Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Kadal buntung.


__ADS_3

Lara di hatiku semakin menjadi saja, saat banyak mengapa yang tercipta.Jangan berjanji untuk sesuatu yang belum pasti. Kau tak akan pernah tahu betapa payahnya melewati detik demi detik yang berlalu tanpa kehadiran dirimu.


Kau tak akan pernah mengerti betapa satu kata tidak itu sanggup menjadi belati umpana duri dalam lubang di laringku ini.


Jangan katakan mampu jika langkah kaki pergimu untuk meninggalkanku saja masih teramat ringan untuk kau pijakkan.


Jangan katakan pasti,saat aku merasa pergimu adalah awal kehancuran kita.Tapi,nyatanya kau tetap pergi juga.


Tak ada firasat ataupun gelagat yang dapat kau baca dari sekian kubik air mataku.


Tak ada khawatir apalagi takut saat kalimat itu laksana pecut yang sanggup melucuti setiap keyakinanku padamu.


Kegelisahanku nyatanya tak mampu membawamu kembali meski sampai detik ini ku tetap menanti.


Aku setelah kepergianmu.


Aisyah menutup bukunya. Lalu, ia peluk dengan semua rasa yang ternyata masih sama. Walau rindu itu nyatanya masih mendominasi seperti tak ingin terganti dari setiap sisi dalam hati yang masih menanti.


"Hei!" Aisyah menoleh saat suara berat Alvian menyapanya.


"Apakah ada kabar baik tentang suami atau keluargamu hari ini?" tanyanya setelah ikut duduk di samping Aisyah.


Aisyah menggeleng. Pandangan matanya jauh ke depan.Sejauh harapannya bisa kembali bersatu bersama Ayah dari buah hati yang tengah di kandungnya saat ini.


"Jangan sedih! Aku aja yang gagal nikah, biasa aja lho.Kamu yang udah punya suami lalu, sebentar lagi akan memiliki seorang buah hati kenapa harus sedih. Semangat dong Ai!" ucapnya memandang wajah ayu,Aisyah.


Ya, pernikahannya yang di ambang pintu nyatanya harus kandas saat itu juga. Karena sang calon istri pergi bersama Bapak dari anak yang di kandungnya. Ya Salam, bukan main penghianatan yang di lakukan untuk Alvian.Di sini mati- matian berjuang, yang di sana mati- matian melupakan.


"Kamu habis nulis ya? Boleh aku baca?" tanyanya saat melihat sebuah diary yang ada dalam dekapan Aisyah.


Aisyah menoleh, "Aku memang hobby menulis Pak, apapun itu pasti kutuangkan dalam sebuah tulisan," jawabnya tanpa memberikan hasil tulisannya kepada Alvian.


"Setauku dari majalah dinding yang sering kubaca di sekolah dulu sih,cewek kalau nulis ya tentang isi hatinya yang sedang kecewa, lelah,bahkan saat marahpun mereka bisa menuangkan amarah dalam indah tulisannya. Kamu termasuk salah satu di antara yang kusebutin tadi?"


"Bapak hobby baca ya?" tanya Aisyah tanpa menoleh.


"Lebih ke harus sih Ai,"


"Maksud Bapak terpaksa gitu?"


Alvian mengangguk pelan,wajahnya tersirat sebuah kesedihan.


"Ck, jarkoni!" umpatnya yang membuat Alvian membelalakkan bola matanya.


"Jarkoni? Siapa itu?"


"Pinter ngajari tapi nggak sanggup ngelakoni," jawab Aisyah ketus.

__ADS_1


Alvian tertawa tanpa suara mendengar gerutuan Aisyah. Setidaknya dia sudah berhasil membuat bumil yang semakin hari semakin cantik di sampingnya ini sedikit melupakan kesedihannya.


Sebenarnya Alvian hanya berpura-pura saja menunjukkan wajah sedihnya. Ya, walaupun pernikahannya yang gagal bukanlah kepura-puraan belaka.


"Bagaimana anak- anak yang ada di taman bermain, kamu menyukai suasana di sana?"


"Mereka umpama oase untuk jiwa saya yang kekeringan Pak. Saya bukan kaktus yang bisa hidup tanpa air. Yang bisa menyimpan cadangan air dalam tubuhnya. Saya hanya wanita lemah, bahkan terlalu lemah jika di bandingkan dengan kehidupan mereka, tapi, mereka kuat, mereka bahagia dalam kesederhanaannya. Terima kasih untuk perhatian Bapak. Saya benar-benar berhutang budi," ucap Aisyah yang kini menoleh kepada Alvian.


"Santai! Saya bukan debt collektor kok. Kamu bisa membayar hutang budinya kapan saja,"


"Eh?" Aisyah tersenyum. Senyum yang membuat hati Alvian teriris pedih.


"Wanita sebaik dan secantik dia, kenapa ada yang tega menyakiti bahkan membuangnya di tempat yang sangat jauh ini, seandainya takdir terbaikmu adalah di sini. Aku rela menemanimu Nona manis," ucapnya dalam hati.


