
Aisyah tersentak saat sang suami menjawab ucapannya. Walaupun tanpa menaikkan intonasi bicaranya, tapi Aisyah tau ada kecewa yang tersirat melalui lisan sang suami.
"Jangan pernah kamu ulangi kalimat itu Ai, karena itu sama saja kamu tidak menghargai ketulusanku,"
"Saya hanya bicara sesuai fakta Pak," ucapnya tetap membela diri tanpa rasa bersalah. Dasar bocah!
"Fakta yang mana? Tentang Mama dan Papa yang menemuimu di apartemen kemarin?" tanyanya bertubi-tubi.
Aisyah beranjak dari duduknya.
"Saya sudah terbiasa hidup seadanya seperti ini Pak, tapi tidak dengan Bapak, semua keinginan Bapak dengan mudah terpenuhi. Jangan menjadikan saya wanita waras yang kemudian di anggap gila oleh keluarga Bapak, jangan Pak, kumohon, cukup sudah penghinaan yang telah di lontarkan orang tua Pak Ale untuk saya. Semua sudah sempurna," ucapnya yang masih saja mengedepankan emosi dan sakit hatinya atas penghinaan Chandra.
"Kita mulai semuanya dari awal Aisyah,"
Ale sadar bahwa gadis yang dinikahinya ini bukanlah Ibundanya yang akan selalu nggeh, iya, iya, saja saat dirinya mengajukan keberatan dan perdebatan. Aisyahnya adalah gadis yang di tempah menjadi dewasa karena keluarga. Dia belum tahu caranya bersikap dewasa menghadapi pasangan. Ayah dan Ibunya adalah contoh nyata dalam hidupnya. Namun ia tak pernah melihat keduanya bersitegang apalagi bertengkar.
"Dari mana memulainya?"
Ale menyunggingkan bibirnya menggoda Aisyah yang sepertinya sudah mulai menghimpun kembali emosinya.
"Dari sini," tunjuknya tepat di perut sang istri yang berjengkit geli. Entah itu geli karena gerakan tangan Ale ataukah karena ucapannya.
"Bapak mesum ih," ucapnya segera menjauh dari Ale.
"Emang ada ya, mesum sama istri sendiri?" tanyanya dengan semakin mendekatkan tubuhnya.
Aisyah menoleh untuk melihat ekspresi sang suami yang sungguh menyebalkan baginya.
"Kita sedang menghadapi banyak masalah lho Pak, jangan macam- macam ih, nggak sesuai sama sikonnya," protes Aisyah karena kini Ale umpama pria hidung belang yang singgah di panti pijat perempatan jalan.
"Ini adalah salah satu penyelesaian masalahnya Ai, gimana hmm?" Ale segera menyergap tubuh sang istri yang malah memeluk tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Boleh pending nggak?" Aisyah kepayahan mengatur nafasnya akibat pelukan erat Ale di dadanya. Ia mendongak dengan ekspresi menghiba.
"Aku tidak sebejat itu Ai,aku hanya berusaha membuatmu rileks,karena sepertinya semua ucapanku tidak ada pengaruhnya untuk kepanikanmu," ucapnya dengan sedikit merenggangkan pelukannya terhadap Aisyah.
Aisyah menghembuskan nafasnya lega. Hampir saja ia buka puasa di pagi buta.Puasanya lama banget Ai, udah hampir tiga pekan lamanya.
"Ai, bagaimana dengan Alya?" tanyanya masih merasa sungkan jika harus bertatap muka dengan adik iparnya itu.
"Ayah akan menjelaskannya Pak,"
Kini mereka sudah duduk di meja makan .
"Kak Ais," Inayah memeluk Aisyah erat saat baru keluar dari kamarnya. Ia memandang heran pada pria yang tadi malam berbincang santai dengan Ayahnya, tapi kini ia duduk manis di samping sang Kakak dan tersenyum ramah kepadanya.
"Ini Kak Ale, In,suami Kakak," Aisyah mengenalkan sang suami kepada adik bungsunya yang langsung menunduk dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Aku Inayah Kak," ucapnya ramah. Tak ada ekspresi marah seperti yang di tunjukkan oleh alya malam tadi.
"Bener- bener berbeda, yang ini terlihat lebih tenang, kalem, good looking plus good attitude," monolog Ale dalam hatinya.
"Dia sudah pergi ke kampus pagi- pagi sekali Ai," jawab sang Ayah lalu menandaskan kopi tanpa gulanya.
Sementara itu Alya masih merenung di pematang sawah dengan air yang mengalir tenang di depannya. Ia belum berangkat ke kampus, ia hanya menghindari Aisyah dan Ale.
Mencintaimu laksana pelangi tanpa hujannya. Tak akan muncul sebelum datang panasnya.
