
Jangan menyalahkan orang lain untuk kekecewaan yang kita rasakan. Salahkan saja dirimu yang terlalu berharap banyak darinya.
"Pilihanmu hanya satu Nona, Tinggalkan! Dan jangan pernah lagi hadir dalam kehidupan Aleandra aryaguna Al ahnaf putra Kami, jika kamu memang benar mencintainya, maka biarkan dia bahagia dengan pilihan hidupnya, bukan dengan dirimu,"
Ingin rasanya aku mengelus dadaku berulang-ulang,menguras airmata ini hingga kepalung terdalam rasa sedihku,agar aku bisa membohongi betapa hati ini sungguh tersayat amat perih, tanpa adanya airmata yang harus menjadi saksi.
Kenapa rasanya lebih sakit dari kecewa malam tadi? Kenapa cinta datang kepada orang dan waktu yang salah? Kenapa bahagiaku selalu saja tertunda untuk waktu yang tak berjeda? Seharusnya kuturuti saja kata hatiku. Seharusnya tak kubiarkan rasa kagum ini berubah menjadi cinta,lalu berakhir lara dan derita.
Kedua orang tua Pak Ale masih duduk di sofa saat aku mulai mengemasi beberapa helai pakaianku untuk kumasukkan kedalam koper miniku.
Hatiku rasanya sudah pecah seribu. Teringat betapa hangatnya pelukan pertama suamiku malam tadi, betapa sendu wajahnya ketika aku tak menggubris penjelasannya. Betapa berangnya dia saat menolak gugatan ceraiku secara mentah-mentah. Betapa menggodanya senyumannya saat tanpa kusadari aku telah mulai mengaguminya. Ah cinta, sungguh aku telah engkau buat kecewa dengan semua kisah indah yang tercipta pada awalnya.
Setelah selesai mengemasi seluruh pakaianku, terakhir kutinggalkan smartphone pemberian Pak Ale berikut sim card dan juga anjungan tunai mandirinya di atas nakas. Aku benar-benar ingin menghapus semua tentang dirinya di dalam benakku, semoga saja tak ada yang tertinggal di hati dan juga tubuhku, semuanya tentang kamu.
Sementara itu laki-laki yang tak lain adalah mertuaku yang telah habis- habisan menghinaku itu nyatanya masih menatap sinis saja, seakan semua penghinaan itu belum sempurna untuk ia lontarkan.
Sekilas kulihat wajahnya masih menyimpan berjuta nista yang masih ingin diluahkannya kepadaku.
Mungkin belum habis keangkuhannya yang masih memandang rendah padaku. Ah, Anda terlalu berbeda jika harus kusebut sebagai Ayah dari suamiku.
Kalian berbeda, sungguh berbeda. Rasanya bumi dan langit saja belum bisa di jadikan perbandingan betapa berbedanya kamu dan suamiku.
Mungkin aku yang terlalu hiperbola dalam hal ini. Rasa sakit membuat akal sehatku sedikit tergerus. Rasa kecewa membuat luka yang tak berdarah akhirnya menganga.
Sementara seorang wanita yang wajah dan nada bicaranya lebih dominan kepada Pak Ale itu,kulihat kini tengah menatapku dengan raut wajah yang berbeda dari lelakinya.
Aku tau dia wanita yang lembut hati dan juga tutur sapanya. Aku yakin sikap suamiku itu mengalir dari dirinya.Walaupun pada kenyataannya aku harus kecewa lagi dan lagi.
__ADS_1
Dia terus saja memperhatikan semua yang kulakukan, dia terlihat ingin bicara, namun raut wajah takutnya ternyata lebih besar daripada rasa welas asihnya. Ah Mama mertua terimakasih untuk tatapan teduhmu, senang rasa hatiku walaupun tak dapat kusebut namamu dalam suara nyataku. Aku hanya mampu mengeja namamu dalam deretan doaku.
Semoga kita akan kembali bertemu masih dalam takdir yang sama dan dengan orang yang sama juga.
Ternyata tekadku tak seteguh harapanku. Karena nyatanya aku masih mengharapkan suamiku itu tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Tidak perlu menunjukkan wajah sedih di hadapan kami, pergilah!" ucap pria yang ku tau namanya adalah Tuan Chandra dan pasti dengan nama belakang yang sama dengan suamiku.
"Hati-hati ya," Aku menoleh saat suara halus nan lembut itu memberi nasihat perpisahan untukku.
Satu kata yang di ulang namun mampu membuatku merasa benar-benar memilikinya.Bolehkah kupanggil dia Mama sekali saja? Agar dapat kuceritakan pada dunia betapa beruntungnya aku pernah bertatap wajah dengan wanita selembut dia setelah Ibuku tentunya.
