
Jauh raga melangkah demi satu keinginan dalam linangan air mata. Tak pernah terbesit tanya,untuk apa perjalanan jauhmu engkau tempuh? Karena tujuannya hanyalah satu yaitu menemukanmu.
Andai hati yang kemarin masih dapat dirayu,pasti kisah ini bukanlah cerita pilu. Andai bisa mengontrol sedikit emosi. Pasti hari ini bukanlah menjadi kisah perih yang menyiksa diri. Tersiksa karena kesalahan kita sendiri. Tak ada orang lain yang pantas untuk di salahkan. Hanya diri sendiri.
Ale pandangi wajah pucat sang istri yang masih belum membuka kedua matanya setelah operasi tadi. Mereka harus merelakan rasanya kehilangan sebelum memiliki, terlebih untuk Ale. Inilah penyesalan di atas semua rasa sesalnya.Kini dia harus sanggup menghadapi bayang- bayang penolakan Aisyah atas dirinya. Dan inilah karma yang harus di jalaninya.
"Maafkan aku Ai," lirihnya dengan mengecup mesra punggung tangan Aisyah yang terasa dingin.Lalu,Ia usap perlahan dengan penuh kasih sayang. Mungkin sayangnya bukan rasa yang tiba-tiba datang. Namun, apakah datang pada waktu yang tepat?
"Emm," Aisyah menggeliat perlahan dalam suara erangannya. Tangannya ia kibaskan. Namun, terhalang oleh selang infus yang terhubung di tangannya. Ia mulai memindai sekelilingnya.
"Kenapa seperti ini. Apa yang terjadi?" ucapnya dengan suara yang masih sangat lemah. Ia belum menyadari kehadiran Ale yang duduk di samping hospital bednya.
Ale segera meraih botol air mineral di sampingnya untuk ia berikan kepada Aisyah dengan menggunakan selang pipet.
"Ai," ucapnya memberanikan diri memanggil istrinya itu yang kini menatap penuh tanya dalam kerutan di keningnya.
"Kenapa kita ada di sini? Abang ngapain?" tanyannya dengan memperhatikan tangannya.
Ia angkat satu tangannya. Namun, Ale segera menurunkan secara perlahan.
"Jangan terlalu banyak bergerak Ai. Kondisimu masih belum pulih," ucap Ale setelah berhasil membenahi posisi tangan Aisyah dan juga selang infusnya yang terlihat membelit pada pergelangan tangan akibat gerakannya barusan.
"Abang belum jawab pertanyaanku. Kenapa? Bukankah Abang sudah tak peduli lagi dengan semua penjelasanku. Kenapa sekarang ada di sini?" tanyanya lalu membuang muka malas menatap Ale.
"Maafkan Abang Ai. maafkanlah," mohonnya dengan air mata yang sudah tak mampu ia pertahankan untuk tidak mengalir.
Aisyah mulai membaca gelagat aneh dari suaminya ini. Bukankah dia adalah pria yang sama yang telah menghinanya dengan penuh amarahnya? Dia juga orang yang meragukan janin yang bersemayam dalam rahimnya. Tapi kenapa sekarang semuanya berlaku sebaliknya?
"Maaf? Untuk apa?" ucapnya dengan suara parau.
__ADS_1
"Maaf karena telah menyia- nyiakan dirimu dan juga semua perkataan jujurmu,"
Aisyah semakin tak mengerti kini. Ia mulai menyadari ada rasa aneh yang menjalar di organ intimnya. Tapi apa? Aisyah mulai meraba perutnya yang walaupun masih terbilang rata, namun,nalurinya sebagai seorang calon ibu jelas tidak mampu untuk tak aneh dengan keadaan yang kini ia rasakan pada tubuhnya.
"Anakku?" ucapnya pelan namun cenderung menyiratkan untuk sebuah jawaban atas ke curigaannya ini.
"Calon anak kita Ai," ucap Ale meraih satu tangan Aisyah. Aisyah secara perlahan melepas genggaman tangan Ale.
"Aku tahu, tak ada satu alasanpun yang mampu memberatkanmu untuk memaafkan diriku ini Ai. Namun, jika kesempatan seperti manusia lainnya itu masih menjadi milikku. Maka, kumohon berikanlah satu kali ini saja," pintanya dengan menundukkan kepalanya.
"Jangan membuatku bingung dengan kalimatmu yang rancu itu Bang! Tolong katakan dengan kalimat yang lebih sederhana yang mudah kupahami," ucap Aisyah yang masih belum menyadari seperti apa kondisinya sekarang ini.
