
"Saya rasa ini sudah lebih dari cukup, sebagai upah karena Anda bersedia menuruti permintaan saya untuk enyah dari kehidupan Aleandra,"
Ternyata memang benar,Chandra masih belum puas dengan semua caci makinya untuk Aisyah. Dia kembali mendatangi Aisyah di kontrakannya.
Chandra membuang cek yang berisi nominal uang yang tidak sedikit jumlahnya itu tepat di hadapan Aisyah yang kini berdiri di depan pintu kontrakannya.
"Anda membayar saya untuk ini?" tanya Aisyah kesal.
Chandra menanggukkan kepalanya.
"Saya ingin Anda pergi jauh dari sini. Setidaknya butuh waktu lama untuk Ale bisa menemukanmu," jawaban Chandra membuat Aisyah menyimpulkan sesuatu.
"Jika dia takut Pak Ale akan mencariku, itu artinya dia telah berkata bohong tentang perjodohan itu, tapi apa peduliku," ucapnya dalam hati.
"Kenapa Anda harus takut, jika Anda yakin bahwa Pak Ale menerima perjodohan mereka?"
"Saya tidak butuh pertanyaan dari Anda! Turuti saja perintahku! Dengan begitu kamu dan keluargamu akan baik- baik saja,"
"Maaf, walaupun saya tidak sekaya Anda, tapi harga diri saya tidak dinilai dengan nominal uang, silakan bawa kembali uang Anda! Saya tidak sudi menerimanya," ucap Aisyah menyingkirkan amplop di depannya itu dengan satu tangannya.
"Cih, miskin sombong lagi, aku heran mantra apa yang kamu gunakan untuk menjebak anakku hingga bisa bertekuk lutut kepadamu,"
"Kami menikah karena takdir Tuan, dan jangan khawatir, walaupun aku tidak menerima uang darimu itu, tapi aku akan tetap pergi dari sini,"
"Anda cukup tau diri rupanya Nona,baguslah! Saya harap Anda tidak merepotkan kami lagi di kemudian hari," ucapnya segera berlalu dengan diikuti satu orang bodyguard di sampingnya.
Sementara itu Ale sudah tiba di halaman parkir sebuah hotel tempat mereka melaksanakan akad nikah beberapa minggu yang lalu.
"Ada perlu apa Anda mencari informasi tentang Aisyah? Dia memang sahabat saya,tapi dia sudah tidak bekerja di hotel ini lagi," ucap gadis yang ternyata adalah Amel rekan kerja Aisyah.
"Bisa tolong beritahu saya di mana tempat tinggalnya?"
"Anda ini sebenarnya siapa, kenapa ingin sekali. mengetahui tentang Aisyah, tapi maaf. Aisyah sudah lama pindah dari kontrakannya sejak memutuskan resign dari sini," Amel menatap heran pada Ale yang juga tengah menatapnya.
"Ngomong- ngomong ganteng banget sih ni cowok, hebat euy Ais, bisa kenal sama cowok. berkelas kayak gini," gumamnya dalam hati.
"Saya sahabatnya, saya tengah mencari keberadaannya, ini penting. Apa Anda tau nama desa tempat tinggal orang tua Aisyah,"
"Sahabat, tapi kok nggak tau apapun tentang Aisyah, emang ada ya sahabat kayak gitu?" herannya lagi.Dan Ale tampak salah tingkah kini. Kepanikan yang membuat jalan pikirannya jadi los dol.
__ADS_1
"Iya, Saya sahabat dan juga atasan di tempat kerja Aisyah,namun minus biodata lengkapnya. Saya khawatir karena sudah dua hari ini dia tidak masuk kerja," ucap Ale coba memberi alasan yang paling masuk di akal.
Setelah mendapatkan alamat lengkap sang istri, Ale memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya.
