
Jenni mengusap wajahnya kasar, kali ini ia harus sepenuh hati dalam hal tembak-menembak. Terutama dalam perubahan rencana mendadak yang dibuat Tuan Deva.
Kini, ia harus siap saat Rey memberi pergerakan. Siap dalam hal pembalasan, siap juga melepaskan perasaan cinta dan menguatkan rasa kebenciannya.
"Kau siap, Jen?" Davin menggenggam tangan Jenni.
Dalam hati, diam-diam Davin membuat sebuah harapan pada Jenni. Berharap cintanya terbalas, cinta yang selama sejak pertama kali di pertemukan dengan Jenni sudah membuatnya memendamnya.
Jenni menarik napas panjang, kemudian mengangguk sekilas. Membuat kepercayaan diri Davin sedikit goyah.
Tidak! Jangan sekarang, mungkin dia sedang tegang.
Davin menarik tangan Jenni memasuki lapangan markas besar tim agen rahasia. Berdiri di belakang tuan Deva yang sedang melihat senjata-senjata yang berhasil di curi olehnya dari gudang senjata milik Rey.
"Pilih senjata kalian!"
Ucapan yang berisi perintah itu ditujukan untuk Rey dan Jenni. Keduanya mengangguk, kemudian memilih senjata masing-masing.
"Apa kalian sudah mengerti posisi kalian di pertemuan itu? Terutama Jennifer, aku harap kau tidak mengambil keputusan secara gegabah tanpa meminta persetujuanku."
Tuan Deva membalikan tubuhnya, memperlihatkan raut wajahnya yang sangat serius.
"Davin, aku harap kau jangan keluar sebelum puncak rencana siap. Ini, peganglah ini agar nanti kau tahu kapan harus keluar dan melakukan penyerangan. Jangan lupa!" Sambil memberikan sebuah alat untuk di tempelkan ke telinga.
...****************...
Semua sudah dalam posisi masing-masing, Jenni sudah berjalan bersama Rey untuk diperkenalkan oleh Rey.
Jenni duduk diantara tuan Deva dan Rey, hal itu dilakukan untuk memudahkan tuan Deva memberi instruksi pada Jenni sementara Davin dan kedua orang tua Jenni sudah siap di balik pintu.
Acara perkumpulan resmi antar sekelompok Mafia itu dimulai.
Tuan Deva mulai memberi instruksi pada Jenni untuk melakukan sesuatu tanpa di ketahui Rey.
Jenni mengangguk, kemudian mengeluarkan pistolnya dan memegangnya dengan sangat erat.
"Sebelum acara ini dimulai, aku ingin mengumumkan sesuatu pada kalian." Rey berdiri.
Ia berjalan membawa Jenni naik ke atas podium.
"Sudah aku katakan pada yang terhormat tuan Deva, bahwa aku memiliki seorang istri yang sangat cantik. Dia putri dari tuan Adrian, pemimpin besar kita yang sudah tiada."
Jenni melirik Rey sinis. Tuan Deva kembali memberi instruksi.
"Ya, aku putri dari Adrian Reshamiya. Ayahku memberiku sebuah surat wasiat sebelum dia pergi."
Jenni mengeluarkan sesuatu dari dalam saku pakaiannya, kemudian membukanya dan menunjukannya pada Rey.
"Tunggu, sebelum kau membukanya aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Kata Jenni sambil menyunggingkan senyum termanisnya pada Rey.
"Ini hari ulang tahunmu, hari besar yang harus di rayakan seluruh anggota mafia. Maka dari itu, hadiahku juga sangat besar. Sebentar lagi hadiahnya akan kau lihat, saat kau selesai membaca surat itu."
Rey terkekeh, ia merasa kagum.
"Istriku ini memang sangat hebat dalam memberi kejutan ternyata. Tidak sia-sia, aku membawamu ke dalam dunia hitam ini."
__ADS_1
Jenni memasukan lagi pistol ke dalam saku. Kemudian ia menepukan tangannya dua kali. Rey tersenyum lebar ketika sebuah kotak besar di dorong ke hadapannya.
"Sebelum acara para mafia dimulai, kado dariku harus kau buka dulu."
Rey mendekati kotak besar itu, kemudian perlahan membukanya. Matanya membelalak ketika mengetahui isi dari kotak hadiah Jenni.
"Me-Meira!" Seketika wajahnya memucat, ia menjadi gugup di hadapan semua orang.
Jenni hanya tersenyum sambil mengingat-ingat kembali rencana yang telah dibuat matang oleh tuan Deva.
"Pertama, bawa Meira ke markas kita. Dia akan jadi hadiah pertama untuk Reytan di hari ulang tahunnya." Usul Davin dalam perkumpulan tim agen rahasia.
Tuan Deva dan Jenni mengerutkan dahinya tak mengerti.
"*Perkumpulan itu sengaja. Bertepatan dengan hari ulang tahun Rey, dia ingin menunjukan bahwa hanya dia pimpinan besar mafia di dunia ini. Jenni, dia hanya ingin memanfaatkannya."
