Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Coba meluruskan.


__ADS_3

Segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Kita kecewa karena mengharapkan lebih. Menangislah! Tak ada masalah yang tak memiliki penyelesaian. Hanya saja terkadang kita harus lebih bersabar dan berteman baik dengan waktu juga lebih tak terbatas lagi dengan kata sabar!


Tak ada yang tak terkejut dengan kalimat yang meluncur dari bibir seorang Aleandra. Baik Alvian dan juga Aisyah.Keduanya kompak dengan ekspresi wajah yang hampir sama.


Untuk Aisyah. Ia kenal suara berat itu. Suara yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih kencang saat ia bergumam di telinganya. Suara yang dulu selalu berkata sayang untuknya. Tapi, kini suara itu bagai duri yang menancap di relung hati. Ada kecewa dan sedih yang terpancar beriringan melalui suara dan nada bicaranya. Ada kebencian yang masih ingin di bantah namun tak ayal tertuang juga dalam irama kecewa.


Aisyah berdiri. Lalu, dengan gerakan cepat ia menyongsong pria di depannya itu. Ia tarik masker dan kaca mata hitam dari wajah Ale.


Aisyah meluruh tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dan di alaminya detik ini.


Kakinya seakan ingin menjejak bumi ini lebih kuat dan lama, agar semua tahu dia tak sekuat itu. Keinginannya untuk merelakan sang suami yang mungkin sudah hidup bahagia dan telah jauh melupakan dirinya,ternyata berbanding terbalik dengan garis takdir yang sekarang dia jalani.


Tuhan tak pernah salah menuliskan cerita kisah hidupmu. Sejauh dan sekeras apapun kamu meninggalkan toh, takdir yang ingin kau tinggalkan akan sampai juga. Dia adalah sebagian kisah narasi hidupmu yang akan selalu mengikutimu. Tak mungkin dirimu mampu untuk merubahnya.Hanya berhak menerima, tanpa harus mencela.


Aisyah hampir saja terjatuh jika saja Alvian tidak segera meraih satu tangannya.


"Ai tenang Ai," ucap Alvian coba menenangkan Aisyah. Ia ikut berjongkok menyamai posisi Aisyah yang kini mendongak menatap Ale yang malah menatap tajam padanya dan juga Aisyah.


"Aku tak menyangka,pengorbananku nyatanya tak pernah kauhargai, kesetiaanku tak pernah kauanggap ada, kaukhianati kepercayaanku hingga tubuh ini umpama raga tanpa nyawa Ai. Matiiiii!" teriak Ale dengan melepas lalu melempar kasar topi hitamnya ke sembarang arah.


Ia berjongkok di depan Aisyah. Ia raih satu tangan sang istri dengan kasar, lalu ia bawa berdiri di depannya.


Alvian yang memang belum mengetahui jika Ale ini adalah suami Aisyah itupun mencekal tangan Ale yang kini menatap dengan tatapan penuh permusuhan kepadanya.


"Seorang lelaki sejati tidak akan pernah berkata ataupun berbuat kasar kepada seorang wanita. Karena itu sama saja kau telah menyakiti hati pintu syurgamu. Anda kasar Tuan! Dia tengah mengandung, perbuatan Anda bisa membahayakan bayi dalam kandungannya,"


Ale dengan kasar melepas cekalan tangan Alvian.

__ADS_1


"Oh, sudah sejauh itu rupanya pengkhianatan yang kaulakukan terhadapku Ai. Ternyata aku salah menilaimu. Kamu tidak lebih hina daripada Helena yang mengemis cinta tanpa rela menjual harga diri apalagi tubuhnya. Tapi kamu?" ucapnya dengan mata yang berapi- api.


Plak!


Ale mengusap pipinya yang baru saja mendapatkan tamparan keras dari Alvian.


"Saya kira usia Anda sudah cukup dewasa dalam menghadapi suatu masalah Tuan. Seharusnya Anda bisa menjaga ucapan Anda. Cari tahu dulu kebenarannya, jangan asal menuduh tanpa adanya bukti yang akhirnya menjadi fitnah untuk kami. Kenapa kami? Karena secara tidak langsung saya terlibat di sini," pungkas Alvian yang menyesal karena tak mampu menahan emosi dan amarahnya.


Alvian kembali mendekat kepada Aisyah yang sudah bermandikan air mata.


"Berdirilah Ai! Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini," ucapnya hendak meraih satu tangan Aisyah. Namun, Aisyah menolaknya.


