Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Pulang.


__ADS_3

Flashback on.


Seorang Pria berperawakan tinggi, berkulit kuning langsat, tanpak berjalan lesu menuju messnya.


"Udah tinggal menghitung hari menuju akad aja lho kok masih berulah sih dek," ucapnya dengan menyugar rambutnya kasar.


Dia baru saja mendengar ocehan sang calon istri yang memintanya untuk segera pulang karena pernikahan mereka hanya tinggal satu bulan lagi menuju hari bahagianya. Namun, karena kesibukan proyek yang tengah di tanganinya, jadilah dia harus menerima ocehan tersebut saban harinya.


Saat akan memasuki kamar messnya secara tak sengaja ia melihat seseorang sepertinya tak sadarkan diri di bahu jalan di dekat rerumputan gersang.


Alvian nugroho. Itulah nama yang menggantung pada id card di lehernya. Dia membawa Aisyah yang tak sadarkan diri itu ke dalam kamar messnya.


Alvian tanpak berbicara dengan seseorang lewat panggilan suaranya.


"Selamat! Sebentar lagi Anda akan menjadi orang tua Tuan Al," ucap seorang wanita dengan blezer putih dan stetoskop di lehernya. Ia tersenyum manis kepada Alvian. Senyuman yang semakin menambah kesan ayu di wajahnya.


"Ehm," Alvian berdehem menetralkan nafasnya.


Sang dokter mengerutkan keningnya merasa heran dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh pria di depannya itu.


"Baru kali ini aku melihat ekspresi tidak bahagia dari pasangan yang akan di karuniai buah hati," ucap dokter cantik mengenakan hijab berwarna peach itu dalam hatinya.


"Dia bukan istri saya dok," Alvian melihat kepada Aisyah yang masih nyaman dengan mata terpejamnya.


"O," sang dokter mengangguk pelan seolah sudah tahu kemana arah pembicaraan Alvian.


"Ternyata yang diam dan kelihatannya sopan mengerikan juga ya, kirain diam- diam menghanyutkan,ternyata diam- diam menyesatkan," ucapnya lagi masih di dalam hatinya.


Dokter wanita tersebut tampak menuliskan resep di atas kertas putihnya.


"Seperti apapun hubungan kalian, saya sebagai seorang petugas kesehatan tidak terlalu memikirkannya. Tapi tolong jaga kondisi Bundanya demi kelangsungan hidup buah hati kalian,"


"Uhuk, uhuk," Alvian benar-benar tak bisa lagi menahan rasa gatal di tenggorokan dan juga hatinya.

__ADS_1


"Maaf, tapi gadis ini bukan kekasih saya.Dia tergeletak di tepi jalan, sepertinya memang sengaja di tinggalkan. Saya hanya melakukannya atas dasar rasa kemanusiaan saja, tidak lebih," tegasnya menolak praduga bersalah dari sang dokter yang kini tanpak tersenyum canggung karena sudah menuduhnya tanpa bukti.


"Maaf dan terima kasih," ucapnya seraya memberikan kertas resepnya kepada Alvian.


Flashback off.


Alvian mengusap pipinya yang baru saja mendapatkan cap lima jari dari Aisyah.


"Jangan menuduh tanpa bukti! Saya tidak sebejat seperti yang Anda pikirkan," ucapnya geram dengan menerobos keluar melewati Alvian yang kini melongo tak percaya. Sungguh ganjaran tak sesuai perbuatan.


"Bener- bener nih, air susu di balas air tuba," gumamnya.


Aisyah berlari kencang tanpa menghiraukan sesutu yang masih sangat lemah di dalam rahimnya.


Semakin jauh dari tempatnya tadi, maka suasana akan semakin sepi. Aisyah bergidik ngeri saat ia merasa jika ada seseorang yang tengah mengikuti dirinya. Ia melirik dengan ujung matanya dan ternyata benar, ada dua orang pria yang kini berjalan mendekat kepadanya.


"Siapa Anda? Jangan coba- coba mendekat!" ucapnya dengan satu tangannya yang meraih sebuah balok kayu yang ada di sampingnya.


"Semut kecil ingin melawan gajah,hahaha,kemarilah kucing manis. Bulu- bulu manjamu sangat menggugah seleraku untuk segera menyantapmu," ucap salah satu pria tersebut dengan wajah yang sudah serupa Raja hutan yang akan menerkam mangsanya.


Langkah kaki maju dua pria tersebut serupa dengan langkah mundur Aisyah yang masih memegang balok dengan tangannya yang bergetar. Takut, sungguh dia takut. Dia menyesal kenapa tak menghiraukan nasihat pria yang menolongnya tadi, bahwa daerah ini kurang ramah untuk wanita apalagi dengan kondisi tengah berbadan dua seperti dirinya.


