Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Badai.


__ADS_3

Priuk nasimu terguling- guling kah Van? Padahal sebenarnya dirinya pun tidak tahu menahu tentang rahasia besar yang di sembunyikan oleh Tuan mudanya itu.


Tidak ada firasat apapun dalam diri Ale, ketika namanya berulang-ulang di sebut oleh Aisyah dalam kebingungannya.


"Saya pulang ke apartemen hari ini Van, seperti biasa, kamu bisa pulang lebih dulu," ucap Ale setelah menghabiskan makanannya.


"Hati-hati Pak," Evan sendiri merasa aneh dengan ucapannya. Sebelum ini ia hampir tidak pernah mengucapkan kalimat itu kepada Ale, namun, entah karena firasat ataukah introgasi Tuan besarnya tadi yang seolah tengah mengorek informasi tentang Tuan mudanya ini yang membuat dirinya reflek bicara seperti itu.


"Kayak saya ini mau pergi naik haji aja Van, kesannya kok jadi baper gini," kelakar Ale yang membuat Evan garuk- garuk kepala.


"Doa itu Pak, saya bantu aamiinkan ya," tambahnya lagi.


"Ck, kamu yang berdoa, kamu juga yang ngamiinin, makasih ya Van, kamu memang asisten kepercayaanku," Ale menepuk pelan pundak Evan.


Asisten kepercayaan nggak tu Van yang membocorkan setitik rahasia yang akan membuka rahasia besar seorang Aleandra Al ahnaf.


"Kok jadi merinding disco gini sih," bathinnya saat berjalan meninggalkan Ale yang tampak tengah menghubungi seseorang melalui panggilan suaranya.


Berkali- kali Ale coba menghubungi Aisyah, namun ternyata nomor sang istri tidak dapat di hubungi. Pikiran Ale sudah berkelana entah kemana, pastinya semua pikiran buruk akan sosok istri kecilnya yang kini berubah jutek itu terus saja memenuhi otaknya.


Sementara itu beberapa puluh menit yang lalu di apartemen Ale.


"Sebenarnya dia ini siapa sih Pa? asisten rumah tangganya Al, kelihatannya masih usia remaja nih anak," Sabrina memandang aneh kepada Aisyah yang kini tertunduk bingung dalam duduknya.


"Kita tanyakan langsung sama orangnya Ma,"


Sabrina dan Chandra saling mengangguk sebelum sang suami mulai mengintrogasi Aisyah.


"Sebelum kamu menjawab pertanyaan dari kami, ada baiknya kamu tau, bahwa kami ini adalah Papa dan Mama pria pemilik apartemen tempat mu duduk sekarang ini Nona," ucap Chandra dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Aisyah masih menunduk dengan kelopak matanya yang sudah mengembun tebal.


"Jika mereka adalah orang tua Pak Ale, itu artinya mereka adalah mertuaku, Ayah, Ibu, inikah balasan untuk anakmu yang durhaka ini?" bathinnya dengan nafas yang kian menderu dan juga mulai terasa sesak.


"Sekarang katakan! Ada hubungan Apa antara dirimu dengan Aleandra putra kami?"


Aisyah masih diam, diam yang membuat Chandra semakin geram.


"Apa Anda seorang tuna wicara Nona, hingga menjadi seorang tuna wisma, lalu hidup menumpang dengan putra kami?"


Sungguh Sabrina tidak menduga kenapa sang suami bisa bicara sekasar ini pada seorang wanita yang menurutnya baru beranjak dewasa ini.


Apakah rasa kecewa, ataukah amarah? Entahlah, dirinya pun tak akan berani membantah jika sang suami tengah dalam mode dark seperti ini.


Jujur, jiwa perempuannya merasa terkoyak melihat gadis cantik di depannya ini tengah di pandang rendah oleh suaminya. Andai dia tau bahwa Tuhan telah lebih dulu mengijabah doanya, agar secepatnya di berikan menantu yang asyik dan baik hati. Hanya saja waktu yang sepertinya tidak tepat dalam membawa kabar yang seharusnya adalah bahagia itu.


Sementara itu, Aisyah sudah tak tahan lagi menahan derasnya laju airmata yang kian menganak di ujung retinanya.


