
Rey tersenyum kecut melihat foto-foto dari Meira.
"Lalu apa ini?" Mengeluarkan ponsel dan menunjukan foto-foto Meira bersama Dave.
Meira membelalakan matanya, sedangkan Rey hanya memasang wajah datar. Ia sudah tak terkejut lagi dengan foto mesranya bersama Jenni.
"Aku salah, aku tidak akan mengulanginya lagi tapi tolong kau hentikan dan buang Silva jauh-jauh! Aku tak bisa melihatmu bersama orang lain!" Sambil meraih tangan Rey dan menggenggamnya.
Rey tersenyum samar, sudah tak percaya dengan kata-kata Meira. Tapi Rey ingat, bahwa ia harus berpura-pura. Untuk Jenni, ah ia akan memikirkannya nanti.
"Baik, pergilah sekarang!" Mengibas-ibaskan tangannya. Meira tersenyum, kemudian mengecup pipi Rey sekilas sebelum bergegas pergi.
Di lapangan ia melihat Jenni sedang dengan bersungguh-sungguh menembaki satu persatu orang yang tidak lain adalah tahanannya.
Meira segera menghampiri Jenni, ia memposisikan dirinya tepat di depan pistol yang Jenni pegang.
"Nona, anda disini?"
Meira tak menjawab, ia mengambil alih pistol di tangan Jenni. Dan tanpa Jenni duga, menodongkannya pada Jenni.
"Nona, apa yang akan kau lakukan?" Memindahkan pistol itu menodong bagian tangan Jenni.
Dor...
"Apa yang kau lakukan?!" Rey melesetkan tembakan itu, akan tetapi masih mengenai Jenni dan membuat darah mengalir di tangan Jenni.
"Kenapa kau melindunginya? Apa karena kau sudah merasakannya jadi kau mulai kecanduan padanya?!" Berteriak sambil menunjuk Jenni.
Jenni menutupi tangannya yang berdarah, kemudian Rey menarik tangan Meira memasukannya ke dalam mobil.
"Pergilah, aku akan menemuimu di rumah!" Menutup pintu mobil kemudian memberi isyarat pada supir untuk membawa Meira pulang.
Rey beralih kembali pada Jenni, menghampirinya dan membawanya masuk ke dalam kamar yang ada di sana.
"Apa rasanya sakit sekali?"
"Tidak lebih sakit daripada saat orang tuaku tiada dan aku hampir mati juga." Gerakan tangan Rey terhenti, sebuah bayangan mulai muncul dalam kepalanya.
Saat ia menembak seorang gadis kecil yang di panggil Jen.
Apakah Jen itu adalah Jennifer?
Tidak! Buktinya...
Tidak ada tanda apapun di dadanya, tidak ada bekas tembakan!
"Kau memikirkan sesuatu?" Menyentuh dagunya dan menatap manik mata Rey.
Haha, aku tau kau ingat itu bukan? Kau mencari tanda itu? Tidak semudah itu! Kau ternyata tidak sangat pintar!
Jenni menatap Rey yang masih tidak bergerak.
"Ku pikir kau anak yang dulu aku habisi. Tapi aku salah, mana mungkin dia masih hidup bukan?"
Kau salah, dia masih hidup.
Jenni kembali menatap Rey, sangat jelas di mata Rey bahwa ia sedang mengingat perbuatannya di masa lalu.
"Jangankan pelurumu, bahkan tatapan mu bisa membunuh seseorang juga!" Ucap Jenni.
__ADS_1
Rey kembali mengobati tangan Jenni, ia merasa ada yang aneh ketika melihat tangan Jenni.
"Kenapa?"
Rey menggeleng sambil menekankan kapas yang sudah ditetesi alkohol ke tangan Jenni, membuat Jenni berteriak kesakitan.
"Si*lan!" Maki Jenni membuat Rey tergelak.
"Seorang mafia harus kuat, ini masih belum seberapa di banding luka-luka yang aku dapat dalam keberanianku!" Dengan nada mengejek.
Jenni mengalihkan pandangannya, ia memejamkan mata saat kembali merasakan sakit. Membayangkan Rey yang akan menerima semua ini nanti.
Kau akan merasakan lebih dari ini, sampai tidak ingin hidup lagi! Aku jamin itu!
"Memikirkanku?" Jenni menggeleng.
"Apa kau bisa mati?" Tiba-tiba pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Jenni, membuat Rey kembali berhenti dalam gerakannya.
"Apa kau bisa mati?" Mengulangi pertanyaan yang sama dengan nada yang sama.
"Jika tidak, kenapa? Jika ya, kenapa?"
"Ku pikir kau sangat kebal sampai tidak pernah mati dalam setiap peperanganmu bersama pasukan mafiamu." Rey tersenyum bangga, meskipun terlihat di tatapan mata Jenni sedang membayangkan kematiannya.
Tak sepatah katapun terucap lagi dari mulut Rey dan Jenni, hingga tangan Jenni sudah selesai diobati.
"Kau belum jawab pertanyaanku." Menghentikan langkah kaki Rey yang sudah akan melangkah keluar ruangan.
