
Aisyah menatap langkah kaki Ale dengan harapan yang bercampur kecemasan. Besar harapannya Ale akan tersenyum bahagia mendengar pengakuannya barusan. Namun, rasa was- was jelas lebih besar daripada harapannya itu.
Ale berhenti tepat di depan Aisyah.
"Apa yang kamu bilang tadi? Anakku, anak kita? Lalu aku harus berbahagia dengan tipu muslihatmu itu? Katakan apa alasan yang mengharuskan aku untuk mempercayai ucapanmu itu Aisyah. Katakan!" hardiknya.
"Karena kamu adalah suamiku Bang!"
"Jika kamu memang masih menganggapku sebagai suamimu, kenapa dengan begitu mudahnya kamu pergi dengan laki- laki yang bukan pasangan halalmu? Lalu, di mana posisiku saat itu, sebagai apa?"
Aisyah menelan salivanya kasar sebelum menjawab tanya Ale.
"Kamu selalu ada di hatiku Bang. Selamanya. Walaupun waktu yang kutunggu nyatanya hanyalah bayangan semu. Namun, ternyata dia datang membawa dirimu dengan gelombang besar yang menyertainya,"
"Bohong! Kalimatmu tidak sebanding dengan kalimat yang kauanggap adalah sebuah kejujuran,"
"Baik.Sepertinya sebanyak apapun penjelasanku ini sudah tak mampu lagi merubah semua penilaian burukmu terhadapku. Aku bukan manusia bodoh Bang. Aku tidak akan menangis darah hanya untuk pembuktian yang bahkan tak pernah Abang butuhkan,"
Ale masih bergeming. Entah apakah dia mulai menerima sedikit demi sedikit ucapan istrinya itu? Ataukah gunung es di hatinya yang semakin membeku saja. Nyatanya, tak ada satu kalimatpun yang terucap dari bibirnya.
"Aku sadar dan sangat tahu diri. Namun, jika nanti Abang sudah bisa mulai meresapi ucapanku ini lalu, Abang membenarkannya, mungkin pada waktu yang sudah tidak berpihak lagi kepadamu. Maka, jangan tangisi penyesalan," Aisyah pergi meninggalkan Ale yang ternyata masih belum peduli dengan itu semua.
Mungkin pengorbanannya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk di selesaikan. Kenapa Ale tak bisa sedikit saja mengerti dirinya? Kenapa sisi egoisnya yang selalu ia kedepankan? Banyak tanya yang kini ia tinggalkan bersama orang yang sesungguhnya masih ia sayang.
Saat Ale masih berdiam diri dengan bergelut pada pikirannya sendiri, seseorang tanpak menepuk pundaknya pelan.
"Kamu?" ucapnya saat melihat jika Alvianlah yang ada di belakangnya. Alvian tersenyum ramah lalu mengangguk.
"Apakah kita bisa bicara sebentar Mas? Banyak kesalahpahaman yang harus diluruskan. Saya Alvian," Alvian mengulurkan tangannya. Namun, Ale tak menyambutnya, dan tangannya hanya terdiam pada ruang hampa.
"Tidak perlu berbasa-basi dengan berlama- lama mengulur waktu. Cepat katakan! Apa yang ingin Anda sampaikan kepada saya,"
Sebelumnya tadi. Alvian diam- diam memperhatikan apa kiranya yang tengah di perdebatkan oleh dua orang berbeda jenis kelamin yang ternyata adalah pasangan suami istri ini.
Ia ceritakan dengan lengkap semua tentang Aisyah. Dari mulai hari pertama ia menemukan Aisyah yang tergeletak di bahu jalan di atas rerumputan kering hingga kejadian yang mereka. alami hari ini.
__ADS_1
Alvian tanpak menarik nafasnya dalam - dalam, lalu, ia keluarkan perlahan. Memompa semua energi yang tergerus karena sifat konyolnya yang mulai ia sesali.
Alvian menepuk berkali-kali pundak Ale saat ia melihat Ale tertunduk sedih.
"Masih ada waktu Mas. Kejarlah istrimu! Dia sangat mencintaimu. Beberapa hari lebih dekat dengan sering berbincang dengannya. Sedikit saya tahu jika dia benar-benar mencintai, menyayangi dan sangat merindui Anda. Lalu, bayangkan bagaimana perasaannya saat ini? Saat orang yang sangat di harapkannya ternyata tak mampu memercayai kejujurannya?"
"Tapi saya sudah berulang-ulang menyakiti hati dan perasaannya. Bahkan tadi, apa saya masih pantas menerima maaf dari Aisyah?" ucapnya merasa sangat bersalah.
