
Semua sudah siap dalam strategi rencana mereka, Rey dalam proses melacak keberadaan Jeremy.
Saat mengetahui bahwa Jeremy sedang berada di dalam sebuah club malam, Rey langsung memberi instruksi pada Sintia untuk memulai apa yang sudah Rey arahkan pada Sintia.
Dengan pakaian sexy dan dandanan yang menggoda, Rey mengantarkan Sintia ke club malam dimana Jeremy sedang berada tersebut.
Disisi lain, Rey bergegas pergi. Ia mengubah arah laju mobilnya menuju bandara tidak menuju rumah milik Sintia.
"Aku pulang, Jenni!" Gumam Rey sambil mengeluarkan koper berisi pakaiannya dan menyeretnya masuk ke dalam bandara.
Tak lama setelah Rey masuk bandara, ia langsung terbang menggunakan penerbangan cepat.
Sementara di tempat hiburan yang di panggil club tersebut, Sintia sedang melancarkan aksinya menggoda Jeremy dengan kecantikannya.
Jeremy yang sudah dalam pengaruh alkohol karena mabuk tentu saja cepat tergoda oleh Sintia.
Sintia mendekatinya perlahan, dengan langkah pelan namun memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya yang terlihat sangat indah tersebut.
"Mau minum denganku?" Tawar Sintia.
Jeremy menatap Sintia dengan tatapan tidak biasa, ia merasa sangat terpukau dengan kecantikan Sintia. Sehingga tanpa berpikir lagi meskipun sudah melangkah gontai ia memberi isyarat pada pelayan club untuk menyajikan lagi minuman.
"Bawakan yang terbaik, lihat aku harus menjamu si cantik ini!"
Sintia tersenyum penuh kemenangan, Jeremy bisa membaca apa yang ada dalam hati Sintia.
Wanita ini pasti sama dengan mereka, yang mencoba menikmati malam panjang denganku!
Semakin lama, Sintia semakin berusaha memikat Jeremy dengan pesonanya.
"Kau cantik sekali," puji Jeremy yang membuat rasa mual menerpa Sintia seketika.
Cih, lelaki b*jing*n!
Masih dalam posisi yang sama, akhirnya pelayan club itu membawa sebotol minuman untuk Sintia dan Jeremy.
Jeremy mengambil botol itu dan membukanya, lalu menuangkannya di gelas yang baru untuk Sintia.
"Bersulang untukmu, wanita cantik!" Seru Jeremy sambil mengangkat gelasnya lalu membenturkannya pelan ke gelas Sintia.
"Yeaah, bersulang juga untukmu." Ucap Sintia malas, namun akhirnya Sintia meminum minuman itu juga meski hanya sedikit.
Cukup lama Sintia berada di dalam club itu, hingga akhirnya keluar dengan langkah yang sedikit gontai.
Ia masih belum keluar dari dalam club, karena merasa perlu ke kamar mandi. Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi hati Sintia dibuat sakit ketika melewati kamar-kamar club yang salah satunya mengeluarkan suara syahdu khusus untuk orang yang sedang membuat dua bagian menyatu dalam diri mereka.
Ah, kenapa Nicholas menolak hal itu?
Aku sangat penasaran, bagaimana rasanya menjadi wanita seutuhnya?
Air matanya jatuh dengan tanpa sengaja, Sintia merasa hatinya sangat teriris. Iapun meneruskan langkahnya menuju kamar mandi, mencoba menghilangkan pendengarannya akan suara yang saling bersahutan itu.
Setelah selesai dengan aktivitas di kamar mandi, Sintia bergegas keluar club untuk melaporkan apa saja yang ia raih hari ini ketika bersama Jeremy.
Namun niatnya harus kembali ia urungkan saat melihat Jeremy berdiri di dekat mobilnya sambil menyapanya.
"Hai, pulang?" Tanya Jeremy yang langsung dijawab oleh anggukan Sintia.
__ADS_1
Jeremy nampak berpikir, setelah selanjutnya ia langsung meraih tangan Sintia dan menghentakannya hingga tubuh Sintia sudah berada dalam pelukan Jeremy.
"Tidak baik seorang gadis cantik sepertimu pulang sendirian di tengah malam." Bisiknya ke telinga Sintia.
Sintia mengerutkan dahinya, lalu sedikit menjauh dari tubuh Jeremy.
"Lalu?" Ia bertanya sambil berpura-pura acuh.
"Aku akan mengantarmu pulang," jawaban yang berhasil membuat Sintia terkekeh pelan.
"Kenapa kau tertawa?" Jeremy menaikan kedua alisnya.
Sintia tidak menjawab, ia menggeserkan tubuh Jeremy yang menghalangi pintu mobil, kemudian membuka pintu mobilnya.
Sintia masuk ke dalam mobil, kemudian menutup pintu mobilnya. Jeremy menghela napas kesal, tak disangka setelah itu Sintia menurunkan kaca mobilnya.
"Ku pikir lain kali," ucap Sintia sambil tersenyum sinis. "Jika kita punya kesempatan bertemu lagi!" Pintu tertutup, diiringi mobil yang melaju perlahan menjauh dari Jeremy.
