
Bruk
Darah mengalir dari tubuh dua orang yang berada di sana, salah satunya terduduk lemas sambil meraih tubuh seseorang yang sudah terlihat tak bernyawa lagi.
"Maafkan aku..." Lirihnya dengan nada sedih. Namun tak terlihat penyesalan dari matanya.
"Sekali lagi, maafkan aku..." Ucapnya lagi sambil memberi kode pada para anak buahnya untuk membereskan seluruh bukti.
"Jangan lupa, jangan sampai kabar ini tercium oleh media!" Perintahnya dengan suara lemas.
"Ayo, Rey!" Ajak seorang wanita yang sudah berdiri disana dengan memegangi pistolnya.
Rey berdiri, tapi pandangannya masih mengarah pada wanita yang sudah tak sadarkan diri.
Namun matanya masih terbuka, jarinya bergerak-gerak.
"Tunggu. Dia masih hidup!"
Rey menghampirinya kembali, mendekatinya karena seperti ingin mengatakan sesuatu.
"R-rey..." Terbata-bata, sambil menunjuk wanita yang masih berdiri disana dengan senyuman penuh kemenangan.
"Di-dia, Pe-pengkh-..." Matanya tertutup, ucapannya tak selesai membuat Rey sedikit penasaran.
Lucas yang masih hidup meronta-ronta ingin melepaskan diri dari sandraan Rey.
Dor...
Sebuah tembakan tepat mengenai dadanya, membuat Lucas tak berkutik lagi sama sekali.
Giliranmu, maka semua akan selesai!
Pistol ia arahkan pada Rey yang masih menatap Meira dengan tatapan sedih dan penasaran.
Namun saat Rey berbalik, ia menurunkan lagi pistolnya.
"Walau bagaimanapun kau memiliki jasa besar untukku." Gumam Rey sambil menggendong tubuh Meira membawanya menuju mobil.
"Kenapa tidak biarkan saja dia disana! Ini bukan balas dendam namanya, jika kau mengobatinya!" Wanita itu memperingatkan.
Sementara Rey yang sudah di kuasai kesedihan acuh dengan kata-katanya, ia terus memasukan wanita itu ke dalam mobil.
"Rey!"
"Jenni, walau bagaimanapun dia memiliki peran dan jasa besar dalam hidupku!" Bentak Rey pada Jenni, ya Jenni memang masih hidup setelah kejadian itu ia tidak tiada.
Flashback..
Duaaar...
__ADS_1
Ledakan terjadi pada mobil yang dibawa oleh Jenni, bukan tanpa alasan melainkan karena sejak pergi Jenni sudah mengetahui di dalam mobil itu berisi bom.
Jenni berjalan dengan tertatih menjauhi mobil yang sudah meledak bersama anak buah Rey itu. Naas, Jenni kembali di hadapkan dengan anak buah Meira yang sudah mengepungnya.
Dor...
Sebuah tembakan memperingatkan bahwa Jenni harus tunduk pada mereka dan menyerahkan dirinya.
Namun, Jenni tak menyerah begitu saja. Ia berlari sebisa mungkin meloloskan diri dari mereka.
Dor...
Tiba-tiba sebuah tembakan mengenai kakinya, membuat Jenni terjatuh seketika. Jenni masih tetap berusaha, meskipun keadaannya sudah sangat membuatnya tak mungkin bisa pergi lagi.
"Mau kemana lagi, kau Jennifer? Meira sudah menanti kepalamu untuk dibawa!" Salah satu anak buah yang menjadi kepercayaan Meira menatap Jenni dengan tatapan angkuh.
Jenni sudah terlihat pasrah, ia yakin bahwa hari ini hidupnya akan berakhir.
"Terima ini!" Sebuah suara diiringi suara tembakan saling bersahutan muncul. Jenni tersenyum ketika mengetahui siapa pemilik suara itu.
"Paman!" Dengan cepat pamannya membantu Jenni berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Hingga cukup lama Jenni dirawat oleh pamannya dan tidak memunculkan dirinya di hadapan Rey.
Ketika Jenni muncul kembali, ia merasa senang saat mendengar Rey membelanya mati-matian di hadapan Meira dan Lucas.
Di waktu yang tepat, ketika Meira akan menembak Rey. Jenni sengaja mengikuti dan masuk bagaikan penyelamat Rey.
