Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK 7


__ADS_3

"Kenapa kasar sekali?" Sambil memeluk dari belakang.


"Sudah aku bilang, aku sedang tidak ingin tapi kau terus memaksa." Menjawab dengan diiringi senyum sinis. Membuat wanita yang memeluknya itu merasa ada suatu keanehan.


Baik dalam gerakan dan tekstur tubuh ataupun sesuatu yang tadi ia rasakan terasa sangat berbeda.


"Jangan bilang jika kau-"


"Apa?" Cepat-cepat memotong pembicaraan saat merasa bahwa lawan bicaranya sedang dalam tahap awal curiga.


"Jangan menuduhku seperti itu! Aku tidak suka." Nada bicara Rey mulai meninggi, membuat Meira sedikit terperanjat.


Rey yang sudah muak dengan Meira tanpa bicara lagi langsung bergegas pergi, meninggalkan banyak pertanyaan dalam benak Meira.


Ada apa dengannya?


Diluar cuaca sedang hujan badai, namun tak membuat Rey mengurungkan niatnya untuk pergi ke tempat yang kini sudah ia tempatkan dalam hatinya sebagai tempatnya berkeluh kesah. Jennifer.


"Aku sudah muak, aku tidak bisa berpura-pura lagi." Memulai pembicaraan sambil membuka satu-persatu pakaiannya yang basah.


Jenni yang sejak tadi sudah masuk ke alam lainnya dengan langkah gontai mengikuti pria itu yang berjalan kesana-kemari ke setiap arah.


"Aku pikir akan mudah, tapi aku tidak bisa berpura-pura."


Itu tahap satu dari jalanku,


tahap selanjutnya akan lebih membuatmu gundah daripada itu.


"Jenni, kau mendengar kan?" Sambil melirik Jenni, kemudian menarik tangannya dan membawanya duduk di pinggir ranjang.


"Lalu apa rencanamu berikutnya?"


Rencanaku adalah menyiksamu dengan cintaku secara perlahan.


Rey terdiam, memikirkan apa yang harus ia lakukan ke depannya.


"Sampai dimana kau belajar menembak? Apakah sudah bisa menembak dari jauh? Dari persembunyian?" Pertanyaan yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Jenni.


Jenni bukan tidak bisa, hanya saja masih belum siap jika harus balas dendam dengan cara serang-menyerang.


"Sekarang bagaimana jika tembak menembak lain senjata?" Sebuah senyuman penuh hasrat terukir di bibir Rey, ia juga pria dewasa normal yang ketika mendengar suara asing Meira tadi langsung aktif aset pribadinya.


Jenni yang mengerti langsung memulai lebih dulu, baginya ini adalah caranya yang akan mengundang rasa cinta yang semakin besar dari dalam diri Rey.


Namun Jenni sendiri juga tidak sadar, bahwa bisa saja ia juga jatuh cinta pada Rey dengan cara seperti itu.


"Aku mencintaimu, Jennifer


Aku mencintaimu!!!" Sahut-sahut suara itu terdengar di tengah-tengah aktivitas dua insan tersebut.


Yang lainnya tidak menjawab, hanya tersenyum sinis dengan mulut yang mengeluarkan suara seperti yang Meira keluarkan tadi.

__ADS_1


Rey dengan sengaja menanam benih keturunannya, dengan tujuan dalam hati Jenni akan memberikan sesuatu yang bisa mengikat keduanya selamanya.


Jujur saja, Rey benar-benar jatuh cinta pada Jenni.


Jenni terkejut Rey bertindak seperti itu. matanya mulai basah dan mengeluarkan butiran bening yang membasahi. pipinya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku ingin mempunyai anak."


"Aku tidak bisa mengandung anakmu saat ini sebelum tujuanku tercapai!" Jenni berontak, bangkit dan melepaskan tubuhnya yang masih menyatu dengan tubuh Rey.


Rey begitu tersinggung dengan ucapan Jenni.


"Balas dendam? Aku yang akan melakukannya!" Tegas Rey sambil ikut bangkit juga dan menarik Jenni hingga jatuh kembali ke atas ranjang yang baru saja di pakai untuk penyatuan mereka.


"Tidak! Aku akan membalaskannya sendiri!"


"Lalu bagaimana caramu mencegah ini? Semua sudah terjadi!" Jenni terdiam, kemudian meraba perutnya.


Tidak! Aku harus melakukan sesuatu!


Dengan cepat, Jenni melangkah memasuki kamar mandi. Tapi Rey kembali mencegahnya dan menariknya ke tas ranjang.