"Kenapa senyum- senyum nggak jelas kayak gitu Pak? Mesum ya?" goda Aisyah yang mendapat decakkan dari Alvian.


"Saya juara satu lomba azan lho Ai, masa senyum- senyum sendiri di bilang mesum sih?" ucapnya tak terima.


"Ye, apa hubungannya juara lomba azan sama omes Pak. Jaka sembung ih!" omel Aisyah.


"Omes?" lagi Alvian mengerutkan keningnya dalam- dalam dan lama.


"Iya omes, otak mesum!" tukasnya kesal.


"Pfff," Alvian menahan tawanya agar tak terbahak-bahak.


Aisyah tinggal bersebelahan dengan Alvian yang akhirnya bisa lebih lama lagi menjaga istri Aleandra itu. Dia mengisi waktu luangnya dengan menghibur anak- anak yatim di taman bermain yang ada di sana.


Semua kebutuhan hidupnya, Alvian lah yang memenuhinya. Dengan syarat yang di ajukan Aisyah,bahwa itu semua terhitung hutang untuk dirinya.


Santa Hyundai fe milik Ale berjalan lamban menyusuri sebuah jalanan rindang yang tampak lengang.


"Ai, tunggu Abang," ucapnya mengecup wajah Aisyah di layar ponselnya.


Ciiitttt. Suara ban berdecit yang membuat Ale hampir saja membanting setirnya.


"Woy! Mata kalau nggak di gunain, mending sumbangin aja ke donor mata. Lebih berguna itu!"


Ale membuka kaca mobilnya saat suara orang berteriak memekakkan gendang telinganya dari arah luar.


"Maaf Mas, saya yang salah," ucapnya dengan menyembulkan sebagian kepalanya.


"Udah salah, nggak punya sopan santun lagi, dasar orang kota minim ahlak! Keluar Lo!" seorang pemuda dengan botol minuman di tangannya dan dengan wajah sangar meminta Ale untuk keluar dari mobilnya.


"Ai, bantu Aku Ai," lirihnya sebelum melepas seatbelt lalu keluar dari mobilnya.


"Bagi duit!" ucap pria tersebut yang ternyata tidak seorang diri. Dia bersama tiga rekannya dengan penampilan yang kurang lebih sama itu tengah menatap tajam kepada Ale yang segera merogoh saku celananya.

__ADS_1


"Maaf mas, adanya cuma ini," ucap Ale dengan menunjukkan lima lembar pecahan rupiah berwarna merah di hadapan ketiga pria itu.


"Jangan-jangan dia ini cuma driver lagi Ben, penampilan sama isi dompet kok nggak sinkron,"


Hahahaha.


Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang di lontarkan oleh salah satu rekannya itu.


"Tapi lumayanlah, bisa buat modal ngeceng nanti malam," ucapnya dengan menyambar kasar uang tersebut dari tangan Ale.


Beruntung para pria tersebut hanya meminta uangnya tidak dengan barang berharga Ale lainnya.


"Mas, tunggu sebentar!" panggilnya sebelum ketiga pria tersebut benar-benar menghilang dari pandangannya.


"Apa?" ketiganya menoleh secara bersamaan.


Ale berjalan maju untuk lebih dekat lagi kepada mereka.


Ale tampak membuka layar ponselnya.


"Apa Mas, Mas ini pernah bertemu atau melihat wanita ini?" tanyanya dengan menunjukkan photo Aisyah dari layar ponselnya.


Mereka saling berpandangan sebelum kembali fokus pada layar ponsel Ale.


"Memangnya dia siapa?" tanya salah satu dari ketiga pria tersebut.


Ale tak langsung Menjawabnya. Ada sedikit keraguan sebelum menjawab jujur pada ketiga pria yang baru ia nilai dari covernya saja.


"Ck, mending bersihin dulu otak ngeresnya Bang, sebelum memandang rendah terhadap kami!"


"Eh," Ale menghelap.


"Yang nunjukkin sisi ngeresnya ke aku kan mereka ya, terus kenapa masih aku lagi yang di salahin, emang salah kalau sedikit waspada? Daripada, daripada, kan lebih baik, lebih baik," monolognya dalam hati dan hampir saja para pria itu benar-benar pergi tak memedulikannya.


"Tunggu Mas. Maaf," ucapnya. Dan ketiga pria itupun tersenyum.


"Gitu dong Bang. Muka boleh sangar, tapi hati kita di jamin belum sepenuhnya terkontaminasi sama minuman yang kita pegang ini," tunjuknya pada botol kaca dengan gambar buah anggur sebagai brandnya.


Ale menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya Tuhan masih melindunginya saat ini.


"Coba kita lihat lagi, tapi sebelum kami jawab, Abang harus jawab pertanyaan kami tadi dengan jujur. Sebenarnya siapa cewek cantik ini? Istri simpanan, wanita simpanan, atau istri orang?"


Howek!!!


Kadal buntung awakmu Al.


Terima kasih banyak- banyak readers ku semua.

__ADS_1


love kalean.


__ADS_2