"Al, tumben pulang ke rumah?" Ale di sambut dengan pertanyaan yang lebih tepat jika di katakan sebuah sindiran, Ale menghentikan langkah kakinya seketika lalu menoleh kepada sang Papa yang ternyata berdiri di sampingnya.
"Papa,Kenapa bicara seperti itu? Nggak biasanya," ucapnya lalu duduk di samping sang Mama yang hanya diam sejak tadi.
"Ini ada apa sih sebenernya Ma, Pa, Ale beneran bingung lho, Ale nggak sedang ulang tahun hari ini, jangan ngeprank dong, Ma, Pa," ucapnya melihat bergantian kepada Mama dan Papanya.
"Setelah rahasia besar yang kamu tutupi dari kami, masih bisa kamu bicara seperti itu Al?" ucap Chandra dengan letupan emosi yang kembali membuncah kini.
"Rahasia besar, apa Pa? Ale nggak ngerti kemana arah pembicaraan Papa ini. Ma," ucapnya berganti meminta penjelasan kepada sang Mama.
"Papa sudah putuskan, pernikahanmu dan Helena akan di percepat!"
"Pernikahan? Tapi Ale belum menerima perjodohan ini Pa, kenapa tiba-tiba bicara soal pernikahan, bukankah kita hanya akan membahas pertemuan dengan Tuan Wiyoko besok malam?" tanya Ale semakin tak mengerti kini.
Saat ini pikirannya sedikit lebih lega, karena sedikit informasi tentang Aisyah sudah ada di tangannya. Dia hanya tinggal pergi ke desa itu untuk menjemput sang istri yang mungkin sedang merajuk padanya.
"Papa tidak membutuhkan persetujuanmu untuk melanjutkan rencana perjodohan kalian, ikuti saja perintah Papa jika masih ingin menikmati hidupmu yang seperti sekarang ini, atau kamu sudah siap hidup menggembel di jalanan?"
Ale lagi- lagi memandang heran kepada Chandra. Papanya yang bijaksana dan tak pernah memaksakan kehendaknya, tapi kenapa kini berubah kebalikannya? Menjadi Ayah yang diktator.
"Kenapa? Apa karena wanita kampungan yang telah menjebakmu itu, iya?"
Degh!
Ale sungguh tak menyangka jika kalimat itu bisa terucap dari bibir Ayahnya.
"Maksud Papa Aisyah?" tebaknya yang langsung menghubungkan ucapan sang Papa itu pada sang istri yang tiba-tiba menghilang dari apartemennya.
"Waw! Sebegitunya ya pengaruh wanita kampungan itu untuk dirimu Al, hingga kamu. langsung menyebut namanya saat Papa menyebutnya sebagai wanita kampungan,"
"Dia istriku Pa!" ucapnya dengan suara bergetar menahan amarah karena sang Papa berkali-kali menghina wanitanya.
"Lihat Ma, anak kesayanganmu sudah berani meninggikan suaranya di hadapan kita.Pengaruh buruk apalagi yang akan di berikannya untukmu Al? Baru menjadi wanita simpananmu saja dia sudah bisa merubah tabiatmu yang sebelumnya selalu berkata lemah lembut terhadap kami kedua orang tuamu kini berubah brutal,"
"Suami mana yang rela jika istrinya di rendahkan Pa, meskipun oleh mertuanya sendiri," Ale kembali membela dirinya.
__ADS_1
"Sudah merasa jadi suami sekarang kamu ya, lupa jika sebelum itu kamu masih berstatus sebagai anak dari seorang Chandra Arya guna, lupa atau sengaja melupakan hah!" bentaknya seraya menggebrak meja yang ada di depan Ale dan Sabrina istrinya.
Ale terdiam. Sang Mama nampak mengelus pundaknya pelan. Berusaha meredam emosi dua insan yang sama-sama ia cintai ini.
"Tahan emosimu Al, rendahkan suaramu, Mama tau kamu sedang bingung dan kalaf,jangan di perturut hawa nafsu setan, karena hanya akan menyesatkan," ucap sang Mama pelan di telinga Ale.
