Istri Simpanan Sang Mafia Kejam

Istri Simpanan Sang Mafia Kejam
ISSMK-33 Penolakan


__ADS_3

Rey melihat Jenni tertidur di atas kursi dengan kepala beralaskan meja, sempat ia curiga mengapa Jenni berada di ruangan pribadinya. Akan tetapi hilang saat perhatiannya tertarik pada gadis yang sedang tertidur pulas itu.


"Jenni." Rey menepuk bahu Jenni pelan.


Jenni mengedip-ngedipkan matanya, kemudian membuat dirinya seolah memang benar-benar tertidur.


"Bagaimana bisa kau tertidur disini?" Jenni terdiam, tidak menjawab.


Ia menerawangkan matanya ke setiap celah ruangan itu, seperti mencari sesuatu yang ia lupakan.


"Aku terkunci disini." Jawabnya tanpa membuat curiga sedikitpun.


Namun kegagalan berbohong terlihat sangat jelas, ketika kunci pintu tergantung di knop pintu. Jenni menggertakan giginya.


Aku harus mengambilnya saat keluar nanti agar dia tidak tahu ini.


Jenni langsung berdiri, kemudian meraih tangan Rey.


"Syukurlah kau pulang, tadinya aku sempat berpikir akan terkunci disini semalaman!"


Rey menatap Jenni dengan tatapan bingung, rasa curiga yang tadinya tidak ada kini telah tumbuh saat melihat gelagat aneh dari Jenni.


"Ah, sudahlah! Ayo kita keluar! Disini mengerikan!" Seru Jenni sambil menarik Rey keluar.


Saat melewati pintu, tangannya meraih kunci dan memasukannya ke dalam tempat sampah di luar ruangan itu dengan segera.


Kini, Jenni sampai di kamar Rey. Ia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Begitu juga dengan Rey, yang merebahkan tubuhnya dengan dicondongkan ke samping menghadap Jenni.


Naluri lelakinya seketika bekerja, saat melihat leher jenjang milik Jenni yang sangat mulus. Rey terkejut dengan dirinya sendiri.


Bukankah tadi aku sudah puas dengan Meira? Kenapa saat melihatnya aku ingin lagi?


Perlahan tapi pasti, tangan Rey meraba leher Jenni. Jenni tidak menolak ataupun membalas, ia membiarkannya begitu saja dengan mata terpejam.


Ini jadi menjijikan, tapi demi semuanya aku harus melakukan ini agar dia tidak curiga.


Tangannya mengepal, ingin berontak. Tapi hatinya mengatakan lain. Masih ada cinta, namun ambisi lebih besar agar dendamnya terbalaskan dan orang tuanya bebas.


Tangan Rey sudah mulai bergerak turun, menerebos melalui celah kancing-kancing kemeja Jenni.


Deg


Jenni baru mengingat sesuatu dalam pakaiannya. Tepat saat itu, Rey sudah meraba bagian yang terdapat kertas yang Jenni masukan ke dalam pakaiannya.


Ia menepis lengan Rey, kemudian menegakkan duduknya.

__ADS_1


Rey sama terkejutnya, saat merasakan ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Seperti merasakan tekstur kertas.


"Jenni-"


"Tidak, tidurlah! Aku sangat lelah!" Ucap Jenni datar.


Jantungnya berpacu lebih cepat, bukan karena sentuhan Rey. Akan tetapi karena Jenni takut Rey semakin mencurigainya dan menemukan berkas itu ada padanya.


Hingga akhirnya, tidak ada kegiatan apapun yang terjadi selain tidur. Jenni menghela napas lega, meski telah larut sangat malam ia bergegas masuk kamar mandi.


Jenni berpura-pura mandi, padahal ia hanya ingin melepaskan pakaiannya dan menyembunyikan kertas yang akan menghukum Rey dan segala kejahatannya tersebut.


Keberadaan itu tak berlangsung lama saat Jenni mendengar suara langkah kaki dan disambung dengan ketukan pintu.


"Jangan terlalu lama di kamar mandi, Jen! Udaranya sangat dingin, kau bisa masuk angin!" Rey berseru dari luar.


Jenni hanya menatap sinis ke arah pintu.


Pura-pura peduli, dasar tidak tahu diri!


Ketika sudah selesau dengan tugas menyembunyikan berkas itu, Jenni keluar dari kamar mandi dengan langkah cepat.