"Pergilah! Tak ada jawaban dari pertanyaan yang tidak di cari penyelesaiannya,"
Ale segera melajukan kuda besinya melesat melewati jalanan yang lengang.
Pandangannya tertuju pada kerumunan orang yang entah apa yang menjadi fokus mereka di sana.
Ale melambankan laju roda duanya karena tak mungkin juga memaksa menerobos kerumunan orang-orang di depannya itu.
Ale putuskan untuk menepi saja. Entah firasat apa yang tengah merajai pikirannya sehingga kata- kata Aisyah tentang kalimat penyesalan tadi terasa nyata di telinganya.
"Sepertinya Mbak ini sedang hamil muda," ucap salah seorang warga yang menempelkan jari tangannya pada denyut nadi wanita yang menjadi korban tabrak lari tersebut.
Degh!
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ale segera berlari menerobos kerumunan orang-orang itu. Ia sudah tak peduli dengan banyaknya bibir dan mata yang memandang aneh terhadapnya.
"Sabar dong Mas.Manusia nih bukan pagar, main dorong- dorong aja," celetuk salah seorang pria yang langsung mencekal pundak Ale karena telah menginjak kakinya.
"Lah, Abang?" ucapnya heran.
"Ngapain Bang. Abang kenal sama wanita yang tergeletak itu?" tanya Beni setelah melepas cekalannya pada pundak Ale.
"Wanita?" tanpa menunggu jawaban dari Beni Ale segera berlari.
Tubuhnya meluruh ke tanah di depan tubuh Aisyah yang terkulai lemah di pangkuan seorang pria paruh baya yang kini melihat ke arahnya.
"Mas keluarganya?" tanya pria tersebut.
__ADS_1
"Saya suaminya," jawabnya dengan air mata yang telah lebih dulu berbicara.
Inikah arti kata penyesalan dari Aisyah tadi? Inikah waktu yang sudah tak berpihak lagi kepada dirinya?
Ale segera membopong tubuh Aisyah yang masih betah menutup matanya. Berkali-kali Ale mengecek denyut nadi sang istri yang semakin melemah saja.
"Tolong di percepat Pak! Istri dan anak saya dalam bahaya," pintanya dengan terus menepuk dan menciumi pipi Aisyah.
"Ai, bertahanlah! Jika aku bukan orang yang pantas untuk menjadi alasanmu untuk bertahan, setidaknya bertahanlah untuk anak kita Ai, kumohon," lirihnya dengan kembali memeluk tubuh lemah sang istri.
Ale berjalan cepat saat Aisyah di bawa masuk ke dalam ruangan sebuah klinik yang ada di tempat itu.
"Bapak suaminya?" tanya seorang pria dengan stetoskop yang menggantung di lehernya. Ia tanpak membenahi letak kacamata ovalnya saat melihat Ale yang masih berlinangan air mata.
"Iya dok, saya suaminya,"
"Mari ikut saya!" Ale berjalan mengekor di belakang sang dokter. Meninggalkan Aisyah yang kini tengah dalam penanganan para suster dan perawat di klinik tersebut. Sesekali ia menoleh melihat sang istri yang masih belum juga sadarkan diri.
Perasaannya sungguh tak dapat lagi ia uraikan. Penyesalan sudah pasti menjadi urutan pertama di antara rasa bersalah yang lainnya. Banyak kenapa dan entah kapan akan terjawab. Banyak karena dan dia lah penyebab utamanya. Entah apa yang akan di katakan oleh sang dokter yang kini sudah duduk di atas kursi kerjanya.
"Luka yang di alami istri Anda sangatlah serius Pak, dan benar istri Anda tengah mengandung?"
Ale mengangguk dengan banyak pikiran negatif yang tak mampu lagi ia singkirkan.
"Lalu,bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" tanyanya dengan suara bergetar menahan sesak di dada.
"Dengan berat hati, kita harus segera mengeluarkan bayi Anda dari dalam rahim ibunya,"
Dan kini semua kalimat andai saja, andaikan, bila mungkin dan seandainya. Sudah pasti sedang merasuki benak Ale.
"Maksud dokter?" Ale masih coba menghadirkan pikiran positif dalam semua bayangan buruk yang ada di hadapannya.
"Anak Anda tidak bisa kami selamatkan. Kondisinya yang masih cukup rentan di tambah benturan keras yang mengenai punggung sang ibu, sungguh kita harus bergerak cepat, sebelum semuanya terlambat,"
Dan akhirnya penyesalan itu memang tak patut lagi untuk dia renungkan. Waktu yang berjalan pada kenyataannya memang sudah berpihak kepada lain orang. Entah siapa orangnya. Hanya waktu yang akan memberikan jawabannya.
__ADS_1
*
*