"Jawab Nona! Kenapa hanya diam saja, kami bukan pengangguran dengan segudang waktu seperti Anda, waktu kami jauh lebih berharga ketimbang dunia imajinasi Anda yang sepertinya sudah menjadi nyata ini,"


"Kamu wanita simpanan anak saya, iya?"


Aisyah menggeleng.


Sungguh dia adalah perempuan baik - baik, bahkan sampai detik ini dirinya masih berstatus perawan dalam artian sebenarnya, lalu mengapa ungkapan sebagai wanita rendahan itu di tuduhkan untuk dirinya?


"Lalu apa sebutan untuk wanita yang tinggal satu atap dengan pria yang bukan pasangan sahnya? Saya rasa Anda sudah tau akan hal itu,"


Sabrina mengelus punggung tangan sang suami yang malah langsung mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Mama dengar baik- baik apa yang akan dikatakannya nanti,"


"Kalian kumpul kebo di sini?" kekesalan Chandra semakin menjadi- jadi saja kini.


"Tidak Pak, kami menikah secara agama dua minggu yang lalu," Aisyah sudah tak sanggup lagi mendengar semua penghinaan yang di tuduhkan untuk dirinya dan juga sang suami.


Chandra mengangguk perlahan. Sementara ekspresi berbeda di perlihatkan oleh Sabrina yang kini tersenyum bahagia. Ingin rasanya ia berlari lalu memeluk menantu nya ini. Tapi amarah sang suami jelas tidak bisa di anggap sepele olehnya.


"Bagus! Apa karena kamu sudah mengandung anak dari Ale, atau kamu hanya menjebaknya?"


"Bapak terlalu jauh berprasangka, kami tidak sehina itu," Akhirnya Aisyah mulai meluahkan secuil amarahnya atas semua tuduhan sang mertua.


"Kami? Kenapa harus berkata kami, bukankah ini hanyalah akal bulusmu Nona, ingin hidup bergelimang harta dengan cara instan. Lalu bagaimana bisa Anda menjadikan anak saya seumpama pria yang memang menginginkan Anda? Bukankah dia adalah sebagai korban di sini?" ucapnya sinis, sesinis pandangannya terhadap Aisyah.


"Tidak, saya tidak pernah bermaksud seperti itu, Pak Ale sendiri yang ingin menikahi saya pada hari di mana kesalahpahaman itu terjadi," ucap Aisyah ditengah tangisan tanpa suaranya.


"Kesalahpahaman apa?" tanya Sabrina angkat bicara.


"Mama diam! Itu hanya tipu muslihatnya saja, kita tidak perlu mendengar apalagi sampai mempercayai ucapannya itu,"


Aisyah semakin merasa direndahkan kini. Namun apa yang bisa ia katakan, sementara orang yang sedang ia bicarakan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Bukti? Ia tak punya bukti apapun tentang pernikahannya bersama Ale. Walau hanya selembar photo pun tak ada, mas kawin yang berupa lembaran rupiah berwarna merah itupun sudah ia simpan dalam rekeningnya. Lalu apa yang bisa ia tunjukkan, tidak ada!


"Dengar Nona! Aleandra putra kami satu- satunya sudah kami jodohkan dengan anak pengusaha kaya raya, dan yang harus kamu tau, Ale sudah setuju untuk bertunangan dengan Helena lusa nanti,"


Jedduar.


Laksana petir yang menyambar bersahut-sahutan, seiring guruh dan hujan deras disertai kilat yang saling bergemuruh, seperti itu pula yang dirasakan oleh Aisyah kini.


Helena, nama yang di sebutkan oleh sang suami dalam penjelasan panjang lebarnya malam tadi, yang lipstik merah meronanya singgah di kemeja lelakinya, yang dengan deraian airmata ia ratapi rasa sakit hatinya, yang membuat dirinya tersipu malu karena mulai mengagumi lelakinya itu, nyatanya semuanya adalah palsu. Ale tak sesungguh itu, dia tak selugu itu, dia tak sebaik itu.

__ADS_1


Aisyah hanya mampu meratapi awal dari kemalangannya. Awal dari rasa cinta yang baru saja tumbuh di hatinya,awal dari kisah manis yang baru saja mereka rintis, nyatanya harus ia pangkas habis semuanya dan selamanya.


__ADS_2