Istri Sah Rasa Simpanan

Istri Sah Rasa Simpanan
Terselubung.


__ADS_3

Rasa sedih semakin menjadi saat pandangan mata bersitatap dengan tinggi menjulangnya pagar istana kediaman orang tua sang suami. Sekuat raga dan rasa dirinya merayu dan memujuk hatinya agar ikut yakin dengan keyakinan sang suami. Walau banyak kesempatan untuk mundur, tak berniat menerima apalagi meneruskan semangat dari sang suami yang di suntikkan ke dalam pikirannya dengan dosis yang bukan main banyak dan seringnya.


Namun,nyatanya Aisyah kalah. Langkah mundurnya pasti akan di tentang oleh Ale yang dengan sigap menyongsong jiwa dan pikirannya yang sedikit goyah. Ale laksana galah di tengah hamparan ilalang ke khawatirannya. Sebanyak apapun hamparan ilalang yang bergoyang, tetap galah suaminyalah yang akan menunjukkan sisi dominannya.


"Tidak ada yang perlu kamu takutkan Ai, selama bersamaku, kamu akan baik- baik saja," ucapnya kembali meyakinkan,saat Aisyah berhenti di ambang pintu rumah besarnya.


"Ada saatnya,saat aku tidak ada di sisimu, suamiku. Dan itulah yang memperkuat ke khawatiran pada diriku. Aku siapa dan keluargamu siapa? Tak ada cela yang dapat menyamakan aku dan tingginya keluargamu Pak," monolognya dalam hati.


"Tuan muda," tampak seorang wanita paruh baya berjalan tergopoh- gopoh menghampiri keduanya.


Ale menoleh kepada Aisyah yang semakin mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Ale.


"Itu Mbok Sariyah,beliau yang mengasuh saya semenjak Mama ikut kerja di kantor bersama Papa," Aisyah memgangguk dalam pelan langkah kakinya, mengikuti sang suami yang berjalan menghampiri Inangnya itu.


"Nyonya muda,Tuan Ale ya? Duh ayune.Pinter Den bagus cari istri rupanya," ucapnya dengan logat Jawanya.


Aisyah mengangguk, lalu tersenyum ramah. Ia akan meraih satu tangan Mbok Sariyah. Namun, dengan gerakan cepat wanita paruh baya itu menarik tangannya.


"Jangan Non!" tolaknya dengan suara pelan dan sesekali melihat ke belakang, takut- takut Tuan besarnya melihat sikap istri Tuan mudanya ini terhadapnya.


"Pak!" Aisyah yang merasa aneh dengan penolakan Mbok Sariyah itupun mencari jawab lewat tatapan mata suaminya yang mengangguk kecil, lalu menggandeng tangannya untuk di bawanya masuk ke dalam.


Aisyah melihat di sana sudah duduk sang Ayah dan juga Ibu mertua dengan pandangan mata tertuju pada mereka berdua.


Pertemuan kedua setelah tragedi getir di apartemen Ale hari itu. Akankah kedatangannya di sambut dengan hal yang sama. Aisyah tak sedetikpun melepaskan pegangan tangannya pada ujung kemeja Ale. Biarlah orang menganggap dirinya berlebihan. Nyatanya hanya Ale yang dia miliki saat ini. Hanya Ale!


"Hai brother," Aisyah tersentak saat melihat seorang pemuda dengan perawakan dan wajah yang hampir sama dengan suaminya itu tampak menuruni anak tangga lalu menuju mereka.


Pria itu memeluk Ale dengan akrab sekali. Sementara Ale tak menunjukkan reaksi apapun selain membalas pelukan adik satu- satunya itu.

__ADS_1


Pria tersebut adalah Abraham aryaguna al ahnaf. Anak kedua Chandra dan Sabrina.


Dua pria dengan dua kepribadian yang sangat- sangat bertolak belakang. Ale yang dingin dan lebih bijaksana dalam menghadapi segala hal. Sementara sang adik? Berkali-kali sang Ayah harus berurusan dengan Polisi dengan kasus pengaduan dari seorang Ayah yang mengaku jika anak gadisnya telah di lecehkan oleh Abram, begitu ia sering di sapa.Selain itu, Abram juga baru saja terlibat penganiayaan di sebuah club malam.


Sama seperti dirinya, Abram juga lebih sering tinggal di apartemen ketimbang pulang ke rumah orang tua mereka.


Aisyah menghela nafasnya saat bersilang mata dengan Abram. Namun, ia segera memutus pandangannya dengan menoleh kepada Ale yang tengah fokus dengan apa kiranya yang akan di lakukan Abram kepada Aisyah.


"Apakah ini Kakak iparku, Bro? Tanyanya dengan melihat sekilas kepada Ale. Ale mengangguk. Sementara Sabrina dan Chandra masih betah menyaksikan obrolan mereka.


