
Ale nampak bersungut-sungut saat turun dari taksi yang membawa mereka ke sebuah kota kecil.
"Pak!" Aisyah menarik ujung tshirt sang suami yang berjalan berjauhan dengan dirinya.
Ale diam saja, tanpa menyahut dan juga menoleh. Dia ingin tahu sebesar apa rasa bersalah sang istri yang sudah meninggalkan capitan yang mengharu biru di pahanya, bukan hanya itu, Aisyah juga telah membuat dirinya malu dengan menjulukinya sebagai bujang lapuk di depan Pak sopir tadi.
"Melihat bentuknya aja belum, sok- sok an bilang barangnya sudah lapuk," gerutunya dalam hati. Bujang Al, bukan barangnya yang lapuk. hmmm, sensitif bener Pak.
"Bapak marah ya?" ucapnya dengan berjalan lamban agar dapat menyamai langkah sang suami.
"Memangnya nggak malu jalan sama bujang lapuk, udah kere, lapuk lagi," sindirnya dengan menghentikan langkah kakinya.
"Bapak kayak cewek sedang datang bulan aja,moodyan banget sih!" Aisyah ikut berhenti lalu melepaskan pegangan tangannya di tshirt Ale secara kasar.
"Memang ya, di mana-mana cewek itu nggak pernah merasa bersalah, udah jelas- jelas salah, tetep aja ngegas," monolognya dalam hati seraya memandangi tshirtnya yang baru saja di hempaskan oleh sang Nyonya.
"Tapi kamu kalau marah nggak harus datang bulan dulu kan Ai, kenapa?"
Aisyah memandang tajam kepada Ale.
"Duh, berasa lagi interview sama fenny rose ini, tersilet- tersilet tatapan matanya,"
"Ehm," Ale menormalkan suaranya saat Aisyah masih saja betah memandang tajam padanya.
"Ai," ucapnya dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena mereka kini tengah menjadi perhatian rombongan anak kecil yang sepertinya akan pergi mengaji.
"Kakak ganteeeeeng,adiknya ketahuan pacaran ya? Makanya dimarahin," ucap mereka sambil berlari kecil dan tertawa renyah meninggalkan Aisyah dan Ale.
"Kakak ganteng nggak tuh Ai, bukan bujang barang lapuk," Ale masih saja mengungkit- ungkit perkataan Aisyah di dalam taksi tadi.
"Adik kakak nggak tuh Pak?" ucap Aisyah menimpali bualan Ale.
"Bahagia banget kamu Ai, jika seluruh dunia membenarkan ucapanmu,"
"Yang bilang barang Bapak lapuk siapa?" geramnya, karena suaminya ini bener- bener mesum pikirannya.
"Makanya jangan sok tahu, melihatnya saja belum pernah, sok- sok an bilang barangku lapuk, belum tahu aja kamu kalau dia sudah beraksi. Satu bulan kamu bakalan aku gendong kerena kepayahan berjalan," ucapnya kembali berjalan.
"Nggak akan pernah!"
"Kita buktikan saja besok,"
"Eh," Aisyah melongo tak percaya, bisa- bisanya mantan bos dan suaminya ini mengancamnya.
__ADS_1
"Maksudnya apa nih, Bapak ngancam saya?"ucapnya dengan berjalan cepat mengejar sang suami yang malah berjalan lebih cepat lagi meninggalkannya.
"Nggak! Hanya ingin membuktikan saja," ucap Ale menoleh sekilas kepada Aisyah.
Pagi hari, Aisyah benar-benar kepayahan bangun dari tidurnya.Bukan, bukan karena pembuktian dari Ale. Tapi karena dia yang kelelahan akibat perjalanan jauhnya kemarin. Kini mereka sudah menempati sebuah rumah kecil yang di sewa oleh Ale.
"Selamat pagi istriku tercinta, tercantik dan terseksi," Ale menghampiri sang istri yang masih betah di balik selimutnya.
"Hari ini aku ada interview Ai, do'ain semoga sukses ya. Dan kita bisa tinggal di rumah yang lebih besar dari ini," ucapnya seraya menyuguhkan susu hangat untuk sang istri.
"Aku lebih bahagia dengan keadaan kita yang seperti ini Pak, tak mengapa kecil asalkan kasih sayang dan cinta Bapak tetap besar dan tidak akan berkurang untukku,"
"Aamiin, semoga akan lebih baik lagi y,"
Aisyah mengangguk. Lalu menyingkap selimut tebalnya
" Ehm," Ale berdehem demi melihat suguhan manis di depan matanya.