Ale menoleh demi mendengar ucapan sang Mama barusan. Darimana Mamanya tau tentang kebingungannya atas kepergian Aisyah?
"Mama tau?" tanyanya kembali menatap Papa dan juga Mamanya secara bergantian.
"Tentu saja Mama dan Papa tau, karena Papa yang sudah menyadarkan wanita kampungan itu untuk ke tidaktahuan dirinya yang sudah melewati batas normal manusia pada umumnya," jawab sang Papa seolah merasa puas atas tindakannya itu.
"Mama juga? Jadi kalian yang menyebabkan istriku pergi dari apartemen?" tanyanya tak percaya atas apa yang baru saja di katakan oleh sang Papa.
"Iya, dan kamu tidak merasa bersalah Al, atas tindakanmu itu. Tapi malah sibuk membela orang lain yang jelas- jelas hanya memanfaatkan harta dan jabatanmu itu!"
"Aisyah bukan wanita seperti itu Pa," ucapnya mulai terdengar lebih pelan. Sementara sang Mama tak henti- hentinya mengusap punggung sang putra yang tengah di kuasai emosinya.
"Lalu wanita seperti apa yang rela menyerahkan tubuhnya hanya demi harta dan hidup mewah?"
"Bahkan hubungan kami belum sejauh seperti apa yang Papa tuduhkan," protesnya tak terima.
"Bulshit! Mana mungkin dua manusia berbeda jenis kelamin, lalu tinggal dalam satu kamar yang sama tanpa melakukan hubungan seperti apa yang kamu sangkalkan itu Al, Papa rasa kamu masih sebagai pria normal,"
"Rasanya sebanyak apapun Ale menjelaskan, tuduhan Papa sudah tidak bisa di rubah lagi, Papa tetap pada pikiran Papa yang sudah terkontaminasi dengan hal-hal negatif tentang istriku. Maaf sudah membuat Mama dan Papa kecewa. Dan maaf sekali lagi, Ale tidak bisa memenuhi permintaan Papa tentang rencana pernikahan Ale dengan Helena putri Tuan Wiyoko,"
"Baik,itu artinya kamu lebih memilih hidup menggembel bersama wanita itu. Dengarkan ini baik- baik! Saat kamu melangkahkan satu langkah kakimu saja keluar dari rumah ini. Maka kamu sudah tidak berhak lagi menyandang nama belakangku di belakang namamu dan semua yang berhubungan dengan nama besar itu!"
"Bermiliyar harta tak'kan ada artinya tanpa satu kata bahagia bagi Ale Pa. Maaf Ale memilih pergi," ucapnya beranjak dari duduknya.
Sabrina mencekal tangan putra kesayangannya itu erat.
"Kamu mau ninggalin Mama Al?" tanyanya dengan air mata yang telah terlebih dulu mengalir deras di pipinya.
"Setelah Ale sukses, Ale akan jemput Mama untuk ikut bersama Ale, untuk saat ini Ale mohon selalu doakan anak Mama ini ya, semoga secepatnya menjadi orang yang lebih berguna lagi,terutama untuk istri dan cucu- cucu Mama nanti," ucapnya masih sempat berseloroh yang berhasil membuat senyum tipis di wajah sendu sang Mama.
"Ale pergi Ma, Pa," pamitnya lalu mencium punggung tangan sang Mama yang semakin terisak suara tangisannya.
Saat akan meraih tangan sang Papa. Ale malah mendapatkan penolakan. Chandra mengibaskan satu tangannya kasar.
__ADS_1
"Pergilah, aku tidak akan rugi kehilangan anak pembangkang sepertimu!" ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Ale yang menatap punggung Papanya dengan semua perasaan sedih dan perih yang semakin memuncak.
Hi, Terimakasih sudah setia menemaniku menulis. Sehat dan bahagia selalu kalian ya🥰🥰.