Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK-41 Serangan (II)


__ADS_3

"Cobalah pahami Davin, Rey!" Jenni menurunkan pistolnya, melangkah ke dekat Rey dengan langkah pelan.


"Dia hanya ingin adiknya yang seperti dulu. Lepaskanlah kekuasaan, semua tidak ada artinya di bandingkan keluarga."


Jenni terus menasehati Rey, ia kini sudah berada di samping Rey dengan senjata yang masih diturunkan.


Rey terlihat diam. Mendengarkan seluruh nasehat yang diucapkan dengan tutur kata halus dan lembut, berusaha menyelami hati dan perasaan Rey.


"Kau bilang, hanya cahaya yang bisa menarik kita dari kegelapan. Hari ini, aku sebagai cahaya itu, ingin menarikmu dari kegelapan yang telah membuat hatimu menjadi hitam."


Rey masih diam, tertegun dengan kata-kata Jenni yang sama dengan yang ia ucapkan pada Jenni tempo hari.


"Kebencian tidak akan bisa menghilangkan kebencian, hanya cinta yang bisa."


Kini bukan Rey yang terdiam dengan wajah berpikir dan berusaha mencerna kata-kata Jenni. Davinlah yang terdiam, menatap Jenni dengan raut wajah pasrah dan kecewa.


"Cinta Jenni sangat besar untukmu, tidakkah kau bisa melihatnya dari sorot matanya saja?" Davin menurunkan pistolnya, menghampiri Rey yang masih diam membisu.


Hening menerpa, semua telah menurunkan senjatanya melihat diamnya Rey dan Davin.


Hanya ada bunyi jarum jam yang berdentang.


Rey menunduk, memejamkan matanya. Tanpa di duga, ia mendekati Jenni meraih tangannya. Akan tetapi, bukan tangannya yang di tarik oleh Rey melainkan pistol yang berada di tangan Jenni.


"Jennifer!" Davin berteriak keras, menodongkan pistol ke kepala Rey. Jenni sendiri juga menjadi sandera Rey, ketika pistol di todongkan ke kepala Jenni.


"Satu tembakan, itu artinya kau akan membuat nyawanya melayang!"


Sebuah ancaman yang biasa di hadapi Davin, namun tidak dengan Jenni. Ia merasa ketakutan berada dalam genggaman Rey.


"Jangan berikan kekuasaan itu padanya! Biarkan aku mati saja!"


Davin tidak mengindahkan ucapan Jenni, ia meraih gulungan kertas dari dalam saku jasnya dan melemparnya pada Rey.


"Ambilah, nikmatilah kekuasaanmu itu! Semoga kau tidak terkejut dengan kekuasaan besar itu."


"Davin!" Jenni berteriak sekeras mungkin.


"Apa yang kau lakukan?! Kita sudah berusaha dan bersusah payah untuk itu!" Jenni menatap Davin tak percaya.


Sementara Rey sudah tertawa puas penuh kemenangan.


"Wah, wah, wah!" Sahutnya berusaha menghentikan tawanya.


Rey membuka gulungan kertas itu, membukanya secara perlahan dan membelalakan matanya ketika kertas itu terbuka dengan sempurna. Matanya nyaris membulat sempurna membacanya.


"D-De-Deva?!" Ucap Rey tergagap.


Tuan Deva kini maju, dengan senjata di tangannya dan mengarahkannya ke kepala Rey.


Jenni menjauh atas tarikan tangan Davin yang menjauhkannya perlahan dari dekat Rey.


"Ya, bukan Tuan Adrian pemilik kekuasaan dari para mafia itu. Tapi aku!"


Jenni mengerutkan dahinya, kemudian melirik Davin yang sudah terlihat santai dan tenang.

__ADS_1


"Apa maksud dari pemilik kekuasaan tuan Deva? Bukankah kita melihatnya sendiri bahwa-"


"Disana tertulis nama ayahmu?"


Flashback


Sehari setelah Rey menawannya dan menempatkannya bersama ayah dan ibunya Jenni, Davin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan membuat anak buahnya yang berjaga menjadi seolah-seolah dirinya.


Davin pergi keluar lewat jalan pintas penjara milik Rey yang ia ketahui. Tujuannya adalah menuju pohon harapan, semua untuk rencana yang akan ia lakukan bersama tuan Deva tanpa di ketahui siapapun terutama Jenni.


Davin sudah sampai di bawah pohon harapan. Dengan segera Davin menggali tanah dan mengambil gulungan kertas itu.


Setelah mendapatkannya, ia bergegas menuju markas besar tim agen rahasia menemui tuan Deva yang telah menunggu.


"Maaf aku terlambat, Tuan!"


Tuan Deva mengangguk, kemudian meraih gulungan kertas di tangan Davin.


"Aku harap, anda tidak akan seperti Rey yang hanya ingin menyalahgunakan kekuasaan besar ini." Ucap Rey dengan memohon.