Jenni tersenyum bahagia ketika ia menembak Meira dan Lucas.
Flashback off
"Bagaimana bisa kau kembali? Sedang waktu itu...-"
"Tidak perlu tahu, aku ingin tunjukan sesuatu padamu!" Jenni menarik tangan Rey menuju sebuah ruangan di rumah Jenni.
Rey dengan perasaan yang masih sedih namun bahagia melihat kehadiran Jenni terus mengikuti langkah kaki Jenni.
"Kau akan membawaku kemana?" Jenni tak menjawab pertanyaan Rey, ia terus menarik tangan Rey menuju ruangan rahasianya.
Rey dengan patuh terus mengikuti hingga kini ia sudah berdiri di dalam sebuah ruangan gelap.
"Ruangan apa ini?" Tanya Rey namun masih tak dijawab oleh Jenni.
Jenni justru melepaskan tangan Rey, karena ruangan tampak gelap membuat Rey tidak bisa melihat apa-apa saat akan mencari Jenni.
Bruk...
Entah kakinya tersandung apa, namun Rey sudah terjatuh membentur lantai.
__ADS_1
Ia meraba-raba area sekitarnya, mencoba mencari tahu apa saja yang menghalangi jalannya.
"Jenni, kau dimana? Jangan bercanda!" Rey terus berteriak memanggil Jenni.
"Kau berada di tempat yang akan membuatmu melihat sesuatu yang sudah aku siapkan untukmu!" Jawaban keluar dari mulut Jenni yang sebenarnya sedang duduk di atas kursi.
Jenni berdiri. Kemudian meraih Rey dan membawanya duduk di atas kursi.
"Lampu aku hidupkan, tapi matamu akan di tutup. Aku punya kejutan besar untukmu!" Jenni tersenyum menyeringai.
Ia menutup mata Rey. Lalu menghidupkan lampu.
"Aku harus mempersiapkan segalanya dalam beberapa hari, nanti malam kau akan dilepaskan tapi tidak boleh keluar dari ruangan ini!" Jenni mengurungkan niatnya menutup mata Rey.
Rey tersenyum ketika melihat wajah Jenni yang sangat ia rindukan. Ketika akan menyentuh wajahnya, Jenni malah menggoda Rey dan membuat jiwa lelakinya bangun.
Jenni sendiri, ia merasa bingung ketika Rey menyentuhnya tubuhnya seolah merespon sendiri dan membuatnya tergerak untuk melayani sentuhan Rey.
"Ayo!" Jenni menarik tangan Rey ke atas ranjang.
Hubungan itu terjadi lagi tanpa Jenni sadari atas dasar apa dia melakukannya dengan Rey.
Pamannya Jenni yang ingin melihat apakah Jenni sudah membawa Rey masuk terkejut saat melihat adegan itu terjadi di sana.
Keterlaluan! Bagaimana bisa dia melakukan ini, bisa-bisa penghancuran Rey tidak akan terjadi!
Paman Jenni ingin melerai keduanya, namun ia merasa jijik jika harus mendekati pasangan yang sedang berolahraga tersebut.
Dibawah tubuh Rey, Jenni mulai memikirkan apa yang ia rasakan saat ini.
Tidak menolak, apalagi melawan, apakah ini artinya?
Jenni, seharusnya dari awal kau tidak melakukan ini!
Jenni kemudian teringat perkataan pamannya, yang mengatakan bahwa pembunuh ibu dan ayahnya memiliki sebuah tanda lahir di bagian punggungnya. Jenni mengingat juga, bahwa pamannya menyebut Rey memiliki tanda itu juga.
Entah apa yang membuat Jenni tergerak, tapi ia ingin melihat punggung Rey.
Dengan cepat Jenni melihat punggung Rey. Mata Jenni membelalak ketika melihat punggung Rey.
"Ini... Apakah aku... Tidak! Ini tidak mungkin!" Jenni berkali-kali menggelengkan kepalanya.
"Ada apa?" Rey yang mendengar Jenni bergumam sendiri kembali bangun.
"Rey, apa..."
Bersambung...
Sepertinya novel ini gak akan banyak-banyak episodenya, biar gak terlalu berbelit-belit seperti ceritaku yang lain jadi terpaksa akan ditamatkan tidak lebih dari 50 episode... Mengingat juga masih ada satu novel yang harus aku lanjutkan.
__ADS_1