"Terimakasih Bu," jawabku lirih dengan air mata yang kembali meleleh, ah murahan sekali airmataku ini,Kenapa bukan dia saja yang menjadi Tuan Chandra?
Kulangkahkan kaki keluar dari sangkar emas suamiku.
"Selamat tinggal Pak, maaf sudah membuat goresan tinta buram dalam diary hidupmu. Maaf belum bisa menjadi istri yang seutuhnya untukmu. Maaf karena telah membuat Ayahmu yang mungkin akan murka kepadamu. Maaf," lirihku sebelum benar-benar pergi.
Kedua orang tua Ale sudah pergi dari apartemen ketika Ale tiba di apartemennya.
Ale tampak menimang-nimang sebuah kotak mungil berwarna biru di tangannya.
"Aku sudah tidak sabar untuk memberikan hadiah ini kepada Aisyah, anggap saja ini adalah mahar pernikahan dariku yang kubayar hari ini," ucapnya dengan senyum manis yang terlukis di wajah tampannya.
Ale tersenyum bahagia saat membuka pintunya.
Suasana terlihat sangat sepi.
__ADS_1
"Ai, kamu di mana?" panggilnya lalu menyusuri setiap sudut ruangannya.
"Kenapa firasatku berkata ini tidak cukup baik- baik saja?" gumamnya dengan terus berjalan menyusuri setiap ruangan di apartemennya.
Kembali Ale mendial nomor sang istri, kali ini berdering, tapi kenapa deringannya terasa semakin dekat? Saat Ale mencari sumber suara itu. Dan benar saja, Ale mendapati benda pipih yang baru beberapa hari ia berikan kepada Aisyah itu tergeletak di atas nakas.
"Kenapa ditinggal di sini, kemana dia?" tanyanya semakin tak tenang kini. Dan rasa was- wasnya semakin menjadi saat ia melihat anjungan tunai mandirinya juga ada di situ.
"Aisyah!" teriaknya begitu kencang memanggil nama sang istri dengan raut wajah yang berubah panik.
"Aisyaaaaaaahhh!" Ale tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya manakala seluruh tenaganya telah sirna membayangkan keberadaan Aisyah istri yang baru mulai mencintai dan akan selalu di cintainya yang kini pergi entah kemana.
"Kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku? Aku masih suamimu, tak bisakah kamu meminta izin dulu kepadaku sebelum pergi?" ucapnya dengan tubuhnya yang meluruh ke lantai.
"Siapa, siapa yang sudah mengusirmu? Siapa yang berani mengusikmu Nyonya Al ahnafku?"
Untuk beberapa saat ia biarkan tubuh dan pikirannya tak sejalan kini, ia terima semua kegalauan pikiran yang seakan belum mampu menemukan jawab atas banyaknya tanya dalam hatinya. Hingga setelah airmatanya terasa semakin lengket di pipinya,Ale mulai bisa menerima kemungkinan- kemungkinan yang mendasari kepergian sang istri.
"Aku akan mencarimu Aisyah, aku sudah berjanji tidak akan pernah menceraikanmu, walaupun gugatan mu nanti laksana buih di lautan yang tak pernah lelah mendesirkan ombaknya. Namun harus kau tahu bahwa janjiku lebih tegar dari hanya setegar karang,"
Setelah berucap, Ale bergegas pergi dari apartemennya. Tekadnya satu yaitu menemukan Aisyah, cinta petama dan terakhirnya. Ya, Ale mulai menyadari bahwa dirinya ternyata sudah memiliki rasa lebih terhadap sang istri yang terlebih dulu bertanya tentang perasaannya.
Menyesal,kenapa tak ia jawab saja tanya Aisyah tentang rasa cintanya malam itu, tapi malah membuat pipi wanitanya bersemu merah tanpa menemukan jawabnya.
Cinta, kenapa begitu susahnya menemukan balas disaat dua hati ternyata saling tertaut,dan kisah hidup yang lebih berhak untuk menuntut.
Hidup kita adalah takdir baik dan buruk yang sudah ditetapkan oleh sang Maha segalanya. Berusahalah menjadikan yang menurut kita buruk agar meninggalkan hadiah terbaik bagi orang di sekeliling kita. Kita tidak mempunyai hak untuk memilih, kita hanya wajib menjalani. Jalani dengan hati ikhlas dan bersih.
__ADS_1
Jangan membuang masa dengan berkeluh kesah!
Hy pembacaku. Terimakasih banyak sudah membaca tulisan recehku ini.