"Anak kita sudah meninggal Ai," ucapnya pelan dengan menyentuh kedua pipi wanitanya ini.
"Meninggal? Bahkan aku belum melahirkannya Bang, bagaimana mungkin dia meninggal," protesnya. Namun, tak ayal kedua tangannya ikut turun juga menyusuri perut ratanya.
"Abang?" Aisyah mengguncang kuat lengan Ale dengan satu tangannya. Ale hanya diam saja tentu saja dengan air mata yang kembali menjebol tanggul pertahanannya.
"Nyatanya penyesalanku memang datang pada waktu yang telah lebih dulu meninggalkan Abang Ai. Dia sudah tak berpihak lagi kepadaku seperti apa yang kauucapkan kemarin sore,"
"Abang mengambilnya dariku? Kenapa? Apa karena Abang mengira jika dia adalah hasil dari perbuatan hina yang Abang sangkakan padaku? Kenapa kamu jahat Bang, kenapa?" ucapnya histeris dengan menarik lengan Ale yang hanya mampu menangis tanpa suara di depannya.
"Selamat pagi Ibu Aisyah," seorang perawat wanita datang dengan membawa jurnal kerjanya.
"Bagaimana hari ini Pak. Apakah ada yang di keluhkan oleh Ibu Aisyah?" tanyanya ramah menatap Aisyah.
"Suster, mana anak saya?" perawat wanita tersebut tanpak bingung dengan pertanyaan Aisyah. Namun, sekilas ia melihat kepada Ale yang hanya menundukkan kepalanya.
"Maaf Ibu. Janin Ibu Aisyah tidak bisa kami selamatkan,ini demi kebaikan Ibu sendiri,"
__ADS_1
Aisyah menatap lekat- lekat Ale yang kini juga tengah menatap padanya.
"Sekarang Abang puas dengan semua yang menimpaku? Katakan! Apalagi penderitaan yang ingin Abang lihat ada dalam hidupku? Katakan!"
Ale menggelengkan kepalanya berkali-kali menolak semua pikiran negatif Aisyah.
"Sabar Ai. Allah tidak pernah mengambil sesuatu dari kita, melainkan menggantinya dengan hal yang lebih indah,"
"Bohong! Apa yang lebih indah dari kemalangan yang menimpaku hari ini? Nggak ada!"
Ale peluk dengan erat tubuh istri kecilnya ini. Memberikan sedikit ketenangan yang dirinya sendiri ragu jika sang istri bersedia menerimanya.
"Lepas! Aku nggak mau Abang berpura-pura baik denganku. Abang pembohong! Abang pecundang! jahat!" ucapnya dengan tetap berusaha menjauhkan tubuhnya dari Ale yang malah semakin erat memeluk tubuhnya.
"Iya, Abang jahat. Paling jahat di dunia ini Ai. Katakanlah! Seburuk apapun itu,"
"Percuma! Semua hujatan seburuk apapun yang kulayangkan padamu dan juga semua permintaan maaf dan berjuta sesalmu nyatanya tak mampu membuat kembali anakku yang telah lebih dulu pergi tanpa sempat aku melihatnya,"
Ale diam tanpa menimpali makian Aisyah yang dilayangkan terhadapnya. Ada banyak kata. Namun, nyatanya hanya goresan luka jika harus ia tuangkan. Ada berjuta maaf yang bukan untuk saat ini ia mohonkan.
Wanitanya tengah marah. Wanitanya tengah kecewa. Wanitanya tengah berduka. Duka akibat semua keterlambatannya menyadari pikiran kotornya.
Sementara itu jauh di tempat lain. Seorang wanita dengan rambut tergerai ke samping, tanpak tengah berbicara melalui sambungan teleponnya.
"Lalu, apakah wanita itu juga ikut pergi bersama anaknya?" tanyanya dengan menyilangkan kedua kakinya.
"Dasar dungu! Kenapa tidak kalian lakukan dengan lebih kencang lagi. Agar tak ada yang tersisa lagi di antara keduanya," umpatnya lalu memutus panggilan suaranya secara sepihak.
"Kenapa keberuntungan selalu saja menyertai wanita kampung itu? Dan kenapa Ale masih saja sibuk mencari keberadaan dirinya,bukan aku yang nyata- nyata ada dan selalu ada untuknya?"
__ADS_1
*
*