Kini giliran Rey yang masuk kamar mandi. Bukan dengan tujuan untuk mandi, melainkan mencari tahu apa yang Jenni lakukan di dalam kamar mandi.


1 detik, 2 detik, hingga bermenit-menit Rey masih belum menemukan apapun. Iapun keluar dari kamar mandi dengan wajah kecewa.


Rey menatap kemanapun Jenni pergi, hingga dahinya mengerut melihat sikap Jenni yang berubah seperti itu.


"Apa yang kau lakukan?"


Jenni tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas lalu tersenyum samar pada Rey. Kemudian Jenni mematikan lampu dan menidurkan dirinya.


Hingga pagi menyapa kembal, Rey tidak menutup matanya sedikitpun sejak semalam. Benaknya terus dipenuhi pertanyaan dengan sikap berbeda Jenni.


*Kenapa aku mesti memikirkan sikapnya? Bukankah seharusnya aku senang jika dia begini?


Tidak, dia tidak boleh bersikap begini!


Walau bagaimanapun dia harus takluk padaku dan mengikuti setiap kata-kataku. Sampai tiba saatnya nanti aku akan menjadikan dua manusia tua menyebalkan itu sebagai ancaman*!


Ia menyibakan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, kemudian mendekati Jenni yang masih terlelap.


Cih, kenapa aku begitu mengaguminya sekarang?


Ia berdiri kembali, bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa sentuhan Meira yang semalam ia dapatkan.

__ADS_1


Sementara Jenni membuka matanya, ia membersihkan diri di kamar mandi lain. Sementara, Jenni merasa ada yang ia lupakan di dalam kamar mandi Rey.


Ya, ia melupakan berkasnya yang semalam Jenni letakan di dalam pakaian kotor dalam keranjang.


Setelah melihat Rey keluar dari kamar mandi, Jenni langsung masuk ke kamar mandi tanpa melirik Rey yang semakin merasa curiga.


Berhasil menemukannya, Jenni langsung pergi tanpa pamit.


Rey yang merasa kesal karena diabaikan langsung mengikuti Jenni.


Namun tak berselang lama, Meira yang baru saja datang secara diam-diam menahannya.


"Jangan, biarkan dia membuka kesalahannya sendiri di depanmu!" Usul Meira.


Rey mengepalkan tangannya dengan sangat keras, kemudian melepaskan kepalannya menyadari jika saat ini ia merasa harus bertindak.


"Ikuti dia!" Perintahnya pada para anak buahnya.


...****************...


Di markas tim agen rahasia.


"Ambilah, aku minta kita secepatnya harus bertindak kembali sebelum Rey menemukan jejak kita." Jenni memberikan dua lipatan kertas pada Davin.


Davin menatap kertas itu, kemudian mengambilnya.


"Jenni, ini tugas yang cukup besar untukku. Percayalah, kita akan melakukan sesuatu yang tepat saat Rey menemukan rencanamu."


Hening menerpa keduanya dalam rasa kekhawatiran.


Namun tak berselang lama saat Davin memberikan ponselnya pada Jenni dan menunjukan sesuatu.


"Ini-"


"Mereka sudah aman, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat baru kita bisa membebaskannya sepenuhnya." Ucap Davin sambil meletakan ponselnya diatas meja.


"Dengarkan aku baik-baik, Jennifer!" Tegas Davin.


"Kita akan bertukar ponsel selama beberapa hari, kau akan memakai ponselku. Ponselmu akan aku gunakan untuk mempermainkan Rey sementara. Ingat, jangan pernah menunjukan ponsel ini pada Rey.


Besok aku akan memberimu ponsel yang sama dengan milikmu, agar saat kau memakai ponselmu tidak akan membuatnya curiga. Dan satu lagi, pasang aplikasi seperti ini dalam ponsel Rey." Davin menunjukan logo aplikasi itu.


Jenni mengangguk mengerti, sesaat tugas itu bisa ia pandang mudah. Akan tetapi akan sangat sulit karena Rey tidak pernah membiarkan ponselnya tergeletak di sembarang tempat.


"Huh!" Jenni mendesah, tugas ini terpaksa ia lakukan demi kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Meira aku akan memancingnya dan menyanderanya. Jadi, berusahalah dengan baik!"


Bersambung...


__ADS_2