"Nggak usah mancing ikan di dalam kolam juga kali Ai, nggak seru ah! Nggak ada sensasi jerit- jeritnya,"
Aisyah mengerutkan keningnya dalam- dalam. Namun, segera saja ia menarik kembali selimut tebalnya saat menyadari ke teledorannya dengan menampilkan tubuh setengah nakednya di hadapan Ale.
"Duh, pakai acara bangunin singa yang kelaparan karena udah lebih satu bulan puasa lagi," ucap Aisyah dalam hatinya dengan kedua tangan yang tampak semakin mengeratkan pegangan selimutnya.
"Mangap aja terus, biar di masukkin burung sekalian tuh mulutnya," ucap Ale meraih gelas susu sang istri yang sudah kosong.
"Eh," Aisyah benar- benar kepayahan walau hanya untuk sekedar menelan air liurnya sendiri.Membayangkan burung apa kiranya yang tiba-tiba masuk ke dalam mulutnya?
Dia akan protes dengan ucapan suaminya itu, tapi Ale sudah lebih dulu keluar dari kamarnya dengan wajah di tekuk persis orang kalah judi online.
"Pak!" sergahnya dengan berlari menyusul Ale yang masih di ambang pintu.
Aisyah segera memeluk suaminya itu dari arah belakang. Dia sadar sudah membuat suaminya marah dan juga malu. Lalu pagi ini berdrama dengan memancing ikan di dalam kolam pula, duh Ai, Kira-kira dong kalau mau nyiksa suami. Lahir bathin tegangan tinggi semua tuh.
"Apa?" Ale membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Aisyah.
Aisyah melepas pelukannya,menunduk dengan menjalin sepuluh jarinya.
"Maaf," ucapnya dengan sedikit mendongakkan kepalanya, melirik tipis wajah mantan atasannya itu. Ada sedikit gurat senyum yang terlukis di bibir merahnya.
"Itu aja? Nggak ada yang lain,"
"Eh, kok yang lain sih, memangnya dia pikir aku mau ngapain?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1
Cup!
Aisyah sontak mendongakkan kepalanya dengan benar, saat mendapat serangan mendadak dari Ale. Kedua pipinya sudah seperti udang goreng kini. Kebangetan merahnya.
"Bapak curi start ih, curang!" Protesnya dengan mengelap kasar kedua pipinya. Ale yang melihat hal itupun tertawa.
" Curi apa? Jadi kamu mau cium saya duluan gitu?" ucapnya menggoda dan rupanya bualannya itu mendapat anggukan kepala tak malu- malu dari sang istri.
"Ya udah, sekarang aku kembaliin deh ciuman pertamanya, nih," Ale kembali mendaratkan kecupan mesra, tapi bukan di pipi melainkan di kening Aisyah.
"Itu bukan mengembalikan, tapi minta lagi Pak, gimana sih!" protesnya lagi, lalu maraih tangan Ale.
"Semoga sukses interviewnya Pak suami," ucapnya seraya mencium punggung tangan Ale.
"Terima kasih Bu istri," jawabnya membalas sapaan tak romantis Aisyah.
"Kok Bu istri sih Pak? Nggak ada romantis- romantisnya jadi suami," Aisyah mendorong tubuh sang suami agar tak berada di ambang pintu.
"Terus, maunya di panggil apa dong?" ucap Ale kembali memperhatikan wajah cemberut Aisyah.
"Sayang, Abang pergi dulu ya," Ale mengusap pelan puncak kepala Aisyah.
"Hati-hati Abang sayang," Aisyah segera saja menutup pintunya rapat- rapat. Sungguh dia berharap agar ucapannya tadi tidak di dengar oleh Ale.
Ale tersenyum dalam langkah kakinya.
"Mudahkanlah urusan hamba Tuhan, ada wanita yang tak ingin hamba lihat airmatanya mengalir karena hamba, ada hati yang tak ingin hamba sakiti lagi dan lagi,"
Ale kemudian naik ke dalam taksi yang membawanya menuju lokasi yang telah di sebutkannya sebelum masuk kedalam taksi tersebut.
"Al barokah tower ya Pak," ucap Ale kembali menegaskan setelah di lihatnya jarak ke tempat interviewnya itu sudah semakin dekat.
Sang sopir hanya mengangguk tanpa menjawab.
Ale mulai curiga saat sang sopir hanya menunduk dengan topi yang menutupi kepalanya.
"Nggak usah bayar Pak,"
"Eh," Ale memberanikan diri membuka topi pria tersebut.
"Kamu?"
Terima kasih sudah setia sampai di chapter ini. Temani terus kang tulis amatiran ini sampai happy ending ya. 🥰🥰
__ADS_1