"Kita belum selesai, Jenni!" Memulai kembali semua dari awal, membuat suara-suara itu terulang kembali dari mulut Jenni.


Hingga akhirnya Rey ambruk dengan posisi masih menyatu, begitu juga Jenni yang sudah sangat lelah.


Pagi hari menjelang siang, Jenni dan Rey sudah berada di lapangan dengan anak-anak buah pasukan geng mafia yang juga sudah berkumpul.


"Sudah terlalu lama kita diam, hari ini kita harus membalas secara halus. Kita mulai dari perusahaan mereka. Hancurkan dengan cara yang tidak bisa mereka ketahui!" Tegas Rey memerintah pasukan mafianya yang berjumlah hanya seperempat dari seratus persen pasukan mafia keluarga Meira.


Di belakangnya Jenni menatap sinis, ia sudah mempersiapkan rencananya sendiri.


Di tangannya sudah tergenggam sebuah kertas, berisi data-data Rey serta keluarga Meira.


Setelah pembubaran, Jenni langsung menghampiri Rey yang masih berdiri di lapangan.


Namun alih-alih bicara, Jenni sangat terkejut saat Rey berbalik sambil menodongkan senjata padanya.


"A-apa ini?" Jenni tergugup, dengan tangan gemetar.


Tiba-tiba terdengar gelak tawa dari Rey yang membuat Jennu semakin ketakutan. Tawa yang begitu menyeramkan, membuat siapapun yang mendengarnya langsung merinding.


"Jadi mafia harus siap dengan posisi seperti ini, berlatihlah! Dan pikirkan cara yang harus dilakukan saat sudah dalam posisi yang kau alami baru saja!" Masih dengan menodongkan pistolnya pada Jenni.


Sementara Jenni mulai mengacak-acak pikirannya, ia masih bingung dengan apa saja yang harus dilakukannya selain memberikan tubuhnya pada Rey agar cintanya semakin menggebu-gebu.


Pikirkan Jenni, jangan hanya bisa menyerahkan tubuhmu!


Kau harus pikirkan juga rencana lainnya dan cara yang menguntungkanmu!

__ADS_1


Ia memejamkan matanya, tak diduga ilmu yang telah diberikan pamannya mulai berguna juga. Jenni menarik tangan Rey ke belakang dengan gerakan cepat, kemudian menjatuhkan pistol yang di pegang Rey.


"Sekarang apa aku sudah bisa kau percayai?" Dengan nada bangga, sambil tersenyum bangga juga.


Justru hal itu menimbulkan pertanyaan curiga dalam benak Rey.


"Bagaimana bisa kau mengetahui gerakan-gerakan melindungi diri tanpa aku beritahu?"


Jenni terdiam, ia memaki dirinya sendiri yang malah membuat Rey curiga.


"Emm... Ya, aku hanya mencoba saja." Dengan nada gugup, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.


Ah tidak, tatapan mata!


Pandang dia Jennifer!


Jenni menatap mata Rey, terus menatapnya hingga Rey sendiri yang membuang pandangannya ke arah lain.


Wanita ini, aku harus berhati-hati juga padanya.


"Ya sudah, ayo kita masuk!" Menarik tangan Jenni yang enggan mengikuti kemana Rey menariknya.


"Aku harus keluar sebentar, aku ingin mengambil sesuatu di rumahku."


"Tidak bisa nanti?" Masih mencekal tangan Jenni. Jenni menggeleng cepat.


Rey melepaskan cekalannya, kemudian mengibaskan tangannya pertanda Jenni boleh pergi.


"Tunggu," drama masih berlanjut.


"Mereka ikut!" Jenni melirik arah yang ditunjuk Rey, terlihat dua orang bertubuh kekar sudah siap.


Apa?! Tidak, mereka tidak akan melepaskanku!


Lalu bagaimana bisa akau menjalankan rencanaku?


Jenni melihat tangannya sendiri yang memegang beberapa lembar kertas, ia mulai gugup.


Entah bagaimana caranya dia nanti akan melakukan rencananya jika dua orang raja simpanse itu ikut?


"Apa tidak bisa aku sendiri?"


"Apa kau berusaha lepas dariku?" Jawaban yang dijawab dengan pertanyaan, membuat Jenni mulai mati kutu.


"Bukan begitu, aku...-"


"Apa itu?" Meraih kertas di tangan Jenni.


"Ini...-"


"Untuk apa semua ini apa kau..-!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2