Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Kecewa.


__ADS_3

Ketika seseorang memperlakukanmu dengan buruk, jangan membalasnya dengan keburukan pula,perlakukanlah dengan baik. Setidaknya kamu tidak menjadi sama buruknya seperti dia.Hidup memang begitu, ada yang baik dan ada yang buruk. Berjanjilah untuk menjadi baik meskipun yang baik belum tentu di terima dengan baik!


Hati orang tua mana yang tak sakit jika mendengar putri yang di bangga- banggakannya tiba-tiba sudah menjadi istrinya orang. Tanpa kabar tanpa berita, datanglah seorang pria yang mengaku sebagai suaminya. Menikah tanpa restu dari doa orang tua.


Namun orang tua tetaplah orang tua,hatinya Lebih luas dari luasnya samudera .Maafnya tak pernah hilang meski kau sakiti berulang-ulang. Doanya tak pernah terjeda walau seringkali kau torehkan luka. Jangan pernah kau bandingkan seluruh harta duniamu dengan rumah sederhananya. Jangan pernah kau samakan merdu suaramu dengan suara bentakkannya. Kau tidak akan mampu membalas walau hanya setetes air susunya.Kau tidak akan sanggup merasakan walau hanya sebulir keringat yang mengalir dari pelipisnya demi melihat senyum bahagianmu.Satu kalimat ah,saja yang keluar dari mulutmu adalah sebuah dosa.


Habibah hanyalah Ibu seperti Ibu yang lainnya. Ia akan marah, ia akan mengusir Ale yang ternyata sudah lancang menikahi putri sulungnya. Dan sang suamilah yang berhasil menenangkannya.


"Ayah juga awalnya marah Bu, saat Nak Ale berbicara yang sesungguhnya kepada Ayah," ucapnya saat kini telah berhasil membawa sang istri masuk kedalam kamarnya.


"Sama, Ayah juga rasanya ingin langsung mengusirnya, tapi siapa kita? Apa hak kita untuk merendahkannya, sesuci apa kita untuk menghujatnya? Sedangkan kedudukan kita adalah sama di hadapan Allah. Sama-sama pendosa, sama-sama hamba yang lemah jika saja Allah tidak menyayangi kita, kita sama Bu. Terlepas di balik semua alasannya karena tanpa meminta doa dan restu terhadap kita terlebih dahulu, biarlah cinta mereka yang akan menjelaskannya,"


"Lalu bagaimana bisa mereka datang kesini dengan waktu yang berbeda? Pasti masalah besar yang tengah mereka hadapi, Ibu tahu jika suami Aisyah itu berasal dari keluarga berada, tak sama seperti kita," ucapnya dengan nafas yang masih memburu.


"Kita akan minta penjelasan dari mereka Bu. Tapi secara perlahan, jangan terburu-buru,"


Sementara itu di dalam kamar Aisyah. Sepasang pengantin yang masih terbilang baru itu masih tampak belum selesai dengan perdebatannya.


"Boleh aku tidur di ranjang istriku?" Ale kembali meraih tangan sang istri yang masih menyisakan sedikit kemarahannya.


"Bukannya tadi juga udah rebahan di ranjang saya?" jawabnya ketus tanpa melihat wajah sang suami.


"Tadi kamunya nggak ada, sekarang sudah di sini si empunya ranjangnya. Boleh?"


"Memangnya mau tidur di lantai?"


"Nggak apa- apa di lantai juga, asalkan masih satu kamar dengan permaisuriku,"


"Gombal!"


Ale berdiri, lalu duduk di samping Aisyah. Ia bawa kepala sang istri untuk menyandar di bahunya.


"Maafkan aku, karena tidak ada disaat kamu mendapat masalah di apartemen kemarin,"


Aisyah mendongak memperhatikan wajah suaminya itu untuk beberapa saat sebelum bicara.


"Bapak minggat?"


Ale melebarkan matanya, terkejut dengan kalimat absurd yang keluar dari bibir istrinya ini.


"Kok minggat sih Ai, kesannya badung banget ya suamimu ini," protesnya.


"Apa konsekuensi yang harus Bapak terima dengan mengambil keputusan konyol ini?" tanya Aisyah dengan suara yang mulai parau.


"Tidak ada konsekuensi untuk memperjuangkan kebahagiaan, tidak ada yang harus di korbankan untuk rasa yang mulai tumbuh di antara kita,"


"Kita?" ucap Aisyah dengan menyipitkan satu matanya.

__ADS_1


"Iya, kita. Kamu dan aku," jawab Ale penuh percaya diri.


"Tapi aku nggak!" tolaknya.


"Nggak apa- apa jika kamu belum mencintai ku, cukup terima tanpa membalasnya saja aku sudah bahagia,"


"Buaya kelaparan.Mana mungkin aku percaya begitu saja, semua perlu pembuktian! Kalau hanya bilang cinta, anak PAUD juga bisa kali Pak," tukasnya masih belum percaya.Ale tersenyum mendengar gerutuan istri kecilnya ini.


Mereka masih berbincang hingga terdengar suara seseorang membuka pintu kamar.


"Siapa yang keluar tengah malam begini?" tanya Ale heran.


"Biasanya sih Alya. Dia kalau tengah malam suka pindah tempat tidur,"


"Alya?" ucap Ale agak sedikit aneh juga dengan pembawaan adik iparnya ini.


"Iya, kenapa Pak?" tanya Aisyah sedikit heran atas pertanyaan suaminya itu.


Ale menggeleng. Dia pria dewasa, dia tau lah ya, tatapan dan senyuman seperti apa yang di perlihatkan oleh adik iparnya itu. Ya, tatapan cinta. Duh Al, bener- bener ipar adalah racun ini namanya.


Krek, krek. Terdengar pintu di dorong dari luar.