"Perbuatan yang sia-sia anak manis. Sejauh apapun langkah mundurmu tak akan ada yang menolong dan melihatmu, sudahlah,lebih baik terbaring manis saja bersama kami, setidaknya itu tidak membuat tenagamu habis percuma,"


Aisyah menoleh kebelakang, dan benar saja tak ada apapun yang bisa di lakukannya. Sepi dan kosong.


Brugghh!


Kedua pria itu baru saja akan berlari untuk menyergap Aisyah, ketika sebuah benda tumpul singgah di bahu mereka secara bersamaan.


"Akkhh!" Aisyah menjerit dengan memeluk tubuhnya sendiri. Dalam pikirannya pastilah kedua pria itu sudah berhasil menangkapnya.Namun, setelah sekian lama ia memejamkan matanya, nyatanya tubuhnya masih berada di sini. Dan dia kembali mencium aroma parfume pria yang menolongnya tadi.


Aisyah memberanikan diri untuk membuka matanya. Kenyataan harus di hadapi bukan di tinggal pergi apalagi di anggap tidak ada.

__ADS_1


Matanya membola sempurna, saat melihat ternyata Alvian yang ada di depannya. Dengan kedua tangan bersedekap di depan dadanya, Alvian menatap Aisyah dengan heran.


"Kenapa masih saja keras kepala? Saya ini pria baik- baik, setidaknya lebih baik dari dua begundal yang akan menyakitimu tadi. Trust me!" ucapnya dengan menyilakan Aisyah untuk berjalan di depannya.


Aisyah menoleh.Merasa beruntung dan juga kebih banyak rasa malu. Dia berhutang budi lagi pada pria yang sama sekali tak di kenalnya ini.


"Istirahatlah! Besok saya akan mengantarkanmu ke kota. Ada nomor telepon yang bisa di hubungi? Suamimu mungkin?" tanyanya dengan membuka layar ponselnya.


Aisyah menggeleng. Hatinya terasa sakit dan lebih tersayat lagi mengingat Ale sang suami yang pasti kini tengah mengkhawatirkan dirinya atau barangkali sudah benar-benar melupakannya.


"Kamu tidak mempunyai nomor ponsel suamimu?" Alvian sangat berhati-hati dalam pertanyaannya. Bagaimanapun wanita di depannya ini tengah dalam keadaan berbadan dua yang sangat rentan dengan moodnya yang bisa tiba-tiba berubah mendadak ngerok,ngejazz bahkan ada juga yang tiba-tiba mendadak dangdut plus melankolis.


Lagi, Aisyah menggeleng. Ia ingat nomor ponsel Alya dan Inayah, tapi, dia tidak ingin membuat khawatir keluarganya, apalagi Ayah dan Ibunya. Lalu bagaimana jika mereka datang menemui Ale dan ternyata Ale tidak ada di rumahnya, bukankah itu akan membuat keadaan menjadi semakin parah saja.


"Alamat rumah?" tanya Alvian lagi, dia benar-benar merasa iba terhadap Aisyah yang kini tertunduk lesu dalam diamnya.


"Apa saya bisa bekerja untuk Bapak di sini?" ucapnya putus asa dan tidak berniat menjawab tanya si pria. Hanya itu yang terlintas dalam benaknya kini. Pergi dari kehidupan Ale untuk yang kedua kalinya. Karena tembok pemisah terlalu tinggi untuk dapat di lalui.


Biarlah buah cintanya ini yang akan menjadi saksi betapa kasih sayang tak pernah mengecewakan, bagaimanapun caranya mengungkapkan.


Alvian tanpak berpikir keras untuk permintaan Aisyah barusan.


"Maaf, tapi saya tidak sendiri di tempat ini, ada karyawan proyek yang lainnya juga dan mereka semua adalah laki-laki. Saya tidak bisa menjamin kenyamanan dan keamananmu Nona," ucapnya menolak sehalus mungkin.


"Saya bisa bekerja sebagai apapun," pinta Aisyah lagi masih bersikukuh dengan permohonan tak masuk akalnya.


"Saya akan bantu Anda sampai Anda bertemu dengan keluarga dan suami Anda. Maaf," Alvian menangkupkan kedua tangan di dadanya.


"Baiklah.Maaf karena terkesan memaksa," Aisyah masuk ke dalam kamar Alvian tanpa memedulikan si empunya kamar.


Sementara itu Aleandra sangat bersemangat pagi ini. Ia baru saja memesan tiket pesawat untuk kepulangannya hari ini. Ia sudah tak menghiraukan kenapa ponsel sang istri tak pernah bisa di hubungi.


"Anggap saja ini adalah suprise untuk Aisyah" ucapnya saat masuk kedalam taksi yang akan mengantarkannya ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2