Merindukanmu umpama hujan pada petirnya.
Tak akan datang sebelum datang derasnya.
Aku marah juga malu. Marah pada hati yang tak tau diri.
__ADS_1
Malu pada rindu yang tak mengenal tempat dan waktu.
Di ujung ataupun di awal, semua akan sama.
Tak ada rasa yang kuharapkan dari sebuah kesalahan yang berkesudahan.
Alya meremas kuat kertas yang berisikan ungkapan perasaannya kepada Ale itu, lalu ia hanyutkan perlahan.
"Kenapa rasaku hadir untuk pria yang tak mungkin kumiliki? Kenapa takdir seolah terlalu bahagia mempermainkan hidupku? Kenapa dunia seakan tertawa puas untuk airmata kekecewaanku, kenapa?" ucapnya dengan bahu bergetar menahan tangisnya.
"Kak Aisyah, ingin kuceritakan padamu betapa tampannya dia suamimu yang ternyata sedang singgah di hatiku, ingin ku nyanyikan lagu dengan semua liriknya adalah tentang indah matanya, hidung mancung dan senyum yang membuatku payah dan payah, aku harus terluka untuk bahagia yang kalian terima, aku harus menangis hanya untuk berkata jika suamimu terlalu manis, aku nyatanya lebih menahan beratnya untuk ungkapkan sayang daripada beratnya menahan rindu. Aku atau kamu yang jahat Kak? Jawaaaaaaab!" Alya menenggelamkan wajahnya pada aliran air di depannya.
"Huh!" Alya menoleh saat seseorang mengelus surainya lembut. Selembut belaian Ayah dan Ibunya. Dan benar saja saat ia menoleh rupanya sang Ayah yang ada di belakangnya.
"Ayah," ucapnya seraya menyeka air yang masih menetes deras di wajahnya.
"Kenapa tidak kamu luahkan semuanya kepada Ayah? Kenapa masih betah menyimpan rasa bersalah? Yang buruk tak selamanya salah Nak, dan yang baik tak selalu manis. Ada keburukan yang terbungkus rapi dalam kalimat manis, ada kebaikan yang tak pernah berbalas bahagia. Kenapa? Karena hati yang tak ikhlas menerima, karena hati yang tak sungguh-sungguh ikhlas mengadu, masih ada beban yang tidak terselesaikan, terkadang membenci lebih memiliki harga diri daripada saling mengasihi, saat semua itu masih ada dalam hatimu, maka selembut apapun penjelasan orang lain terhadapmu tak akan mampu melenturkan keras rasamu," Alya kembali menangis tersedu dalam dekapan cinta pertamanya.
"Alya salah Yah, Alya bodoh," ucapnya yang entah salah yang mana yang diungkapkannya. Salah karena marah kepada Aisyah sang Kakak, ataukah salah pada cintanya yang terlarang. Nyatanya sang Ayah mengartikan arti ungkapan salahnya adalah salah karena sudah menunjukkan amarahnya kepada Aisyah Kakaknya.
"Tidak mengapa Nak, emosi dan amarah itu adalah dua rasa yang pasti saling berkaitan. Belajarlah mengendalikan emosi dan amarahmu. Ada bahagia tanpa harus membuat sakit hati orang lain. Ada senyuman tanpa harus menghadirkan tawa yang cenderung menghina, Kita memang bukan nabi. Namun kita juga bukan budak setan kan? Jadilah hati yang sebenar- benar ikhlas, karena dalam keikhlasan pasti ada kebaikan,"
Alya mendongakkan kepalanya, merasakan betapa tenangnya kalimat yang keluar dari bibir Ayahnya. Betapa dia tak pernah menghakimi walau jelas memang dirinya yang belum mau mengerti.
"Aku tidak akan menjadi gila karena cinta yang salah Kak," ucapnya dalam hati, coba memberi pengertian pada dirinya sendiri.
"Alya," Aisyah segera beranjak dari duduknya saat sang adik masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan salam.
Alya masih bersikap dingin, sungguhpun,Ayahnya telah memberikan semua kalimat azimatnya, namun saat ia harus menyaksikan kemesraan antara Kakak dan iparnya,nyatanya hatinya masih saja sakit, dadanya masih tetap sesak, dan emosinya kembali menampakkan wujudnya.
Ia tak akan menjawab sapaan sang Kakak sebelum hatinya benar-benar ikhlas, Ia tak ingin berpura-pura baik, karena dalam kebaikan belum tentu ada keikhlasan.
__ADS_1
Cinta yang salah dalam hati yang salah juga.
Biarlah rasa yang tercipta akan menjadi rahasia. Rahasia antara aku, kamu dan Tuhanku.