
Ale tak terima sang Papa merendahkan dirinya.
"Papa kira pesonamu udah luntur Al, abisnya Papa sama Mama nggak pernah lihat kamu gandeng cewe, wajarkan kalau kami khawatir. Usia udah kelewat mateng lho Al," ucap sang Papa secara perlahan mulai menyampaikan keinginan sang istri kepada Ale.
"Nggak pernah gandeng,bukan berarti nggak punya cewe Pa!" protesnya.
"Ya makanya kamu ajak deh pacar kamu, biar Mamamu nggak ngereog terus tiap hari gara-gara kamu,"
Ale memandang heran kepada sang Papa.
"Sekarang Papa udah ketularan kayak Mama juga ya?"
"Bukan ketularan Al, lebih tepatnya keinginan. Kamu nggak kasian apa sama Mama dan Papa, usia udah hampir senja tapi belum bisa merasakan namanya menimang cucu dari zuriat sendiri. Umur nggak ada yang tahu," ucap sang Papa dengan wajah yang berubah sendu.
Ale merasa benar-benar menjadi anak durhaka kini. Disaat orang tuanya mendesaknya untuk segera menikah, dan dia yang nyata- nyata sudah mengabulkan keinginan orang tuanya itu.Apa reaksi keduanya jika mengetahui tentang pernikahannya ini dari orang lain?.
"Papa ngomong apa sih? Kenapa jadi bahas masalah umur! Papa dan Mama pasti akan melihat Ale bersanding bersama wanita pujaan Ale Pa. Menyaksikan Ale menjadi orang tua, lalu menimang cucu- cucu Mama dan Papa," ucapnya coba mengalihkan topik pembicaraan sang Papa yang malah ngelantur hingga ke umur.
"Buktiin dong!"
"Jodoh itu rahasia Allah Pa. Ale nggak bisa mengatur agar sesuai keinginan kita,"
"Setidaknya ikhtiar,jangan pasrah aja, nggak bosen apa, jomblo kok abadi" sindir sang Papa yang malah membuat Ale tertawa geli.
"Pacaran dilarang dalam agama kita Pa. Ale maunya langsung nikah aja,"
"Ide bagus itu, Papa dukung! Papa harap kamu dapat segera merealisasikan omonganmu itu, bukan sekedar bualan belaka,"
"Kok bualan sih Pa, doa itu, aamiinin dong!" pintanya.
"Doa tanpa usaha apa namanya Al? Apa perlu Papa yang turun tangan? Beneran udah luntur kemampuanmu?" tanya sang Papa yang sepertinya tak pernah habis kata- katanya untuk mendesak Ale.
"Langit tak pernah berkata bahwa dia tinggi Pa,"
"Hujan juga nggak pernah memilih di bumi mana dia akan jatuh Al, tapi hatimu?" ucap sang Papa membalas perumpamaan putra sulungnya itu.
"Ale bukan tipe pemilih Pa," ucapnya menolak argumen sang Papa.
"Kenyataannya memang begitu kan Al,mustahil nggak ada satu saja wanita yang kepincut sama kamu. Pasti kamunya yang pilah- pilih," imbuh sang Papa lagi. Ia makin gencar menyudutkan sang putra dengan kalimat- kalimat pamungkasnya.
__ADS_1
Ale menelan salivanya perlahan. Menetralkan nafasnya yang sedikit sesak akibat perdebatan kecilnya dengan sang Papa.
"Memilih calon pendamping hidup itu wajib Pa. Bukan pilah- pilih juga. Masalahnya menikah itu untuk seumur hidup,bukan hanya di dunia, tapi untuk di akhirat. Memangnya Papa rela kalau putra mahkota Papa ini mempunyai pendamping yang buruk akhlaknya?" ucapnya coba membela diri, berharap sang Papa menyudahi sesi debat- debitnya ini.
"Keputusan Papa sudah final. Malam minggu besok ikut ke hotel milik keluarga Buana!"
"Insya Allah Pa,"
"Harus lebih condong ke iya Al, jangan menggadaikan ucapan Insya Allah untuk menutupi rasa bersalahmu,"
"Siap Pa. Ada lagi?" ucapnya menggoda. Menghindari pembicaraan yang terlalu berat untuknya ini.
Setelah sang Papa keluar dari ruangannya, Ale merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ada di ruangannya.
"Apa aku ajak Aisyah saja ya malam minggu besok,tapi Mama?" lirihnya terlihat ragu.
"Ah, terlalu beresiko jika harus melibatkan Aisyah.Akan tetapi,bagaimana jika dia tau aku pergi dengan wanita lain? Ayo lah Al, kenapa jadi stuck ide kayak gini sih, mana smart brainmu?" tanyanya putus asa seraya menatap langit- langit ruangannya.
Ale benar-benar tidak pulang ke apartemennya setelah hari itu. Dia hanya menyapa Aisyah lewat panggilan video saja. Di kantor mereka harus selalu menjaga jarak.