"Ai, siapa itu?" Ale akan segera berdiri. Namun, Aisyah mencegahnya.


"Biar saya aja Pak," ucapnya bergegas membuka pintu.


"Alya!" teriak Aisyah yang langsung menarik tubuh adik pertamanya itu hingga hampir saja terjatuh.


"Aakkhh!" teriak Alya saat menyadari bahwa di kamar ini ada penghuninya.


"Kak Ais, Kakak ngapain berduaan sama Kakak ini?" tunjuknya pada Ale yang masih shock dengan apa yang baru saja di alaminya.


Terang saja dia shock. Beberapa minggu menjadi suami Aisyah, sekalipun belum pernah ia merasakan tubuh sensitif seorang wanita mengusik daerah teritorialnya yang tentu saja sudah sah menjadi milik Aisyah.


Duh, daerah terlarang nggak tu Al? Hmmm.


Dan ternyata kegaduhan di dalam kamar Aisyah itu terdengar juga di telinga orang tua mereka.


"Ada apa lagi Ai, belum kelar juga ributnya?" kini sang Ibu yang sudah tidak kuat lagi menahan bibirnya untuk tidak bicara.


Aisyah hanya diam. Sementara Ale masih pada posisinya.


Alya memandang heran pada keempat orang yang kini semuanya memperhatikan dirinya.


"Kok Alya, kenapa?" tanyanya heran atas sikap yang di tunjukkan oleh keluarganya ini,minus Ale yang dalam pikirannya adalah sebagai pria asing yang kini menumpang tidur di rumahnya.


"Kak Ais Yah, ngumpetin cowok di kamarnya, kalau ketahuan warga gimana coba? Bisa langsung di suruh kawin mereka. Emang mau Kak?" tanyanya bukan kepada Aisyah Kakak kandungnya, melainkan pada Ale yang memang sudah memikat hatinya sedari awal pertemuan mereka sore tadi.

__ADS_1


"Alya!" cukup satu kata itu saja sudah mampu membuat Alya terdiam. Bibirnya yang merepet bak mercon banting, seketika langsung mingkem saat sosok yang sangat di hormatinya itu sudah angkat bicara dengan menyebut namanya.


"Mas Ale itu adalah suami dari Kak Ais," pungkasnya menyudahi keheranan putri keduanya itu yang masih saja menunjukkan wajah penuh tanyanya.


"Suami Kak Ais?" tanyanya bergantian menatap Aisyah dan juga Ale.


Habibi mengangguk. Pandangan Alya kembali tertuju pada pasangan pengantin baru yang berdiri berjauhan.


"Bener itu Kak?" ucapnya masih tak percaya.


"Sejak kapan Ayah berkata bohong?" sang Ayah kembali angkat bicara.


"Kak," lirihnya lagi dengan wajah berubah sendu.


"Maafkan Kakak Al, maaf sudah mengecewakan kalian," Aisyah berjalan mendekati adik perempuan pertamanya itu. Alya menjauh dengan berjalan keluar dari kamarnya.Dia kecewa,kecewa karena sang Kakak telah membohonginya, kecewa karena jatuh cinta pada orang yang salah. Ya, Alya sadar bahwa dirinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada pria yang ternyata adalah suami dari Kakak perempuannya sendiri.


"Kakak pembohong!" ucapnya sebelum benar-benar keluar dari kamar sang Kakak.


"Alya!" Aisyah berniat mengejar adiknya itu. Namun, sang Ayah mencegahnya.


"Biar Ayah yang bicara dengan adikmu besok. Tidurlah! Kasian suamimu, kalian pasti belum tidur kan?" ucap sang Ayah dengan suara khas baritonnya.


Ale kembali mengunci pintu kamarnya setelah suasana di luar sudah kembali senyap. Ia dekati sang istri yang tengah duduk dengan menundukkan wajahnya.


"Tidur lah Ai, malam semakin larut, tapi kita belum memejamkan mata sama sekali. Jangan khawatirkan sesuatu yang belum terjadi, hari esok mempunyai rahasianya sendiri," Ale mengusap lembut punggung tangan Aisyah.


"Saya sudah membuat kecewa banyak orang Pak," ucapnya tanpa mendongakkan kepalanya.


"Kita Ai, bukan hanya kamu, tapi saya juga," ucap Ale coba menenangkan Aisyah.


"Ai," Ale menjeda kalimatnya, mengatur deru nafasnya yang sedikit tak beraturan karena kejadian tadi.


Aisyah menoleh saat sang suami tak jua melanjutkan ucapannya.


"Sekarang aku bukan lagi Aleandra aryaguna Al ahnaf seperti yang pernah kamu lihat saat pertama kali kita bertemu,"


Aisyah memiringkan tubuhnya melihat lebih jelas lagi sinkronisasi antara wajah dan ucapan sang suami yang terdengar lebih berat dari rasa bersalahnya terhadap Ayah, Ibu dan kedua adiknya.


"Jangan ngajakin main teka- teki dong Pak, saya rungsing ih!" protesnya yang mengira jika sang suami tidak lah serius dengan ucapannya.


"Saya tidak sedang main- main Ai, saya bicara serius, sesuai fakta!"


Kali ini keduanya saling berpandangan untuk waktu yang cukup lama.


"Suamimu ini adalah sebagaimana yang kamu lihat saat ini, aku bukan lagi seorang CFO di perusahaan Papaku, semua fasilitasku sudah di sita oleh Papa, semuanya!" ucapnya mengungkapkan dengan kepala tertunduk.


"Apa itu semua karena saya Pak?" terkanya. "Jika iya, maka Pak Ale masih punya kesempatan untuk tidak menjadi seperti apa yang sekarang Bapak jalani," imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Tidak akan pernah!"


__ADS_2