Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK 10


__ADS_3

"Aku minta kau habisi dia dalam waktu sepuluh hari!" Teriak Lucas membuat Rey melirik Jenni dengan tatapan tidak tega.


Rey menggeleng cepat, ia sungguh tidak bisa dan tidak mungkin menghabisi Jenni apalagi dalam hatinya sudah tersimpan Jenni dalam tempat yang paling istimewa.


"Rey!" Teriak Lucas membuat Rey mengangguk seketika.


Sepulangnya dari penjara, Rey tidak menemui Jenni terlebih dahulu. Ia harus memikirkan rencana untuk melindungi Jenni.


Hal itu tentu saja sudah tercium oleh Meira, yang melihat Rey tampak murung karena ayahnya yang menyuruh Rey menghabisi Jenni.


"Jika kau berat, cobalah pergi! Maka besok napasmu tidak akan berhembus lagi." Ucap Meira dengan senyuman sinis.


Rey melirik Meira tak kalah sinis dan tajam. Keluarga Meira memang berjasa karena sejak dulu telah menyelamatkannya, akan tetapi Rey tidak bisa mengorbankan orang lain demi mereka.


Hingga malam kembali tiba, Rey masih terus memikirkan siasat untuk melawan Meira dan keluarganya.


Ia mencoba menghubungi Jenni, namun tidak bisa. Hatinya jadi semakin gelisah. Takut Jenni dalam keadaan yang tidak baik.


Di sisi lain, ayahnya Meira masih terus mencari keberadaan Jenni untuk berusaha menghabisinya.


"Cari dia dimanapun dia berada, bawalah mayatnya padaku!"


"Tuan, posisinya sudah bisa dilacak. Dia ada di penginapan xx, disembunyikan Rey." Ucap salah satu anak buah Lucas, yang sebenarnya adalah anak buah Rey.


Rey tidak mengetahui, bahwa selama ini masih ada anak buah yang berkhianat secara diam-diam.


...****************...


Di penginapan xx, Jenni sedang mengemasi pakaiannya untuk pergi sampai keadaan mulai aman kembali dan terkendali.


"Nona, tuan Rey sebentar lagi datang!" Orang yang Rey kirim untuk menemani Jenni tersenyum, ketika mendapat pesan bahwa Rey akan segera datang, namun Jenni malah semakin merasa gelisah.


Jenni terus memasukan pakaiannya ke dalam koper. Ia segera keluar setelah semuanya selesai. Namun di luar ia kembali di kejutkan karena penginapan sudah di kepung anak buah lucas.


"Bagaimana ini?" Gumam Jenni dengan perasaan takutnya.


Jenni masuk kembali ke dalam hotel, ia mengambil senjata yang diberikan Rey.


Ini pasti akan sangat berguna!

__ADS_1


Ia melangkah keluar, menembaki satu-persatu anak buah Lucas. Jenni memberanikan diri melakukan itu, meski sebenarnya Jenni merasa sangat takut.


Anak buah yang di kirim Rey mengikuti langkah Jenni. Berusaha melindungi Jenni dari belakang.


Jenni sudah berhasil masuk ke dalam mobil, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Nona, kita harus berhenti disana!" Jean menunjuk sebuah lapangan.


Sementara Jenni memilih tidak berhenti, terus melajukan mobilnya. Kini mobilnya akan melewati sebuah terowongan yang sangat gelap.


...****************...


Rey terus melihat jam tangannya, ketika di waktu yang sudah di tentukan orang yang ditunggunya untuk membawa Jenni tidak kunjung datang.


Kemana Jenni? Kenapa dia masih belum sampai?


Rey masih setia menunggu, meski hatinya tidak dapat berbohong sangat mengkhawatirkan keadaan Jenni.


Sudah satu jam Rey menunggu, namun masih tak ada kabar dari Jenni. Yang ada hanya pesan dari anak buahnya bahwa pasukan sudah siap menyerang Lucas.


Tunda dulu penyerangannya, aku kehilangan Jennifer!


Hatinya semakin merasa ada yang tidak beres, Rey beralih menelepon anak buahnya yang dikirim bersama Jennifer.


Telepon diangkat, namun seketika membuat wajahnya berubah. Air mata yang tidak pernah ia keluarkan kini sudah membasahi pipinya.


"Tuan, nona Jennifer mengalami serangan di jalan. Mereka tidak selamat, mobilnya juga meledak." Sebuah ucapan yang telah berhasil memporak-porandakan hati Rey.


"Tidak mungkin!" Sambil berlari menuju mobil dan melajukannya dengan kecepatan yang sangat tinggi agar bisa sampai ke lokasi kejadian.


Tepat di depan terowongan keluar, terdapat banyak orang berkumpul termasuk petugas kepolisian juga.


Asap memenuhi area itu, dengan sedikit api yang masih membakar mobil yang hanya tersisa kerangkanya saja.


"Jenni!" Teriak Rey sambil menghampiri mobil itu.


"Maaf, pak. Tidak ada yang selamat dalam kejadian ini." Rey menunduk semakin dalam.


...****************...

__ADS_1


Berbulan-bulan setelah kejadian itu, kini Rey hanya berdiam diri di kamar. Meira dan Lucas yang menjadi dalang di balik rencana melenyapkan Jenni setiap hari tertawa bahagia.


Keduanya selalu mengolok-olok Rey setiap hari, menyebutnya tidak tahu balas budi atas kebaikan Lucas yang merawatnya sejak kecil hingga bisa seperti itu.


Setiap olokan itu Rey diamkan, ia tak ingin melawan. Namun hari ini Rey sudah tidak tahan lagi dengan olokan keduanya.


Jari mengetikan sesuatu di layar ponsel, sampai satu jam setelah ia mengirimkan pesannya, tibalah beberapa orang anak buahnya serta pasukannya yang sudah mengelilingi rumah besar milik Lucas.


"Apa ini?" Lucas nampak panik, karena serangan yang secara tiba-tiba itu.


"Kemarin aku diam, hari ini kau tidak akan aku ampuni! Kau tidak akan bisa memperalatku lagi!" Lawan Rey sambil menodongkan pistolnya pada Meira dan Lucas.


Suara tembakan saling menyahut, membuat seisi rumah penuh dengan darah yang bersimbah.


Lucas masih dalam sanderaan Rey. Sedangkan Meira entah melarikan diri kemana. Rey tidak peduli, tujuannya saat ini hanya ingin menghabisi Lucas.


Tak dapat di duga, Meira kembali denga pistol di tangannya secara diam-diam.


"Letakan pistolmu di bawah!" Teriak Meira dengan pistol yang sudah berada tepat di kepala Rey.


"Aku akan meletakannya jika ayahmu ini sudah tiada!" Ucap Rey dengan keberanian yang sudah menguasainya.


"Rey, aku harap kau tahu diri."


"Meira, aku harap kau berhenti menggunakan jasa-jasa kalian untuk mengancamku!"


Rey mulai mendekatkan kembali pistolnya pada kepala Lucas. Lucas hanya diam saja, bukan karena ia tak bisa melawan akan tetapi karena mulutnya sudah dibungkam oleh Rey. Tubuh Lucas bahkan diikat.


"Rey!!!" Teriak Meira.


Dor...


"Lenyaplah kau!!!"


Bersambung...


siapakah yang lenyap?


Nanti malam diusahakan up lagi hehe...😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2