Pagi ini Aisyah termenung sebelum melaksanakan tugas- tugasnya.
"Kamu diminta Pak Ale untuk membersihkan ruangannya. Awas! Nggak usah sok cantik dan sok ramah,Pak Ale nggak mungkin tertarik sama cewe udik macam kamu. Yang ada beliau ilfeel lagi," ucap Selia lalu berjalan cepat.Sesekali ujung matanya melirik kepada Aisyah dengan lirikan penuh kedengkian.
"Coba lo selidiki deh tu cewe Wen.Aku kok curiga kalau dia itu membawa misi tertentu bekerja di sini. Bayangkan saja, aku yang udah lebih tiga tahun bekerja di sini, sekalipun belum pernah Pak Ale meminta untuk membersihkan ruangannya, Tapi dia, belum juga satu bulan, bisa-bisanya Pak Ale memilih dia," ucapnya kesal kepada Wenny rekan satu profesinya.
"Gampang itu Sell, asal sesuai sama cuannya,masalah selidik menyelidik mah mucil,"
"Ah, kebiasaan lo. Kerja dulu baru minta bayaran!"
"Yang ada uang dulu baru kerja Sell," sangkalnya seraya tersenyum smirk.
Aisyah berjalan lesu menuju ruangan Ale.
"Bapak memanggil saya?" tanyanya setelah pintu dibuka oleh sang suami.
"Masuklah! CCTV ada di mana- mana," ucapnya tanpa menutup pintu ruangannya.
"Bagaimana keadaanmu selama saya tidak pulang ke apartemen Ai?" tanyanya seraya berpura-pura tengah mengecek file- file yang ada di meja kerjanya. Ale sesekali melirik kepada Aisyah yang sibuk memindai ruangan Ale yang tampak berantakan.
__ADS_1
"Ruangan Bapak tampak berantakan sekali, kenapa?" tanyanya heran. Karena tak biasanya sang suami membiarkan hal seperti ini dalam ruang kerjanya.
"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga, nggak sopan! Bisa kita membahas masalah lain," Ale menjeda ucapannya untuk melihat ekspresi sang istri.
"Kamu nggak kangen sama suamimu ini, hmm?" ucapnya seraya menarik turunkan satu alisnya.
"Saya takut kecewa Pak. Daripada iya lebih baik untuk tidak!" jawabnya dengan suara yang terasa berat.
Aisyah ingin sekali menceritakan tentang perlakuan Sellia dan para kroconya itu kepada Ale,akan tetapi ia takut Ale akan menganggapnya terlalu kekanak-kanakan, terlalu lemah.Ketakutan yang sebenarnya tidak beralasan itu.
"Jadi sebenarnya kamu juga rindu?" tanya Ale yang membuat semburat merah di pipi Aisyah.
"Terbiasa karena bersama Pak, jadi saat yang biasa ada tiba- tiba hilang, tentu rasa kehilangan itu akan datang," ucapnya mulai meluahkan sedikit keluh kesahnya.
"Udah nggak takut lagi di apartemen sendirian? tidurnya udah nyenyak sekarang?" tanyanya lebih intens menatap Aisyah.
"Pertanyaannya frontal banget Pak, nggak takut ketauan.Tuh," tunjuknya pada benda kecil berwarna hitam di sudut ruangan ini.
"Suamimu ini siapa Ai? Kamu nggak usah khawatir, saya sudah mengantisipasinya terlebih dulu, bicaralah! saya memang ingin mendengar keluh kesahmu,"
"Tentang wanita di cover bantal Bapak?" Aisyah akhirnya bertanya juga akan rasa penasarannya itu.
"Kita bahas besok malam saja ya?" pinta Ale.
"Malam ini Bapak nggak pulang ke apartemen?" tanya Aisyah terlihat kecewa.
"Bilangnya aja mau mendengar keluh kesahku,tapi ditanya seperti itu malah ngelak. Dasar biawak!" geramnya dalam hati.
Ale mengangguk pelan. Sungguh ia merasa tidak adil terhadap Aisyah.
"Kapan pulangnya?" tanyanya lagi dengan sesak di dada yang semakin bertambah- tambah. Ia lupa bahwa Ale berjanji akan membahas tentang wanita di cover bantalnya malam esok.
"Besok malam," jawabnya singkat.
"Bapak ada masalah?" tanya Aisyah curiga karena raut wajah Ale yang kini berubah sendu.
"Nggak Ai! Saya hanya merasa sangat bersalah sama kamu. Maafkan saya karena belum bisa membawamu ke rumah besar,"
Aisyah memalingkan wajahnya. Ia tak ingin menunjukkan wajah kecewanya yang menurutnya adalah sikap yang tidak selayaknya ia tunjukkan pada Ale yang mungkin saja tidak akan pernah mencintai dirinya.
__ADS_1
"Saya tau pasti kamu kecewa terhadap saya. Tapi percayalah, tidak ada sedikitpun keinginan di hati saya untuk mempermainkan perasaanmu."