Tuan Deva bangun dari duduknya, mendekati Rey dan menepuk bahunya pelan. Tatapan matanya membuat Rey sangat percaya dengan prinsip tuan Deva yang dikenal tidak pernah semena-mena dalam hal kekuasaan.


"Pergilah, selebihnya aku akan mengaturnya!"


Flashback off


Jenni melirik Davin sambil tersenyum. Kemudian memperhatikan lagi tuan Deva yang masih menyerang Rey.


"Polisi!" Farah berteriak, membuat perhatian semua orang teralihkan.


"Kalian semua cari Farah dan Rey!"


Berjam-jam Rey dan Jenni mencari. hingga kini keduanya sampai di depan hutan yang di tengah hutan tersebut terdapat pohon harapan.


Napas Jenni tersengal-sengal karena lelah, hal itu membuat Davin cukup khawatir.


"Tunggu saja disini, aku saja yang akan masuk ke dalam hutan mencarinya."


Jenni menggeleng, meski lelah ia tak akan menyerah untuk menemukan Rey. Tujuannya hanya satu, yaitu membawa kembali Rey sebagai adiknya Davin dan suaminya.


"Aku akan membawa kembali suamiku."


Deg


Jantung Davin berdebar kencang, ketika merasakan sakit yang tidak berdarah. Bahkan, seperti ada jarum yang menusuknya dengan sangat keras.


Sepertinya aku memang tidak punya harapan bersamamu.


Senyuman sendu terulas di bibir Davin.


Jenni merasa bersalah atas ucapannya, membuat suasana menjadi canggung dan tidak enak hati pada Davin.


"Dav-" Belum sempat memanggil, Davin sudah masuk ke dalam hutan.


Jenni dengan cepat mengikutinya, meski ragu namun Jenni tetap ikut masuk ke dalam hutan gelap tersebut.

__ADS_1


Sepanjang langkah Jenni dan Davin tak saling bicara, membuat hutan yang gelap dan sepi tersebut bertambah sepi.


Di tengah-tengah hutan, di bawah pohon harapan kini mereka telah sampai disana. Sebuah fakta mengejutkan langsung membuat Davin tercengang. Begitu juga dengan Jenni, yang sudah menganggap bahwa semua telah berubah.


Davin menghampiri pohon itu, meraih tubuh seorang pria gagah yang tampak lemah karena tubuhnya sudah dipenuhi darah.


"Re-"


Blush...


Mata Davin membelalak, Jenni ikut membelalak. Tak menyangka akan terjadi hal seperti itu, tak menyangka bahwa adegan itu akan terjadi di hadapannya.


Rey melepaskan pelukan Davin, mendorong tubuh Davin hingga terjungkal ke tanah dengan posisi telentang. Memperlihatkan sebuah pisau tajam yang sudah tertancap di tubuh Davin.


"Mendekatlah! Kau akan menyusulnya!"


Jenni kini merasa sangat terkhianati, dengan penuh keberanian ia mendekati Rey. Mengeluarkan senjatanya dan berkali-kali menembaki Rey.


Rey yang cerdik dan kuat tidak merasa takut menghadapi serangan Jenni. Ia terus menghindar, hingga peluru Jenni sudah habis.


Jenni terdiam kebingungan, ia melirik Davin yang masih sadar dengan mata yang sudah basah mengeluarkan air mata. Tangannya meronta-ronta pada Jenni.


Rey tersenyum sinis, kemudian menunjuk Davin.


"Jangan pernah berusaha menghentikanku, ini yang akan kau dapatkan, Kak!"


"Je-... Jenni!" Tangannya meraih tangan Jenni menggenggamkan pistol miliknya.


Kali ini Jenni mengangguk, ia mulai bersiasat.


Perlahan, Jenni berdiri. Kemudian berjalan mundur mendekati Rey. Setelah 3 langkah lagi menuju Rey, Jenni berhenti. Ia memutar tubuhnya menghadap Rey.


Dilihatnya Rey sudah menodongkan pistol padanya. Jenni ikut mengangkat senjatanya, mengarahkannya pada Rey.


"Berani? Ayo! Kita lihat, sampai dimana kau akan bisa menghindar dan menembak!"


Dor


Tembakan pertama Rey yang tidak Jenni duga berhasil melukai tangan Jenni membuat pistolnya terjatuh dan meringis kesakitan.


Rey akan memulai tembakan kedua. Davin yang masih bernapas dengan sisa kekuatannya berusaha memperingatkan Jenni dan memberitahunya.


Namun, ia mulai melemah sehingga Jenni tidak bisa mengerti di tengah-tengah kesakitannya.


"Terima ini!"


*Dor


"Jennifer*!!!..."


Bersambung...


Tertembak gak ya? Hmm....


Masih rahasia endingnya, tapi author tidak akan membuat sad ending kok 😁

__ADS_1


__ADS_2