanmu ke luar negeri Al," jawab Chandra.


"Bohong! Kalian pembohong!" Ale sudah tak memedulikan lagi jika ucapan bentakkannya itu akan lebih sanggup membuat sang Mama berlinang air mata. Nyatanya mereka telah mengkhianati kepercayaannya. Wanita yang belum ada satu tahun menjadi Nyonya Aleandra dan harus di tinggalkannya demi mengurus proyek yang katanya sedang dalam masalah besar dan ternyata setelah dirinya sampai di sana, semua baik- baik saja, tak ada masalah.


Lalu, kini saat dirinya memutuskan untuk pulang, ternyata yang di tinggalkannya itu sudah hilang dari pandangan matanya dan tak tahu kemana.


"Aisyah!" Ale berlari kencang menuju kamarnya kembali. Ia lempar semua barang yang mengganggu langkah kakinya.


"Ai, Abang pulang Ai, kamu di mana?" Ale meluruh ke lantai. Rasanya tubuhnya sudah umpama daging tanpa tulang. Tak ada kekuatan dalam dirinya, saat yang menjadi tujuan kepulangannya ternyata sudah di sia- siakan.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa pergi lagi, kenapaaa!" Ale membanting semua yang ada dalam jangkauannya.


"Kenapa tidak bertahan untukku?" lirihnya menangis tertahan.


"Al," Ale mendongak saat suara sang Mama mengapanya.


"Kenapa Mama biarkan istriku pergi Ma, kenapa?"


Sabrina peluk kembali putra sulungnya yang kini menangis pilu.


"Mama nggak tahu Al. Papa hanya memberitahu Mama, jika Aisyah pergi. Mama bisa apa Al," ucap Sabrina penuh penyesalan. Kenapa ia mudah sekali percaya kepada sang suami yang ternyata telah merekayasa kepergian Aisyah.


"Kenapa Mama nggak hubungi Ale?"


"Mama yang salah Al, terlalu percaya dengan cerita Papa, maaf," lirihnya.


Ale tatap wajah pintu syurganya itu dalam- dalam, ia tahu ada penyesalan yang sangat mendalam dalam tatapan dan ucapan sang Mama. Lalu pantaskah dia menggugatnya? Sementara sang Mama adalah sebagai korban dari kebohongan Ayahnya juga.


"Jangan meminta maaf sama Ale Ma, jangan," ucapnya dengan menyeka air mata sang Mama.


"Apa ada orang lain yang sering datang ke sini selama Ale tidak ada di rumah Ma? Atau setelah kepergian Aisyah?" tanya Ale yang kini duduk di samping sang Mama di atas ranjangnya.


"Helena lebih sering datang kemari setelah kalian pergi Al,"


"Helena?"


Ale segera beranjak dari duduknya.


"Al, mau kemana? Mama ikut," Sabrina segera menyusul sang putra yang berjalan cepat menuruni tangga.


"Mama, Ale, mau kemana kalian?" Chandra menghadang keduanya dengan berdiri di tengah pintu rumahnya.


"Membawa kembali apa yang sudah Papa buang," Ale menundukkan kepalanya akan melewati sang Papa yang masih berdiri tegak tanpa.


"Satu langkah kakimu keluar dari rumah ini sama saja satu cekikan di leher Papa Al,kamu hanya melihat dari satu sisi saja, yaitu istrimu. Apa kau tidak mau tahu dengan orang tua dan juga adikmu Al? Tidak adakah kami dalam semua kekhawatiranmu itu?"

__ADS_1


"Papa yang terlebih dulu mengajari Ale,"


__ADS_2