"Kamu mengenali pria ini Ai?" tanyanya. Dan sungguh ia menyesal mengapa menanyakan hal seperti itu kepada Aisyah. Ia berharap Aisyah segera menggelengkan kepalanya memutus kecurigaan dalam hatinya. Namun, kenyataan memang benar- benar tak seindah harapan apalagi impian, saat ia melihat Aisyah mengangguk mengiyakan ucapannya.


"Dia siapa?" tanyanya lagi untuk lebih memastikan.


"Dia suami saya Pak,"


Jedduuarrr!


Umpama petir tanpa hujan, lalu guruh yang bersahut-sahutan yang menjadi penanda bahwa badai baru saja akan di mulai, sedangkan anginnya saja belum reda.


Alvian mundur perlahan menjauh dari Aisyah dan juga Ale yang kini tersenyum smirk di ujung bibirnya. Aisyah tertunduk dalam tangis tanpa suaranya. Ale pandangi tubuh Alvian hingga hilang dari pandangan matanya.


Kini Aisyahlah yang menjadi fokus penglihatannya. Wanita yang menempati tahta tertinggi di hatinya setelah sang Mama, kini berangsur telah tergerus dalam banyaknya benci dan sakit hati. Hati kecil tak ingin percaya. Tapi, kenapa kenyataan malah semakin membuat semua terasa benar dan nyata adanya. Tak ada sakit yang seperih ini, tak ada luka tak mengaga namun membekas lara.


Ia berharap masih tersisa secuil asa dalam masa- masa pencariannya. Tapi, kenapa sebongkah nestapa yang menghampiri?

__ADS_1


"Kenapa hanya diam di situ Ai? Kenapa tidak kamu ikuti saja lelakimu yang mati- matian kaubela dan Kaukhawatirkan? Bukan aku yang masih berstatus sebagai suamimu," Ale memandang jengah pada Aisyah yang kini berjalan cepat mengejarnya yang bersiap menunggangi roda duanya.


"Kami tidak memiliki hubungan terlarang seperti apa yang Abang sangkakan," ucap Aisyah yang berhasil membuat Ale menoleh lalu membuang salivanya kasar.


"O ya? Lalu hubungan seperti apa yang sanggup menghasilkan janin yang ada dalam kandunganmu itu Ai, apa?" tanyanya dengan memegangi kedua pipi Aisyah yang kembali basah karena air mata.


Plak, plak!


Ale kembali mengusap pipinya saat telapak tangan Aisyah mendarat dua kali di sana.


"Katakan Ai, katakan! Jangan membuatku menjadi manusia paling dungu seperti ini,"


"Tuduhanmu sungguh bukan hal yang main- main Bang. Kamu menghina dan terus saja merendahkanku, tanpa sekalipun ingin kautanyakan tentang kebenarannya kepadaku. Abang yang bejat, Abang yang jahat! Kenapa membiarkanku sendirian menjalani kepayahan yang harusnya adalah bahagia kita. Tak pernahkah sekali saja kamu ingin tahu tentang keadaanku. Tak pernah terbesitkah di hatimu saat aku merintih, mengeluh selalu memanggil namamu? Semua yang kujalani dan harus kulewati seorang diri?"


Aisyah memeluk tubuhnya sendiri dengan air mata yang telah menganak sungai di ujung kelopak matanya.


"Jangan menjual air matamu hanya untuk bisa membuatku percaya Ai. Walaupun tangismu darah, penilaianku tak akan pernah berubah,"


Aisyah menggeleng. Lelah, sungguh ia lelah. Ingin rasanya ia menyerah saja dengan semua tuduhan Ale. Tapi setitik rasa yang masih bisa ia baca dari pandangan kekasih hatinya itu sukses membuat keyakinannya kembali ada. Masih ada cinta di antara seribu luka. Masih banyak rindu meskipun terlalu malu untuk mengakuinya. Namun, kesalahpahaman ini sepertinya bukanlah hal yang mudah untuk diluruskan.


"Aku tidak pernah mengkhianatimu Bang. Dan anak yang tengah aku kandung ini adalah anak mu. Buah cinta kita," teriaknya saat Ale mulai menghidupkan mesin kendaraannya.


Ale yang sudah bersiap melesat itupun akhirnya menunda niatannya tersebut. Ia buka kembali helmnya. Berjalan perlahan mendekat kepada Aisyah yang kini menatap penuh harap padanya.


Salah? Mungkinkah kesalahan itu utuh dan sempurna berasal dari dirinya saja? Saat ia sudah putus asa menunggu kabar dari sang suami, namun, nyatanya angannya kesampaian lewat cara yang berbeda.


Terima kasih 🙏💕.

__ADS_1


Selamat lebaran.


__ADS_2