Setelah rundingan selesai. Jenni keluar dari markas tim agen rahasia. Tepat saat ia kembali ke rumah Rey, disana ada Meira yang sedang tertidur di atas ranjangnya.
Jenni pun membuat Meira tertidur lebih lama lagi, dengan cara menyuntikan bius ke tangannya.
Jenni membawa Meira ke markas tim agen rahasia.
"Jangan lupa, besok acaranya. Kalian harus mengambil posisi masing-masing tanpa membuat Rey curiga*."
(Yang tulisannya miring, anggap aja flashback)
"Dia masih hidup, seperti yang kau lihat saat ini. Meira, pembunuh orang tuaku masih hidup." Ucap Jenni sambil menepuk bahu Rey membuatnya sedikit terlihat terkejut.
Rey menunjukan gelagat aneh, yang membuat Jenni semakin antusias meneruskan dramanya.
Rey mengangguk samar.
"Bawa dia pergi! Aku akan menunjukan satu kado yang lain lagi untukmu."
Jenni menepukan lagi kedua telapak tangannya, munculah satu kotak besar lagi kado yang didorong oleh para anak buahnya.
Saat kado dibuka, Rey kembali memucat. Tubuhnya bahkan sudah bergetar hebat dan tangannya berkeringat dingin.
"Lucas," gumamnya dengan nada ketakutan.
"Baca suratnya sekarang!" Perintah Jenni.
Rey membuka surat yang diberikan Jenni, matanya membelalak melihat tulisan yang tertera.
"Kau serius? Kekuasaan ayah dan ibumu di berikan padaku?"
Matanya berbinar senang, taatkala mendapat anggukan dari Jenni. Tuan Deva dari sebelah memberi instruksi pada Jenni.
Jenni mengangguk, kemudian memberi isyarat pada orang yang sejak tadi ada di dekat pintu untuk masuk.
"Mungkin itu akan kau dapatkan jika ayah dan ibuku benar-benar mati."
Kata-kata yang Jenni ucapkan sambil menunjuk ke arah Adrian dan Hilya langsung mendapat lirikan dari Rey. Mata Rey membelalak.
Ia langsung mengeluarkan pistol dari dalam sakunya dan menodongkannya pada Jenni.
__ADS_1
"Kenapa? Kau pikir aku percaya setelah semua yang kau lakukan ini? Kau hanya ingin kekuasaan, bukan?!"
Jenni terus berjalan mendekat, membuat Rey terus berjalan mundur.
Dor
Beberapa kali pistol di tembakannya pada Jenni, namun meleset. Seakan tangannya kehilangan kekuatan untuk menembak Jenni.
"Pengkhianat!" Maki Rey pada Jenni.
"Aku selama ini tulus mencintaimu, tapi kau malah seperti ini padaku?"
Jenni tergelak mendengar kata-kata itu, membuat Rey semakin terpancing.
"Turunkan senjatamu!" Perintah Jenni.
Namun Rey tak bergeming, ia malah tersenyum sinis dan mendekatkan pistolnya ke kepala Jenni.
Semua tidak hanya diam menonton.
"Cobalah untuk melenyapkanku, tapi sepertinya kau yang akan berakhir bukan aku."
"Angkat senjata kalian!" Sahut seseorang dari kejauhan.
Rey terkejut, setiap orang yang berada di sana mengangkat pistolnya. Menunjukan pistol itu ke arahnya.
"Apa ini?! Sialan!" Teriaknya.
"Tuan Deva, apa kau hanya akan diam saja? Rekanmu sedang kesusahan saat ini!" Rey beralih pada tuan Deva yang masih duduk santai.
Tuan Deva akhirnya berdiri. Ia mengeluarkan pistolnya dan menunjukannya ke arah Jenni.
Rey tersenyum puas merasa ada yang membantu dan melindungi. Namun itu tak berlangsung lama saat pistol di tangan tuan Deva sudah menunjuk ke arahnya.
"T-tuan?!"
"Davin, masuklah!" Perintah tuan Deva.
Davin masuk dengan penampilan lusuh dan berkeringat. Ia berdiri di hadapan Rey.
"Adikku, ini untuk terakhir kalinya sebelum kau kehilangan kehidupanmu. Kembalilah, sudahi semua kekuasaan hitam ini." Suara Davin lembut nan halus, berhasil membuat Jenni tersentuh.
Sosok kakak seperti Davin membuat Jenni mendadak menjadi egois ingin memilikinya. Namun Jenni sadar, ia memiliki hubungan dengan Rey.
Rey tidak seperti yang Davin harapkan, sifat kerasnya telah menguasai dirinya.
"Aku tidak akan berhenti sampai dunia tidak memandangku rendah lagi!"
"Rey!"
**Bersambung...
Kalo aku baca lagi, ceritanya jadi ngawur. Mau aku tamatin cepat, biar gak makin ngawur lagi 😁 soalnya punya janji juga bikin sekuel novel lain yang seharusnya realese hari ini tapi malah tertunda karena proyek novel ini.
Mohon maaf ya, jika sedikit mengecewakan. Tapi author akan berusaha memberikan ending yang memuaskan 😂**
__ADS_1