Rey terdiam, menghela napas dengan kasar.
"Suatu saat kau akan melihat kematianku, jika itu mungkin." Melangkah lagi, tak memedulikan raut wajah kebingungan Jenni.
Jenni menatap punggung pria yang telah menjadikannya simpanan itu dengan tatapan benci.
Lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang aku terima.
"Arrrggghhhh...!!!" Jenni memukul kaca, berteriak-teriak dengan sangat lantang.
Mengundang kembalinya pria yang Jenni incar.
"Kenapa?" Tak mendapat jawaban, hanya tatapan marah dari wanita yang telah merebut baru sebagian rasa cinta di hatinya itu.
"Jangan lakukan apapun lagi, jangan banyak bergerak! Atau tanganmu akan terluka lebih parah lagi!"
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rey.
"Ini belum seberapa!" Ucap Jenni dengan menunjuk wajah Rey. Lalu masuk kedalam kamar dan menguncinya begitu saja.
Rey masih berdiri disana dengan rasa kebingungan.
Belum seberapa untuk apa?
"Jenni!" Sambil mengetuk pintu. Tak mendapat respon dia berusaha membukanya.
"Buka pintunya!" Sudah dalam posisi bersiap mendobrak.
"Biarkan aku sendiri, atau tamparan itu akan terjadi lagi padamu!"
__ADS_1
Di dalam ruangan nampak sunyi, sebenarnya Jenni bingung dengan dirinya sendiri.
Sudah lama ia menunggu waktu-waktu dimana kapan saja ia bisa membalaskan seluruh dendam dan rasa sakitnya. Akan tetapi kenapa setelah dekat ia tak bisa berkutik?
Apakah aku sudah berubah rasa?
Tidak, itu tidak boleh terjadi!
Jenni kembali berusaha menanamkan rasa benci sebesar-besarnya. Berpegang teguh bahwa tidak boleh ada cinta, hanya ada kebencian dan dendam.
Ia berdiri, melihat dirinya sendiri dalam cermin lemari yang sangat besar.
"Lihat ini Jennifer! Lihat!" Melepaskan pakaiannya dan memperlihatkan bekas luka yang besar.
"Kau harus ingat ini setiap kali melihat wajahnya! Pamanmu berusaha mempertemukanmu dengannya, jangan buat usahanya sia-sia! Lakukan apa yang sejak awal jadi tujuanmu! Kau adalah musuhnya dan dia musuhmu!" Berucap pada dirinya sendiri.
Jenni memakai pakaiannya lagi, ia kemudian membuka pintu dan melihat Rey masih dalam posisi berdiri menghadap pintu.
"Masuk kembali!" Jenni berbalik, masuk kembali. Rey ikut masuk dan mengunci pintunya.
"Temuilah Meira, bukankah kau mengajaknya bicara?"
"Ya." Membuka kunci dan langsung pergi begitu saja setelah pintu terbuka.
...****************...
Suasana dalam rumah nampak hening. Dengan seorang wanita yang menarik tangan seorang pria masuk ke dalam kamar.
"Jangan memaksa, aku sedang tidak ingin!" Menepis tangan Meira yang sudah sudah meraba-taba titik paling sensitifnya.
Namun ia tak berhenti begitu saja, sentuhan yang sudah lama ia rindukan tak boleh diberikan pada orang lain. Terutama Silva yang sebenarnya adalah Jenni.
"Apa aku tidak berarti lagi? Apa aku tidak menggoda lagi? Apa kau tidak menginginkan aku lagi?" Mencerca dengan pertanyaan yang tentu saja diiyakan oleh Rey dalam hatinya.
Kau menjijikan, terlalu banyak pria yang menyentuhmu! Aku tidak suka barang bekas!
"Aku hanya sedang tidak ingin. Mengenai malam itu, aku hanya ingin melihat seberapa besar cintamu
padaku." Kebohongan seorang Rey yang kesekian kalinya.
Mata Meira berbinar.
"Tentu saja aku sangat mencintaimu. Tapi kau sangat dingin, sampai... Aku melakukan kesalahan itu!"
Berkali-kali, itu bukan kesalahan!
"Matikan lampunya!" Mata Meira kembali berbinar. "Bersiaplah!" Menunjuk ranjang berukuran besar dengan sprei berwarna putih.
Meira melakukan semua itu, tanpa menyadari raut wajah Rey yang tampak jijik padanya.
Setelah lampu mati, Rey keluar kamar. Memanggil seseorang yang sudah tadi disiapkannya di luar kamar bahkan dari tempat latihan.
"Bantu aku, jangan pernah katakan apapun atau tukar dengan nyawamu!" Rey keluar, sementara dia masuk kedalam kamar.
Tak lama, terdengar suara-suara yang asing dari dalam kamar itu. Suara Meira yang hanya bisa di dengar setiap kali dibuat melayang.
Hampir lama, Rey segera bersandiwara seolah-olah dia kelelahan.
"Sayang aku..."
__ADS_1
Bersambung...
Telat up hehe, maafin ya. Hari minggu aku libur tapi... aku juga harus mengurus kisah cintaku di kehidupan nyata. 🤣🤣🤣