Jeremy tergelak, ia merasa kagum dan terpesona oleh Sintia.
Namun ketika mengingat sebuah hal, itu membuatnya sedikit kecewa.
"Siapa namanya? Bodoh!" Makinya pada dirinya sendiri.
...****************...
"Nicholas!" Teriak Sintia sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
"Aku harus bicara denganmu, buka pintunya!" Sambil mengetuk pintu kamar saat setelah ia sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Tuan menitipkan kunci kamar ini pada saya untuk anda." Sambil mengulurkan tangan memberikan kunci pada Sintia.
Sintia meraba dadanya, hatinya bergemuruh dan napasnya terasa sesak mendengar semuanya.
"Kemana dia?" Tanyanya dengan suara bergetar.
"Tuan ke Rusia, dia bilang ada sebuah misi besar disana."
Sintia mengepalkan tangannya yang memegang kunci dengan sangat erat, hingga kunci itu melukai tangannya hingga berdarah.
Pelayan yang memberikan kunci undur diri dari hadapan Sintia.
...****************...
"Rey, kau kesini? Lalu bagaimana dengan Sintia?" Jenni melirik ke belakang Rey, takut seseorang berada di belakangnya.
"Jangan khawatir, dia sudah tahu segalanya!" Rey menarik tangan Jenni, kemudian membawanya memasuki kamar.
Di kamar ia mulai menceritakan alasannya datang, dari mulai rencananya menjebak Jeremy dan ayahnya hingga alasan mengapa ia datang kemari.
Jenni tersenyum, ia tak menyangka bahwa Rey sudah membantunya membalaskan dendam meski itu baru tahap awal.
"Rey, lalu siapa anak perempuan yang+"
"Ikut bersama Jeremy untuk menghabisi orang tuamu?" Jenni mengangguk sebagai jawaban.
"Meira dan ayahnya Sintia, sejak dulu mereka telah bekerja sama. Sampai semua pengkhianatan itu terjadi dan membuat tiga kelompok mafia besar bermusuhan."
__ADS_1
Panjang lebar Rey menjelaskan, hingga Jenni yang berada dalam posisi bersandar pada dada bidang Rey nafasnya sudah teratur menandakan bahwa ia sudah tidur.
Rey tersenyum mengetahui itu kemudian memindahkan Jenni ke atas ranjang dan memeluknya hingga ia juga ikut tertidur.
...****************...
"Arrrrggghhhh...." Pagi-pagi sekali Sintia sudah mengamuk, ia melemparkan seluruh barang-barang yang berada di sekitarnya ke arah cermin hingga pecah berserakan.
Setelah semua hancur, Sintia keluar kamar.
"Bereskan kamarku!" Teriak Sintia memberi perintah pada pelayan.
Sementata ia bergegas pergi entah kemana.
Apa aku tidak pantas sampai kau tidak memberiku kesempurnaan sebagai wanita?!
Batinnya menuntut, namun tidak sampai ke mulutnya karena orang yang akan ia tuntut tidak berada di dekatnya saat ini.
Sintia melajukan mobil menuju club yang buka selama 24 jam tersebut, saat masuk matanya menangkap sesuatu yang tidak asing.
"Dia berada disini," gumamnya sambil memperhatikan pria yang sedang melahap buas bibir seorang wanita berpakaian seadanya itu.
Glek
Sintia menelan ludah melihat adegan itu. Sesuatu yang panas mulai menjalar dalam dirinya. Gairah yang sekian lama ia tahan mulai bangkit melihat adegan Jeremy dan wanita itu.
Sintia mencoba meredam rasa panasnya itu kembali, iapun sengaja berjalan menuju Jeremy dengan wajah yang berusaha berekspresi datar.
"Berikan aku satu gelas penuh!" Pinta Sintia.
Berhasil mengalihkan perhatian Jeremy.
Jeremy menghentikan aksinya, kemudian melepaskan wanita itu.
"Pergilah, sesuatu yang mendesak sudah normal kembali!" Kebohongan Jeremy yang biasa ia lakukan pada pasangan panasnya saat melihat yang lebih menarik daripada yang ia bawa saat ini.
Perhatiannya teralih pada Sintia setelah wanita itu pergi.
Jeremy bisa menangkap sesuatu yang aneh pada wajah Sintia, terlihat pikirannya sedang memikirkan sesuatu yang bernama masalah.
"Sedang ada masalah?" Menggeleng, kemudian melirik Jeremy.
Tangan Jeremy meraih tangannya, menggenggamnya. Hati Sintia menghangat. Terlintas dalam benaknya untuk mengatakan yang sebenarnya.
Hingga akhirnya ia membuka suara.
"Seperti apa rasanya menyempurnakan wanita seutuhnya?" Pertanyaan itu membuat kening Jeremy berkerut.
Tapi tidak lama, sampai ia tersenyum hangat pada Sintia.
"Kau penasaran?"
"Sebenarnya aku..."
**Bersambung...
mohon maaf ya kemarin tidk up karena saya sedang berduka atas kepergian kakek saya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻😓😊**
__ADS_1