"Hai Kakak ipar," ucapnya dengan gerakan tangan akan memeluk Aisyah. Aisyah kaget dan tentu saja ia harus menolak perlakuan frontal dan cenderung tidak sopan dari Abram itu.Namun,belum lagi ia menangkupkan kedua tangan di dadanya. Ale sudah menarik tubuhnya hingga kini aman dalam pelukan sang suami.


"Sorry Bro, ini milik gue. Nggak boleh asal touching, touching. Sudah berlabel halal untuk seorang Aleandra," ucapnya dengan menekankan kata halal kepada Abram.


"Oke, oke. Yang halal memang lebih susah di dapatkan," ucap Abram lalu menjauhkan tubuhnya dari Aisyah dengan perasaan malu.


Selama ini belum ada satu perempuanpun yang menolak sentuhannya. Seburuk apapun pemberitaan tentang dirinya di luaran sana, tetap saja wajah tampan dan kekayaan orang tuanya sanggup melenyapkan semua keburukannya itu.


"Ck, Mama, setuju banget kalau Ale membahas masalah itu," protesnya lalu berlalu keluar rumah.


Aisyah terkejut mendengar sang adik ipar memanggil suaminya hanya dengan namanya saja, tanpa Mas, Kakak, atau Abang.


"Orang kaya apa memang seperti ini ya? Main peluk- peluk, panggil nama aja sama Abangnya? Kasian Pak Ale, kayak nggak di hormati gitu sama adiknya," bathin Aisyah.


"Pulang ke rumah Bram!" pinta sang Mama saat anak bungsunya itu akan melangkah melewati pintu rumahnya.


"Besok pagi aku sarapan di rumah Mom, masakin pindang tulang ya," ucapnya dengan melambaikan satu tangannya.


"Mama, Papa," Ale mendatangi kedua orang tuanya yang duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Maafkan Papa yang egois Al. Aisyah, kemarilah Nak!" Ale tersenyum, lalu mengangguk pelan kepada Aisyah.Aisyah yang mengerti akan bahasa tubuh sang suami itupun ikut mendekat.


Sungguhpun, keraguan di hatinya masih berjuta-juta rasa dan traumanya. Aisyah tidak mungkin percaya begitu saja dengan sikap mendadak baik Ayah mertuanya ini. Aisyah tak bodoh, ia tau, ada sesuatu yang terselubung di balik kepulangan suaminya ke rumah orang tuanya ini. Namun, siapa dia? Hanya seorang menantu yang tak di anggap di Kesultanan Al ahnaf ini.


"Baiklah, akan kucoba mengikuti alur dari Mu Robb. Beban tak pernah salah memilih pundak. Kuatkan hamba dalam manisnya ujian rumah tangga ini Tuhan," ucapnya dalam hati, saat kini mereka tengah menikmati makan malam bersama.


"Kenapa di singkirin seafoodnya, nggak suka atau nggak bisa makan seafood?" tanya Ale saat melihat Aisyah tampak menyingkirkan makanannya.


"Saya alergi makanan laut Pak," jawabnya pelan. Hal yang di perhatikan oleh sang Papa mertua.


"Alergi seafood istrimu Al?" ucap Chandra setelah menghabiskan makanannya.


"Ale juga baru tahu Pa," jawab Ale yang mendapat cebikkan dari Sabrina sang Mama.


"Suami nggak perhatian kamu itu Al, payah ih! Kok kamu mau mau aja sih Ai dinikahi sama Ale?" ucap sang Mama seraya menuang air mineral untuk Chandra.


"Ck, Mama. Jangan gitu dong! Aisyah menerima Ale apa adanya, benerkan Ai?"


Aisyah tersenyum simpul. Senyum yang membuat Chandra muak.


"Mana mungkin apa adanya. Jelas- jelas semua ada pada diri Ale. Mana mungkin dia menolaknya.Aku yakin di poligami juga bakalan iya, iya aja nih perempuan kampung!" Chandra kembali menampilkan senyum palsunya.


Ale dan Aisyah masuk ke dalam kamar.


"Kamu kenapa Ai, masih khawatir juga dengan sikap Mama dan Papa?" ucap Ale yang melihat jika Aisyah sedikit berbeda kini. Padahal sang Ayah sudah menyambutnya dengan sangat - sangat baik, menurut Ale. Namun, hal yang berbeda jelas bisa di baca oleh Aisyah.


Dia hanya perlu waspada tanpa harus mempengaruhi lelakinya.Saat bukti tak mampu lagi untuk tidak mempercayai ucapannya. Saat itulah ia akan tunjukkan semuanya.


"Semoga hari dan waktu selalu berpihak kepadaku Tuhan. Beri aku hati dan iman yang kuat," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Saya percaya dengan keyakinan Bapak,"


Terima kasih. 🤗🤗


__ADS_2